Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Cintya tertawa renyah saat Baby Al meraih daun yang berguguran dari pohon mangga di halaman belakang. Pagi ini terasa begitu damai, seolah dunia memberikan mereka kesempatan untuk bernapas sejenak. Namun, bayangan gelap selalu mengintai di sudut hatinya. Ia tahu, kebahagiaan ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
"Oke, Cin, jangan parno. Nikmati aja momen ini. Siapa tahu ini momen terakhir kita bisa ketawa bareng," batin Cintya mencoba menenangkan diri, meskipun jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Tak lama setelahnya, kebahagiaan itu sirna. Ia mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumahnya. Ia menoleh dan melihat sebuah mobil van hitam berhenti di depan gerbang. Lima orang pria keluar dari mobil itu. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan memakai topeng yang mengerikan. Topeng itu... Cintya langsung teringat pada malam kelabu saat ia menemukan Baby Al di pinggir jalan, di balik ilalang yang rimbun. Pria-pria bertopeng itu... kembali.
Ketakutan merayapi seluruh tubuh Cintya. seketika keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya tubuhnya gemetar. Ia tahu, mereka telah menemukannya.
"Al! Kita harus pergi sekarang!" bisik Cintya panik sambil mengangkat cepat Baby Al ke gendongannya.
Ia meraih si Pus yang sedang asyik menjilati bulunya dan dengan secepat kilat ia masuk ke kamarnya untuk meraih tas ranselnya yang sudah siap sedia di atas nakas. Setelahnya langsung menyandang tas ransel itu di punggungnya dan kembali membuka pintu belakang rumah dengan hati-hati.
"Maafkan Bunda, Al. Kita harus lari lagi," bisik Cintya sambil mencium pipi Baby Al.
Baby Al, terkikik geli! Tangannya menyentuh wajah sang Bunda dengan lembut.
"Lest go! Al kita akan berpetualang lagi!" serunya lalu mengambil langkah seribu, Ia berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak yang membelah kebun-kebun warga. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal-sengal, namun ia tidak boleh berhenti. Ia harus melindungi Baby Al, apapun yang terjadi.
Pus, memimpin jalanan dengan gagah berani, sesekali Pus mengeong lantang memberi petunjuk.
Ia melirik ke belakang dan melihat dua pria bertopeng itu mengejarnya. Mereka berlari dengan cepat, menerobos kebun-kebun warga tanpa peduli.
"Cepat! Jangan biarkan mereka lolos!" teriak salah satu pria bertopeng itu dengan suara lantang.
"Sial! Mereka cepat sekali!" gerutu Cintya dalam hati. Ia mempercepat larinya, berusaha menjauhkan diri dari para pengejar itu.
Pus mengeong keras di balik pohon besar, Cintya yang sudah mengerti dengan instruksi si kucing langsung mengikuti langkah Pus, ketiganya bersembunyi di balik pohon besar itu dengan hati. Dag! Dig! Dug! Tak menentu. Beruntung baby Al tak menangis seolah ia sedang menikmati permainan petak umpet bersama sang Bunda.
Para pria itu melompati pagar bambu yang membatasi kebun yang satu dengan kebun lainnya.
Setelah beberapa saat pria itu berhenti dengan wajah frustasi, keduanya kehilangan jejak Cintya. "Sial kita kehilangan jejak gadis itu!" seru salah satu pria dengan suara dingin.
"Si bos pasti marah, ayo kita cari di sekitar sini mereka pasti di sekitar sini! Jangan sampai ada yang terlewat!" perintah pria bertopeng itu kepada rekannya.
Setelah beberapa menit mencari mereka tak dapat menemukan Cintya dan baby Alexie.
"Sial! Bisa-bisanya mereka lolos!" umpat pria bertopeng itu geram. Ia memukul udara dengan kesal. melampiaskan kekesalannya.
"Ayo kita lapor kepada Tuan bahwa kita gagal menangkap mereka," ucap pria bertopeng lainnya dengan nada pasrah.
Di balik pohon besar Cintya menarik nafas lega, setidaknya sementara mereka lolos. Dengan perlahan ia mengintip punggung para penjahat itu yang sudah menjauh.
"Ayo Pus, kita harus segara pergi dari sini! Sebelum mereka kembali," ajaknya dengan suara tegas.
Pus langsung mengeong dan memimpin jalan lagi dengan penuh hati-hati.
_______&&______
Arkana mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju alamat yang diberikan Dom. Perasaan cemas dan gelisah berkecamuk dalam dirinya. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di sana, tapi ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Sial! Kenapa jalanan padat banget sih?!" gerutu Arkana kesal.
Devano hanya bisa diam, merasakan ketegangan yang sama. Ia tahu, Arkana sangat khawatir tentang Baby Alexie.
Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah rumah dengan desain unik dan berbeda dari rumah yang terletak di pinggiran desa. Rumah itu tampak sepi dari luar, seperti tak ada penghuninya.
Arkana menghentikan mobilnya dan turun dengan cepat. Ia mendekati rumah itu dengan hati-hati, mengamati sekelilingnya.
"Ar, tunggu!" seru Devano sambil menyusul Arkana. "Jangan gegabah. Kita nggak tahu apa yang ada di dalam sana."
Arkana tidak menghiraukan peringatan Devano. Ia mendorong pintu gerbang yang tidak terkunci dan masuk ke dalam halaman rumah.
Pemandangan yang menyambut mereka membuat keduanya mengerutkan alisnya dengan perasaan campur aduk. Rumah itu tampak berantakan seperti kapal pecah. Pintu rumah terbuka lebar, lemari-lemari di dalam rumah terbuka dan barang-barang berserakan di lantai.
"Ada apa ini?!" gumam Arkana heran sekaligus cemas.
Ia masuk ke dalam rumah dengan hati-hati, diikuti oleh Devano. Mereka menyusuri setiap ruangan, mencari petunjuk.
Arkana masuk ke dalam sebuah kamar dan menemukan beberapa barang milik anak kecil, seperti baju, mainan, dan botol susu. Jantungnya berdegup kencang. Ia yakin, di rumah ini sebelumnya ada seorang anak bayi laki-laki.
"Dev! Lihat ini!" seru Arkana dengan nada khawatir.
Devano masuk ke dalam kamar dan melihat barang-barang anak kecil yang berserakan di lantai. Ia menghela napas panjang.
"Ar, apa yang terjadi di sini? Apa rumah ini baru saja dirampok?" tanya Devano.
Arkana menggelengkan kepala. "Gue nggak tahu. Tapi yang jelas, sesuatu yang buruk telah terjadi di sini."
Ia menyadari satu hal: mereka terlambat. Musuh telah lebih dulu menemukan Alexie dan wanita itu. Tapi siapa musuhnya kali ini, dan ke mana mereka membawanya pergi? Apakah mereka diculik? Atau berhasil melarikan diri?
Rasa takut dan panik melingkupi diri Arkana. Ia merasa gagal melindungi keponakannya. Ia merasa bersalah karena telah terlambat.
"Kita harus mencari mereka, Dev!" ucap Arkana dengan nada putus asa. "Kita harus menemukan Alexie!"
Bersambung ...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus