NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 (PROLOG) DUA BIDADARI PENEGAK KEADILAN

Ujung pisau bedah stainless steel dingi itu berkilauan di bawah sorotan lampu ruang autopsi.

Dinding keramik putih yang steril, deretan meja stainless yang mengilat, serta aroma tajam formalin yang menusuk hidung menjadi pemandangan sehari-hari yang menyambut wanita berusia 29 tahun itu.

Bagi sebagian besar orang, ruangan ini adalah tempat yang mengerikan dan penuh aroma kematian.

Namun...

Bagi seorang dr. Harum Sekar Putri Purnamasari, M.Si.Med, Sp.FM, ruang otopsi Dokpol Bhayangkara ini adalah laboratorium tempat kebenaran tersembunyi yang di"suara"kan kembali.

Haruma merapikan posisi kacamata pelindungnya. Masker medis menutup separuh wajah cantiknya, namun matanya yang jernih memancarkan fokus dan ketenangan yang luar biasa.

Di hadapannya, terbaring jasad seorang pria paruh baya korban pembunuhan jalanan yang ditemukan warga kemarin sore.

"Bripda Bowo, tolong catat ukurannya," ujar Haruma dengan suara lembut namun tegas dari balik maskernya.

Sang asisten forensik muda itu yang berdiri di samping meja bedah dengan papan dada di tangannya segera mengangguk siap. "Siap, Dokter Haruma!"

"Luka tusuk di dada kiri, panjang tiga senti, lebar satu senti. Sudut luka tumpul di bagian atas dan tajam di bagian bawah. Ini menandakan pelaku menggunakan pisau dapur bermata tunggal," terang Haruma sambil dengan teliti memeriksa kedalaman luka menggunakan alat ukur khusus.

"Luar biasa, Dok! Sekali lihat langsung paham jenis senjatanya, hebat!" puji Bowo kagum sembari jemarinya sibuk menuliskan setiap detail ucapan sang dokter.

Haruma tersenyum tipis di balik maskernya. "Bukan saya yang hebat, Bowo. Tapi tubuh korban ini yang memberitahu kita lewat jejak lukanya. Tugas dokter forensik itu sederhana, yaitu menjadi penyambung lidah bagi mereka yang sudah tidak bisa lagi berbicara."

"Emmm... tapi jujur ya, Dok... kalau dokter senior lain yang membedah, biasanya butuh waktu lebih lama buat menyimpulkan. Dokter Haruma kok sepertinya selalu tahu titik mana yang harus diperiksa duluan?" tanya Bowo penasaran.

Haruma menghentikan gerakan tangannya sejenak.

Di balik keahlian medis modern yang ia tempuh selama bertahun-tahun hingga meraih gelar spesialis forensik dan medikolegal, ada "SATU HAL" yang tak diketahui oleh asistennya ini.

Kepekaan batin Haruma yang tajam, dibantu oleh kekuatan dari energi sosok perewangan gaibnya, SEKAR ARUM, selalu memberikan petunjuk halus mengenai bagian tubuh mana yang menyimpan rasa sakit paling dalam dari sang jasad.

"Itu namanya jam terbang dan insting, Bowo. Nggak usah berlebihan, deh... Hehehe..." jawab Haruma tenang, mengalihkan percakapan. "Sekarang, bantu saya ambil sampel jaringan paru-paru untuk tes laboratorium."

"Siap, Dok!" jawab Bowo sigap.

Haruma melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan tangan yang sangat presisi, rapi, dan penuh rasa hormat terhadap jasad di depannya.

Di usianya yang kini hampir memasuki kepala 3, Haruma telah tumbuh menjadi sosok dokter forensik kepercayaan pimpinan kepolisian. Wajahnya yang anggun dan keibuan sama sekali tidak mengikis ketegasannya saat berhadapan dengan meja bedah dan tumpukan berkas perkara.

Seperti itulah sosok Harum Sekar Putri Purnamasari (Haruma) yang sekarang.

Dia bukan lagi sosok gadis remaja berusia 19 tahun yang dahulu berteriak histeris ketakutan setengah mati saat melihat adiknya hampir mati menggorok lehernya sendiri karena dipengaruhi Santet Parenggut Sukma.

...........

...........

...........

Sementara itu...

Di lantai dua gedung Satuan Reserse Kriminal Polres yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari laboratorium forensik...

Suasana yang jauh lebih panas dan menegangkan sedang terjadi.

Brakkk!!!

Sebuah kepalan tangan menghantam meja kayu kusam di dalam ruang interogasi yang sempit.

Cahaya lampu neon yang agak redup memantulkan bayangan dua orang yang sedang duduk berhadapan di balik meja tersebut.

"Saya nggak bersalah, Bu! D-D-Demi Tuhan! B-B-Bukan saya yang begal pedagang keliling itu!" seru seorang pria bertato di lehernya dengan nada tinggi. Keringat dingin bercucuran membasahi dahinya yang kotor.

Di seberang meja...

Duduk seorang wanita bertubuh tegap dalam balutan seragam dinas kepolisian berwarna cokelat tua.

