NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

"a-ayah ibu ku sin" lirih Hani

...****************...

"Hei tenang lah dulu, coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tua mu" timpal Sinta mencoba untuk menenangkan Hani.

"Ayah dan ibu ku hiks hiks... kecelakaan hiks.. dan sekarang sedang koma dirumah sakit Asri Medika hiks hiks... apa kamu mau mengantarkan ku untuk pulang sin? hiks hiks.. " ucap Hani yang sudah terputus-putus sambil menangis tersendu sendu.

Sinta yang mendengar kan penjelasan Hani pun merasa tidak tega."Baiklah kita berangkat sekarang menggunakan mobil mu, biar nanti aku yang menghubungi pak Dika untuk memberi izin kepulangan mu." ujar Sinta seraya menuntun Hani pergi meninggalkan kantin dan menuju parkiran mobil.

Sinta melajukan mobil milik Hani dengan kecepatan tinggi hingga ia hanya menempuh perjalanan selama 1 jam, biasanya jika mengendarai mobil dengan kecepatan standar akan sampai dalam waktu 3 jam.

"Mutia bagaimana keadaan ayah dan ibuku" ucap Hani dengan keadaan mata sembab, pasalnya ia sudah sampai dirumah sakit Asri Medika dan melihat keberadaan Mutia dan juga pak Iman yang merupakan ayah mutia dan juga kepala kampung Dwiasri.

Mutia diam beberapa saat, ia merasa kasihan karena melihat raut kecemasan dari teman dekatnya. "Ayah dan ibumu masih di nyatakan kritis setelah luka luka nya di tangani oleh para dokter. " ucap Mutia.

"Apa aku boleh masuk ke dalam? " tanya Hani penuh harap.

"Untuk saat ini belum boleh, dikarenakan para dokter masih melakukan observasi lebih lanjut mengenai luka-luka yang terdapat pada beberapa bagian tubuh ayah dan ibumu" jawab Mutia.

Sinta yang mendengarkan percakapan antara Hani dan Mutia hanya menghela nafas, ia tidak tahu harus berbuat apa.

"Sebaiknya kamu tenang dulu, kita berdoa saja untuk kesembuhan ayah dan ibumu" ucap sinta.

Hani menatap pak Imam yang sedari tadi hanya diam."Pak Imam apa anda bisa menceritakan kepada saya bagaimana kronologi kecelakaan ayah dan ibu? " tanya Hani pada pak Imam yang bersandar di dinding tembok rumah sakit.

Pak imam tampak menghela nafas berat. "Tadi setelah sampai ditempat kejadian, bapak mendengar pengakuan dari beberapa orang yang menyaksikan kejadian. Katanya ayah dan ibumu di tabrak lari oleh mobil hitam yang melaju kencang, tapi setelah bapak mencoba mencari bukti dengan menanyakan CCTV yang berada di tepi jalan perbatasan kampung dan kota ternyata CCTV tersebut telah rusak kata orang orang setempat"

"Jadi pelakunya tidak bisa ditemukan pak? dan kenapa ayah dan ibuku pergi ke perbatasan kota? apa dia mau menemui ku" tanya Hani.

"Sepertinya ayah dan ibumu memang berniat untuk menyusul mu nduk. Kemarin sewaktu bapak bertemu ayahmu di sawah beliau bilang, katanya kangen sama kamu, udah lama ga ngasih kabar. " jawab pak Imam

"Ya ampun Hani bodoh sekali kamu, bisa bisanya kamu melupakan kedua orang tua mu yang selalu menunggumu memberi nya kabar" ucap Hani memaki dirinya sendiri sembari melayangkan 2 tamparan keras ke pipinya.

"Hani sudah tenanglah jangan menyalahkan dirimu sendiri, ayah dan ibumu pasti kuat melewati semua ini. Lebih baik kau segera urus biaya rumah sakit ini lalu kita tenangkan diri mu itu ditaman belakang" ucap Sinta sembari mengelus elus pundak Hani mencoba menenangkan.

"Hmm kau benar, aku akan menurus biaya rumah sakit... "

Belum sempat Hani menyelesaikan perkataan nya tiba-tiba suara bariton keras yang cukup ia kenal menghentikan kata katanya.

" Saya sudah mengurus semua biaya administrasi nya" ujarnya.

"Pak Dika? " ucap Hani ketika melihat keberadaan pak Dika sedang berjalan ke arahnya.

Pak Dika hanya tersenyum sembari mengangguk untuk memberi jawaban.

Malam hari yang tampak tenang dengan bulan bersinar menerangi langit-langit malam dan bintang-bintang menghiasi disekeliling nya.

Tepat di mansion keluarga Vireaux, Darren bersama papa nya yang bernama Marco Vireaux dengan mama Diana Elizabeth Vireaux sedang melakukan makan malam bersama keluarga Graves.

