Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Ruang untuk Tumbuh
Beberapa puluh menit berlalu.
Zinnia mulai menggambar desain utamanya dengan lebih terperinci. Ia menambahkan tampak depan dan samping, memberi ukuran awal, lalu membuat catatan tentang kemungkinan ketebalan logam dan sambungan.
Pak Damar mendekat.
“Kenapa Anda memilih cincin?”
Zinnia segera membuka ponselnya dan mengetik.
Saya ingin membuat sesuatu yang melambangkan dua sisi seseorang. Ada bagian yang terlihat kuat dan bagian yang menyimpan ketidaksempurnaan. Saya memilih cincin karena bentuknya melingkar, tapi saya gak membuatnya benar-benar tertutup.
Pak Damar memerhatikan desain itu. “Jadi, celah ini memang disengaja?”
Zinnia mengangguk.
Ya. Saya ingin celah itu jadi bagian dari konsep, bukan cuma hiasan.
“Menarik. Tapi gimana Anda memastikan kedua sisi tetap kokoh ketika dikenakan?”
Zinnia mengambil pensil dan menunjukkan bagian sambungan yang menurutnya perlu diperkuat. Ia juga menggambar alternatif dengan sedikit perubahan pada ketebalan logam.
Pak Damar mengamati penjelasannya.
“Alternatif ini lebih masuk akal. Namun, Anda masih perlu menguji apa bentuknya nyaman ketika dikenakan dan gak mudah tersangkut pada pakaian.”
Zinnia mencatat masukan tersebut.
“Baik,” ujar Pak Damar. “Lanjutkan.”
Nita akhirnya bangkit dari kursinya dan menghampiri meja Zinnia.
“Konsepnya cukup menarik,” katanya sambil melihat gambar. “Tapi bentuk seperti ini berisiko sulit diproduksi dalam jumlah besar. Apalagi kalo tiap bagian butuh penyesuaian manual.”
Zinnia mengangkat wajah.
Nita menunjuk bagian lengkung yang menyatu dengan badan cincin. “Jika biaya produksinya terlalu tinggi, desain ini mungkin gak layak dijual dengan harga sesuai target perusahaan. Apa pertimbangan Anda?”
Zinnia membaca gambar itu sekali lagi sebelum mengetik jawabannya.
Saya belum bisa memastikan biaya produksinya tanpa mengetahui jenis bahan, metode pembuatan, dan target harga. Namun, saya bisa menyederhanakan beberapa detail tanpa menghilangkan konsep utama.
Ia lalu menunjukkan bagian yang dapat diubah menjadi satu struktur utama, sehingga jumlah sambungan bisa dikurangi.
Nita terdiam sejenak. Jawaban itu tidak sepenuhnya menyelesaikan persoalan produksi, tetapi Zinnia juga tidak mencoba membela setiap detail desainnya. Ia bersedia mengubah bagian yang kurang praktis selama gagasan utamanya tetap terjaga.
“Setidaknya Anda paham bahwa desain gak berhenti pada gambar,” ujar Nita.
Zinnia mengangguk, kemudian kembali bekerja.
Nita kembali ke tempat duduknya. Ia belum menganggap Zinnia sebagai calon pesaing. Pengalaman perempuan muda itu masih terlalu terbatas. Namun, ia mengakui bahwa Zinnia memiliki naluri desain yang cukup menarik.
Dan hal itu membuatnya ingin melihat hasil akhirnya.
Ketika waktu pengerjaan tersisa lima belas menit, Zinnia memeriksa kembali gambar dan catatannya.
Ia memperbaiki satu ukuran, menghapus garis yang tidak diperlukan, lalu merapikan penjelasan konsep.
Di bagian bawah kertas, ia menuliskan nama desainnya: Ruang untuk Tumbuh.
Ketika waktu habis, Mira menghampiri meja. “Sudah selesai?”
Zinnia mengangguk dan menyerahkan hasil pekerjaannya.
Mira mempersilakan Zinnia menunggu di luar. Setelah Zinnia keluar, ia membawa gambar itu kepada Pak Damar dan Nita. Mereka bertiga memeriksanya bersama-sama.
Pak Damar lebih dahulu memerhatikan sketsa dan proporsi. “Dasar bentuknya konsisten,” katanya. “Dia gak cuma membuat satu gambar yang bagus, tapi juga mencoba memikirkan gimana bentuknya akan terlihat dari sisi lain.”
Mira membaca penjelasan konsep yang disertakan. “Dia juga menuliskan bagian yang masih perlu diuji. Nggak mengklaim bahwa desain ini langsung siap diproduksi.”
