[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Bagas
Malam pertama menginap di tenda.
Suara gedebuk itu disusul dengan gelak tawa. Penghuni tenda keluar semua. Tampak Mayang, Elena dan Yasmin keluar. Sebagian penghuni lain ikut keluar mendengar suara ribut.
Pak Yanto tidur di pos, sebelumnya ditawari untuk ikut di tenda anak laki-laki tapi menolak, katanya tidak terbiasa.
"Eh ada apa?" Sebagian mendekat ke tenda yang ribut.
"Nggak, nggak apa-apa. Cuma kita agak kesempitan tidur bertiga," Elena menjawab.
Mereka bertiga masih tertawa-tawa termasuk Mayang.
"Yah, sobek lagi sedikit," Yasmin berseru. Nampak ia sedang jongkok di samping tenda dengan senter di ponselnya yang menyala.
"Emang tadi kenapa sih?" Yang lain nampak penasaran.
"Ya tadi aku di pinggir, Yasmin di tengah, terus Mayang di pinggir lagi. Nah karena Yasmin badannya gede, kita kesempitan terus engap banget miring sana-miring sini. Akhirnya aku kelempar ke pinggir banget terus tendanya robek," Elena menjelaskan.
"Duh, maaf ya. Harusnya Yasmin bawa tenda sendiri kali ya kayak Bima," Yasmin menimpali. Badannya memang lebih besar dari teman-temannya. Yah, mungkin seukuran Tisya. Badan gempalnya memang terlalu sempit untuk menempati tenda bertiga dengan yang lainnya.
Bagas dan Susi ikut bergabung di kerumunan.
"Sekarang gimana ya enaknya. Kasihan tidurnya nggak nyaman kalau begini," Susi nampak berpikir.
"Bima aja pindah ke tenda cowok. Bagas cuma berdua sama Edo," Bagas mengusulkan. Mukanya datar. Sebenarnya ia malas setenda dengan Bima. Tapi sepertinya itu satu-satunya solusi.
Jam setengah dua belas malam. Sebagian dari mereka yang belum tidur berdiri di depan api unggun. Mencari solusi.
"Berarti nanti Yasmin tidur di tenda Bima aja," Susi menyarankan.
"Yah, Yasmin takut ah. Yasmin nggak berani tidur sendiri."
"Yaudah kalau gitu Yasmin tetap di tenda sama satu orang lagi. Nah, yang tidur di tenda Bima siapa berarti?" Susi memutuskan.
Elena dan Mayang saling berpandangan. Di antara mereka siapa yang paling berani?
Mayang menggeleng.
"Elena juga nggak mau ah. Takut. Ini di hutan. Sendirian lagi tidurnya." Elena mengamit tangan Mayang. Ia memang agak penakut. Tak ada yang mau mengalah juga akhirnya.
"Yaudah biar Mayang sama Bima," Bima mengatakannya dengan santai. Semua orang berpandangan setengah terkejut. Bagas mengepalkan tinju di tangannya. Ingin ia tonjok muka Bima saat itu juga.
"Yaudah nggak papa. Gitu aja. Mayang nggak papa sama Mas Bima." Mayang menimpali dengan muka lega tanda setuju. Semua orang tambah bingung meresponnya.
"Tapi kan..." Susi tak melanjutkan kata-katanya.
Mayang terlalu polos untuk hal itu. Teman-temannya mengira mereka berpacaran. Bima nampak biasa saja karena ia tahu Mayang memang takut. Lagian ia pasti akan menjaga Mayang. Mereka biasa berdua kemana-mana. Mereka sering ketiduran berdua di studio kalau Papa Mayang harus lembur dan menjemputnya kemalaman. Mereka sering ketiduran di depan ruang TV. Mama menyelimuti mereka berdua. Bima menganggap tidur berdua dengan Mayang adalah hal yang wajar dan biasa mereka lakukan. Tak ada pikiran lain dalam benaknya, seperti prasangka temannya.
"Loh, kok pada diem sih," Mayang keheranan.
"Mayang, kan cewek sama cowok tendanya misah. Nggak mungkin satu tenda cewek-cowok," Bagas menjelaskannya pelan-pelan.
"Udahlah. Mayang juga setuju kok. Iya kan?" Bima tampak malas berdebat lagi. Ia tahu, Bagas akan mati-matian mendebatnya.
"Eh, lu jangan sembarangan ya," Bagas menerobos ke depan. Ia mencengkeram kerah Bima, bersiap memukulnya. Dan, satu pukulan mendarat telak.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