Berawal dari ditemukannya seorang bayi oleh pasangan suami istri, Farhansyah Nataniel dan Inayah Givani di sebuah taman. Bayi tersebut mereka rawat dan diberi nama Reyhan Fier Nataniel hingga tumbuh dewasa.
Tiga tahun kemudian, Inayah mengandung dan melahirkan seorang putri yang diberi nama Gita Syafitri. Reyhan dan Gita tumbuh bersama dengan saling menyayangi satu sama lain.
Suatu ketika, Reyhan dan Gita dewasa menikah, dari sini segala cerita masa lalu mulai terkuak.
Bagaimana cerita keseluruhannya? Ikuti terus perjalanan cinta Reyhan dan Gita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Udden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Mengejutkan
"Selamat sore semuanya?" ucap Kevin memasuki ruang rapat.
Degghh....
"Bagaimana, bagaimana bisa wajahnya mirip sekali dengan putraku?" ucap Farhan dalam hati.
"Perkenalkan nama saya Kevin Pratama, saya di sini akan menggantikan papa saya memimpin perusahaan, mohon kerja samanya!" ucap Kevin menjelaskan maksudnya.
Bagaimana bisa, cara berbicaranya bahkan sama seperti Rey, bagai pinang dibelah dua, hanya berbeda umur saja. Pikir Farhan kembali dalam hati.
Farhan pun langsung bangkit dan menyalami Kevin sembari mengucapkan selamat, dan diikuti oleh seluruh pemegang saham lainnya.
"Selamat Pak Kevin, kami tunggu ide-ide cemerlang Anda untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan," ucap Farhan.
"Terima kasih, Pak, mohon kerja samanya," balas Kevin kepada Farhan.
"Selamat Pak Herman, akhirnya Anda bisa pensiun ... hahaha," ucap Farhan dan diikuti oleh pemegang saham lain.
"Iya pak, bapak pun sebentar lagi pensiun bukan?" tanya Herman.
"Iya, Pak, mungkin nunggu anak saya wisuda. Baiklah, Pak, karena rapat telah selesai saya pamit undur diri, selamat siang!" pamit Farhan dan diikuti oleh yang lain.
Setelah Farhan telah berada di luar, dia tak henti-hentinya berfikir tentang Kevin, bagaimana bisa dia bisa mirip sekali dengan putranya, sampai-sampai terlintas di pikirannya bahwa dia adalah orang tua kandung Rey.
"Apa iya, dia orang tua biologis Rey, tapi kok dia ngebuang putranya sih, sungguh bingung memikirkannya, sebaiknya aku menyelidikinya dahulu," pikir Farhan.
Di sisi lain, di ruang CEO perusahaan Pratama Group telah ada Kevin dan Herman, mereka nampak berbincang-bincang, mulai dari topik perusahaan sampai pada akhirnya Herman menyinggung istri dan anak Kevin.
"Nak, apa kamu beneran nggak mau mencari anakmu lagi?" tanya Herman kepada Kevin.
"Kevin bingung, Pah, mau cari ke mana lagi, dan Kevin pun bingung mau cari Pasya ke mana, karena dia Kevin harus berpisah dengan malaikat Kevin," ucap Kevin sendu.
"Yang kuat, Nak. Kamu harus tekadkan kembali untuk mencari anak kamu, pasti dia sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, papa ingin bertemu cucu papa," ucap Pak Herman memberi semangat yang membangun Kevin agar dia mampu bangkit dari keterpurukannya.
"Iya, Pah, Kevin janji sama papa, bakal temuin anak Kevin. Kevinpun kangen sekali sama Abi," ucap Kevin sungguh-sungguh, dan sebelum anaknya menghilang dia juga telah memberi nama untuk putranya.
******
Kini Rey sudah berada di dalam kamar bersama Gita, dia pulang dari kantor agak malam sekisar jam delapan karena tadi lembur menggantikan papanya, sungguh melelahkan, tapi lelahnya sudah terbayar saat pulang dan melihat istri yang menyambutnya.
"Yang, mas kok nggak ada lihat mama?" tanya Rey yang memang sepulang kerja tadi tak melihat Ina --mamanya.
