Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Perjamuan di Rawa Maut
Air rawa yang hitam pekat di bawah kaki Jiangzhu mulai mendidih, mengeluarkan gelembung-gelembung gas belerang yang meletus dengan suara plup-plup yang menjijikkan. Bau amis yang tadinya hanya samar, kini berubah menjadi aroma busuk mayat yang sudah terendam berbulan-bulan. Di hadapannya, Penjaga Rawa Purba sebuah entitas yang menyerupai gabungan antara buaya raksasa dan lintah, dengan kulit yang dilapisi ribuan tengkorak kecil perlahan mengangkat kepalanya yang sebesar rumah.
"Bawa mereka pergi, Yue! Jangan menoleh!" raung Jiangzhu. Suaranya pecah, bergetar dengan frekuensi yang membuat air rawa di sekitarnya beriak liar.
Yue tidak membuang waktu. Ia mencengkeram bahu Awan dan menggendong Dewi Ling’er yang masih lemas di punggungnya. "Jangan mati, Jiangzhu! Aku tidak mau harus menjelaskan pada ibumu kenapa putranya menjadi santapan cacing air!"
Jiangzhu tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Seluruh fokusnya saat ini adalah menahan getaran hebat di lengan kirinya. Lengan hitam bersisik itu kini terasa seperti memiliki detak jantungnya sendiri lebih cepat, lebih kuat, dan jauh lebih haus daripada jantungnya yang asli.
Bocah, jika kau ingin selamat, kau harus memberikan kontrol sepenuhnya pada Li’er untuk tiga menit! Penatua Mo berteriak di dalam ruang jiwa, suaranya hampir tenggelam oleh tawa parau Li’er yang mulai menguasai saraf motorik Jiangzhu.
"Tiga menit... atau aku akan kehilangan kepalaku," desis Jiangzhu.
SSHHHAAAAA!
Makhluk rawa itu menyerang. Lidahnya yang panjang dan berduri melesat seperti tombak dari kegelapan kabut. Jiangzhu tidak menghindar dengan langkah kaki; ia meledakkan energi Iblis dari telapak kaki cakarnya, membuatnya terpental ke udara.
Sinkronisasi Lengan Iblis: 45%
Mode: Pemangsa Tanpa Jiwa
Jiangzhu mendarat di atas punggung makhluk itu. Kulit monster itu licin oleh lendir asam yang segera membakar sol sepatunya, tapi sisik hitam di tangan Jiangzhu justru menyerap asam tersebut. Ia menghujamkan cakar kirinya ke dalam daging makhluk itu.
CRAAAKKK!
Bukan hanya daging yang robek, tapi Jiangzhu bisa merasakan esensi kehidupan monster itu tersedot masuk ke dalam lengannya melalui kuku-kukunya yang hitam. Rasanya memabukkan. Sebuah ledakan tenaga yang membuatnya ingin terus merobek dan menghancurkan.
Monster itu melengking, memutar tubuhnya hingga menciptakan pusaran air hitam yang menelan pepohonan mati di sekitarnya. Jiangzhu terlempar, menghantam akar pohon beringin yang membusuk. Rasa asin darah memenuhi mulutnya, dan ia bisa merasakan setidaknya dua tulang rusuknya bergeser.
"Uhuk... masih belum... cukup," Jiangzhu bangkit, meludah gumpalan darah hitam yang segera membeku di atas air rawa.
Di kejauhan, ia melihat Yue dan yang lainnya hampir mencapai dermaga tua. Namun, puluhan Lintah Jiwa makhluk parasit yang lebih kecil mulai merayap keluar dari air menuju arah mereka.
"Kau tidak akan menyentuh mereka!" amarah Jiangzhu meledak.
Ia tidak lagi memedulikan peringatan Penatua Mo. Ia menggigit ibu jarinya hingga berdarah, lalu mengoleskan darah hitamnya ke bilah pedang hitamnya yang retak.
"Seni Rahasia Tiga Alam: Tarian Pemutus Benua!"
Lengan kiri Jiangzhu membesar dua kali lipat. Urat-urat ungu bercahaya di balik sisik hitamnya. Ia mengayunkan pedangnya dalam satu putaran penuh. Sebuah gelombang energi hitam-ungu berbentuk sabit meluncur, membelah permukaan rawa menjadi dua bagian.
BOOOOOMM!
Ledakan itu tidak hanya menghancurkan lintah-lintah tersebut, tapi juga membelah kepala Penjaga Rawa Purba hingga ke dasarnya. Cairan hijau kental menyembur, menutupi sekujur tubuh Jiangzhu hingga ia tampak seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari rahim bumi.
Hening sejenak.
Jiangzhu berdiri mematung di atas air yang kini tenang. Napasnya terdengar seperti suara gergaji yang tumpul. Perlahan, sisik hitam di wajahnya mulai menyusut, namun meninggalkan bekas luka permanen di pipi kirinya.