Di dada kirinya, tersemat pin penyidik dan lencana bertuliskan pangkatnya: IPDA Harum Intan Purnamasari.

Harumi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata pria bertato itu, sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan atau sandiwara histeris di hadapannya.

"Jangan bawa-bawa nama Tuhan kalau mulutmu masih bau kebohongan, Jarot!" ucap Harumi dengan suara dingin dan tenang, namun menyiratkan intimidasi yang membuat pria di depannya mendadak bungkam.

"T-T-tapi saya emang nggak tahu apa-apa, Bu. S-S-Sumpah!" cicit pria bernama Jarot itu, suaranya mendadak pelan, nyalinya menciut melihat ketenangan sang polwan.

Harumi melipat kedua tangannya di atas meja.

"Mata batin murni" yang terbuka lebar sejak peristiwa sepuluh tahun lalu membuat Harumi bisa melihat sesuatu yang "tidak bisa dilihat" oleh penyidik biasa.

Di mata batin Harumi, aura di sekeliling tubuh Jarot tampak berwarna hitam keruh berkilat-kilat, tanda bahwa pria itu sedang menyusun kebohongan besar untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

"Pukul 2 malam tadi, kamu terlihat di CCTV garasi angkot dekat pasar," kata Harumi sambil menggeser sebuah foto cetakan CCTV ke tengah meja. "Kamu memakai jaket hitam dengan sobekan di lengan kanan. Dan lima belas menit kemudian, korban ditemukan tergeletak dengan luka sayat di lengan. Masih mau mengelak kau, bajingan?!"

Jarot menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan liar. "I-itu... I-itu cuma mirip saya, Bu! Banyak orang yang punya jaket begitu!"

Harumi menghela napas pelan.

Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga berdiri tepat di samping Jarot. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga pria itu.

"Jarot... pisau lipat yang kau sembunyikan di balik selokan dekat rumah kontrakanmu sudah diamankan oleh anak buah saya sepuluh menit yang lalu. Darah korban masih menempel di sana," bisik Harumi halus, namun dampaknya bagaikan petir di siang bolong bagi sang pelaku.

Tubuh Jarot langsung gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi bagaikan kertas. Seluruh alibi yang ia susun rapi runtuh seketika di hadapan ketelitian analisis dan ketajaman insting Inspektur Dua polisi wanita berusia 28 tahun ini.

"S-saya... saya nggak bermaksud membunuh dia, Bu... Saya cuma mau ambil uangnya buat bayar utang..." rintih Jarot akhirnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menangis pasrah.

Harumi menepuk bahu pria itu dua kali. "Mengaku dari awal itu jauh lebih baik, Jarot. Kamu akan dapat hukumannya dengan adil."

Harumi lalu berpaling ke arah pintu kaca satu arah. "Aipda Rudi, masuk! Catat seluruh pengakuan tersangka dan selesaikan BAP-nya."

Pintu ruang interogasi terbuka, seorang penyidik senior masuk dengan wajah tersenyum kagum. "Siap, Bu Kanit! Mantap sekali, cuma butuh waktu lima belas menit buat bikin pemuda ini ngaku."

"Bukan saya yang mantap, Rudi. Bukti dan alibi dia aja yang memang terlalu ceroboh," jawab Harumi santai sembari merapikan sabuk kopel di pinggangnya.

Sebagai Kepala Unit di Jatanras, IPDA Harumi dikenal sebagai penyidik wanita yang sangat cerdas, gesit, dan tak kenal kompromi.

Pengalaman masa remajanya yang pernah menjadi korban ilmu hitam Santet Parenggut Sukma itu membuat Harumi memiliki dedikasi luar biasa untuk melindungi masyarakat dari segala bentuk kejahatan dan kezaliman.

...........

...........

...........

Jam menunjukkan pukul 11 siang ketika Harumi melangkah keluar dari gedung Satreskrim menuju kantin area Dokpol Bhayangkara.

Matahari mulai terik, memancarkan hawa hangat di pekarangan markas kepolisian.

Dari arah pintu keluar bangsal forensik, tampak Haruma sedang berjalan sambil melepas sarung tangan medisnya. Jas putih dokternya sudah tertutup rapi oleh jaket dinas.

"Kak Ruma!" panggil Harumi sambil melambaikan tangannya dari kejauhan.

Haruma menoleh, lalu menyunggingkan senyuman hangat yang membakar sisa-sisa kelelahan di wajahnya. Ia mempercepat langkah mendekati adiknya itu.

"Eh, Rumi... Baru selesai interogasi tersangka yang tadi pagi, ya?" tanya Haruma lembut begitu mereka berdua duduk di salah satu meja kantin yang teduh.

"Iya, Kak... Seperti biasa, awalnya pakai acara ngeles dan nangis-nangis dulu. Tapi begitu buktinya ditaruh di depan muka, langsung ngaku juga," cerita Harumi sambil memesan dua cangkir teh manis hangat kepada penjual kantin.

