NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Asing dan Dinding Beton

Pesawat Boeing 777 itu mendarat dengan guncangan halus di landasan Bandara King Abdulaziz, Jeddah. Bagi Ratna, suara roda pesawat yang menyentuh aspal panas itu terdengar seperti palu hakim yang mengetuk meja: *Final*. Ia telah meninggalkan tanah airnya, meninggalkan pelukan Lily yang kaku namun erat, dan meninggalkan Nenek Surti yang berdoa dengan air mata mengalir. Kini, ia berada di negara yang asing, di bawah langit yang warnanya berbeda—lebih pucat, lebih kering, dan terasa jauh dari Tuhan yang ia kenal.

Ratna melangkah keluar dari pintu pesawat, disambut oleh hembusan udara dingin buatan terminal bandara yang kontras dengan terik matahari Arab Saudi di luar. Ia mengenakan hijab hitam sederhana dan membawa tas koper kecil berisi pakaian seadanya. Di tangannya, ia menggenggam erat paspor dan kontrak kerjanya seolah-olah itu adalah nyawanya sendiri.

Seorang pria bertubuh besar dengan jubah putih dan sorban merah berdiri menunggu di area penjemputan. Ia memegang papan nama dengan tulisan "RATNA - INDONESIA". Wajahnya datar, tanpa senyum, matanya memindai para penumpang yang turun dengan tatapan menilai, seperti seorang pedagang memeriksa barang dagangan.

“Mrs. Ratna?” tanya pria itu dalam bahasa Inggris yang kaku. Suaranya berat dan otoriter.

Ratna mengangguk gugup. “Yes, sir. I am Ratna.”

“I am Mr. Fahad. Your employer’s driver,” jawabnya singkat. Ia mengambil alih koper Ratna tanpa meminta izin, lalu berbalik badan dan berjalan cepat menuju mobil SUV hitam besar yang terparkir di tepi jalan. “Follow me. Don’t be late.”

Ratna bergegas mengikuti langkah lebar pria itu. Kakinya gemetar, bukan karena dinginnya AC terminal, melainkan karena ketakutan yang mulai merayap naik. Ini bukan sambutan hangat. Ini adalah transaksi.

Perjalanan dari bandara ke rumah majikannya memakan waktu hampir satu jam. Mobil melaju di atas jalan tol yang mulus, melewati gedung-gedung pencakar langit yang megah dan masjid-masjid dengan kubah emas yang menjulang tinggi. Pemandangan itu indah, namun bagi Ratna, semuanya terasa dingin dan tak bersahabat. Tidak ada pohon rindang seperti di halaman rumah Nenek. Tidak ada suara penjual keliling. Hanya suara mesin mobil dan keheningan yang mencekam.

Mr. Fahad tidak berbicara sepatah kata pun selama perjalanan. Ratna mencoba tersenyum padanya melalui kaca spion, namun pria itu hanya menatap lurus ke depan, fokus pada jalan. Ratna akhirnya menyerah, menunduk dan memandangi pantulan wajahnya sendiri di jendela mobil. Wajah itu terlihat lebih tua sepuluh tahun dalam semalam. Keriput di sudut matanya tampak lebih dalam, dan matanya kehilangan cahaya yang biasa dilihat Lily.

Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi berwarna putih. Rumah itu besar, bergaya modern minimalis dengan dinding beton yang kokoh. Tidak ada tanaman hias di halaman depan, hanya lantai marmer yang bersih mengkilap. Gerbang terbuka otomatis, dan mobil masuk ke dalam garasi bawah tanah yang sejuk.

“Get out,” perintah Mr. Fahad.

Ratna turun dari mobil, kakinya masih terasa lemas. Seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas dan mengenakan abaya hitam mewah sudah menunggu di pintu masuk utama. Wanita itu adalah Nyonya Amira, majikan baru Ratna. Matanya tajam, meneliti Ratna dari ujung kaki hingga ujung kepala, seolah sedang menghitung nilai aset.

“You are late,” ucap Nyonya Amira dalam bahasa Arab yang diterjemahkan secara kasar oleh Mr. Fahad. Padahal Ratna tahu, mereka tiba tepat waktu sesuai jadwal penerbangan.

“Sorry, Ma’am. The flight was on time,” jawab Ratna sopan, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat.

Nyonya Amira tidak membalas salam itu. Ia hanya menunjuk ke arah dapur. “This is your room. Small. Behind the kitchen. You sleep there. You wake up at 4 AM. Breakfast must be ready by 6. Iron my husband’s clothes. Clean the pool twice a week. Do not talk to neighbors. Do not use phone during working hours. Understand?”

Daftar peraturan itu dilontarkan begitu cepat dan dingin hingga Ratna kesulitan mencernanya semua sekaligus. Kamar di belakang dapur? Bangun pukul 4 pagi? Tanpa akses telepon?

“Yes, Ma’am. I understand,” jawab Ratna, meski tenggorokannya terasa kering.

“Good. Mr. Fahad will show you the kitchen. Start cleaning now. The floor is dirty from yesterday’s party.”

Tanpa basa-basi lagi, Nyonya Amira berbalik dan naik ke lantai atas, meninggalkan Ratna sendirian di ruang tamu yang luas dan hampa. Mr. Fahad mengarahkan Ratna ke sebuah ruangan kecil di sudut belakang rumah. Ruangan itu sempit, hanya cukup untuk sebuah kasur lipat tipis dan sebuah lemari plastik kecil. Tidak ada jendela. Hanya ada ventilasi udara kecil di bagian atas dinding yang mengeluarkan suara dengungan kipas exhaust fan.

Ratna meletakkan kopernya di atas kasur. Ia duduk, merasakan kelembapan dingin merambat dari lantai keramik ke tubuhnya. Ini bukan kamar. Ini gudang penyimpanan manusia.

Tiba-tiba, rasa sesak yang luar biasa menyerang dadanya. Ia mengeluarkan ponsel lamanya dari saku bajunya. Layarnya retak sedikit, namun masih berfungsi. Ia membuka galeri foto, mencari gambar terakhir yang ia ambil sebelum berangkat: foto Lily dan Nenek Surti yang sedang melambai dari teras rumah. Wajah Lily tampak berusaha tersenyum, namun matanya basah.

Air mata Ratna akhirnya tumpah. Ia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terisak keras, takut didengar oleh tuan rumah yang mungkin memiliki telinga di mana-mana.

“Lil… Ma…” bisiknya lirih, suaranya pecah di antara dentuman jantungnya yang kencang. “Mama di sini. Mama aman. Mama kuat.”

Namun, kata-kata itu terasa bohong bahkan bagi telinganya sendiri. Ia tidak merasa aman. Ia merasa terjebak. Dinding-dinding beton di sekelilingnya terasa seperti penjara yang tak terlihat. Kontrak dua tahun yang tadi terdengar seperti jembatan menuju masa depan, kini terasa seperti vonis hukuman yang panjang.

Pintu kamar ketuk pelan. Mr. Fahad muncul di ambang pintu, wajahnya tetap tanpa ekspresi.

“Madam wants tea. Now. And bring the ironing board. Her husband has a meeting in two hours.”

Ratna segera menghapus air matanya dengan lengan baju, bangkit berdiri, dan mengangguk patuh. “Yes, sir. Right away.”

Ia berjalan menuju dapur, kakinya terasa berat. Setiap langkahnya mengingatkan ia pada jarak ribuan kilometer yang memisahkannya dari keluarga. Di dapur yang luas dan penuh peralatan canggih yang tidak ia mengerti cara kerjanya, Ratna mulai menyeduh teh. Tangannya gemetar saat menuangkan air panas.

Ia melihat ke luar jendela dapur kecil itu. Pemandangan hanya tembok tetangga yang tinggi dan langit biru yang menyilaukan. Tidak ada burung gereja. Tidak ada angin sepoi-sepoi. Hanya kesunyian yang menekan.

Ratna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia mengingat janji pada Lily. *Dua tahun. Demi masa depanmu.* Ia harus bertahan. Ia harus menjadi batu karang yang tidak tergoyahkan oleh ombak kesepian dan perlakuan dingin ini.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Ratna mengangkat cangkir teh dan berjalan menuju tangga utama. Langkah pertamanya sebagai TKW di negeri orang telah dimulai. Dan ia tahu, ini hanyalah awal dari ujian yang jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan di rumah Nenek yang hangat. Namun, di balik setiap tetes keringat dan air mata yang akan ia keluarkan di tanah asing ini, ada wajah Lily yang tersenyum. Dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya terus melangkah, meski kakinya terluka oleh duri realitas yang tajam.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!