Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trik Penyelarasan Aura dan Perangkap Kota Besar
Lampu neon lima belas watt yang tergantung di langit-langit kontrakan Gang Pinggir memancarkan pendaran putih agak redup, memantulkan bayangan Mamat yang duduk tegak dengan raut muka teramat teduh. Di hadapannya, Mbak Siska masih sesekali mengusap sisa air mata di pipinya. Napas wanita muda itu mulai teratur, terhipnotis oleh nada suara Mamat yang begitu menenangkan dan terstruktur.
Di balik gorden merah pembatas ruangan, Darto dan Bowo menahan napas sambil mengintip lewat celah kain. Darto menepuk jidatnya sendiri geleng-geleng kepala, takjub melihat transformasi sahabatnya dari dukun udro berbau minyak kayu putih menjadi konsultan spiritual berkemeja rapi.
Mamat membetulkan letak kacamata tanpa minus yang baru dibelinya dari pedagang lobak sore tadi. Ia menarik napas panjang, melipat kedua tangannya di atas meja plastik.
"Mbak Siska," panggil Mamat dengan nada dalam. "Proses Penyelarasan Aura ini tidak melibatkan mantra hitam atau tumbal. Kita bekerja dengan frekuensi gelombang pikiran dan penyucian karma."
"Nggih, Kang Mamat... Lalu apa yang harus saya lakukan?" tanya Mbak Siska tidak sabar, tangannya meremas dompet kulitnya rapat-rapat.
Mamat meraih Keris Bengkok Brajamukti dari atas meja. Keris tua karatan yang dulunya dipakai mencabut rumput liar itu kini mengkilap diolesi minyak kelapa murni. Mamat meletakkannya tepat di antara dirinya dan Mbak Siska.
"Langkah pertama," kata Mamat penuh wibawa. "Mbak Siska harus memutus seluruh ikatan energi negatif dari pria itu. Mulai detik ini, jangan pernah meneleponnya, jangan mencari tahu keberadaannya, dan jangan memperlihatkan rasa kesedihanmu di depan umum. Biarkan dia berpikir bahwa kamu telah bebas dan menemukan kebahagiaan baru."
Mbak Siska mengangguk cepat. "Baik, Kang! Sudah saya blokir semua nomornya!"
"Bagus," puji Mamat dengan senyum misterius. "Langkah kedua adalah 'Terapi Pemikat Karma'. Saya akan memberikan sarana Minyak Penyelaras Brajamukti."
Mamat merogoh laci meja plastiknya, mengeluarkan botol kaca kecil berisi racikan terbaru hasil eksperimennya siang tadi: minyak zaitun murah yang dicampur dua tetes parfum melati dan sedikit uap air mawar. Botol kecil itu tampak sangat elegan di dalam genggaman Mamat.
"Minyak ini khusus," bisik Mamat dengan wajah sangat serius. "Usapkan satu tetes di belakang telinga kanan dan kiri setiap kali Mbak Siska hendak berangkat kerja atau keluar rumah. Minyak ini akan memancarkan gelombang daya tarik alami, membuat siapa saja yang memandang wajahmu merasa teduh dan terpesona."
Mbak Siska menerima botol kaca kecil itu bagaikan menerima harta karun pusaka. "Matur nuwun, Kang Mamat... Untuk mahar penyelarasan auranya berapa nggih?"
Mamat tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan jeda hening selama lima detik untuk memberikan efek "tidak konsumtif" dan seolah-olah tidak butuh uang. Ini adalah trik psikologis tingkat tinggi yang baru ia pelajari dari majalah bekas di pasar.
"Mahar di sini sifatnya sukarela sebagai pengikat janji energi," ujar Mamat santai. "Tetapi untuk bahan minyak pekat dan pembersihan nama baikmu di alam ghaib, biaya operasionalnya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah."
Tanpa ragu sedikit pun, Mbak Siska membuka dompet tebalnya dan mengeluarkan lima belas lembar uang seratus ribuan baru yang masih berbau tinta bank. Ia meletakkannya di atas meja dengan rasa hormat yang mendalam.
"Ini satu setengah juta rupiah, Kang Mamat! Kalau dalam dua minggu aura saya beneran berubah dan mantan saya mulai ketar-ketir, saya bakal datang lagi bawa bonus!" kata Mbak Siska semangat.
"Ingat pesan saya," panggil Mamat saat Mbak Siska berdiri hendak pamit. "Tetaplah tersenyum dan berjalan dengan kepala tegak. Dunia ini hanya memihak pada orang yang menghargai dirinya sendiri."
Mbak Siska tersenyum lebar—sebuah senyuman lega yang sudah tiga hari ini hilang dari wajahnya. Ia membungkuk hormat lalu melangkah turun tangga dengan hati yang berbunga-bunga penuh harapan.
Begitu derit pintu bawah berbunyi tanda Mbak Siska telah keluar dari Gang Pinggir, Darto dan Bowo langsung melompat keluar dari balik gorden merah bagaikan harimau kelaparan!
"JANCUK! MAT! KAMU BENERAN EDAN!" jerit Darto girang sambil menepuk-nepuk pundak Mamat kencang. "Satu setengah juta cuma modal minyak zaitun lima ribuan sama omongan manis! Kamu ndak pakai racun nyamuk lagi tapi hasilnya jauh lebih gila!"
Bowo menyambar uang satu setengah juta rupiah di atas meja, membaui lembaran uang kertas baru itu dengan mata terpejam nikmat. "Gila... Orang kota bener-bener royal kalau soal urusan sakit hati. Nyesel aku dulu ndak ikut jadi dukun dari kecil!"
Mamat menyulut rokok kreteknya, menyandarkan punggungnya ke dinding tembok sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Sudah tak bilang kan? Orang kota itu butuh 'tempat curhat yang terkesan sakral'. Mereka ndak butuh mantra bahasa Jawa kuno yang susah dipahami, mereka cuma butuh diyakinkan kalau masalah mereka ada solusinya!"
Mamat membagi uang itu: lima ratus ribu untuk Darto dan Bowo sebagai biaya operasional makan dan belanja kebutuhan kontrakan, sisanya satu juta rupiah masuk ke dalam kas utama Kang Mamat Consultant.
"Besok, Bowo..." perintah Mamat. "Kamu pergi ke percetakan depan jalan raya. Cetak kartu nama tipis warna hitam tulisan emas: Kang Mamat - Konsultan Aura & Restorasi Hubungan. Sebar secara halus di kafe-kafe kecil atau salon-salon kecantikan sekitar Pasar Johar!"
"Siap, Bos!" sahut Bowo mantap.
Namun, kejayaan hari pertama Mamat di Kota Semarang tidak berlangsung tanpa riak. Malam makin larut, sekitar pukul sebelas malam, ketika mereka bertiga sedang asyik menikmati sate kambing bungkus di lantai dua, suara langkah kaki berat bertumit sepatu kulit terdengar memanjat tangga kayu kontrakan dengan tergesa-gesa.
BAM! BAM! BAM!
Pintu lantai dua tidak sekadar diketuk, melainkan dipukul kencang menggunakan telapak tangan besar!
Darto dan Bowo seketika tersedak sate kambing. Mamat cepat-cepat merapikan kemejanya, menyambar Keris Bengkok, lalu memberi isyarat agar Darto membuka pintu.
Di balik pintu, berdiri tiga orang pria bertubuh kekar dengan jaket kulit hitam dan tato naga menjalar di leher mereka. Wajah-wajah mereka garang, bau alkohol murah menyengat dari napas mereka. Pria di tengah—yang bertubuh paling besar dengan bekas luka garatan di pipi kirinya—langsung melangkah masuk tanpa diundang, menatap sekeliling kontrakan Mamat dengan pandangan merendahkan.
Nama pria itu adalah Bang Tato, kepala preman yang menguasai lapak pungutan liar dan judi kecil-kecilan di seluruh lorong Gang Pinggir.
"Siapa yang namanya Mamat?!" gertak Bang Tato dengan suara serak bagai amplas kasar.
