Nyaris diperkosa oleh teman suaminya, membuat Syma mengalami trauma yang mendalam. Sang suami sendiri, bukannya merangkul sang istri. malah menuduhnya melakukan perselingkuhan dan dengan kejamnya merampas hak asuh anaknya. Memisahkan sang anak dari ibunya.
hal itulah yang menyebabkan Syma terpaksa menjadi simpanan pria kaya yang memiliki kekuasaan tinggi agar bisa mengambil kembali hak asuh atas anaknya.
"Tidak ada yang menyayangi anakku, melebihi aku sendiri !
aku mungkin bisa kehilangan suami, tapi tidak dengan anakku. Akan kuperjuangkan sampai mati."
"Jadilah simpananku, maka aku akan membuatmu mendapatkan kembali hak asuh anakmu."
Tentu saja Syma menerimanya meski ada rasa berat dihatinya. Namun demi anaknya, dia rela menerima tawaran itu.
Dari tawaran itu juga Syma meminta agar Ersad menikahinya sah secara agama.
Ersad menyetujui keinginan Syma.
Kehidupan rumah tangga mereka awalnya harmonis. Ersad juga mulai terbuka dengan istri barunya itu. Dan perlahan... rasa itu mulai tumbuh.
Semuanya berubah ketika istri pertama Ersad meninggal. Syma harus menghadapi kebencian suaminya karena tuduhan atas pembunuhan istri pertamanya yang bernama Erika.
Lalu bagaimana cara Syma mengembalikan cinta suaminya? akankah kebenarannya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMS EPS 27: LEBIH BAIK MATI DARI PADA HARUS MERELAKAN
"Kenapa bisa seperti ini, Syma?" ucap wanita paruh baya yang bertugas sebagai kebersihan di panti asuhan As-Safaat.
Wanita itu bernama Deriya. Kedatangannya ditemani oleh Aina. Mereka menatap prihatin melihat Syma dan Zea disana.
"Sepertinya ada yang sengaja menjebak ku, Bibi." Syma berucap pelan. Sebuah kesedihan nampak jelas diwajahnya.
"Siapa yang tega melakukan hal ini padamu? Aku mengutuk siapapun orang itu Syma ! Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal padanya.... " ucap Bibi Deriya yang mulai terisak.
"Sudahlah Bibi. Ini adalah ujian bagi kami, doakan saja semoga kami bisa segera keluar. Dan kebenarannya akan segera terungkap,"
"Lalu dimana suamimu? Apa dia juga mengira kau melakukannya?"
Syma terdiam. Meski benar kenyataannya bahwa Ersad juga tidak percaya padanya. Namun Syma tidak ingin reputasi suaminya terkesan jahat dimata Deriya.
"Kenapa diam? Apa benar begitu, Syma?" Deriya nampak tak sabar dengan jawabannya kali ini.
"Dia hanya bimbang, Bibi. Pikirannya sedang kacau. Dia baru saja kehilangan, dan aku mengerti itu. Dia belum bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah," Syma berucap selembut mungkin. Sebisa dia membuat amarah Deriya meredam.
"Aku kenal betul siapa kau ini Syma. Setiap kali ada masalah kau selalu menutupi aib suamimu. Aku tahu sejak dulu sebagai mana kau melakukan hal yang sama dengan Revan.
Dan kali ini, aku tidak akan diam lagi.
Kenapa Syma? Kenapa kau selalu menyembunyikan keburukan suamimu?"
"Karena ketika aku telah memaafkannya, belum tentu Bibi bisa memaafkannya." Syma tersenyum kecut saat mengingatnya.
"Kau terlalu naif, Syma...." tatapan Deriya kini beralih ke Zea yang sedang bermain dengan Aina. "Aku akan membawa Zea bersamaku. Dia tidak boleh berada ditempat seperti ini Syma."
"Baiklah Bibi Deriya, terimakasih untuk itu,"
Ketika waktu kunjungan telah habis. Bibi Deriya dan Aina segera pergi. Meski terlalu enggan bagi mereka untuk beranjak dari sana. Namun mereka tidak bisa berbuat apapun.
Tidak lupa mereka juga membawa Zea. Meski Zea sempat menangis karena tidak ingin jauh dari ibunya. Namun Deriya dan Aina tidak menyerah untuk membujuk anak kecil itu, sampai pada akhirnya Zea mau ikut dengan Deriya dan Aina.
Meninggalkan Syma sendiri disana.
******
Sesuai rencana mereka. Syma mulai bersiap-siap ketika makanan dimeja itu akan beralih ke lantai bawah.
Matanya menangkap dua orang tahanan yang terlihat tidak sabar dengan makanan itu.
"HEY KALIAN....
SEBAIKNYA KALIAN MENGAMBIL MAKANAN ITU SECUKUPNYA. JAGA KEBERSIHAN MAKANAN ITU. JANGAN SERAKAH DAN MEMIKIRKAN PERUT KALIAN SENDIRI!! PIKIRKAN TAHANAN YANG ADA DI LANTAI PALING BAWAH."
Syma berteriak mencoba untuk memperingati tahanan itu. Namun bukannya mendengarkan, mereka malah mengacungkan jari tengah mereka. Sembari makan dengan rakusnya.
