ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia Semu
Keesokan harinya, Ayra terbangun pukul lima pagi. Tangannya meraba sisi ranjang, namun kosong. Rega sudah lebih dulu bangun untuk pergi ke masjid.
Ayra bangkit, menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menunaikan salat. Setelah selesai, ia masih duduk di atas sajadah, menunduk dalam diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Tak lama kemudian, Rega kembali ke kamar. Dilihatnya sang istri baru saja selesai salat dan masih termenung.
“Kenapa ngelamun gitu?” tanya Rega, membuat Ayra tersadar.
Ayra menyalami tangan suaminya, lalu menggeleng pelan. Ia melepas mukenanya dan mulai menyiapkan pakaian untuk Rega. Hari ini mereka akan pergi ke rumah Ayra untuk menjemput keluarganya.
“Sarapan di jalan aja ya. Kita belum punya bahan masakan,” ucap Rega.
Ayra mengangguk setuju.
Rega menunggu Ayra bersiap sambil menyelesaikan pekerjaannya lewat laptop. Tiga hari tidak masuk kerja membuat pekerjaannya menumpuk.
Begitu Ayra selesai mandi, Rega keluar kamar dan memanaskan mobil. Ayra yang sudah rapi menghampiri Rega yang duduk di halaman.
“Itu di depan siapa?” tanya Ayra, melihat sepasang suami istri paruh baya berdiri menatap rumah mereka.
“Aku nggak sadar ternyata mereka sudah datang,” jawab Rega.
“Itu yang bersih-bersih rumah. Nggak nginep, pulang-pergi karena rumahnya dekat, di belakang komplek kita.”
Rega berjalan menghampiri mereka dan membuka gerbang.
“Saya Sumi, Tuan-Nyonya. Panggil saja Mbok Sumi. Ini suami saya,” ucap wanita itu ramah.
“Saya Karto, Tuan-Nyonya. Panggil Mang Karto saja,” sambung sang suami.
“Jangan panggil Nyonya, ya. Saya Ayra saja, Mbok,” ucap Ayra lembut.
Mbok Sumi sempat menatap Rega meminta persetujuan, dan Rega mengangguk.
“Ini suami saya, Rega,” lanjut Ayra.
“Mbok, tolong jaga rumah ya. Ini kartu untuk belanja kebutuhan rumah. Kalau kurang, langsung bilang ke istri saya,” jelas Rega.
Mbok Sumi menerima kartu itu, membolak-baliknya dengan ragu.
“Maaf, Pak Rega… saya nggak ngerti pakainya. Biasanya beli sayur ke pasar,” katanya sambil terkekeh malu.
Ayra langsung merogoh tasnya, mengeluarkan seluruh uang tunai di dompetnya.
“Pakai ini aja dulu, Mbok. Nanti saya tarik tunai lagi. Suami saya memang jarang pegang cash,” sahut Ayra.
“Ini kunci duplikatnya. Jam lima sudah boleh pulang. Kalau istri saya belum datang, tolong terima barang-barang yang diantar, ya,” tambah Rega.
Keduanya mengangguk patuh.
“Kami pamit ya, Mbok, Mang,” ucap Ayra sebelum masuk ke mobil. Mang Karto membukakan gerbang.
“Kamu kok cepat banget dapat orang buat kerja di rumah?” tanya Ayra di dalam mobil.
“Dari Pak RT. Waktu ngobrol di rumahnya, katanya dulu Mbok Sumi kerja di rumah kerabatnya. Tapi karena pindah kota, Mbok nggak mau ikut. Kebetulan aku lagi cari orang, jadi direkomendasikan ke aku.”
“Udah punya teman aja kamu di sini,” cibir Ayra.
“Nambah relasi. Kalau ada apa-apa, kan bisa minta tolong tetangga,” jawab Rega santai dan di jawab anggukan oleh ayra
"mau beli apa?" tanya rega
"jam segini paling adanya nasi uduk sama bubur tapi mereka bisa sarapan berat gitu?" ucap ayra sambil mengedarkan matanya ke luar jendela mobil
"beli roti aja ke toko roti!" usul rega dan ayra mengangguk setuju
...***...
Sesampainya di rumah Ayra, mereka melihat Aruna duduk sendirian di pekarangan.
“Runa!” panggil Ayra sambil menghampiri dan merangkul adiknya.
