Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim Dingin yang Kejam, Kertas Try Out, dan Keajaiban Musim Panas
Waktu berjalan dengan kecepatan yang menakutkan ketika kau memiliki tenggat waktu bernama GaoKao.
Musim gugur Jiangcheng yang hangat dengan cepat digantikan oleh angin musim dingin yang menusuk tulang. Salju mulai turun, menutupi atap-atap gedung SMA Mingde dengan lapisan putih yang tebal. Namun, cuaca yang membekukan itu sama sekali tidak mendinginkan suhu persaingan di dalam kelas.
Bagi murid kelas 11 yang akan segera naik ke kelas 12, ini adalah fase neraka.
Lu Feng merasakan neraka itu membakar seluruh sel di tubuhnya. Rutinitasnya berubah menjadi siksaan yang konstan. Bangun jam empat pagi, menghafal kosakata bahasa Inggris, berangkat sekolah, dihajar try out Matematika, pulang jam delapan malam, lalu dilanjut dengan kelas privat bersama Lin Xiao di perpustakaan kota atau kedai teh hingga tengah malam.
Malam itu, di akhir bulan Januari, kedai teh langganan mereka sudah hampir tutup. Di luar, salju turun cukup lebat.
Lu Feng duduk menatap buku latihan soal Fisika Lanjutan. Matanya merah, kantung matanya menghitam parah. Tangan kanannya memegang pulpen yang tintanya nyaris habis, sementara tangan kirinya memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
Sudah satu jam cowok itu terjebak di soal dinamika fluida, dan rumusnya terus-menerus berputar di kepalanya seperti benang kusut.
"Lu Feng, kamu memasukkan variabel yang salah di baris kedua. Seharusnya massa jenis cairannya dikalikan gravitasinya dulu," suara Lin Xiao terdengar pelan, memecah keheningan.
Cewek itu duduk di sebelahnya, mengenakan syal tebal berwarna merah marun. Meski terlihat lelah, Lin Xiao masih memiliki energi sisa untuk meneliti setiap coretan Lu Feng.
"Gue tau," gumam Lu Feng parau. Cowok itu menarik napas panjang, mencoba menghapus rumusnya, tapi tangannya mendadak bergetar. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ditimpa balok beton. "Gue cuma... otak gue nge-blank, Xiao."
Tiba-tiba, setetes cairan hangat berwarna merah jatuh dari hidung Lu Feng, menetes tepat di atas kertas soal Fisika itu.
*Tes.*
Lin Xiao membelalakkan matanya ngeri. "L-Lu Feng! Kamu mimisan!"
Kepanikan langsung melanda Lin Xiao. Cewek itu buru-buru mengambil tisu dari dalam tasnya, memajukan tubuhnya, dan dengan tangan gemetar ia menekan tisu itu ke hidung Lu Feng. "Dongakkan kepalamu ke atas! Ya Tuhan, badanmu juga panas banget!"
Lu Feng mendongak, membiarkan Lin Xiao mengusap darah di hidungnya. Meski pandangannya sedikit berkunang-kunang, cowok itu masih sempat tersenyum tipis melihat wajah panik pacarnya.
"Gue nggak apa-apa. Cuma kecapekan dikit," kekeh Lu Feng lemah, suaranya terdengar sangat bindeng.
"Apanya yang tidak apa-apa?!" omel Lin Xiao, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Tangan kecilnya terus menekan tisu di hidung Lu Feng, sementara tangan satunya mengusap keringat dingin di dahi cowok itu. "Kamu tidur kurang dari tiga jam setiap hari selama sebulan ini! Kamu bukan robot, Lu Feng! Kalau kamu memaksakan diri sampai mati, apa gunanya masuk Universitas Beijing?!"
Lu Feng menarik tangan kiri Lin Xiao yang berada di dahinya, lalu menggenggamnya erat, menaruhnya di pipinya yang panas.
"Gue nggak bakal mati sebelum masuk ke kampus impian lo, Ketua Kelas," bisik Lu Feng, menatap mata bulat cewek itu dengan sorot yang luar biasa redup namun penuh tekad. "Lo inget janji gue di perpustakaan waktu itu, kan? Kalau gue nyerah sekarang, gue nggak bakal pantes berdiri di sebelah lo."
Pertahanan Lin Xiao hancur. Air matanya menetes membasahi pipinya. Sang ketua kelas yang biasanya tegas itu kini menangis tanpa suara, hatinya hancur melihat cowok yang paling ia cintai menyiksa dirinya sendiri demi masa depan mereka.
Lin Xiao menarik kursi Lu Feng agar lebih dekat, lalu merengkuh kepala cowok itu dan menyandarkannya di bahunya.
"Berhenti belajar untuk malam ini," bisik Lin Xiao parau, mengusap rambut belakang Lu Feng dengan sangat lembut. "Tidurlah. Lima belas menit saja, sandarkan kepalamu. Aku akan memelukmu."