"APA KALIAN TULI! MAKAN SECUKUPNYA DAN BERHENTILAH MENGACAK-ACAK MAKANAN SEPERTI ITU... " ucap wanita yang berada satu tahanan dengan Syma. Namun bukannya mendengarkan, mereka malah melempar dengan makanan itu sendiri. Sehingga semakin berantakkan lah makanan itu.
"Sudah ku katakan ini hanya sia-sia. Tidak akan ada yang mau mendengarkan kita,"
Syma nampak berpikir sejenak. Lalu kembali berteriak.
"DENGAR...
JIKA KALIAN TIDAK MELAKUKAN APA YANG KAMI KATAKAN. MAKA BESOK KETIKA MAKANAN DATANG, KAMI AKAN MELETAKKAN KOTORAN KAMI DISANA.
BESOK KALIAN AKAN MAKAN KOTORAN!"
Sontak kedua tahanan yang ada dibawah itu menghentikan aksinya. Menatap Syma dengan penuh kebencian.
"Kurang ajar! Wanita sialan....
Apa pedulimu pada orang-orang yang berada dibawah. Kalian manusia serakah selalu saja memanfaatkan kelemahan orang yang berada dibawah,"
"Sebab itulah aku ingin agar mulai sekarang kita saling memikirkan satu sama lain. Jika tidak dimulai dari kita, lalu siapa lagi? Mereka yang ada dibawah pasti akan melakukan hal yang sama ketika pindah ke lantai atas.
Jika rencana ini berhasil, maka ketika kalian berada di lantai paling bawah, kalian tidak akan kelaparan," ucap Syma menjelaskannya.
Mereka terdiam. Dan saling memandang satu sama lain.
Meski sempat terjadi percekcokan, akhirnya mereka setuju dan melakukan hal yang sama pada tahanan yang berada dibawah mereka. Dengan ancaman yang sama pula tentunya.
Sementara wanita yang berada satu ruangan dengan Syma, menatapnya penuh rasa kagum. Namun mulutnya terlalu keluh untuk mengutarakan semuanya.
Dia yakin bahwa kehadiran Syma membawa pengaruh baik dalam sel tahanan itu.
'Semoga Allah mengabulkan semua doamu... '
*****
Sementara itu, disisi lain....
"APA YANG KAU LAKUKAN NORA? KENAPA KAU MEMBIARKAN SYMA DITAHAN... "
Ersad begitu marah sampai semua barang yang ada di apartemen Nora dia hancurkan. Semua yang terjadi membuatnya begitu frustasi. Karena kelemahannya dia tidak mampu melakukan apapun. Untuk mencegah perbuatan Nora.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan selain melakukan itu? Wanita itu pantas mendapatkannya...
Itu adalah hukuman yang setimpal baginya," saut Nora tidak ada rasa takut sedikitpun dengan kemarahan Ersad.
"BODOH!
Jika kau membuatnya dipenjara, itu sama saja kau memberi peluang besar baginya untuk bebas. Suatu hari nanti dia pasti akan dibebaskan. Jika sudah begitu, apanya yang menurutmu setimpal? Huh... "
Nora terdiam sejenak. Mencerna setiap ucapan Ersad. Dia tersenyum senang tentunya. Ketika menyadari rupanya Ersad bukanlah mengkhawatirkan Syma. Melainkan ingin menghukumnya lebih mengerikan dari itu.
"Lalu apa solusi Kakak? Apa Kakak akan menjadikan wanita itu sebagai makanan buaya? Atau menjualnya dirumah bordil. Aku rasa itu bukan ide yang buruk," ucap Nora yang tidak sabar melihat penderitaan Syma.
"Pikiranmu terlalu pendek, Nora...
Untuk apa kita menyuruh orang menyiksanya, jika kita sendiri bisa melakukannya.... "
Lagi-lagi seringai kejam terukir diwajah Nora mendengar ucapan Ersad.
"Jadi maksud Kakak, aku harus mencabut tuntutan itu agar kita bisa menyiksanya begitu?"
"Benar....
Aku ingin kau mencabut tuntutan itu secepatnya. Untuk urusan yang lainnya, serahkan saja padaku," ucap Ersad dingin. Dari ucapannya saja sudah begitu mengerikan. Apalagi jika dia benar-benar melakukannya.
Nora mengangguk setuju dengan keputusan Ersad. Dia paling suka jika mendapatkan bagian siksa menyiksa. Apalagi orang itu adalah Syma. Wanita yang sudah dia benci sejak awal pertemuan mereka. Karena telah berani mendekati Kakak iparnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan melakukannya, Kak. Apapun akan aku lakukan untukmu.... " ujarnya menatap Ersad dengan seringai menggoda.
Baru saja Nora ingin mendekatinya. Ersad telah lebih dulu pergi meninggalkan apartemen Nora. Dengan perasaan yang berkecamuk didalam dirinya.
Melihat hal itu membuat Nora mengubah ekspresinya menjadi datar.
'Suatu hari nanti kau akan berhasil ku tahklukkan Kak. Mau sekeras apapun kau menghindariku, maka sekeras itu pula aku akan mendekatimu.
Aku lebih baik mati, dari pada harus merelakanmu bersama wanita lain' gumam Nora sembari menatap kepergian Ersad yang perlahan mulai menghilang.
BERSAMBUNG.......