Gadis, sejak kecil hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan di rumah keluarga angkatnya yang kaya. Dia dianggap sebagai anak pembawa sial dan diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu. Puncaknya, ia dijebak dan difitnah atas pencurian uang yang tidak pernah ia lakukan oleh Elena dan ibu angkatnya, Nyonya Isabella. Gadis tak hanya kehilangan nama baiknya, tetapi juga dicampakkan ke penjara dalam keadaan hancur, menyaksikan masa depannya direnggut paksa.
Bertahun-tahun berlalu, Gadis menghilang dari Jakarta, ditempa oleh kerasnya kehidupan dan didukung oleh sosok misterius yang melihat potensi di dalam dirinya. Ia kembali dengan identitas baru—Alena.. Sosok yang pintar dan sukses.. Alena kembali untuk membalas perbuatan keluarga angkatnya yang pernah menyakitinya. Tapi siapa sangka misinya itu mulai goyah ketika seseorang yang mencintainya ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius-74, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERUNGKAPNYA RAHASIA
“Karena aku adalah ayah Ferdo,” ucapnya dengan suara yang pelan.
"Nama aku Ferdiansyah. Aku tahu semua tentangmu, Gadis.
Gadis terkejut. Semua yang terjadi sekarang mulai terhubung.. kenapa wajahnya mirip Ferdo, kenapa dia selalu melindunginya, kenapa dia mau berusaha membantunya.
"Ya Tuhan, ternyata Bapak ayah dari mantan suami saya.. Pantas Bapak sangat mirip dengan Ferdo. Dan, Bapak perhatian lebih pada saya.." Gadis tertunduk, dia memainkan jemarinya, gugup bercampur sedih.
"Maafkan anak saya, Gadis. Dia sudah mengkhianatimu dengan menikahi Elena.." Ferdiansyah memegang tangan Gadis.
" Gak apa-apa Pak. Mungkin ini sudah takdir saya harus pisah dengannya.. Tapi, boleh aku tahu, apa nyonya Isabella itu.." Gadis tak meneruskan kata-katanya, dia tak berani bertanya lebih jauh.
Ferdiansyah tersenyum, dia tahu maksud Gadis apa, hingga ia berniat menceritakan rahasia yang selama ini nyonya Isabella tutup-tutupi..
“Kisah kita dimulai lima belas tahun yang lalu,” Ferdiansyah mulai membuka lembaran nostalgianya..
“Saya dan Isabella menikah dengan penuh cinta. Tapi waktu berlalu, keadaan ekonomi kita semakin sulit. Saya bekerja sekeras mungkin, tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Isabella mulai berubah, dia sering marah, mengeluh, dan membandingkan saya dengan orang lain.”
Dia berhenti sejenak, menyeka keringat di pelipisnya.
“Saya tidak tahu kapan awalnya, tapi Isabella mulai selingkuh dengan Tuan Antonio, seorang duda kaya yang tinggal tak jauh dari rumah. Saya menangkap mereka sekali, di rumah Tuan Antonio. Hati saya hancur. Saya merasa dikhianati, dipermainkan.”
“Dan pada saat itu, Isabella sedang mengandung,” lanjutnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hati saya sakit! Saya memutuskan pisah sementara hingga dia melahirkan, setelah itu saya menceraikannya."
Gadis terkejut sekali lagi. “Jadi… Ferdo bukan anak Tuan Antonio?”
Ferdiansyah mengangguk. “Ya, Gadis. Ferdo adalah anak saya. Tapi Isabella tidak mau mengakuinya. Dia menyembunyikan kebenaran dari Tuan Antonio, dan menyuruh Ferdo memanggilnya Papa. Tuan Antonio tidak pernah tahu, dan Ferdo juga tidak tahu bahwa saya adalah ayah kandungnya."
" Nyonya Isabella menikah dengan tuan Antonio setelah melahirkan Ferdo, karena tuan Antonio menganggap Ferdo anak hubungan terlarangnya dengan nyonya Isabella sebelum menikah.." lanjut Ferdiansyah.
Saat Ferdiansyah berbicara, Gadis merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Semua keanehan yang dia rasakan selama ini mulai terjawab, tapi Gadis merasa ada hal lain lagi yang membuatnya masih ingin tahu lebih lanjut. “Lalu, apa hubungannya saya dengan semua ini, Bapak Ferdiansyah?” tanyanya.
Ferdiansyah menghela nafas lagi, wajahnya semakin pucat. “Kisahmu dimulai ketika Ferdo berusia dua tahun. Pada waktu itu, ada seorang pembantu di rumah tuan Antonio yang cantik, namanya Wulan.”
Mendengar nama Wulan, Gadis merasakan sesuatu yang sakit di dada. Itu adalah nama ibunya, yang hidup dengan penuh penderitaan.
“Wulan adalah pembantu yang rajin dan baik hati,” lanjut Ferdiansyah. “Tapi tak disangka, Tuan Antonio ternyata menyukainya. Dia menyukainya secara diam-diam, dan pada akhirnya, mereka berhubungan. Dan ketika Ferdo berusia dua tahun, Wulan memberitahu Isabella bahwa dia hamil. Hamil anaknya Tuan Antonio.”