Di sudut kedai teh yang temaram itu, diiringi suara angin musim dingin yang menderu di luar, Lu Feng menutup matanya. Aroma *peach* dari tubuh Lin Xiao bekerja lebih ampuh dari obat penenang mana pun di dunia. Hanya butuh waktu satu menit sebelum napas cowok itu berubah teratur, tertidur lelap dalam pelukan sang ketua kelas.
***
Enam bulan kemudian. Awal Bulan Juni.
Hari Ujian GaoKao Nasional.
Suhu musim panas di Jiangcheng nyaris menyentuh 35 derajat celcius, namun panasnya cuaca sama sekali tidak bisa mengalahkan panasnya atmosfer di seluruh Tiongkok hari itu.
Jalanan ditutup oleh polisi lalu lintas. Klakson mobil dilarang dibunyikan. Ambulans *standby* di setiap gerbang sekolah. Para orang tua berkerumun di luar pagar dengan wajah tegang, beberapa ibu bahkan memakai *qipao* merah sebagai simbol keberuntungan. Ini adalah hari di mana nasib puluhan juta remaja Tiongkok ditentukan dalam beberapa jam ujian mematikan.
Di depan gerbang utama SMA Mingde yang disulap menjadi pusat ujian, Lu Feng berdiri di lautan manusia. Dia mengenakan kaos katun putih sederhana. Rambutnya dipotong lebih rapi. Wajahnya tidak lagi memancarkan aura berandal jalanan yang malas; kini, ada ketajaman dan kepercayaan diri absolut di mata sayu itu. Pengorbanan, darah, dan kurang tidur selama berbulan-bulan telah menempanya menjadi senjata yang mematikan.
"Feng!"
Chen Hao menepuk pundak Lu Feng dari belakang. Sahabatnya itu terlihat pucat pasi, seperti orang yang nyaris pingsan sebelum berperang. "Anjir, gue mules banget sumpah. Lu udah siap, Bos? Kertas ujian kita entar yang meriksa mesin, lo jangan sampai salah buletin jawaban ya!"
Lu Feng terkekeh pelan. "Santai, Hao. Lo udah belajar bareng gue. Otak lo cukup buat nembus universitas provinsi."
Saat Lu Feng sedang mengobrol, pandangannya menangkap sosok yang selalu menjadi pusat dunianya.
Lin Xiao berjalan mendekat dari arah kerumunan. Cewek itu terlihat sangat cantik dan segar dengan kemeja katun biru muda dan rambut yang diikat kuda. Aura ketua kelas teladannya memancar kuat, namun saat matanya bertemu dengan mata Lu Feng, senyum manis yang sangat rahasia terukir di bibirnya.
Karena mereka berada di tengah ribuan orang tua dan guru, mereka tidak bisa bertegur sapa dengan bebas. Aturan *backstreet* masih berlaku.
Lin Xiao berjalan melewati Lu Feng menuju barisan ruang ujian nomor 04. Saat bahu mereka berpapasan dalam jarak kurang dari sepuluh sentimeter, tangan kanan Lin Xiao dengan sangat cepat menyentuh telapak tangan Lu Feng, menyelipkan sesuatu sebelum akhirnya cewek itu terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
Lu Feng sedikit terkejut. Dia membuka kepalan tangannya diam-diam.
Sebuah plester luka kecil bergambar kelinci. Di bagian belakang kertasnya, terdapat tulisan tangan rapi yang sangat kecil: *"Beijing menunggumu."*
Lu Feng tersenyum lebar. Rasa gugup sekecil apa pun yang sempat bersarang di dadanya seketika menguap tanpa sisa. Cowok itu memasukkan plester itu ke dalam sakunya, menyentuhnya layaknya jimat pelindung, lalu melangkah mantap memasuki ruang ujian nomor 07.
***
Tiga minggu berlalu bagaikan ruang hampa udara. Menunggu hasil GaoKao jauh lebih menyiksa daripada mengerjakan ujiannya sendiri.
Malam itu adalah malam perilisan skor resmi. Jutaan keluarga di seluruh Tiongkok terpaku di depan layar komputer, membuat server kementerian pendidikan nyaris *down*.
Lu Feng duduk di kamarnya yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya dari layar laptop bututnya. Halaman *website* pendaftaran masih *loading* dengan ikon lingkaran berputar yang rasanya seperti menyedot kewarasannya. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga telinganya berdenging. Dia sendirian di kamar, sementara ayahnya masih bekerja lembur di pabrik.
Di tempat lain, di sebuah rumah mewah, Lin Xiao sedang menggigit ibu jarinya panik. Layar laptopnya sudah menampilkan skornya sendiri sepuluh menit yang lalu: 715 poin. Sebuah skor fantastis yang menjaminnya masuk ke Universitas Beijing dengan beasiswa penuh.
Tapi Lin Xiao sama sekali tidak peduli pada skornya. Matanya terus menatap ponsel di tangannya, menunggu kabar dari satu-satunya orang yang paling penting baginya.
*"Ayo, Lu Feng... angkat teleponnya..."* gumam Lin Xiao dengan suara bergetar, memanggil nomor cowok itu untuk kelima kalinya.
Di kamar Lu Feng, *website* itu akhirnya selesai memuat halaman.
