NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Tawa di Jalur Lari

--

"𝘌𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶... 𝘡𝘦𝘳𝘰?" celetuk 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 dari sisi lintasan, nadanya seperti baru menemukan tontonan.

Langkah Ervan berhenti sepersekian detik.

Suara itu cukup keras untuk didengar beberapa orang di sekitar lintasan.

Ia menoleh.

Dua pemuda berdiri tidak jauh dari area pemanasan. Keduanya tampak seusia atau sedikit lebih tua darinya. Pakaian olahraga mereka jauh lebih lengkap dibanding kaus hitam dan celana training sederhana milik Ervan.

Salah satunya memicingkan mata.

"𝘉𝘦𝘯𝘦𝘳, 𝘬𝘢𝘯? 𝘐𝘵𝘶 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨," kata 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂 sambil menunjuk dengan dagunya.

Temannya ikut memperhatikan.

"𝘖𝘩, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘰𝘭 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯 𝘪𝘵𝘶? 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨," sahut 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮, berhenti memutar pergelangan kakinya.

Tawa kecil terdengar.

Tidak keras.

Tidak sampai seluruh taman memperhatikan.

Justru karena itulah rasanya lebih nyata.

Ervan mengenal nada seperti itu.

Ia sudah mendengarnya selama bertahun-tahun.

Zero.

Julukan yang lahir dari satu angka.

0%.

Dulu, Ervan sering berusaha berpura-pura tidak peduli. Lama-kelamaan ia memang menjadi terbiasa.

Namun pagi ini berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berdiri di tempat orang-orang datang untuk melatih tubuh mereka sebagai Hunter.

Dan untuk pertama kalinya pula, julukan itu terasa seperti seseorang sedang mengingatkan bahwa tempat ini bukan miliknya.

Salah satu pemuda menyeringai.

"𝘡𝘦𝘳𝘰 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘢𝘩𝘳𝘢𝘨𝘢? 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘵𝘰𝘱𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢," ujar 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂.

Ervan memandang stopwatch di tangannya.

Waktu terus berjalan.

Ia menekan tombol reset.

Tidak menjawab.

"𝘋𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳," lanjut 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂, alisnya terangkat seolah jawabannya sudah jelas.

Temannya tertawa.

"𝘜𝘮𝘶𝘳 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪? 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭," timpal 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮, tawanya belum benar-benar habis.

Ervan memasang earphone sebelah kanan, meninggalkan telinga kiri terbuka agar tetap mendengar keadaan sekitar.

Kemudian ia mulai berlari.

Suara mereka perlahan tertinggal.

"𝘓𝘩𝘰, 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘳𝘪. 𝘒𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴," terdengar suara 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂 dari belakang.

"𝘎𝘪𝘭𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢, 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪," balas 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.

Beberapa detik kemudian terdengar satu komentar terakhir.

"𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯!" seru 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂, sengaja dikeraskan agar sampai ke lintasan.

Tawa menyusul.

Ervan tidak menoleh.

Tapi ia mendengarnya.

Tentu saja.

Dan hal paling menyebalkan adalah—

mereka tidak sepenuhnya salah.

---

Kilometer pertama dilewati dengan pace yang sengaja ia tahan.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Ervan menjaga napas tetap berirama.

Tarik.

Buang.

Dua langkah.

Tarik lagi.

Hari-hari terakhir membuatnya memahami satu kesalahan yang hampir ia lakukan pada awal latihan.

Ia terlalu memikirkan jarak.

Padahal lima kilometer bukan sekadar persoalan kaki mampu bergerak sampai garis akhir.

Teknik berlari, ritme napas, posisi tubuh, dan distribusi tenaga sama pentingnya.

Ervan sedikit menurunkan bahu.

Langkahnya menjadi lebih ringan.

Memasuki kilometer kedua, keringat mulai membasahi pelipis.

Napas bertambah berat, tetapi belum kacau.

Itu perkembangan.

Kecil.

Namun nyata.

Beberapa hari lalu, satu kilometer saja sudah cukup membuat dadanya terasa seperti dipukul dari dalam.

Sekarang tubuhnya mulai memahami apa yang harus dilakukan.

Ervan melirik stopwatch.

Kemudian pada lintasan di depan.

Komentar dua pemuda tadi masih berputar di kepalanya.

Umur delapan belas baru mulai?