Nita mengambil lembar tersebut.
“Konsepnya cukup jelas. Namun, saya ingin melihat gimana dia menanggapi revisi yang lebih besar.”
“Memang masih ada kekurangan,” kata Pak Damar. “Tapi untuk calon asisten desainer, saya rasa itu wajar. Kita lagi nyari seseorang yang bisa berkembang, bukan orang yang sudah tau semuanya sejak awal.”
Nita tidak membantah. Ia kembali menatap desain cincin itu. Ada sesuatu pada komposisi bentuknya yang membuatnya berhenti sedikit lebih lama daripada yang ia rencanakan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Saya mau lihat apa dia bisa mengembangkan konsep ini tanpa kehilangan karakter desainnya.”
Mira mencatat hasil penilaian mereka.
Sementara itu, Zinnia duduk di luar ruangan, menunggu kabar mengenai tahapan berikutnya. Ia tidak tahu apakah desainnya cukup baik untuk membuatnya lolos.
Namun, kali ini ia tidak keluar dari ruangan dengan perasaan bahwa dirinya tidak pantas berada di sana.
Ia telah menyelesaikan tesnya. Ia telah menerima kritik, memperbaiki gambar, dan menjelaskan gagasannya sebaik mungkin.
Ketika Mira keluar dan menghampirinya, Zinnia segera berdiri.
“Terima kasih sudah mengikuti tes hari ini, Zinnia. Hasilnya akan kami evaluasi bersama tim desain. Kami akan menghubungi Anda setelah keputusan dibuat.”
Zinnia mengetik jawaban melalui ponselnya.
“Terima kasih atas kesempatan dan masukannya.”
Setelah Mira kembali masuk, Zinnia berjalan menuju lift. Ia langsung mengirim pesan kepada ibunya.
Zinnia: Bu, tesnya sudah selesai! Aku bisa mengerjakan semuanya sampai akhir.
Balasan Riri datang tidak lama kemudian.
Ibu: Bagus, Nak! Ibu tau kamu sudah berusaha. Sekarang pulang dulu, makan, dan istirahat. Jangan terlalu mikirin hasilnya.
Zinnia tersenyum membaca pesan itu. Sekarang, masa depannya terasa memiliki kemungkinan yang ingin ia perjuangkan.
Ia belum tahu bahwa desain yang baru saja diserahkannya akan menjadi awal dari persaingan yang jauh lebih rumit daripada sekadar perebutan sebuah posisi di perusahaan.
***
Ponsel Zinnia bergetar, ada surel dari bagian rekrutmen.
Ia membacanya. Setelah selesai ia mengulangnya sekali lagi untuk memastikan tidak salah memahami isi pesan tersebut.
Ia diterima bekerja sebagai asisten desainer perhiasan.
Zinnia spontan menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berbinar, lalu ia segera menghampiri Riri yang sedang merapikan pakaian di lemari kecil.
Bu! Aku diterima!
Zinnia menyampaikan kabar itu melalui bahasa isyarat dengan gerakan cepat, kemudian menunjukkan surel di ponselnya.
Riri menghentikan pekerjaannya. Setelah membaca isi surel tersebut, wajahnya langsung berseri-seri.
“Syukurlah! Selamat, Nak!” Ia memeluk Zinnia erat. “Ini pekerjaan yang kamu inginkan, 'kan? Akhirnya kamu punya kesempatan buat ngembangin kemampuanmu.”
Zinnia mengangguk berkali-kali. Senyumnya tak kunjung hilang.
“Ibu seneng banget lihat kamu kayak gini lagi.”
Riri mengusap punggung putrinya. Sejak kejadian di resort, ia sering melihat Zinnia termenung dan menyimpan kesedihan sendirian. Ia tidak berharap semua luka itu langsung hilang, tetapi setidaknya pekerjaan ini memberinya alasan untuk kembali bersemangat.
“Semoga kamu bisa nemuin kebahagiaanmu lagi, Nak. Pelan-pelan aja.”
Zinnia memeluk ibunya sekali lagi.
Di tengah suasana hangat itu, ponsel Riri bergetar. Sebuah pesan masuk.
...🔸🔸🔸...
..."Kita tidak harus menjadi sempurna untuk pantas mendapatkan kesempatan. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk menerima kritik, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri."...
..."Hidup tidak selalu memberi kita kesempatan untuk mengulang masa lalu, tetapi terkadang memberi kesempatan untuk membangun masa depan yang berbeda. Jangan habiskan seluruh waktu untuk meratapi apa yang telah hilang hingga kita tidak menyadari apa yang masih bisa diperjuangkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued