NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hening dan River Armani #2

Malam do Ciwidey, suhu turun drastis hingga menyentuh angka 10 derajat.

Di area terbuka depan vila, anak-anak BEM mencoba menyalakan api unggun, namun kayu yang lembap karena kabut membuat api sulit membesar.

Every duduk di kursi kayu, menggigil meski sudah memakai jaket tebal. Axel sedang sibuk di dalam vila mengambilkan teh hangat untuknya. Saat itulah, River muncul dari arah kegelapan hutan bersama tim teknik.

River tidak bergabung dengan lingkaran BEM. Ia duduk agak jauh, di sebuah batang pohon tumbang, mengeluarkan pemantik api dan menyalakan sebatang rokok.

Di sampingnya, Aluna duduk menempel, menyandarkan kepalanya di bahu River sambil memegang segelas kopi hitam.

"Dingin, Riv!" tanya Aluna sambil mengeratkan pelukannya di lengan River.

River tidak menjawab, ia hanya mengembuskan asap rokok ke udara dingin, matanya menatap kosong ke arah api unggun yang meredup.

Every menatap River dari seberang api. Tatapan mereka sempat bertemu selama satu detik.

Every berharap melihat kilat nakal atau ancaman "noda merah" di mata itu. Namun, mata River benar-benar kosong. Ia langsung membuang muka, kembali berbicara pelan dengan Aluna, seolah Every hanyalah bagian dari dekorasi malam yang tidak penting.

"Every, ini tehnya," Axel datang dan duduk tepat di samping Every, sengaja merangkul bahu Every di depan semua orang.

Every merasa mual.

Ia melirik ke arah River, berharap pria itu akan meledak atau setidaknya melempar kunci motornya seperti biasa.

Tapi River diam. Ia justru mengambil jaket kulitnya dan menyampirkannya ke bahu Aluna karena gadis itu mulai menggigil.

Sialan, batin Every.

Hatinya terasa remuk. River benar-benar menjalankan tantangannya dengan sempurna: ia tidak menyentuh Every, ia tidak berdiri dekat Every, dan ia memberikan semua "perlindungan" yang harusnya milik Every kepada gadis lain.

Every berdiri dengan tiba-tiba, membuat teh di tangannya tumpah sedikit. "Gue masuk duluan. Pusing," ucapnya tanpa melihat Axel.

Saat Every berjalan melewati River untuk menuju pintu vila, River tetap tidak bergerak. Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya.

Every bisa merasakan aroma rokok River, namun pria itu tidak lagi menjadi miliknya untuk dihirup.

Tepat saat Every sampai di ambang pintu, ia mendengar suara berat River yang berbicara pada Aluna—suara yang cukup keras untuk Every dengar:

"Kalau lo kedinginan, masuk ke kamar gue aja, Al. Di sana ada pemanas tambahan."

Every memejamkan mata rapat-rapat, melangkah masuk ke dalam vila dengan rasa sesak yang luar biasa. River Armani telah menghancurkannya tanpa menyentuhnya sama sekali.

---

Pukul dua dini hari, suhu di Ciwidey merosot tajam, menembus dinding-dinding kayu vila dan menyelusup ke balik selimut tebal Every.

Namun, bukan udara beku yang membuatnya terjaga, melainkan gemuruh di dadanya yang tak kunjung padam sejak mendengar tawaran River pada Aluna tadi malam.

Apa Aluna beneran ada di kamar River?

Pikiran itu terus berputar seperti kaset rusak. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdebar karena kegelisahan yang memuakkan, Every akhirnya melempar selimutnya.

Ia menyambar jaket tebalnya dan keluar dari kamar dengan langkah pelan, berniat mencari kebenaran yang mungkin akan menghancurkannya.

Ia menuju sayap bangunan tempat tim Teknik menginap. Namun, saat ia melewati pintu kamar River yang sedikit terbuka, ia membeku. Kamar itu kosong. Rapi. Tidak ada tanda-tanda River maupun Aluna di sana.

Langkah Every membawanya menuju ruang tengah vila, tempat perapian besar berada.

Dari kejauhan, ia mendengar suara genjrengan gitar yang sumbang dan nyanyian tidak jelas dari beberapa anak Teknik yang masih terjaga, mencoba melawan dingin dengan sisa-sisa energi.

Di sana, di atas sofa kulit panjang yang sudah tua, Every menemukan pria itu.

River tertidur di tengah hiruk pikuk teman-temannya yang masih bernyanyi. Ia tidak di kamar, dan Aluna—gadis itu terlihat tertidur meringkuk di kursi armchair tunggal di sudut ruangan, jauh dari jangkauan River.

River tidur dengan posisi duduk yang menyandar, kepalanya menyandar ke kursi. Ia masih mengenakan jaket kulitnya, tangannya bersedekap di dada, dan sebilah pisau lipat yang tertutup masih berada dalam genggamannya—refleks keamanan yang tak pernah lepas.

Wajahnya yang biasanya penuh ejekan dan intimidasi kini terlihat... tenang, namun tetap keras. Cahaya redup dari sisa bara api di perapian memberikan bayangan tajam pada garis rahangnya.

Every terpaku di balik pilar. Ia menatap River dari kejauhan.

"Woy, Every? Belum tidur?" salah satu anak BEM yang sedang memegang gitar menyadari kehadirannya.

Every tersentak, wajahnya memucat. "Gue... gue cuma mau ambil air minum."

"Oh, itu si bos baru pingsan sejam yang lalu habis benerin pemanas ruangan yang mati," bisik anak Teknik itu sambil menunjuk River dengan kepala. "Jangan dibangunin, galak kalau kurang tidur."

Every mengangguk kaku. Ia berjalan perlahan menuju dapur, namun matanya tak lepas dari sosok River. Saat ia melewati sofa itu, Every sengaja memperlambat langkahnya.

Jarak mereka kini kurang dari satu meter.

Ini adalah jarak yang Every larang. Jarak yang River patuhi sepanjang hari tadi. Tapi sekarang, saat pria itu memejamkan mata, Every-lah yang melanggarnya.

Every berdiri tepat di samping sofa. Ia bisa mendengar napas berat dan teratur dari River. Bau tembakau dan dinginnya angin gunung masih menguar dari jaket kulitnya.

Ada keinginan gila di dalam diri Every untuk menyentuh rambut berantakan itu, atau sekadar memastikan apakah River benar-benar tidak peduli padanya.

Tiba-tiba, River bergerak sedikit. Bibirnya bergumam rendah, hampir tidak terdengar di tengah petikan gitar yang pelan.

"...jangan di situ, Eve... licin..."

Every membeku. Napasnya tertahan. River mengigau? River mengingat momen di kolam? Atau momen di hutan tadi siang?

Every menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah River. Ia ingin membenci pria ini. Ia ingin River menghilang.

Tapi saat melihat River yang kelelahan karena memastikan semua orang—termasuk Every—tetap hangat dengan memperbaiki pemanas, benteng arogansinya retak.

"Kenapa lo harus se-menyebalkan ini, River?" bisik Every hampir tanpa suara.

Tepat saat Every hendak berbalik, tangan River yang besar dan kasar bergerak secepat kilat. Tanpa membuka mata, River menangkap pergelangan tangan Every, mencengkeramnya dengan tekanan yang pas—tidak menyakitkan, tapi tidak membiarkannya lepas.

Every terkesiap. Ia menatap River, jantungnya serasa mau melompat keluar.

River membuka matanya perlahan. Mata yang kelam dan tajam itu langsung mengunci manik mata Every. Tidak ada kantuk di sana.

Pria itu sudah bangun sejak Every berdiri di sampingnya.

"Gue rasa," suara River terdengar sangat serak dan dalam, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuh Every, "lo yang baru aja langgar aturan satu meter itu, Madam President."

1
den
double up thor🤭
Muse_Cha: jangan lupa vote dan komen ya kak🙏❤️😍
total 1 replies
den
up lagi thorr
Muse_Cha: ditunggu ya kak. aku up sore²😍 jangan lupa like bab dan vote ya. terimakasih supportnya ❤️
total 1 replies
den
ceritanya menarik dan realistis ngk membosankan
den
kak plis up ceritanya realistis bangett😍
Muse_Cha: makasih ya kak😍 semoga suka terus🙏
total 1 replies
awesome moment
perempuan sering lbh maju perasaannya dan...tu yg bikin...terjun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!