Benar.

Mau mengejar sepuluh tahun dalam sebulan?

Juga benar.

Tapi ada satu bagian yang salah.

Ervan tidak sedang mencoba menghapus sepuluh tahun ketertinggalannya dalam sebulan.

Ia hanya sedang mencoba menjadi cukup baik untuk mendapatkan kesempatan berikutnya.

Itu dua hal yang berbeda.

Memasuki kilometer ketiga, pahanya mulai panas.

Ervan menjaga kecepatan.

Di tikungan berikutnya, dua pemuda tadi berlari melewatinya dari sisi kanan.

Jauh lebih cepat.

Salah satunya sempat melirik.

Tidak mengatakan apa pun kali ini.

Mereka hanya terus melaju.

Dalam hitungan puluhan detik, jaraknya sudah lebar.

Ervan memperhatikan teknik lari mereka.

Langkah stabil.

Gerakan tangan efisien.

Napas terkontrol.

Bahkan ketika berlari cepat, postur tubuh mereka hampir tidak berubah.

Ervan mengalihkan pandangan.

Itulah kenyataannya.

Selagi ia sibuk belajar cara berlari dengan benar, orang lain sudah bertahun-tahun membangun dasar.

Tidak ada gunanya marah pada fakta.

Ia hanya perlu bekerja dengan apa yang dimilikinya.

Kilometer kelima akhirnya selesai.

Ervan menekan stopwatch.

Ia membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.

Keringat jatuh ke paving.

Dadanya naik turun cepat.

"𝘏𝘢𝘢𝘩... 𝘩𝘢𝘢𝘩... 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢," engah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 di antara tarikan napas.

Masih berat.

Sangat berat.

Tetapi berbeda dari hari pertama.

Ia tidak merasa seperti akan roboh.

Ervan berjalan perlahan sambil menunggu napasnya turun.

Satu menit.

Dua menit.

Ia memeriksa waktunya.

Lebih baik.

Tidak drastis, tapi cukup untuk dicatat.

Setelah beberapa menit pemulihan, ia pindah ke sisi taman yang memiliki lintasan lurus pendek.

Program berikutnya:

Interval.

Ervan mengatur timer.

Sprint pendek.

Istirahat.

Ulangi.

Sprint pertama berjalan baik.

Sprint kedua mulai terasa.

Pada sprint ketiga, paha kirinya menegang.

Ervan langsung mengurangi kecepatan.

Ia berhenti.

Salah satu pikirannya menyuruh melanjutkan.

Masih bisa.

Cuma sedikit kram.

Komentar tadi seolah kembali terdengar.

Zero.

Ervan memandang lintasan.

Kemudian menggeleng.

"𝘉𝘰𝘥𝘰𝘩," gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sambil menekan paha kirinya yang masih kaku. "𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘥𝘦𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘪𝘬𝘶, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢."

Ia berjalan ke pinggir.

Rosaline benar.

Kalau hanya karena ingin membungkam dua orang asing ia memaksakan diri sampai cedera, berarti mereka berhasil mengatur latihannya tanpa perlu melakukan apa pun.

Ervan duduk sebentar, melakukan peregangan ringan, lalu minum.

Set latihan interval dikurangi.

Bukan dibatalkan.

Hanya disesuaikan.

Dalam jurnal nanti, ia akan mencatat alasan perubahan.

---

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang semakin padat.

Pagi digunakan untuk jogging, interval ringan, sprint pendek, serta latihan mobilitas.

Siang ia bekerja.

Ketika minimarket sepi, Ervan membuka materi Seleksi Hunter atau membaca ulang teori dasar BETA melalui ponsel.

Sore menjadi waktu latihan tubuh.

Push-up.

Squat.

Sit-up.

Plank.

Gerakan koordinasi.

Malam digunakan untuk membaca, mengevaluasi jurnal, lalu tidur sesuai jadwal yang ia tetapkan sendiri.

Rutinitasnya jauh dari menarik.

Tidak ada ledakan Magic.

Tidak ada Regalia.

Tidak ada pertarungan melawan BETA.

Tidak ada momen ketika Ervan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya menjadi sangat kuat.

Sebaliknya, sebagian besar waktunya hanya diisi keringat, napas berat, rasa pegal, dan angka-angka kecil yang perlahan bergerak.

