NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: BETA VERSION, BUG, DAN UPDATE YANG TIDAK TERENCANA

Disclaimer: Bab ini mengandung kebosanan yang produktif, ketakutan akan kedamaian, dan satu pembaruan status yang tidak perlu diumumkan ke publik.

Tiga minggu pasca live podcast “Off the Record”.

Kehidupan Ardi dan Kinan memasuki fase yang paling tidak fotogenik: rutinitas. Tidak ada ekspos besar, tidak ada tantangan dadu, tidak ada musuh bersama untuk dilawan. Hanya dua orang yang sedang belajar mengenal ritme natural masing-masing, dan menemukan bahwa ketenangan justru lebih menantang daripada kekacauan.

Perpustakaan Kampus, Pukul 14.00

Ardi sedang mengerjakan TA nya yang akhirnya bisa difokuskan.Kinan duduk di seberangnya, menyusun moodboard untuk proyek kolaborasi dengan brand ramah lingkungan sebuah kampanye nyata yang mereka percayai. Mereka telah bertemu seperti ini empat kali dalam seminggu.

Tidak ada obrolan mendalam. Hanya suara ketikan keyboard, helaan napas, dan sesekali Kinan bertanya, “Warna hijau army atau moss green yang lebih netral?”

“Moss green. Army green terlalu... militant,” jawab Ardi tanpa mengangkat kepala.

“Bener juga.”

Ini yang mereka sebut “ko working”. Bekerja bersama, dalam keheningan yang nyaman. Tidak untuk konten. Bahkan tidak untuk ngobrol. Hanya untuk keberadaan.

Mereka gagal total dalam mencoba resep vegan bowl dari TikTok.Ternyata, tofu yang mereka panggang berubah menjadi batu keras.

“Ini bisa buat weapon,” keluh Ardi, menyentil tofu itu.

“Gagal lagi,” desah Kinan, menyandarkan tubuhnya ke meja dapur. Tapi dia tersenyum. “Tapi gue seneng.”

“Seneng gagal?”

“Seneng karena gagalnya bareng. Dan nggak ada yang merekam.”

Mereka akhirnya memesan martabak (lagi) dan menonton film dokumenter soal peternakan sapi. Bukan hal yang spektakuler. Tapi di tengah film, Kinan tertidur di bahu Ardi. Ardi diam saja, tidak bergerak, membiarkan beban itu terasa ringan dan berarti.

Justru dalam kedamaian inilah, ketakutan lama Kinan muncul. Suatu sore di warung kopi, dia berkata dengan suara rendah,

“Ardi, gue… ngerasa aneh.”

“Kenapa? Tofu kemarin nyangkut di tenggorokan lo?”

“Bukan.Gue ngerasa… hubungan kita ini… terlalu tenang. Nggak ada drama. Nggak ada tantangan. Apa kita… nggak berkembang?”

Ardi memandangnya. Dia mengerti. Di era di mana “growth” diukur dengan engagement rate dan milestone hubungan yang bisa dipamerkan, ketenangan terasa seperti stagnasi.

“Kinan, kita lagi nge download update besar,” kata Ardi, mencoba analogi digital. “Waktu download, layar kadang kosong, kayak nggak ada aktivitas. Tapi sebenernya, di belakang layar, sistem lagi membangun fondasi buat versi yang lebih stabil. Kita lagi di fase ‘layar kosong’ itu.”

“Jadi kita lagi di download?”

“Kita lagi diproses.Dan prosesnya… memang membosankan. Nggak cinematic.”

Kinan terdiam, lalu tersenyum. “Lo selalu punya analogi teknis buat hal-hal rumit.”

“Karena hidup itu kayak software, Kin. Yang bagus itu bukan yang flashy, tapi yang stable. Yang nggak crash tiap hari.”

“Bug” Pertama Mereka Bug itu muncul dalam bentuk yang tak terduga: kelelahan digital yang berbalik.

Setelah berbulan-bulan menjadi “wajah” gerakan digital wellness, Kinan justru mendapati dirinya merasa seperti penipu. Setiap kali dia membuka Instagram untuk mengelola kampanye, dia merasa mual. Setiap notifikasi email terasa seperti tuntutan.

Suatu malam, dia menelepon Ardi, suaranya gemetar.

“Ard, gue nggak bisa. Gue buka laptop, tangan gue berkeringat. Gue kayak… trauma.”

Ardi segera menuju apartemennya. Dia menemukan Kinan duduk di lantai, dikelilingi tiga laptop terbuka, seperti orang yang dikepung.

“Kita off,” kata Ardi, menutup semua laptop. “Sekarang juga.”

“Tapi deadline”

“Nggak ada deadline yang lebih penting dari ini.”

Dia membawa Kinan ke balkon. Udara malam kota Jakarta yang berpolusi pun terasa lebih baik daripada siksaan di dalam ruangan.