Setelah menyelesaikan makan malam kedua keluarga tersebut pergi untuk berbincang bincang diruang keluarga mansion Vireaux.

"Jadi bagini tuan Marco, maksud kedatangan keluarga kami untuk meminta kepastian apakah nak Darren bersedia untuk di jodohka dengan Bella putri saya" ucap Jacob Graves kepala keluarga Graves.

"Untuk keputusan itu saya tidak bisa memaksa tuan Jacob, saya serahkan sepenuhnya kepada putra saya" balas tuan Marco.

"Darren apa kamu menerima perjodohan ini nak? " tanya Diana mama tersayang Darren.

Darren yang sedari tadi hanya memperhatikan pun angkat bicara. "Aku menolak perjodohan ini, karena aku sudah memiliki calon istri. " tolak Darren dengan beralasan sudah memiliki calon istri, padahal sebenarnya Darren sangat jarang berhubungan dengan para wanita diluaran sana.

Mama Diana pun geram dengan jawaban Darren, karena setiap dijodohkan ia selalu menolak dan berkata bahwa memiliki calon istri. Mama Diana sudah pernah meminta Darren untuk membawa pulang calon menantunya tapi setiap kali Darren pulang tidak pernah membawa seorang gadis pun ke dalam mansion keluarga Vireaux. "Sampai kapan kamu akan berbohong pada mama dan papa Darren. Setiap kali kamu akan dijodohkan pasti selalu kamu tolak dengan alasan sudah memiliki calon istri, tapi setiap kali mama menyuruh kamu untuk memperkenalkan calon menantu mama kamu tidak pernah membawanya pulang. Ingat Darren umur mu itu sudah 28 tahun sebentar lagi akan memasuki kepala 3, kamu juga harus memikirkan keturunan untuk meneruskan bisnis mu nanti. " ucap mama Diana panjang dan lebar mengeluarkan semua unek-unek kepada Darren.

"Sudahlah ma, berhenti menjodohkan aku dengan anak rekan-rekan mama itu. Aku berjanji akan membawa pulang calon istriku ketika aku berusia 30 tahun. " ucap Darren tegas, ia terpaksa berjanji pada mama nya agar tidak di jodohkan lagi dengan anak rekan-rekan nya.

"Mama pegang janjimu Darren, kalau sampai kamu tidak membawa calon menantu mama saat berusia 30 tahun, maka kamu harus menerima perjodohan ini. " jawab mama Diana menatap putra semata wayang nya itu dengan tajam.

Bella yang sedari tadi mendengarkan tidak terima jika perjodohan nya di tolak begitu saja oleh Darren, pasalnya ia sudah menaruh hati pada pria itu sejak semasa remaja. "Emm... apa keputusan mu tidak bisa di pertimbangkan dulu Darren. Aku pikir jika kau bisa menerima perjodohan ini kita bisa saling mendekatkan diri sebelum menikah. " ucap Bella dengan suara yang di lembut lembutkan.

'cih dasar wanita j*lang' batin Darren mendengar ucapan Bella. "Tidak, aku tetap menolak perjodohan ini. Sekarang aku harus pergi, membicarakan hal tidak penting seperti ini membuang-buang waktu ku saja" ucap Darren kemudian langsung berlalu keluar tanpa menghiraukan tatapan tajam sang papa.

'Anak itu memang tidak pernah berubah' ucap tuan Marco dalam hati, ia sangat kesal akan tindakan putra semata wayang nya itu. "Baiklah tuan Jacob karena putra saya tidak bisa menerima perjodohan ini, saya harap tidak ada perselisihan diantara kita" ucap tuan Marco memberi pengertian pada tuan Jacob.

Tuan Jacob tampak tenang dan melirik ke arah putri tercintanya yang menampakkan wajah murung. ia menghembuskan nafas kasar lalu berkata "Hmm tidak masalah tuan Marco, walaupun keputusan putra anda membuat putri saya sedikit bersedih. Kalau begitu kami pamit untuk pulang tuan Marco, terimakasih atas makan malam dan kebersamaan nya. " ucap tuan Jacob lalu berdiri dan berjabat tangan dengan tuan Marco lalu pergi meninggalkan mansion keluarga Vireaux.

Selama perjalanan pulang Bella tidak habis habisnya protes akan keputusan sang papa yang menerima akan penolakan perjodohan tersebut.

Tuan Jacob tampak frustasi, ia mengela nafas berat.

"Sudahlah Bella kita terima saja keputusan keluarga Vireaux. Papa tidak bisa berbuat lebih jauh, mengingat lagi keluarga itu sangat lah berkuasa di negara ini, jadi papa harap kamu tidak bertindak lebih jauh untuk memiliki Darren atau kamu akan merasakan akibatnya" ujar Jacob pada putrinya yang keras kepala.

'Tidak tidak, Darren harus menjadi milikku bagaimanapun caranya' ucap Bella dalam hati.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!