Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1.
"Ma.. maaf, Nyonya! ka.. kami akan mematikannya!!"
Dua Pengasuh vila Lorenzo, Lidia dan Giana, terkejut melihat Lara, yang tiba-tiba sudah berdiri di tengah ruang utama vila melihat ke arah televisi yang menyala.
Mata Lara Margaret Buchanan tidak berkedip melihat berita, yang sedang tayang pada layar televisi.
Berita tentang romantisnya Presiden grup Juorell, dengan kekasih cinta pertamanya, yang tanpa sungkan selalu dipamerkan David di depan umum.
Sementara ia tidak pernah diperkenalkan David sebagai istri sah di depan umum.
Bahkan tidak pernah membawanya ke acara tertentu, bahkan rekan bisnis dan perusahaan mengadakan suatu pesta.
Klik!
Layar televisi ditutup Lidia, yang tampak panik melihat tatapan dingin Lara memandang layar televisi.
"Kenapa dimatikan, aku juga ingin melihat perkembangan hubungan mereka, dan ingin mendengar kapan David akan melamar wanita itu!" kata Lara dengan nada suara yang terdengar begitu tenang.
Dua Pengasuh kediaman Lorenzo, yang sudah bekerja selama delapan tahun itu, mengetahui bagaimana Lara berusaha selalu menyenangkan suami yang tidak pernah meliriknya.
Melihat begitu tenangnya Lara dengan tatapan dingin, mendengar berita tentang suaminya bersama wanita lain, Lidia dan Giana yang merasa sakit hati.
Mereka sedih melihat Lara tidak menunjukkan emosi menyaksikan kemesraan suaminya dengan wanita lain.
"Nyonya, berita tidak seru seperti begitu, untuk apa ditonton! tidak menyenangkan!" kata Giana sembari tersenyum cengengesan.
"Iya Nyonya! apakah anda ingin minum teh bersama camilan di balkon? biar kami yang siapkan untuk Nyonya!" kata Lidia.
"Tidak usah! sebentar lagi aku ingin keluar rumah!" jawab Lara, lalu dengan langkah tenang menuju dapur.
Lara melepaskan apron yang ia pakai, dan menggantungnya pada tempat biasa apron di letakkan.
Sementara itu ke dua Pengasuh vila Lorenzo termangu di tempat mereka, dengan raut wajah tidak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Lara.
"A.. apa barusan kata Nyonya? apa aku tidak salah dengar?" tanya Lidia pada Giana.
"A.. aku juga seperti salah mendengar, sejak ia menikah dengan Tuan David selama sepuluh tahun, akhirnya matanya terbuka untuk melihat dunia luar!" nada suara Lidia bergetar ingin menangis.
Mereka tahu kehidupan Lara selalu hanya berada di sekitar vila.
Selain keluar berbelanja, atau keperluan lainnya, Lara tidak pernah keluar rumah, untuk menyenangkan diri sebagai istri Presiden grup Juorell.
"Akhirnya Nyonya tahu bagaimana untuk menyenangkan dirinya!"
Giana juga nyaris menangis memandang Lara, yang melangkah menaiki anak tangga dengan raut wajah yang terlihat begitu tenang.
Lara membuka pintu kamarnya, lalu berjalan ke depan cermin.
Ia memandang dirinya dalam cermin yang tampak berpenampilan biasa saja.
Ia selalu membuat dirinya tidak menarik perhatian siapa pun, untuk menjaga hubungannya sebagai istri David Lorenzo.
Perlahan jemari Lara menyentuh pipinya, dan mengelus pipinya dengan lembut.
Sejak ia mengenal David di bangku kuliah, ia rela menjadi seperti anjing penjilat di dekat David untuk mendapatkan perhatian David.
Sampai kejadian yang ia sendiri tidak tahu, ia tertangkap basah tidur di kamar hotel bersama David.
Peristiwa yang sangat menghebohkan kala itu, dan ia sendiri tidak tahu siapa yang membawa wartawan masuk ke dalam kamar hotel.
David menyalahkannya sebagai dalang membius David, agar dapat tidur bersamanya.
Sementara ia sendiri juga, telah dibius seseorang tanpa ia sadari.
Dan David bahkan menuduhnya juga, yang mengundang para wartawan datang untuk meliput kejadian itu.
Ia merasa tidak pernah memberitahu para wartawan, untuk datang meliput kejadian tersebut.