"Kakak...?" Suara Awan terdengar dari dermaga. Gadis itu menatapnya dengan mata biru yang penuh ketakutan.
Jiangzhu mencoba melangkah, tapi kakinya terasa seperti lumpur. Ia jatuh berlutut. Rasa sakit yang tadi tertahan kini menghantamnya seperti palu godam. Lengan kirinya kini tidak bisa digerakkan, terasa seperti balok besi dingin yang menempel di bahunya.
Bocah, kau baru saja membakar sisa energi Inti Emasmu, Penatua Mo muncul di sampingnya, sosoknya tampak sangat letih. Jangan pingsan sekarang. Rawa ini akan menelanmu jika kau menutup mata.
Yue berlari kembali ke arahnya, ia menarik lengan Jiangzhu yang sehat. "Bodoh! Berhenti pahlawan-pahlawanan! Ayo!"
Mereka sampai di dermaga tepat saat bulan merah Benua Barat naik ke puncak langit. Sebuah perahu kayu tua yang sudah hampir hancur menunggu di sana jalur penyelundupan terakhir yang dijanjikan Raja Tikus Tanah.
Saat perahu itu mulai menjauh dari Rawa Jiwa, Jiangzhu menatap tangannya yang hitam. Ia melihat pantulan dirinya di air hitam rawa. Ia bukan lagi pemuda desa yang lemah dari Bab 1. Ia bukan lagi manusia yang merangkak meminta keadilan.
"Pak Tua..." bisik Jiangzhu, suaranya parau. "Apakah ini harga yang harus kubayar untuk menyelamatkan Ibu? Menjadi monster yang bahkan ditakuti oleh bayangannya sendiri?"
Penatua Mo tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah Hutan Mati yang kini menjauh. Di dunia yang busuk ini, kemanusiaan adalah beban, dan Jiangzhu baru saja melepaskan beban itu demi kekuatan.
Dewi Ling’er perlahan membuka matanya di dalam perahu. Ia melihat tangan hitam putranya dan air mata jatuh di pipinya yang pucat. Ia tahu, perjalanan ini telah mengubah putranya menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi kembali.
"Selamat datang di tahap sesungguhnya, Jiangzhu," gumam Yue sambil menatap ke depan, di mana siluet Kota Tak Bertuan dan gerbang pusat Benua Barat mulai terlihat. "Sekarang, seluruh dunia akan memburumu."
Jiangzhu mencengkeram pinggiran perahu kayu yang melapuk, merasakan getaran kasar dari kayu yang hampir hancur itu di bawah telapak tangannya yang kini bersisik. Ia meludah ke air rawa yang hitam, dan gumpalan darah yang keluar terasa lebih berat dan dingin daripada biasanya seperti gumpalan logam cair yang baru saja membeku di tenggorokannya. Setiap tarikan napasnya membawa aroma amis lumpur dan belerang yang seolah telah menyerap ke dalam pori-porinya, membuatnya merasa jijik pada keberadaannya sendiri.
"Berhenti menatapku seolah-olah aku akan meledak, Yue," gerutu Jiangzhu, suaranya parau dan bergetar dengan nada ganda yang menyeramkan. "Aku sudah membayar harga untuk kemenangan ini. Jika kau ingin merasa kasihan, lakukan itu pada monster-monster yang baru saja kupotong-potong di belakang sana."
Yue tidak menjawab, namun ia memalingkan wajahnya, menyembunyikan getaran di tangannya saat ia memegang dayung. Di bawah cahaya bulan merah yang sakit, lengan kiri Jiangzhu tampak berdenyut urat-urat ungu di balik sisik hitam itu bergerak-gerak seperti cacing yang terperangkap di bawah kulit. Jiangzhu bisa merasakan kesadarannya sendiri mulai menipis, digantikan oleh rasa lapar yang asing, sebuah dorongan untuk kembali ke rawa itu dan merobek sisa kehidupan yang ada.
Bocah, jangan biarkan 'dia' tertawa di dalam kepalamu, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar sangat letih. Kau baru saja menelan esensi purba tanpa memurnikannya. Jika kau tidak segera menekan insting itu, kau tidak akan melihat fajar sebagai manusia.
Jiangzhu memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah ibunya saat masih di desa dulu, namun yang muncul hanyalah gambaran darah dan api. Ia mencengkeram tangan kanannya yang masih normal, mencoba merasakan sisa kemanusiaannya yang tersisa. Di atas perahu yang bergoyang pelan, Jiangzhu menyadari satu hal yang pahit: ia telah menyelamatkan orang-orang yang ia cintai, namun ia melakukannya dengan menjadi makhluk yang paling mereka takuti.
Ia menatap Awan yang tertidur lelap karena kelelahan, dan ia bersumpah dalam hati bahwa ia akan menelan seluruh neraka ini sendirian, asalkan cahaya di mata gadis kecil itu tidak pernah padam oleh kegelapan yang kini mengalir di nadinya.