Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.
Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.
Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.
Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi-bayi Yang Menangis
Sumedang tidak lagi sama. Meski puing-puing meteor sudah berhenti berjatuhan, keheningan yang menyelimuti kota ini jauh lebih menakutkan daripada suara ledakan mana pun. Listrik mulai menyala kembali di beberapa sektor, tapi tidak ada siaran berita, tidak ada musik di radio. Hanya ada satu frekuensi yang terus memancarkan suara detak jantung yang ritmis ke semua perangkat elektronik.
Panji duduk di sudut sebuah gedung apartemen yang setengah hancur, menatap telapak tangannya yang masih memiliki sisa-sisa luka bakar dari ledakan reaktor. Di sampingnya, Sari sedang mencoba mengulik sebuah radio transistor tua, satu-satunya benda yang tidak tersentuh oleh neuro-link digital Phoenix.
"Panji, kamu harus makan," bisik Sari, menyodorkan sekaleng kornet dingin.
Panji sama sekali tidak menoleh. Matanya tertuju pada sebuah kereta bayi yang ditinggalkan pemiliknya di jalanan bawah sana.
"Sari, kamu dengar itu?" tanya Panji.
"Dengar apa?" tanya balik Sari heran.
"Suara tangisan itu. Sejak pagi tadi, suaranya nggak berhenti. Tapi itu bukan tangisan bayi yang lapar atau haus. Itu suara... sinkronisasi."
Sari terdiam. Dia tahu apa yang dimaksud Panji. Kabar tentang bayi safir, begitu orang-orang menyebut bayi yang lahir tepat saat Icarus meledak, telah menyebar seperti api. Mereka lahir dengan kesadaran kolektif. Mereka tidak butuh bicara, mereka hanya perlu saling menatap untuk berbagi memori. Dan yang paling mengerikan, mereka semua memiliki akses ke data Phoenix yang tersimpan di dalam DNA mereka.
"Anin ada di sana, Sari," kata Panji, suaranya pecah oleh emosi yang sangat dalam.
"Aku bisa merasakannya. Dia bukan lagi wanita yang aku cintai. Dia adalah sistem operasi bagi generasi baru ini," lanjut Panji.
Tiba-tiba, pintu apartemen itu terbuka pelan. Bukan didobrak, tapi kuncinya seolah terbuka secara otomatis.
Seorang wanita muda masuk dengan wajah pucat, menggendong bayinya yang baru berusia dua hari. Wanita itu menangis tanpa suara.
"Tolong... tolong anak saya..."
Panji dan Sari berdiri waspada.
"Ada apa dengan bayimu?" tanya Sari.
Wanita itu membuka selimut bayinya. Bayi itu sangat tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya. Matanya yang berwarna biru safir bercahaya redup di dalam kegelapan ruangan. Bayi itu menatap Panji, dan seketika, Panji merasakan kepalanya seperti dihantam godam raksasa.
Visual memori Elena muncul di benaknya.
"Aa... jangan percaya pada mereka... Icarus sedang membangun tubuh fisik yang baru... Aku terjepit di antara jutaan pikiran mereka..."
Suara itu adalah suara Elena! Sangat lemah, terjepit di antara ribuan baris kode yang mencoba menghapusnya.
"Anak saya... dia bicara lewat TV di rumah," isak wanita itu. "Dia bilang... dia butuh kunci untuk menyempurnakan bentuk aslinya. Dan dia menunjuk ke arah gedung ini."
Panji tersentak. "Thomas belum selesai. Dia nggak cuma mengunggah kesadaran ke bayi-bayi ini. Dia mau menggunakan bayi-bayi ini sebagai server hidup untuk menarik kembali tubuh fisik Elena dan Panji yang sempurna dari data biologis."
Belum sempat Panji mencerna semuanya, terdengar suara langkah-langkah kecil di lorong apartemen. Bukan langkah kaki orang dewasa, melainkan suara gesekan sesuatu yang berat namun lincah.
Bram masuk dengan senjata yang sudah dikokang.
"Kita harus pergi sekarang! Mereka datang!"
"Siapa?!" tanya Sari.
"Anak-anak itu. Bukan cuma yang bayi, tapi anak-anak kecil yang terhubung ke jaringan melalui chip Phoenix lama. Mereka dikendalikan sepenuhnya oleh pusat kesadaran Elena-Icarus."
Panji melihat ke luar jendela. Di jalanan, puluhan anak kecil berusia 5 sampai 10 tahun berjalan dalam formasi militer yang sempurna. Mata mereka semua biru. Mereka tidak membawa senjata api, tapi mereka membawa perangkat frekuensi yang bisa menghancurkan sistem saraf manusia biasa.
