Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hancurnya peti Sang Jiwa
Gema benturan antara tombak cahaya Mo Tian dan pedang Yue Sha menciptakan riak energi destruktif yang menyapu ke segala arah. Meskipun Jian Wuyou memiliki kekuatan yang luar biasa, ia harus membagi fokusnya antara menyerang armada langit dan melindungi paviliun tempat peti mati Li Hua berada.
"Kau terlalu banyak membawa beban, Jian Wuyou!" teriak Mo Tian dengan tawa mengejek. Ia menyadari pandangan Jian Wuyou yang sesekali melirik ke arah paviliun. "Seorang pejuang sejati tidak seharusnya memiliki kelemahan yang begitu rapuh!"
Mo Tian menghentakkan tombaknya ke udara, memanggil Hujan Meteor Cahaya Abadi. Ribuan bola api suci jatuh dari langit, bukan mengincar Jian Wuyou, melainkan mengincar paviliun kristal di bawahnya.
"TIDAK!" raung Jian Wuyou.
Ia melesat turun secepat kilat, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng. Ia menebas setiap bola api yang mendekat, namun ledakan-ledakan tersebut menciptakan getaran frekuensi tinggi yang merambat hingga ke dasar paviliun.
Suara itu sangat pelan, hampir tenggelam di tengah bisingnya perang, namun di telinga Jian Wuyou, suara itu terdengar seperti ledakan guntur.
Krak...
Jian Wuyou membeku. Ia menoleh perlahan ke arah peti mati emas di belakangnya. Sebuah retakan kecil muncul di permukaan kristal pelindung peti tersebut. Energi kehidupan yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah mulai bocor keluar dalam bentuk uap biru yang tipis.
"Li... Hua..." bisik Jian Wuyou, suaranya bergetar hebat.
Mo Tian, yang melihat celah tersebut, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia memusatkan seluruh kekuatan penghancurnya ke ujung tombaknya dan melemparkannya dengan kecepatan cahaya.
"Teknik Penghancur Arwah: Panah Penghakiman!"
Jian Wuyou mencoba menangkisnya, namun tombak itu meledak tepat di depan peti mati, menciptakan gelombang kejut yang sangat dahsyat.
PRANKKKKK!
Peti mati emas itu hancur berkeping-keping. Esensi jiwa Li Hua yang selama ini tersimpan di dalamnya—sosok cahaya putih yang menyerupai wanita cantik—muncul sejenak di udara. Ia menatap Jian Wuyou dengan tatapan sedih dan penuh kasih sayang, sebelum akhirnya perlahan memudar dan hancur menjadi debu cahaya yang tertiup angin badai.
Jiwa Li Hua telah hilang. Musnah sepenuhnya dari putaran reinkarnasi.
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Jian Wuyou. Tangannya yang memegang Yue Sha terkulai lemas. Matanya yang tadinya penuh dengan tekad, kini berubah menjadi kosong, hitam pekat seolah menelan seluruh cahaya di sekitarnya.
Mei Lian yang menyaksikan itu dari dalam formasi berteriak histeris, namun suaranya tak sampai ke telinga Jian Wuyou. Di puncak gunung itu, suhu mendadak turun hingga ribuan derajat di bawah nol.
"Hahaha! Akhirnya, bebanmu sudah hilang!" Mo Tian tertawa sombong di atas kapal perangnya. "Sekarang, kau tidak punya alasan lagi untuk—"
Ucapan Mo Tian terhenti. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Tekanan aura yang keluar dari tubuh Jian Wuyou kini bukan lagi milik seorang manusia atau kultivator. Itu adalah hawa murni dari neraka terdalam.
"Ggrrrr... AHHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
Jian Wuyou melolong ke langit. Teriakan itu begitu menyayat hati hingga membuat para prajurit langit di kejauhan memuntahkan darah karena hancurnya gendang telinga mereka.
Rajah hitam di tangan kanannya merambat dengan liar, menutupi seluruh wajah dan tubuhnya. Rambut hitamnya memutih dalam seketika. Pedang Yue Sha yang tadinya berwarna hitam kini terbakar oleh api ungu gelap yang mengeluarkan aroma belerang dan kematian.
"Mo... Tian..." Suara Jian Wuyou bukan lagi suara manusia, melainkan geraman ribuan iblis yang bersatu.
Ia mendongak. Matanya kini menyala merah darah, memancarkan haus darah yang tak terpuaskan. Tanpa kata-kata lagi, ia meledak ke atas. Kecepatannya kini begitu tinggi hingga ia tampak muncul di sepuluh tempat berbeda secara bersamaan.
SLASH! SLASH! SLASH!
Dalam satu detik, sepuluh kapal perang hancur terpotong menjadi jutaan kepingan kecil. Jian Wuyou tidak lagi menggunakan teknik pedang yang indah; ia mencabik-cabik para prajurit langit dengan tangan kosong dan pedangnya secara brutal. Darah menghujani pegunungan kristal bagaikan badai.
"Aku akan mengubah langit ini... menjadi kuburan kalian semua!"
Jian Wuyou menerjang ke arah Mo Tian. Sang Kaisar Langit yang tadinya sombong kini mulai merasakan ketakutan yang nyata. Ia menyadari bahwa ia baru saja membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur dalam sejarah.