Saat kejadian itu, mereka masih berpakaian lengkap, tapi orang-orang menganggap mereka sudah melakukan hubungan.
Ke dua orang tua mereka pun akhirnya menikahkan mereka demi membungkam berita, yang semakin panas di media sosial, dan media elektronik.
Lara yang sama sekali tidak menjebak David, agar dapat menikah dengan pria yang ia sukai sejak dari bangku kuliah itu, merasa sangat senang sekali akhirnya dapat menikah dengan David.
Tapi, hari-harinya menjadi istri selalu diabaikan David.
Lara yang sedang dilanda cinta, tidak perduli dengan sikap dingin David padanya.
Ia selalu memperlihatkan perhatiannya pada David, walau David tidak pernah berkeinginan menyentuhnya.
Dan ia selalu bersabar menunggu David perduli padanya, walau David lebih banyak diluar sana bersama cinta pertamanya.
Tapi kali ini, sepertinya ia sudah lelah untuk menjadi istri setia, dan mengharapkan cinta dari David yang tidak kunjung ia dapatkan.
Selama sepuluh tahun ini, ia sudah menyia-nyiakan masa mudanya terbuang begitu saja menjadi istri yang patuh.
Kini waktunya ia bersinar, untuk membayar masa mudanya yang terbuang begitu saja.
Perlahan jemari Lara melepaskan ikat rambutnya, yang selalu ia gulung dan ikat, kalau hendak pergi keluar vila.
Rambut panjang hitam itu tergerai indah pada punggungnya.
Ia lalu meraih smartphonenya, lalu menekan nomor seseorang berinisial sahabatku.
"Halo!" sapanya begitu panggilannya diangkat sahabatnya.
"La.. Lara?! Benarkah ini kamu?!!"
Terdengar suara seorang wanita dengan nada terkejut, yang nyaris melengking dalam smartphone Lara.
"Apa kabar, Olivia?" tanya Lara dengan nada lembut sembari tersenyum mendengar nada terkejut sahabatnya itu.
"Hu hu hu hu... aku pikir kamu sudah tidak ingin bicara lagi padaku! bertahun-tahun kamu mendiamkan aku, Lara!!"
Suara tangis sahabat Lara terdengar begitu kencang, dengan nada yang terdengar sedih.
Sejak Lara menikah dengan David, ia memutuskan hubungan dengan orang-orang yang dekat padanya, kecuali ke dua orang tuanya.
"Maaf, Olivia! aku sebenarnya bukan bermaksud dingin padamu!" jawab Lara masih dengan nada yang lembut.
"Hu hu hu hu.. aku rindu padamu!!" tangis Olivia masih terdengar kencang dalam ponselnya Lara.
"Aku juga rindu padamu, bagaimana kalau malam ini kita bertemu?"
"Hah?! benarkah? tidak bohong, kan?!!"
"Tidak, aku ingin mengobrol dengan mu seperti dulu!"
"Oh, Lara! aku senang sekali mendengarnya, aku akan kirimkan alamat tempat kita bertemu!"
"Baik!"
"Sampai jumpa nanti malam, muah!"
Lara nyaris tertawa mendengar ciuman jarak jauh Olivia.
Sahabatnya itu selalu saja ceria sama seperti biasanya, tidak berubah seperti waktu mereka masih duduk di bangku kuliah.
Lara membuka lemari pakaiannya, dan memeriksa pakaian yang sudah lama ia singkirkan.
Karena David sangat menyukai pakaian berwarna putih, ia sampai rela meniru model pakaian seperti cinta pertama David.
Dan menyingkirkan semua pakaian yang ia sukai.
"Lidia!!" panggil Lara.
Lidia membuka pintu kamar Lara, "Iya, Nyonya!"
"Tolong singkirkan semua pakaian ini!"
Lara melemparkan satu persatu pakaian berwarna putih, yang nyaris memenuhi lemari pakaiannya.
Lidia memandang pakaian yang berserakan di lantai, dan sedikit ragu untuk meraih pakaian-pakaian tersebut.
"Apa anda yakin, Nyonya? bukankah semua pakaian ini, pakaian yang anda sukai?"
"Aku tidak menyukainya lagi! bakar semua di halaman belakang!"
"Baik, Nyonya!"
Lidia meraih semua pakaian tersebut, dan membawa ke halaman belakang vila.
Bersambung.........