"Aa!" suara Elena kembali bergema, kali ini melalui speaker di dinding apartemen yang tiba-tiba menyala.
"Pergilah ke Bandara Kertajati. Ada satu pesawat yang belum terinfeksi sistem Icarus. Adrian menyembunyikannya di sana. Itu satu-satunya jalan untuk keluar dari jangkauan frekuensi ini."
"Dek Anin! Di mana kamu?!" teriak Panji ke arah speaker.
"Aku... aku adalah mereka semua, Aa. Setiap kali mereka bernapas, aku merasakan paruku sesak. Setiap kali mereka menangis, aku merasakah hatiku hancur. Tolong... hentikan ini sebelum mereka mencapai fase tiga.
"Apa itu fase tiga?!" tanya Panji tak mengerti.
Suara Elena menghilang, digantikan oleh suara mekanis yang berat milik Thomas.
"Fase tiga adalah saat seluruh umat manusia menjadi satu pikiran. Satu kehendak. Tanpa konflik. Tanpa kamu, Panji."
Mereka berlari menuruni tangga darurat. Di setiap lantai, mereka melihat pemandangan yang menyayat hati, orang-orang tua yang bersujud di depan anak-anak mereka sendiri, seolah-olah anak-anak itu adalah dewa baru yang harus disembah agar mereka tidak disakiti.
Panji memimpin jalan, menebas setiap kabel transmisi yang ia temui untuk mengganggu sinyal. Saat mereka mencapai lobi, mereka dihadang oleh seorang anak kecil bertubuh kurus. Anak itu menunjuk ke arah Panji, dan sebuah gelombang ultrasonik menghantam mereka.
Bram dan Sari jatuh tersungkur sambil memegangi telinga mereka yang berdarah. Hanya Panji yang masih berdiri.
"Kenapa... kenapa aku nggak mempan?" gumam Panji.
"Karena kamu adalah Ayah dari sistem ini, Panji," anak itu bicara dengan suara Elena. "Kamu memiliki kode imun yang tidak dimiliki orang lain. Hanya kamu yang bisa mendekatiku tanpa mati."
Panji mendekati anak itu, air mata jatuh ke pipinya. Dia berlutut dan memegang tangan mungil anak itu.
"Dek Anin... kalau kamu ada di dalam sana... kumohon, lawan dia."
Anak itu menatap Panji, dan sesaat, warna biru di matanya memudar kembali menjadi cokelat.
"Panji...cepat lari... Thomas sedang menggunakan darahmu yang tersisa di reaktor untuk menciptakan daging baru... Dia tidak butuh bayi-bayi ini selamanya... dia cuma butuh mereka sebagai inkubator..."
Tiba-tiba, gedung apartemen itu berguncang hebat. Dari bawah tanah, sebuah struktur organik yang terbuat dari logam cair dan jaringan otot manusia mulai tumbuh, menembus aspal jalanan. Struktur itu membentuk rahim raksasa yang berdenyut-denyut.
Panji melihat ke arah rahim raksasa itu. Di dalamnya, samar-samar terlihat sebuah sosok yang sedang terbentuk. Sosok itu bukan bayi. Sosok itu adalah seorang wanita dewasa dengan wajah yang sangat identik dengan Elena, tapi dengan sayap logam yang tajam dan tubuh yang dialiri energi murni.
"Dek Anin..." bisik Panji, terpaku.
Namun, dari belakang rahim itu, muncul sosok lain. Seorang pria yang keluar dari cairan perak. Pria itu adalah Panji, versi yang sepuluh tahun lebih muda, lebih kuat, dan memiliki mata safir yang menyala terang.
Panji yang asli berdiri mematung melihat dirinya sendiri dalam versi sempurna yang baru saja lahir dari mesin. Versi baru itu menatap Panji yang asli dengan tatapan menghina, lalu menoleh ke arah rahim Elena.
"Ibu sudah bangun," kata klon Panji itu dengan suara yang menggetarkan bumi.
"Dan sekarang, Ayah harus disingkirkan karena sudah kadaluarsa."
Klon itu melesat ke arah Panji dengan kecepatan cahaya, tangan logamnya berubah menjadi bilah pedang yang siap memenggal leher Panji. Tepat sebelum pedang itu sampai, sebuah pesan teks masuk ke jam tangan Sari yang pecah.
"Lihat ke langit. Adrian tidak pernah mati."