NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Papan yang Disempitkan

Gemuruh di langit bukan peringatan.

Itu pengumuman.

Ren Tao berhenti di tengah langkah ketika tekanan qi di lembah berubah drastis. Bukan hanya menyempit tapi diputar. Aliran alam yang tadinya mengalir satu arah kini berbalik, saling bertabrakan, menciptakan titik-titik mati yang berbahaya.

Ujian memasuki fase baru.

Ren Tao menghela napas perlahan. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya bergerak cepat. Perubahan seperti ini bukan untuk menguji kekuatan. Ini untuk memaksa konfrontasi.

Mereka ingin jumlah dipangkas cepat.

Dari kejauhan, teriakan terdengar. Singkat. Lalu hilang. Qi seseorang meledak, lalu padam.

Ren Tao bergerak ke arah yang berlawanan.

Bukan lari—menghindar.

Ia memilih jalur sempit di antara dua bukit batu. Tanahnya keras, minim vegetasi. Buruk untuk bersembunyi, tapi bagus untuk membaca pergerakan.

Belum lima puluh langkah, dua sosok muncul dari kabut.

Murid inti.

Bukan pengawal Wei Kang.

Yang ini… independen.

“Berhenti,” kata salah satunya. “Serahkan tokenmu.”

Ren Tao berhenti. Ia menunduk sedikit, seperti mempertimbangkan. “Kalau aku menolak?”

Yang lain tersenyum. “Kami tidak akan membuang waktu.”

Ren Tao mengangguk pelan. “Bagus.”

Ia melempar tokennya ke tanah.

Keduanya terkejut sesaat.

Kesalahan.

Ren Tao melompat mundur tepat ketika tanah di depan mereka runtuh. Sisa formasi lama bukan mematikan, tapi cukup untuk memecah posisi. Satu murid terpeleset, yang lain terpaksa melompat ke samping.

Ren Tao tidak menyerang.

Ia berlari.

Mereka mengejar.

Tepat seperti yang ia mau.

Ren Tao membawa mereka ke jalur sempit yang qi-nya kacau. Setiap langkah lawan jadi berat, setiap serangan sedikit melenceng. Ren Tao tidak perlu kuat—cukup sabar.

Saat murid pertama menyerang dengan pedang panjang, Ren Tao menghindar dan membiarkan qi lawan menghantam dinding batu. Pantulan balik menghantam tubuhnya sendiri.

Murid itu terhuyung.

Ren Tao masuk, menghantam tenggorokannya dengan siku.

Tidak mati.

Cukup untuk jatuh.

Murid kedua mundur, matanya melebar. “Kau menjebak kami.”

Ren Tao mengangkat bahu. “Kalian mengejarku.”

Serangan berikutnya lebih liar. Emosi mulai mengambil alih. Ren Tao mundur perlahan, membaca pola, menunggu satu kesalahan kecil.

Dan kesalahan itu datang.

Saat lawan mengangkat pedang terlalu tinggi, Ren Tao masuk dan menusuk paha. Qi bocor, tubuh goyah. Satu dorongan terakhir membuat murid itu jatuh ke zona mati qi.

Jeritan singkat.

Lalu sunyi.

Ren Tao berdiri diam beberapa detik. Napasnya berat, tapi stabil. Ia mengambil dua token, lalu menghilang sebelum Qi lain mendekat.

Di luar lembah, beberapa tetua mulai gelisah.

“Korban terlalu cepat.”

“Dia tidak membunuh langsung,” kata tetua berjubah abu-abu. “Dia memanfaatkan medan.”

“Lebih berbahaya.”

Di dalam lembah, Wei Kang berdiri di titik tinggi, mengamati pergerakan di cermin formasi. Alisnya sedikit terangkat.

“Dia mulai mengatur papan,” gumamnya.

Ren Tao kini bergerak cepat. Bukan sembunyi memilih arah. Ia sengaja meninggalkan jejak samar, cukup untuk menarik perhatian, tapi tidak jelas.

Ia ingin diburu.

Bukan untuk mati.

Tapi untuk mengontrol arah kejaran.

Saat kabut kembali menebal, Ren Tao berhenti di punggung bukit kecil. Dari sini, ia bisa melihat beberapa titik konflik sekaligus. Ia menutup mata, menghitung.

Jumlah peserta berkurang.

Zona aman makin kecil.

Waktu hampir habis.

Kalau aku menunggu, pikirnya, aku akan dipaksa bertarung frontal.

Ia membuka mata.

Kalau aku bergerak sekarang…

Ren Tao melompat turun dari bukit.

Ia memilih satu arah menuju pusat konflik terbesar.

Tempat murid-murid terkuat berkumpul.

Tempat Wei Kang pasti memperhatikan.

Di kejauhan, tekanan qi meningkat tajam. Pertempuran besar akan terjadi.

Ren Tao tersenyum tipis.

Kalau papan disempitkan, gumamnya dalam hati, maka aku akan berdiri di tengahnya.

Langit bergemuruh sekali lagi.

Ujian hampir mencapai puncak.

Dan Ren Tao yang awalnya hanya ingin bertahan

kini mulai menentukan siapa yang layak berdiri bersamanya di akhir.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!