“Kenapa ngelamun pagi-pagi?” tanya ayra
“Gapapa, Kak… aku cuma kangen Ayah sama Ibu,” lirih Aruna.
Ayra langsung memeluknya erat. Ia mengerti betul perasaan kehilangan itu.
“Sebelum ke bandara, kita ke Ayah Ibu dulu ya,” pinta Aruna.
Ayra mengangguk dan tersenyum tipis. Dan ayra membawa runa ke dalam rumah
Melihat aruna yang sembab, arven langsung berjalan menuju aruna lalu memeluknya
"udah ya nanti kita kesini lagi! Atau kalo aruna libur bisa main kesini" ucap arven menenangkannya
Mereka pun pergi ke makam orang tua mereka untuk berpamitan, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke bandara.
Di bandara, Ayra menggendong Elara yang sejak tadi tak mau lepas darinya. Rega bercanda dengan si kecil, membuat mereka terlihat seperti keluarga kecil yang utuh.
“Elara sayang, ikut Daddy ya. Uncle Rega dan Onty Ayra mau pulang,” bujuk Arven.
Elara membuang muka dan semakin mengeratkan pelukannya di leher Ayra.
“Tidak apa, honey. Wenn Elara hier sein möchte,” ucap Clara lembut.
(Jika Elara ingin di sini.)
“Kamu bisa menjaga Elara?” tanya Clara pada Ayra.
“Honey! Bagaimana bisa kita tinggalkan Elara? Er ist noch klein!” sahut Arven.
(Dia masih kecil.)
“Ela sama Mommy ya. Nanti kita main lagi,” bujuk Ayra.
Setelah beberapa bujukan, Elara akhirnya berhenti menangis dan meminta Clara menggendongnya.
“Kak Aya, nanti aku main ke sini lagi boleh?” tanya Aruna.
“Pintu rumah Kakak selalu terbuka untuk kamu,” jawab Ayra sambil memeluknya erat.
Arven menatap Rega lalu menepuk pundaknya
“Tolong jaga Aya ya. Sekarang Aya tanggung jawab kamu. Kalau kamu sudah nggak sanggup, kembalikan Aya ke saya dengan baik.”
Rega hanya tersenyum, namun tatapannya tegas penuh makna.
“Kami pamit ya. Tetap jaga hubungan baik sama Abang dan Aruna. Maaf Abang belum bisa jadi yang terbaik. Abang akan berusaha menebus kesalahan Abang dulu,” ucap Arven pada Ayra.
Ayra memeluk kakaknya dengan erat.
“Kak Clara nanti belajar bahasa sama Aruna ya, biar kita bisa ngobrol banyak,” ucap Ayra sambil tersenyum.
Clara yang tak terlalu paham hanya membalas dengan senyum dan lambaian tangan.
Mereka pun berlalu. Ayra dan Rega masih berdiri diam beberapa saat.
“Mau ikut aku urus berkas atau mau pulang?” tanya Rega akhirnya memecahkan keheningan di dalam mobil.
“Gamau pulang. Kamu urus berkas aja. Aku mau makan di luar,” jawab Ayra.
“Oke, aku antar. Nanti kalau mau pulang telepon aku ya,” ucap Rega sambil menggenggam tangan Ayra sampai parkiran.
Di dalam mobil, Ayra sibuk dengan ponselnya sementara Rega fokus menyetir.
“Mau makan apa?” tanya rega yang masih fokus menyetir
“Ke mall aja yang dekat dari tempat kamu. Biar nggak kejauhan,” jawab Ayra tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Kamu fokus banget ke HP. Lihatin apa?” tanya rega penasaran
“Ini lagi rame masalah selingkuh. Kalau udah nggak mau, ya udah in aja nggak sih? Kenapa harus selingkuh?” nada Ayra terdengar kesal.
“Siapa memang yang selingkuh?” tanya rega
“Artis… biasa lah.”
"kalo kamu selingkuh! Yaudah gapapa! Kan kita sementara!" ucap ayra dengan santainya
Deg...
Rega yang mendengar itu terasa nyeri di bagian dadanya. Tanpa membalas ucapan ayra, rega tetap fokus menyetir hingga sampai tujuan
“Udah, taruh dulu HP-nya. Bentar lagi sampai,” ujar Rega.
Ayra menurut, meletakkan ponselnya ke dalam tas.
Namun entah kenapa, kata selingkuh itu masih menggantung di benak rega.