Mamat berdiri tenang di balik mejanya, meskipun jantungnya sebenarnya sudah maraton 100 meter. Ia tahu betul, menghadapi preman kota tidak bisa memakai gaya pamer ilmu gaib petasan banting seperti di kampung. Salah gertak, mukanya bisa remuk dipukuli tiga pria kekar ini.
"Saya Kang Mamat," jawab Mamat dengan nada tenang namun tegas. "Ada masalah apa malam-malam begini, Saudara?"
Bang Tato maju dua langkah, menggebrak meja plastik Mamat hingga botol minyak zaitun terguling!
BRAK!
"Jangan sok elit kamu di sini, Praz!" bentak Bang Tato kasar. "Di Gang Pinggir ini, mau kamu buka toko kelontong, salon, atau praktek sulap dukun kayak gini, kamu harus minta izin sama kelompokku! Mana uang keamanan tiga bulan depan?!"
Darto dari belakang menelan ludah, tangannya meraba-raba gagang sapu di sudut ruangan.
Mamat menyunggingkan senyum tipis. Ia menatap mata Bang Tato tanpa rasa takut buatan. Otak kelicikan Mamat langsung melihat peluang besar di balik gertakan preman ini.
"Uang keamanan?" tanya Mamat santai. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan, lalu meletakkannya di atas meja. "Uang tiga ratus ribu ini kecil, Bang Tato. Tapi kalau Abang cuma minta uang lapak recehan gini tiap bulan... Abang rugi besar."
Bang Tato mengerutkan dahinya yang penuh kerut, alisnya bertaut curiga. "Rugi gimana maksudmu, Dukun?!"
Mamat melangkah mendekati Bang Tato, berdiri hanya satu jengkal di hadapan pria kekar beralkohol itu. Mamat mengecilkan suara bisikannya menjadi sangat misterius.
"Saya lihat... di bawah mata kiri Abang ada aura memar kehitaman," bisik Mamat meramal asal-asalan namun dengan intonasi mantap. "Abang belakangan ini sering kalah judi di lapak dermaga, betul? Dan anak buah kepercayaan Abang... ada yang sedang berusaha menusuk Abang dari belakang untuk merebut posisi kepala lapak."
Bang Tato mendadak membeku di tempatnya! Matanya membelalak lebar, memandang Mamat dengan rasa kaget yang tidak bisa disembunyikan.
Sebenarnya, tebakan Mamat sangatlah berdasar pada logika jalanan sederhana: Semua preman di kawasan pelabuhan pasti main judi dan selalu kalah, dan lingkaran preman selalu dipenuhi pengkhianatan antar anak buah. Namun bagi Bang Tato yang pikirannya pendek dan sedang mabuk tipis, tebakan Mamat terasa seperti "penglihatan ghaib" yang sangat menakutkan!
"K-Kamu kok bisa tahu soal lapak dermaga...?" gagap Bang Tato, suaranya yang tadinya gertak garang mendadak turun dua oktaf.
Mamat mengelus Keris Bengkok Brajamukti-nya dengan gerakan lambat yang mengerikan. "Karena saya membaca aura kematian dan pengkhianatan yang melingkupi tubuh Abang. Kalau Abang mau... saya bisa balikkan aura itu. Saya bisa bikin Abang selalu menang judi di dermaga dan menundukkan seluruh anak buah Abang tanpa perlu angkat parang."
Dua anak buah Bang Tato di belakang saling berpandangan dengan wajah pucat pasi, ketakutan melihat kedekatan Mamat dengan bos mereka.
Bang Tato menelan ludahnya yang terasa pahit. Gertakan premannya runtuh seketika di hadapan manipulasi psikologis tingkat tinggi seorang Mamat.
"B-Beneran bisa bikin saya menang judi dan tahu siapa yang mau khianat, Kang Mamat?" tanya Bang Tato penuh rasa ingin tahu dan ketakutan yang mendalam.
Mamat tersenyum manis—senyuman serigala berbulu domba yang siap menerkam mangsa barunya di belantara Kota Semarang.
"Duduklah, Bang Tato..." panggil Mamat lembut sambil menunjuk lantai. "Mari kita bicarakan bisnis yang jauh lebih besar daripada sekadar uang keamanan tiga ratus ribu rupiah."