Sisi lain dari Pesantren.
Cinta itu ada di Pesantren, cinta yang tak melulu soal manusia.
Terinspirasi dari kisah seorang santri, saya coba angkat ke dalam novel ini.
Semoga banyak hikmah yang bisa dipetik.
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Rivianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sok kenal
Gazani masih saja mengejek Nimas, kadang menertawakannya yang membuat Nimas sedikit jengkel dibuatnya.
"Oh iya Dek, Mbak Sari lagi ngisi."
Perkataan ibu membungkam seketika mulut Gazani yang tengah tertawa.
"Waaah.. Tajam juga punyamu bang."
"Iiiiiihh kamu ini masih saja ngomongnya asal jeplak."
Ibu menjewer gemas telinga Nimas. Kasian.
"Ampun bu, ampun."
Nimas memegangi telinganya yang panas itu.
"Sukurin!!" Ledek Gazani.
"Kamu juga Gazani, udah mau punya anak masih aja kekanak-kanakan."
Kali ini Gazani tak berkutik lagi. Seorang ibu emang juara deh dalam menjinakkan anaknya hmm.
--------------------------------------
Ibu dan Gazani memutuskan untuk menginap karena Nimas memaksa.
Malam ini, sang Ustadz dan Gazani tengah asik main catur. Sementara Nimas dan ibunya di dalam rumah menonton televisi.
"Bu, kayaknya enak yaa ubi bakar."
Nimas berkata manja pada ibunya sambil memainkan kancing baju ibunya.
"Emang kamu punya ubinya?"
Nimas menggelengkan kepala.
"Nah yaudah diem."
Ibu sadis juga ya ternyata.
"Tapi bu, rasanya ubi itu udah di tenggorokan. Aku mau bu!!"
"Kamu ini seperti orang ngidam aja deh, Eh tunggu.. Adek ga lagi hamil kan?"
Ibu penasaran kemudian tangannya meraba-raba perut Nimas. Nimas berontak kegelian.
"Ih apaan ibu ini, enggak bu cuma pengen aja."
Nimas membenarkan posisi duduknya.
"Yaa aneh aja ibu." Ibu memasang wajah menyelidik ala detektif.
"Enggak ibu ih, bentar ah aku minta dibeliin sama A Zam."
Kemudian Nimas melenggang keluar rumah dimana di sana tengah terjadi pertarungan sengit antara Ustadz Zamzam dan Gazani dalam permainan caturnya.
"A Zam, beliin ubi bakar dong A."
Dua orang itu seketika menatap Nimas.
Biasa aja dong mukanya kalian berdua tuh, mungkin ibaratnya lagi enak makan es krim eh esnya jatuh, mah begitulah wajah mereka kini.
"Mana ada tukang jualan ubi bakar dek, kamu ini. Sana-sana ganggu aja!"
Bang Gazani kesal.
"Aku ga ngomong sama abang." Nimas membuang mukanya dihadiahi jitakkan keras dari kakaknya tersebut.
Nimas memegangi kepalanya yang sakit akibat jitakkan Gazani. Sang Ustadz berdiri meraih kepala istrinya dan mengusap-usap kepala Nimas.
"Gak usah dimanja Stadz, ayo kita main lagi."
"Abang nyebelin."
Nimas berlalu ke dalam rumah dan masuk kamarnya.
Beberapa saat kemudian Ustadz Zamzam masuk ke dalam kamar, tersenyum tipis melihat wajah cantik istrinya itu tertekuk.
"Sayang.. Ko ngambekkan gitu sekarang?"
Pikir aja sendiri pikir ajaa, tuh seperti ini batin Nimas.
"Neng mau ubi bakar?"
Nimas diam tak menjawab, dirinya kesal pada sang suami.
"Besok aku cari yaa sepulang dari sekolahan."
"Gak usah, pengennya juga sekarang. Aku mau tidur supaya lupa kalau aku mau ubi."
Dan kamu A, sana pergi main catur lagi sana.
Sang Ustadz tersenyum lalu menyibak selimut Nimas dan ikut berbaring di sisi Nimas.
Tangannya meraih kerudung Nimas membukanya perlahan.
Wah wah mau ngapain mereka.
"Aa, mau apa?"
Jantung Nimas Nimas mulai gaduh dalam berdetak.
"Aa bantu buka, kan ga enak tidur sambil pakai kerudung."
Terbukalah kini kerudung sang istri, Ustadz Zamzam menatap lekat wajah sang istri di sampingnya, kepalanya ditumpu oleh tangan kirinya.
Sementara tangan yang kanan, dia gunakan untuk menyentuh wajah sang istri.
Nimas yang diperlakukan seperti itu jelas saja jadi salah tingkah, Nimas menahan nafas kala sang suami menyusuri setiap inci wajahnya. Mata, hidung, pipi, bibir tak lepas Ustadz Zam sentuh.
"Neng, " suara Ustadz lebih mirip bisikan merdu di telinga Nimas.
Nimas tak menjawab dia hanya menatap mata sang suami yang kini juga tengah menatap matanya.
"Neng punya siapa?"
Eh apa maksudnya itu.
Nimas mengernyitkan kening tak mengerti.
"Maksud aku, mata neng, hidung neng, bibir neng itu punya siapa?"
Pada kata bibir Ustadz menghentikan tangannya disana, jempolnya mengusap-usap bibir Nimas lembut.
"Seluruh tubuh Neng, siapa yang punya?"
Nimas tahu arah pembicaraanya kemana, namun dia tak mau terbuai suasana tak ingin terlalu menghayati gombalan suami yang seminggu ini selalu membuatnya kesal.
"Punyaku sendirilah masa punya ibu."
Nimas nyengir menampilkan deretan giginya.
Sang Ustadz yang tadinya siap bergombal lagi, kini hanya menahan kesal sambil tersenyum. Entah mengapa perubahan sikap Nimas padanya semenjak pulang dari Pangandaran, membuatnya tak nyaman.
Nimas yang dikenalnya lembut dan penurut kini menjadi Nimas, yang mudah ngambek serta manja.
Ustadz ngaca dong, siapa tau ada kesalahan kan.
"Neng, kenapa semenjak pulang dari Pangandaran jadi berubah?"
Nimas memicingkan matanya menatap sang suami.
"Aku merasa ga nyaman sama sikapmu Neng."
"Aa menyesal menikahiku diam-diam?"
Ustadz cukup tercengang dengan ucapan Nimas, kemudian menatapnya dengan serius.
"Tak ada sedikit pun rasa sesal telah menikahimu. Aku bahagia memilikimu."
"Tapi Aa mencintai orang lain."
Duarrrrrrr...
Perkataan Nimas begitu menohok sang Ustadz.
Yang kini mulai berfikir, apakah selama ini Nimas terluka akan kenyataan itu.
Sedalam apa luka yang telah di torehkannya sang Ustadz baru menyadarinya.
Bahwa tak ada seorang istri yang ikhlas berbagi hati suaminya dengan wanita lain.
Nimas pun tertidur akhirnya, sementara sang Ustadz masih dengan fikiran-fikiran dan rasa bersalah yang mulai bersarang di dadanya.
----------------------------------
Keesokan harinya, rutinitas Nimas masih dengan acara muntah-muntahnya.
"Udah berapa lama kamu begini dek."
Ucap ibunya yang datang menghampiri.
"Seminggu lebih bu, tapi pagi aja kalau sudah siang hilang."
Nimas menyeka mulutnya menggunakan tissu.
"Ke dokter dong dek, takutnya ada penyakit ganas kan serem."
Ini si abang doyan banget godain Nimas.
"Astagfirulloh abang mulutnya."
Ibu yang kini meladeni Gazani, sementara Nimas yang tengah dilanda mual malas untuk berdebat saat ini.
"Di ajakin ke dokter selalu nolak bu." Kali ini sang Ustadz yang baru datang ikut menimpali.
Maaf ya Ustadz, bukannya waktu itu Ustadz lupa nganterin Nimas dan lebih memilih nganterin Sofia.
Ckckck....
"Ga mau ke dokter ah, aku ga sakit. Oh iya bu, nanti siang kita ke pasar yu! Stok sayuran abis soalnya."
Ibu pun mengiyakannya.
------------------------------
Ibu dan Nimas tengah berada di pasar tradisional namun bergaya modern.
Setelah lumayan lama belanja, Nimas yang kecapean mengajak ibunya pulang.
"Bentar dek, ibu mau cari sesuatu dulu. Kamu tunggu di sini ya."
Nimas pun memilih duduk di sebuah bangku untuk menunggu ibunya.
Namun, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya di kejauhan.
Nimas yang merasa risih dan takut memilih menunduk, namun kini seseorang itu sudah berada tepat di hadapannya.
"Nimas?"
Hah ko dia tahu namanya. Atau sok kenal, orang yang mau hipnotis.
Ibuu, siapa saja tolong Nimas.
#Ceritanya seperti sinetron ga sih (author)
#jangan disamain dong ini kan beda (Nimas)