Hati Gadis mulai tak enak, dia tak mau dugaannya benar!
“Isabella marah sekali. Dia mengusir Wulan dari rumah, tapi dia tidak mau Antonio tahu tentangnya,” kata Ferdiansyah kemudian
"Jadi, dia menyewakan sebuah rumah kecil untuk Wulan, dengan alasan mengecek apakah anak yang dikandungnya apa benar-benar anak Antonio. Dia ingin memastikan sebelum memberitahu Antonio.”
“Ketika Ferdo berusia tiga tahun, Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik,” lanjutnya, matanya menatap Gadis dengan pandangan penuh belas kasihan. “Wulan memberi nama padanya… Gadis.”
Gadis terlonjak dari tempat duduknya. “Aku? jadi tuan Antonio adalah ayahku?” suaranya bergema di ruang kepala sipir, membuat Pak Rizki, pengacara yang sedang duduk disampingnya ikut terlonjak kaget karena teriakan Gadis.
Ferdiansyah mengangguk. “Ya, Gadis, tuan Antonio adalah ayahmu. Dan Isabella sangat membencimu karena… karena ketika kamu masih bayi, dia melakukan tes DNA dan ternyata kamu benar-benar anak Tuan Antonio. Kamu adalah bukti bahwa Antonio telah selingkuh dengan pembantunya."
Air mata mulai menetes dari mata Gadis. Semua itu terlalu berat untuk ditanggung. Dia adalah anak dari selingkuhan Tuan Antonio dengan pembantunya, dan itu adalah alasan Nyonya Isabella selalu membencinya.
“Tapi apa yang terjadi pada ibuku?” tanya Gadis dengan suara yang hancur. Dia ingin menyamakan kabar yang pernah ia dengar dari pengacara, dengan kabar dari Ferdiansyah.
Ferdiansyah menghela nafas dengan berat. “Ketika Ferdo berusia lima tahun, dia sakit parah, dia gagal ginjal. Isabella sangat khawatir, karena dia tahu kalau Ferdo mati, Antonio mungkin akan meninggalkannya. Jadi dia berpikir untuk mencari donor ginjal untuk Ferdo.”
Dia berhenti sejenak, wajahnya penuh kesedihan. “Dan dia melihat Wulan sebagai solusi. Dia mengunjungi Wulan di rumah sewaannya, dan dengan ancaman, dia memaksa Wulan untuk memberikan salah satu ginjalnya kepada Ferdo. Isabella berjanji akan memberi uang kepada Wulan dari hasil penjualan ginjalnya sebanyak satu milyar, agar Wulan bisa membesarkanmu dengan baik.”
“Tapi setelah operasi, Wulan tidak sembuh. Dia meninggal karena komplikasi pasca-operasi,” lanjutnya, matanya sudah berkaca-kaca. “Dan Isabella… dia tidak menepati janjinya. Dia tidak memberi uang apapun untukmu. Sebaliknya, dia membuangmu ke panti asuhan, dan menyembunyikan semua ini dari Antonio.”
Gadis menangis dengan terisak-isak. Hatinya hancur. Ibunya telah mati karena menyelamatkan Ferdo, dan dia sendiri dibuang ke panti asuhan seperti barang tidak berharga. Semua karena kebencian Nyonya Isabella yang tak berdasar.
Ferdiansyah menepuk bahu Gadis dengan lembut. “Aku minta maaf, Gadis. Aku seharusnya melakukan sesuatu. Aku seharusnya melindungimu dan ibumu. Tapi aku takut pada Isabella. Aku takut dia akan memberitahu Antonio bahwa Ferdo adalah anakku, dan itu akan merusak semua yang dia miliki.”
Gadis menggelengkan kepala, "Enggak Pak, Bapak gak usah minta maaf padaku. Justru aku yang berterimakasih pada Bapak karena kini aku tahu siapa ayah kandungku," jawab Gadis, wajahnya mengandung penyesalan.
"Lalu.. Kenapa aku tiba-tiba ada dirumah tuan Antonio? Bukankah aku dibuang di panti asuhan?" tanya Gadis kemudian
"Karena, aku mengancam nyonya Isabella... Dengan mendatangi rumahnya di saat tuan Antonio sedang di kantornya. Aku mengancam akan membocorkan rahasia tentang Ferdo dan Gadis pada tuan Antonio, jika tidak mengambilmu dari panti, dan tidak merawatnya."
"Oh, jadi begitu ya Pak, ceritanya..." Gadis termenung, mengingat akan kisah hidupnya yang menyedihkan.
"Sekarang, kamu harus siap-siap bereskan semua pakaianmu, karena sebentar lagi kamu akan dibebaskan. Kamu rapikan dirimu, kita akan ke pengadilan." Wajah Ferdiansyah terlihat berbinar, ia ikut merasakan kebahagiaan yang Gadis rasakan saat itu..
"Tapi Pak, boleh aku tahu, siapa yang sudah membantu Bapak mengambil video cctv ketika aku diberi tas oleh nyonya Isabella?" tanya Gadis penasaran.
Ferdiansyah tersenyum, " Ferdo.. "