Layar menampilkan sebuah tabel sederhana dengan tulisan tebal di bagian atas:
**Nama: Lu Feng**
**Sekolah: SMA Mingde Jiangcheng**
Mata Lu Feng bergerak turun perlahan. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Saat matanya menangkap deretan angka di kolom 'Total Skor Nasional', napas Lu Feng seketika berhenti.
**Total Skor: 698.**
Dada Lu Feng bergemuruh hebat. Batas *cutoff* (nilai minimum) terendah untuk masuk Universitas Beijing tahun ini diprediksi berada di angka 695.
Tiga poin.
Dia berhasil melewati batas itu dengan selisih HANYA TIGA POIN. Tiga poin krusial yang ia dapatkan dari soal Matematika terakhir yang diajarkan oleh Lin Xiao di kedai teh berdebu tujuh bulan yang lalu!
Ponsel Lu Feng berdering nyaring. Nama "Ketua Kelas" muncul di layar.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Lu Feng mengangkat panggilan itu.
*"L-Lu Feng?!"* suara Lin Xiao meledak dari seberang sana, dipenuhi kepanikan dan tangis yang tertahan. *"Kamu di mana? Aku telepon dari tadi tidak diangkat! Servernya sudah bisa diakses? Berapa skormu? Katakan sesuatu, kumohon!"*
Lu Feng membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekat oleh emosi yang terlalu besar. Air mata yang tidak pernah ia teteskan bahkan saat dipukuli preman, kini jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ditahan.
*"Lu Feng? Kamu menangis? Tidak apa-apa, tidak apa-apa kalau nilaimu kurang. Kita bisa mencari universitas di kota yang sama, aku akan menemanimu—"*
"698," potong Lu Feng parau, suaranya bergetar hebat.
Hening.
Tidak ada suara dari seberang telepon selama lima detik penuh.
*"A-apa...?"*
"Gue dapat 698, Lin Xiao," ulang Lu Feng, kali ini suaranya sedikit lebih keras, diiringi tawa renyah yang diselingi isak tangis kelegaan. "Gue berhasil. Gue nembus batas *cutoff*-nya. Gue nyusul lo ke Beijing, Xiao!"
Terdengar suara isakan keras dari ujung telepon, disusul suara barang jatuh, sepertinya Lin Xiao baru saja menjatuhkan tumpukan bukunya saking terkejutnya.
*"Kamu bohong... kamu pasti bohong..."* tangis Lin Xiao pecah, meraung bahagia tak terkendali. *"Lu Feng, dasar cowok bodoh! Berandal menyebalkan! Kamu berhasil... hiks... kamu benar-benar berhasil!"*
"Buka pintu rumah lo sekarang," ucap Lu Feng tiba-tiba, menyeka air matanya dan langsung menyambar jaket *windbreaker* birunya.
*"Apa? Tapi ini jam sebelas malam!"*
"Gue nggak peduli. Gue lagi lari ke rumah lo sekarang. Tunggu di gerbang depan, atau gue panjat pagar rumah lo!" ancam Lu Feng setengah berteriak, tawanya meledak di tengah malam yang sunyi.
Lima belas menit kemudian, di bawah lampu jalanan temaram di depan kompleks perumahan mewah keluarga Lin.
Lin Xiao berdiri dengan napas memburu, mengenakan piyama tidur bergambar beruang dan jaket tebal yang ia pakai asal-asalan. Saat ia melihat bayangan cowok jangkung berlari dari ujung jalan dengan napas terengah-engah, Lin Xiao tidak peduli lagi pada aturan, gengsi, atau kamera CCTV di rumahnya.
Cewek itu berlari menerjang ke depan.
Lu Feng merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Saat tubuh mungil Lin Xiao menabrak dadanya, Lu Feng langsung memeluknya dengan sangat erat, mengangkat tubuh cewek itu dan memutarnya di udara di bawah cahaya lampu jalan.
"GUE BERHASIL, KETUA KELAS! GUE MASUK BEIJING!" teriak Lu Feng gila, tawanya menggema di udara malam yang sejuk, merayakan kemenangan paling epik dalam hidupnya.
Lin Xiao tertawa sambil menangis, memeluk leher cowok itu kuat-kuat seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.
"Iya! Kamu luar biasa, Lu Feng! Kamu menepati janjimu!" jerit Lin Xiao bahagia.
Saat Lu Feng menurunkan tubuh Lin Xiao, cowok itu menangkup wajah sang ketua kelas yang dipenuhi air mata bahagia. Tanpa peduli pada dunia, Lu Feng mencium bibir Lin Xiao dengan penuh gairah, rasa syukur, dan cinta yang tak tertandingi.
GaoKao telah berakhir. Aturan ketat SMA Mingde telah menjadi sejarah. Murid pindahan pembuat onar dan sang ketua kelas teladan telah membuktikan bahwa cinta masa muda tidak selalu berakhir menjadi penyesalan, melainkan bisa menjadi bahan bakar terkuat untuk mendobrak pintu masa depan.
Kini, ibu kota Tiongkok telah menunggu mereka. Babak baru kehidupan baru saja dimulai.