NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

Di sebuah hutan yang rimbun dengan kiasan pohon-pohon hijau, seorang wanita berbalut Hoodie biru di antara rimbunnya pepohonan di hutan Bogor.

Rambutnya yang keriting panjang dan halus dibiarkan tergerai, mengikuti angin sepoi-sepoi yang menerbangkan tiap helai rambutnya.

Sesekali senyumnya sangat manis, dengan lesung pipit di pipi kirinya.

Di tangannya membawa kamera terangkat dengan mantap, memotret seekor kupu-kupu yang hinggap di sebuah bunga sepatu.

Klik.

Rania menurunkan kameranya perlahan.

Tatapannya mengikuti kupu-kupu itu saat pergi kembali mengepakkan sayap, terbang bebas ke arah langit yang mendung menyelinap di sela dedaunan.

"Seandainya aku bisa seperti kupu-kupu itu...terbang bebas tanpa ada yang mengatur, tanpa trauma masa lalu," batin Rania sambil melihat gambar-gambarnya kembali.

Tiba-tiba.

Getaran dari ponsel yang ada di sakunya memecah keheningan, Rania segera meraih ponsel itu dari sakunya---mengerutkan keningnya sebelum mengangkat.

"Hallo?" ujar Rania sambil menaruh benda pipih itu di telinganya.

"Oh Om Harry? Ada Apa Om?" tanya Rania di sebrang telepon.

"Kamu pulang sekarang, Nduk!" pinta Harry pada keponakannya.

"Loh, Om ada apa ini? Rania lagi kerja loh...lagi motret di Sentul," kata Rania dengan rasa heran.

"Eyang Kartika sakit Nduk, dia sekarat dan mau bertemu kamu."

Harry nampak terisak, sebagai seorang anak nampak tak tega melihat kondisi sang ibu yang sudah di ujung napas.

"Apa?!" teriak Rania secara refleks.

Jantungnya berdegup tak karuan saat mendengar sang nenek yang sekarat, “Iya… iya, Om. Rania ke sana sekarang,” ucapnya cepat, setelah telepon terputus.

Rania segera berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya bergerak dengan tergesa-gesa, segera merapikan kamera, lensa, dan tripod.

Dirinya merapikan barang-barangnya tanpa banyak pikir panjang, entah mengapa saat ini hatinya mendadak merasa tak enak----tangannya memegang dadanya.

"Kenapa perasaan gua kagak enak yaa," ujar Rania.

Tapi masa bodo yang terpenting kesehatannya sekarang adalah sang nenek.

Langkah Rania meninggalkan hutan yang terasa berat dengan penuh kedamaian, sekan setiap pijakan menariknya menjauh.

Rania melangkah menuju stasiun Bogor untuk naik KRL Jabodetabek, dirinya mesti menuju rumah sang nenek yang ada di Jakarta Selatan.

Kaki Rania sampai di sebuah rumah kokoh peninggalan kolonial Belanda dengan halaman yang luas.

Pilar-pilar tinggi berwarna gading dan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya sore masuk dengan muram.

Di halaman, beberapa mobil terparkir tak beraturan.

Keluarga besar sudah berkumpul, begitu Rania melangkah masuk. Rania langsung melihat kedua orang tuanya.

"Ibu...," ucap Rania dengan lirih.

Gadis itu memeluk sang ibu dengan erat, ibunya mengusap punggung putrinya dengan pelan dan matanya sembab.

"Eyang gimana, Bu?" tanya Rania.

"Kamu masuk eyang kamu sudah menunggu kamu," ajak sang ibu yang melangkahkan kakinya ke dalam kamar Eyang Kartika.

Rania mengangguk meski dadanya sesak dan sejak tadi---Entah kenapa perasaannya sudah tak enak.

Di kamar eyang Kartika.

Di dalam aroma minyak kayu putih dan obat-obatan memenuhi ruangan, neneknya tengah terbaring lemah di atas ranjang.

Mata Rania melihat sang nenek tengah terbaring lemah di atas ranjang, wajahnya yang keriput dengan napas yang tersengal.

Eyang Kartika menoleh ke arah pintu, melihat cucunya yang meletakan peralatan fotografinya di atas meja kecil, lalu duduk di sisi ranjang.

"Eyang...," bisik Rania dengan lirih.

Jari-jari tua itu membalas genggaman cucu tertuanya dengan pelan, seakan mengumpulkan sisa-sisa tenaga.

Tatapan Kartika Wiratama, menatap Rania serius dengan napas tersengal.

"Rania...eyang mau ngomong sesuatu ama kamu..." ucap Eyang Kartika dengan napas tersengal.

Tangan Rania menggenggam tangan sang nenek dengan erat lalu menciumnya, "eyang mau ngomong apa? Rania disini," kata Rania.

Air Mata Rania sudah jatuh menggenggam tangan sang nenek---eyang Kartika terus menarik napas tersengal-sengal.

"Eyang punya satu permintaan," katanya lagi.

"Permintaan terakhir sebelum pergi...," lanjutnya.

Rania bicara dengan menggelengkan kepalanya.

"Eyang jangan ngomong begitu ah, Rania disini kok. Eyang pasti sembuh," ucap Rania yang di belakang ada kedua orangtuanya.

"Tolong penuhi permintaan eyang sebelum pergi...Agar Eyang pergi dengan damai."

Rania menoleh ke belakang menatap sang ibu yang rambutnya keriting, lalu menganggukkan kepalanya.

"Eyang mau minta apa?" tanya Rania dengan suara parau.

"Rania, dengarkan Eyang baik-baik. Eyang sudah menjodohkan kamu dengan seseorang," ungkap sang nenek.

Rania menatap kedua orangtuanya sejenak yang ada di belakang, lalu menatap kembali sang nenek dan apa maksud semua ini.

"Di jodohkan sama siapa Eyang?" tanya Rania dengan penuh selidik.

"Seorang pria dari keluarga baik-baik, Eyang dan ayah kamu sudah kenal dia sejak kamu kuliah dan berniat menjodohkan kamu, Nak."

Rania dengan air mata mengerutkan keningnya.

"Dia pria dari keluarga baik-baik...Dan kami sudah kenal secara baik, pria itu bekerja di tambang minyak bumi penghasilan juga bagus...Kamu akan bahagia dengannya," tutur sang nenek menatap cucunya.

"Tolong terima ini, Nak. Eyang tak bisa bertahan lagi," pinta sang nenek.

Rania yang sejak kecil selalu dekat dengan sang nenek hanya menganggukkan kepalanya setuju, lalu dirinya memeluk sang nenek.

"Iya Eyang," ujar Rania tersenyum, gadis ini tidak tahu siapa nanti yang akan menjadi suaminya.

Kedua orang tua Rania tersenyum satu sama lain, lalu ayahnya memeluk ibunya.

Di sisi lain.

Deru pengeboran mesin tak pernah benar-benar berhenti di kawasan tambang minyak Bumi Artha, siang dan malam berbaur dengan debu, panas dan aroma mesin besi.

Di antara para pekerja yang lalu-lalang dengan wajah letih dan memerah----Arga Prananda berdiri di tepi anjungan mengenakan helm keselamatan dan seragam kerjanya.

Sebuah getaran singkat dari ponsel di saku membuat langkahnya terhenti sejenak.

"Alhamdulilah...Akhirnya di terima lamaran aku," ucap Arga dengan senyum mengembang bahagia.

"Rania, jujur saja dulu aku menyesal membullymu...Semoga saat kamu menjadi istriku---Aku akan berusaha membahagiakanmu," ujarnya lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

Lamaran pernikahan di terima, Arga bisa mengerti jika Rania belum mengetahui siapa calon suami yang akan di nikahkan secara mendadak olehnya.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!