"Iya, Mas, mama ikut papa ke Bandung," jawab Gita sambil menyisir rambutnya di cermin tanpa melihat ke arah suaminya. Karena merasa diabaikan, Rey pun mendekat ke arah Gita dan membungkukkan badannya menaruh kepala di ceruk leher sang istri lalu menghirup wanginya, sungguh bagai penenang penghilang rasa lelah bagi Rey saat menghirup wangi sang istri.
"Kok kamu di cermin aja sih, Yang, aku kan capek, pijitin kek badan mas!" keluh Rey.
"Uluh-uluh suami aku manja banget sih, yaudah sana baring! Biar aku pijit badannya," jawab Gita senang hati.
"Pijit plus-plus ya!" goda Rey. "Adu du duh." Rey mengadu kesakitan karena Gita mencubit pinggangnya.
"Makanya, kalau ngomong difilter dulu!" celoteh Gita kesel.
"Iya deh, muach, yaudah yuk, badan mas pegel-pegel nih, nanti gantian deh!" pinta Rey setelah mengecup pipi Gita dan acara kusuk-mengusuk pun terjadi bahkan hal yang diinginkan Rey pun berhasil didapatkannya karena dengan jahilnya Rey memegang sana sini sehingga mereka sama sama terbuai akan nikmat hakiki itu, wkwk.
*****
"Ah, sudah lama aku tak ke tanah kelahiranku pasca peristiwa dua puluh satu tahun yang lalu, ternyata banyak yang sudah berubah di sini," ucap Wanita misterius itu saat melihat-lihat jalanan ibu kota yang padat tak seperti dulu.
"Oh iya, gimana perusahaanku yang ada di sini, apa adikku berhasil mengembangkan perusahaan itu, sebaiknya besok aku berkunjung ke rumahnya, sekaligus melihat kedua keponakanku, pasti mereka sudah besar. Teruntuk keponakanku, Tante Pasya akan datang besok." Dia adalah Pasya, dia berbicada kepada dirinya sendiri sembari membayangkan akan bertemu keponakannya, tetapi ditengah lamunannya, dia di sadarkan oleh bunyi bel rumah, kemungkinan itu adalah kurir yang mengantar makanannya.
*****
Di sisi lain pula, Farhan kini sedang berada di mansionnya yang berada di Bandung, tapi dia tak sendiri, dia membawa istrinya ke Bandung karena tak mau sendirian.
"Mah, papa ingin bicara sesuatu sama Mama," ucap Farhan.
"Iya, Papa mau ngomong apa?" tanya Ina.
"Ehmmm, kalau papa nemuin orang tua kandung Rey, Mama rela tidak kehilangan Rey?" tanya Farhan ragu-ragu.
"Ehm, mama nggak rela sih, Pah, tapi mau bagaimana pun Rey pasti ingin bertemu orang tua kandungnya, lagipun kita tak akan kehilangan Rey, Rey udah dewasa dan pasti nggak akan ninggalin kita. Kini dia juga sudah menjadi menantu kita," tutur Ina panjang lebar, tatapi sungguh, perkataan Ina bagai mengandung kekuatan baginya, dia jadi tak merasa bimbang.
"Ehmm gini, Mah, tadi papa kan rapat dengan Pak Herman, ternyata putranya mirip sekali dengan Rey, dari wajah sampai logat bicaranya pun sama, papa berfikir kalau Rey itu anak dari putra Pak Herman," jelas Farhan yang membuat Ina cengo tak percaya.
"Ah, ngaco Papa! Perasaan Papa aja kali, bagaimana mungkin bisa sama?" ucap Ina tak percaya.
"Papa nggak bohong, Mah, papa yakin dia itu orang tuanya Rey, tapi yang membuat papa heran, mengapa dia tega membuang putranya?" tanya Farhan heran.
"Ehmm, coba deh Papa selidiko dulu, kalaupun dia orang tuanya, pasti dia pun punya alasan mengapa sampai membuang Rey," jawab Ina memberi saran dan sangat disetujui oleh Farhan.
*************
Hai guys, gimana chapter kali ini?Jangan lupa kritik dan sarannya ya, like juga yang banyak! Kalaupun bisa, kasih Author hadiah bunga dan kopi, kalaupun tak bisa setangkai bunga mawar pun tak apa, wkwkwk.
Jangan lupa juga tekan tombol Favorite, agar tau author upnya.
Jangan lupa follow Ig author juga ya!
ig:@ahmad.zaidin_07
SEE YOU All.