Clara yang kini hidup seorang diri, menerima penawaran pekerjaan sebagai mata-mata dari seorang temannya yang merupakan anak dari pemilik organisasi mafia dengan upah yang lumayan tinggi. Ia harus bertahan hidup dengan kerasnya dunia di usia muda.
Ibunya yang meninggal karena kecelakaan dan ayahnya yang cacat akibat kecelakaan itu, membuatnya harus mencari uang, hingga ayahnya juga menyusul ibunya 3 bulan kemudian, saat ia ingin memasuki SMA. Saat itulah kemudian ia menerima sebuah misi baru. Apakah ia akan berhasil menjalani misi itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan maggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suara bel berbunyi, saat ara, anna dan naura sedang di dapur menyiapkan makan siang bersama asisten rumah tangga keluarga elmer.
Naura yang mendengar suara bel itu langsung berlari menuju pintu utama, diikuti ara. Sedangkan anna tetap membantu ART.
Setelah pintu dibuka, ada ray di baliknya, naura langsung memeluknya dengan erat, ray membalas pelukan naura.
"kakak datangnya lama banget, udah siang baru datang" ucap naura setelah melepaskan pelukannya.
"maaf ya" balas ray singkat.
"kak yan gak ikut?" tanya ara setelah melihat ke arah luar.
"ohh enggak" balas ray singkat.
"oiya ka ray duluan aja ke ruang main lt.2, disana udah ada ka willie lagi main PS, nay mau lanjut masak" ucap nay lagi.
"oke, terima kasih ya" balas ray tersenyum, kemudian naik ke lantai 2 dan masuk ke sebuah ruangan.
Disana sudah ada willie sedang bermain PS sendiri.
"datang juga lo akhirnya" ucap willie dengan tatapan masih ke layar permainannya.
Ray duduk disampingnya.
"lagi lo cepat amat" balas ray.
"ara yang gak sabaran, dia katanya gak mau datang sendiri, terus anna ngajak gua, yaudah gua ikut" jelas willie.
"BTW ini kayanya bukan rumah, tapi istana, gede banget" ucap lagi willie.
"terus kenapa lo tinggal di apartemen, gak kekurangan kamar kan?" goda willie lagi.
"ya enggak lah, gapapa pengen aja" balas ray lagi, kemudian mengambil stick PS yang lain.
"hmm... Bener kata anna, mencurigakan" balas willie dengan suara misterius.
"apasih, udah sini lawan gua, kalo kalah anna buat gua" sahut ray.
"ehhh gak mau begitu, rakus amat, udah ada ara juga, eh iya ara udah ada def, ohh itu yang ngejar-ngejar lo pake kacamata, namanya siapa? Atau sama bella" balas willie.
"makin ngawur aja nih bocah, udah yuk main" balas ray, akhirnya mereka memainkan game balapan.
"ray, lo sebenernya suka gak sih sama ara? Lo bilang gak suka, tapi tingkah lo terlihat sebaliknya, jujur ke gua coba, gua gak akan kasih tau siapa pun" ucap willie lagi di tengah tegangnya permainan.
"bukan urusan lo, mau gua suka atau enggak" balas ray cuek.
"yaelah ray, nanti nyesel ara ke ambil def duluan" balas willie.
"ambil tinggal ambil" balas ray dingin.
"kalo ara nya suka sama lo gimana? Kayanya dia suka tuh sama lo" balas willie.
"ohh yaudah" balas ray singkat.
"capek banget ngomong sama lo" balas willie kemudian menghembuskan napas.
"ka ray, ka willie ayo makan dulu" ucap nay yang tiba di pintu.
Mereka berdua turun ke ruang makan yang berada dekat dengan dapur, disana sudah ada ara dan anna.
"gua ke kamar dulu bentar" ucap ray setelah makan.
"oke" jawab nay.
"yuk kita main lagi di atas" ajak nay. Mereka berkumpul di ruang sebelumnya.
"ra keluar sini, gua tunggu di halaman belakang" sebuah chat dari ray ke ara saat mereka baru saja tiba di ruangan itu.
"nay" ara memanggil naura dengan panggilan ray ke naura.
"Iya ka?" sahut nay setelah meletakkan beberapa piring berisi cemilan di meja.
"antar ke halaman belakang dong" bisik ara di telinga nay.
nay tersenyum mendengar itu.
"ayo, ka willie, ka anna sebentar ya" ucap nay kemudian.
"mau kemana?" tanya anna yang sudah menyalakan smart TV.
"mau antar ka ara ke toilet bentar" jawab nay, kemudian berdiri.
"ooke" jawab anna.
Kemudian nay dan ara keluar dari ruangan itu.
Kemudian willie berdeham menatap anna sambil menunjuk pintu toilet, ia ingin menunjukkan bahwa di ruangan itu juga ada toilet.