Repetisi push-up meningkat sedikit.

Plank bertahan lebih lama.

Napasnya tidak langsung kacau saat melewati kilometer pertama.

Recovery antarset terasa lebih cepat.

Namun tubuhnya masih mempunyai batas.

Pernah ia gagal menyelesaikan target squat karena paha terlalu berat.

Pernah pula betisnya kram saat bangun pagi.

Pada satu sore, ia bahkan membatalkan sprint sepenuhnya karena tubuhnya memberi terlalu banyak tanda kelelahan.

Ervan tidak menyukai hari-hari seperti itu.

Tetapi ia mencatatnya tetap sebagai bagian dari latihan.

Tubuh bukan mesin.

Kalimat itu ia tulis sendiri di sudut jurnal.

Yang sedikit mengganggunya justru satu hal lain.

Recovery-nya.

Setelah tidur cukup, rasa sakit di tubuhnya sering berkurang lebih cepat daripada perkiraannya.

Bukan menghilang seketika.

Bukan pula sesuatu yang mustahil dilihat secara langsung.

Hanya... terlalu cepat.

Ervan belum berani mengambil kesimpulan.

Belum cukup data.

Maka ia terus mencatat.

---

Beberapa pagi kemudian, Ervan kembali ke taman yang sama.

Dua pemuda yang pernah mengejeknya berada di sana lagi.

Salah satunya melihat Ervan ketika ia melewati garis awal.

"𝘛𝘶𝘩, 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘪𝘳𝘢𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘱𝘰𝘬," kata 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂 sambil menyikut lengan temannya.

Temannya hanya melirik.

Ervan mendengarnya, tetapi tidak bereaksi.

Ia menyelesaikan jogging.

Lalu interval.

Kemudian pendinginan.

Ketika Ervan berjalan keluar lintasan sambil mengatur napas, salah satu dari mereka memperhatikannya lebih lama.

"𝘕𝘢𝘱𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴-𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘫𝘶𝘨𝘢," gumam 𝗽𝗲𝗺𝘂𝗱𝗮 𝗶𝘁𝘂, tutup botol minumnya belum juga diputar.

"𝘉𝘪𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘢𝘫𝘢. 𝘊𝘢𝘵𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘣𝘶𝘬 𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨," sahut 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 seraya mengencangkan tali sepatu.

Tidak ada kekaguman.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada perubahan dramatis.

Dan Ervan tidak membutuhkannya.

Ia datang bukan untuk mengubah pendapat mereka.

Pendapat orang lain tidak akan menambah satu repetisi push-up-nya.

Tidak akan memperbaiki stamina.

Dan jelas tidak akan membuat standar Seleksi Hunter turun.

Malam itu, Ervan membuka jurnal.

Ia melihat seluruh catatan beberapa hari terakhir.

Kemudian menulis satu bagian baru.

Gangguan hari ini: komentar orang.

Ervan mengetuk ujung pulpen pada meja.

Lalu menambahkan:

Pengaruh terhadap latihan: tidak ada.

Ia tersenyum kecil.

Besok genap satu minggu sejak dirinya memulai latihan serius.

Ervan membalik beberapa halaman kembali ke catatan hari pertama.

Jogging lima kilometer yang nyaris membuatnya tumbang.

Jumlah repetisi yang menyedihkan.

Durasi recovery yang panjang.

Semua angka awal masih tersimpan.

Ia kemudian membuka halaman kosong.

Di bagian atas, Ervan menulis:

HARI KE-7 — BASELINE TEST II

Besok ia akan mengulang latihan hari pertama.

Rute yang sama.

Jarak yang sama.

Gerakan yang sama.

Untuk pertama kalinya, ia akan melihat dengan angka nyata seberapa jauh dirinya sudah berubah dalam satu minggu.

Ervan hendak menutup jurnal.

Namun matanya berhenti pada satu kolom.

Recovery.

Ia membandingkan angka hari pertama dengan dua hari terakhir.

Dahinya perlahan berkerut.

Sekali bisa disebut kebetulan.

Dua kali mungkin tubuhnya hanya beradaptasi.

Tapi jika pola itu muncul lagi besok—

Ervan menatap tangannya sendiri.

—maka ada kemungkinan latihan bukan satu-satunya alasan tubuhnya berubah.

Dan besok, ia berniat membuktikannya.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!