“Kita nggak harus jadi martir gerakan ini, Kin,” kata Ardi. “Kita boleh capek. Bahkan, kita wajib capek. Kalau nggak, kita jadi hipokrit.”

Itu adalah “bug” dalam sistem beta mereka: keinginan untuk menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaan justru menjadi beban baru.

Solusinya tidak dramatis. Mereka tidak membuat video vlog tentang burnout. Mereka tidak membuat thread panjang.

Mereka hanya menghilang selama 48 jam.

Ardi mengirim pesan singkat ke Mbak Wulan: “Kinan perlu istirahat. Kami off grid dua hari. Trust us.”

Mereka pergi ke rumah Pak Suryo di Puncak bukan untuk konten, hanya untuk tamu. Mereka membantu menjual dadu karet di pasar wisata, memasak mie instan untuk makan malam, dan tidur lebih awal.

Di sana, tanpa Wi Fi yang stabil, Kinan perlahan kembali bernapas.

“Ini nih,” katanya suatu pagi, sambil menghirup udara pegunungan yang dingin. “Digital detox yang beneran. Bukan untuk konten. Untuk kita.”

“Dan kita nggak perlu prove ke siapa-siapa bahwa kita melakukannya,” tambah Ardi.

Kembali ke Jakarta, mereka memutuskan untuk tidak membuat “comeback” spektakuler. Kinan hanya mengunggah satu foto di Instagram: sebuah gambar batu dadu karet yang tertinggal di atas tanah berumput, diterangi matahari pagi. Captionnya pendek:

“Beta version 0.8: Stability improvements. Minor bug fixes. Still learning.”

Tidak ada tagar. Tidak ada mention. Hanya sebuah update untuk yang benar-benar memperhatikan.

Tapi responsnya justru luar biasa. Komentar berdatangan:

“Finally, someone normalizes taking a break from ‘taking a break’.”

“That caption is a whole mood.”

“Kalian nggak sendiri. Gue juga lagi fase beta banget.”

Mereka tidak membalas komentar itu. Tapi mereka membacanya bersama-sama, di balkon Kinan, sambil minum teh hangat.

“Kita nggak sendiri ya,” bisik Kinan.

“Nggak pernah,” jawab Ardi. “Kita cuma sering lupa karena sibuk membandingkan highlight reel orang lain dengan behind the scene kita sendiri.”

LAST LINE: Malam itu, layar ponsel Kinan memantulkan cahaya biru pucat ke wajahnya. Dashboard analytics Instagram terbuka, grafik-grafik kecil naik turun seperti detak jantung digital. Foto batu dadu itu yang diunggah tanpa rencana, tanpa konsep, tanpa caption puitis menunjukkan angka engagement yang anehnya melonjak. Likes datang dari akun-akun asing, komentar singkat bermunculan, sebagian bertanya, sebagian cuma menaruh emoji kebingungan. Angkanya jelas lebih tinggi dibanding foto-foto aesthetik nya dulu: kopi latte dengan foam art gagal, jendela kamar berdebu yang difilter hitam-putih, atau potret senja yang terlalu sering dia unggah hanya karena semua orang juga melakukannya.

Tapi kali ini, Kinan tidak menahan napas menunggu refresh berikutnya. Tidak ada lagi jempol yang refleks menggeser layar ke bawah, tidak ada gumaman kecil tentang algoritma yang tidak adil. Ponsel itu akhirnya diletakkan begitu saja di atas meja, layar mengunci dirinya sendiri, seolah mengerti bahwa ia tidak lagi menjadi pusat perhatian.

Di sampingnya, obrolan mereka mengalir ringan, nyaris remeh. Tentang akhir pekan depan apakah mereka ingin ke museum yang tiketnya selalu mahal tapi jarang dikunjungi, atau cukup di rumah saja, menonton film yang setengah jalan pasti tertidur. Tentang cuaca yang belakangan tidak bisa ditebak. Tentang makanan yang ingin dicoba tapi selalu lupa namanya. Tidak ada diskusi besar, tidak ada pernyataan penting yang harus dicatat dalam ingatan.

Dan justru di situ letak kelegaannya.

Mereka mulai belajar, pelan-pelan, bahwa dalam versi beta sebuah hubungan, fitur terpenting bukanlah hal-hal spektakuler yang tampak cantik di etalase bukan gesture besar, bukan momen viral, bukan validasi dari angka-angka yang terus bergerak. Yang benar-benar menentukan adalah stabilitas dasar: kemampuan untuk tetap terhubung tanpa drama, tanpa notifikasi darurat, tanpa rasa takut sistem akan crash hanya karena satu kesalahan kecil.

Hubungan mereka mungkin tidak mulus. Performanya kadang lambat. Ada jeda-jeda canggung yang tidak langsung terisi. Bahkan sesekali terasa membosankan. Tapi malam itu, mereka menyadari satu hal sederhana yang jarang disadari orang: sistem mereka berjalan.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!