"penasaran gak lo?" tanya willie kemudian, anna mengangguk.
Akhirnya mereka berdua membuntuti nay dan ara ke halaman belakang.
Nay dan ara yang sudah lebih dahulu keluar akhirnya sampai di halaman belakang, yang di pisahkan kaca untuk ke halaman belakang.
Di halaman belakang ada jejeran meja dan kursi, kemudian sebuah kolam renang yang setelah nya ada taman kecil dengan ayunan dan air mancur, juga beberapa kursi.
Ray sudah duduk di sebuah kursi.
"nay antar sampe sini aja ya" ucap nay setelah melihat ray.
"terima kasih ya" ucap ara sebelum pergi ke halaman belakang.
"kenapa panggil gua kesini?" tanya ara yang membuat ray menengok ke arahnya.
"kesini sendiri?" tanya ray, ara mengangguk.
Padahal saat ini, nay, anna dan willie memerhatikan mereka berdua dari jauh, penasaran apa yang akan dilakukan ray, kenapa hanya mengajak ara saja untuk ke halaman belakang.
"lo belum jawab pertanyaan gua" ucap ara kemudian.
"keberatan berdua sama gua?" ray malah bertanya balik.
"enggak kok" balas ara tersenyum.
"duduk disana aja yuk" ajak ray menunjuk ke ayunan yang muat untuk 4 orang, tempat duduk panjang yang saling berhadapan.
ray mengambil tangan ara, menggenggam nya erat, kemudian menariknya pelan untuk mengikutinya.
"pelan-pelan agak licin" Ucap ray saat melewati pinggir kolam renang.
"ahh" baru saja dibilang, ara sudah terpeleset, ray menahannya di pinggang agar tidak jatuh.
Mereka saling bertatapan, pipi ara memerah dan ray malu-malu.
"bangun gak lo" ucap ray kemudian.
"iya-iya" sahut ara, kemudian hendak bangun, "ahh" teriak ara yang terpeleset lagi untuk kedua kalinya, namun kali ini ray ikut terpeleset, karna kakinya yang ikut tertarik oleh kaki ara.
Kedua telapak tangan ray dengan cepat berada di belakang kepala ara agar tidak terbentur ke lantai.
Ara yang tergeletak di lantai dengan belakang kepalanya di lindungi kedua tangan ray, membuat ray juga dalam posisi merangkak di atasnya, yang bertumpu pada lutut dan sikut.
Ara dan ray saling bertatapan cukup dekat, ray dan ara sama-sama merasakan jantungnya yang berdetak dengan cepat, tidak hanya karena jatuh, tapi posisi mereka saat ini yang saling berhadapan sangat dekat, benar-benar dekat.
"OMG" sahut anna yang kaget melihat itu.
"cuit" sahut willie.
Ray dan ara melihat ke arah anna, willie dan nay yang menyaksikan itu.
Ara panik karena malu, belum sempat ray bangun, ia malah mendorong ray ke arah kolom renang, membuat ray tercebur.
"eh ray, maaf-maaf" ucap ara kemudian sambil membantu ray naik kembali dari kolam.
"ka gapapa?" nay langsung menghampiri kakaknya yang baru saja naik dari kolam renang itu. Anna dan willie juga ikut mendekat.
"ray maaf banget" ucap ara lagi saat ray sedang mengusap wajahnya.
nay menempelkan punggung tangannya di kening ray.
"gak demam sih, kakak ada tanda-tanda merasa gak enak badan?" tanya nay kemudian, ray menggeleng.
"ya kali baru kecebur gitu doang langsung demam" sahut willie.
"hmm gimana ya, masalahnya kak ray ada sedikit kelainan, dia gak boleh kena air dingin, makanya kalo mandi selalu pakai air hangat" jelas nay.
"ray ganti baju dulu" ucap ray kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
"mandi hujan gak boleh berarti?" tanya willie lagi, kemudian berdiri, begitu juga yang lainnya.
"enggak, saat masih kecil, gua pernah maksa dia mandi ujan, saat itu gua juga belum tau, terus gak lama setelah mandi ujan, dia demam tinggi" jelas nay sambil berjalan untuk duduk di kursi depan pintu, begitu juga willie dan anna. Mereka duduk di kursi yang mengitari sebuah meja bundar.
"kalo berenang?" tanya willie lagi.
"gak pernah liat ka ray berenang, kalo di ajak juga gak pernah mau" balas nay.
"tapi bisa berenang tadi" willie bertanya-tanya dan menunjuk ke arah kolam.
nay hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
Tak lama hujan turun, mereka kembali bermain ke dalam ruangan sebelumnya. Ray kembali bergabung setelah mandi dengan air hangat dan mengganti bajunya.
Mereka menghabiskan hari itu bersama-sama sampai malam baru pulang ke rumah masing-masing, kecuali ray, ia menginap di rumahnya.