Haruma terkekeh pelan. "Kamu ini dari dulu emang paling pinter kalo urusan bikin orang kapok ngebohong. Tadi di ruang otopsi, Kakak juga baru selesai bedah korban penusukan di pasar."

"Gimana hasilnya, Kak? Ada kendala, nggak?" tanya Harumi ingin tahu.

"Lancar... Semuanya murni luka fisik tindak pidana penganiayaan. Nggak ada tanda-tanda keanehan atau campur tangan ilmu sihir seperti kasus-kasus lama kita," jawab Haruma tenang, menerima cangkir teh manis yang disajikan.

Harumi mengaduk teh manisnya perlahan, menatap wajah kakak sulungnya dengan rasa penuh syukur.

"Alhamdulillah ya, Kak... Hidup kita sekarang terasa jauh lebih tenang dan damai. Pekerjaan kita emang berat, tapi rasanya lega banget kalo bisa ngebantu orang lain lewat jalur yang bener." kata Harumi.

"Iya, Dek... Ayah dan Ibu di Parung pasti bangga ngelihat kita berdua bisa berdampingan begini," timpal Haruma dengan mata berbinar. "Oh iya, tadi pagi Ibu telepon Kakak. Katanya Dek Niza dapet nilai seratus di sekolah, terus Ibu minta kita pulang cepet nanti malem karena mau dimasakin gulai ayam kesukaan kita."

"Wah, serius, Kak?! Asyik banget! Aku kangen banget sama gulai ayam buatan Ibu!" seru Harumi gembira, sifat manjanya yang seperti gadis berusia 18 tahun itu seketika muncul menggantikan sosok polwan tegas di ruang interogasi tadi.

Namun, sebelum Haruma sempat membalas celetukan adiknya, suara nada dering telepon dari ponsel dinas di saku kemeja Harumi mendadak berbunyi nyaring.

Harumi merogoh ponselnya, melihat nama yang tertera di layar.

Telepon dari Kasat Reskrim???

"Siap, Komandan!" ucap Harumi begitu mengangkat telepon dan menegakkan posisinya.

Suara Kasat Reskrim terdengar terburu-buru dan berat dari balik telepon. "IPDA Harumi, segera kumpulkan tim Jatanras sekarang juga! Ada laporan penemuan mayat penting di sebuah penthouse mewah di kawasan Cempaka Putih!"

"Siap, Komandan! Ada indikasi tindak kejahatan?" tanya Harumi cepat.

"Itu dia masalahnya, Rumi. Pintu penthouse terkunci rapat dari dalam, korbannya adalah seorang Direktur Keuangan perusahaan investasi besar. Tidak ada bekas luka sama sekali, tapi kondisi matanya melotot aneh. Pihak keluarga dan pengacara perusahaan desak kasus ini ditutup sebagai kematian serangan jantung, tapi pimpinan minta kita olah TKP dulu secara menyeluruh."

"Baik, Komandan! Saya bergerak ke TKP sekarang!" jawab Harumi tegas sebelum mematikan sambungan telepon.

Harumi menatap kakaknya dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Kak Ruma... aku ada panggilan TKP baru. Korbannya seorang Direktur Keuangan di penthouse mewah Cempaka Putih."

Haruma yang mendengar percakapan itu langsung berdiri dari kursinya, merapikan jas dokternya. "Kakak ikut, Rumi. Kalo ada indikasi kematian yang nggak wajar, jasadnya harus segera dibawa ke ruang forensik Kakak."

Dua bidadari penegak keadilan itu saling berpandangan sejenak.

Naluri penyelidik Harumi yang didukung "kepekaan mata batin murni" dan insting forensik Haruma yang didukung "energi perewangan" seketika menyala bersamaan.

Tanpa mereka sadari sebelumnya...

Bahwa kasus kematian di penthouse mewah Cempaka Putih ini...

Akan menjadi pintu gerbang pertama yang menyeret mereka ke dalam pusaran "JARINGAN INTERNASIONAL" yang jauh lebih "GELAP" dari apa yang pernah mereka bayangkan.

Dan kasus-kasus yang akan mereka tangani ke depan, akan membuat Santet Parenggut Sukma dan Santet Pring Sedapur di masa lalu mereka berdua itu...

TERASA HANYA SEPERTI GIGITAN NYAMUK KECIL SAJA.

.......

.......

.......

.......

.......

...Hai, para pembaca semua!...

...Ketemu lagi sama DENI TINT... 😊...

.......

...Seri ke 7 dari universe novel TIRAKAT ini memiliki nuansa baru, penggabungan antara: Dunia Kriminal, Teori Konspirasi Elit Global, Sekte Penyembah Iblis Internasional, Action, dan Kemampuan Mata Batin dua tokoh utamanya....

...Dan semua itu berdasarkan pada research mendalam yang penulis lakukan sebelum menyusun naskah novel TIRAKAT 7....

.......

...Dan satu lagi, khusus TIRAKAT 7 ini......

...Penulis akan menuliskannya sampai 200 BAB....

.......

...Jangan lupa buat tinggalkan jejak (Like dan Komentar) kalian, ya......

...Selamat membaca sampai tamat 200 BAB!...

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!