NovelToon NovelToon
TUMBAL 1000 NYAWA

TUMBAL 1000 NYAWA

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Banjoriuga

Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA

Sinopsis:

Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.

Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.

Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Garis Batas

Angin dingin pagi yang bertiup dari lereng bukit menyapu abu sisa tubuh Mbah Jarwo yang berserakan di pelataran Balai Desa Alas Mayit. Meskipun warga desa perlahan lahan mulai tersadar dan saling berpelukan menumpahkan rasa haru setelah terbebas dari jerat ikatan gaib, ketenangan di wajah Baskara dan Mbak Sekar sama sekali tak bertahan lama. Bisikan terakhir dari tetua sekte itu menggantung tebal di udara, meninggalkan ancaman baru yang jauh lebih besar dari sekadar teror di dalam batas desa.

​"Tempat persembahan terakhir itu... berada di Gua Langse, tepat di dasar tebing selatan yang berbatasan langsung dengan laut selatan," ujar Mbak Sekar dengan nada suara berat seraya membalut luka di pundaknya menggunakan kain kain mori murni. "Di sana tempat tiga tetua sekte Kala Hitam pertama kali mengikat janji dengan Penguasa Kegelapan sebelum membaginya ke Alas Mayit."

Arya mengamati belati perunggu yang tergenggam di tangannya. Denyut halus yang merambat dari gagang pisau tua itu semakin terasa jelas, mengarahkan kompas batinnya lurus menuju arah selatan. "Kalau begitu kita tidak bisa berlama-lama di sini. Jika pimpinan tertinggi sekte itu berhasil mengumpulkan sisa-sisa jiwa dari tempat persembahan utama, seluruh pengorbanan kita di bukit ini akan sia-sia."

​"Tubuhmu belum sepenuhnya pulih, Arya," pangkas Baskara seraya memegang lengan putranya yang masih menyisakan bekas luka bakar membiru. "Energi dari belati perunggu itu terus menguras daya hidupmu setiap kali kau menggunakannya. Kita harus singgah di kediaman lama kakekmu di ujung desa untuk mengambil pusaka penawar sebelum melintasi garis batas."

Dengan langkah terpincang-pincang, ketiganya meninggalkan pelataran balai desa yang mulai ramai oleh tangis haru warga. Sepanjang perjalanan menelusuri lorong-lorong desa, bayang-bayang hitam yang biasanya merayap di bawah pepohonan kini telah lenyap, namun bau amis belerang berganti dengan aroma laut basah yang dibawa oleh angin selatan—sebuah pertanda bahwa cengkeraman baru sedang melambaikan tangannya dari kejauhan.

​Saat mereka melangkah masuk ke halaman rumah kayu tua kakek Arya yang kini tampak lebih lapuk dan tenang, sebuah bayangan tinggi berjubah hitam berdiri membisu di bawah pohon beringin depan rumah. Sosok itu tidak memancarkan hawa membunuh, melainkan memegang sebuah peti kayu kecil bertuliskan rajah emas yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

"Kalian terlambat satu langkah," ucap sosok itu dengan suara tenang namun bergema, perlahan membuka penutup kepalanya dan memperlihatkan wajah seorang wanita muda dengan mata bening yang memancarkan aura ghaib. "Sekte Kala Hitam telah mengaktifkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan tumbal di dasar tebing. Dan aku di sini untuk memastikan kalian tidak mati sebelum mencapai pintu tempat persembahan itu."

Wanita muda yang berdiri di bawah rindangnya pohon beringin tua itu melangkah pelan keluar dari bayang-bayang. Jubah hitam kusam yang melingkupi tubuhnya terangkat sedikit ditiup angin, menyingkapkan ukiran rajah keemasan berwujud ular berkepala tiga yang terlukis rapat di sepanjang jemari hingga pergelangan tangannya. Matanya yang bening memancarkan kilau aneh yang menembus keheningan halaman rumah, menatap lurus pada belati perunggu di genggaman Arya.

​Baskara secara naluriah menggeser tubuhnya ke depan, merentangkan tangan untuk melindungi Arya seraya mengepalkan sisa rantai besi di pergelangan tangannya. "Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan para pengabdi Kala Hitam?"

"Namaku Kirana," sahut wanita itu dengan suara tenang tanpa riak ancaman, namun cukup dingin untuk membuat udara di sekeliling mereka terasa membeku. "Aku adalah putri tunggal dari mendiang Mbah Jarwo—orang yang memilih melarikan diri dari sekte ketika menyadari bahwa janji seribu nyawa hanyalah jalan untuk membantai seluruh garis keturunan para pengikatnya sendiri."

​Mbak Sekar melangkah maju dengan mata memicing curiga, memperhatikan rajah ular berkepala tiga di tangan Kirana. "Rajah itu... hanya dimiliki oleh para penjaga Kunci Darah. Kau bukan sekadar pelarian, Kirana. Kau adalah wadah yang disiapkan Jarwo jika ritual di Balai Desa gagal!"

​Kirana menyunggingkan senyum tipis yang getir, lalu perlahan menyodorkan peti kayu berukir rajah emas di tangannya ke arah Arya. "Ayahku memang mengutukku menjadi wadah itu sejak aku dilahirkan. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa Kunci Darah di dalam tubuhku hanya bisa diaktifkan jika aku menyerahkannya secara sukarela kepada pemilik belati perunggu murni."

​Arya menatap peti kecil itu dengan ragu, merasakan getaran hangat dari belati perunggunya bertabrakan dengan gelombang energi dingin yang terpancar dari dalam peti. "Apa isi peti ini?"

​"Di dalamnya tersimpan Minyak Naga Sakti dan peta rahasia menyusuri tebing Gua Langse," terang Kirana seraya membuka kait besi peti tersebut secara perlahan. "Minyak ini adalah satu-satunya penawar yang bisa memulihkan racun belerang di dadamu dan menghentikan pengurasan daya hidup dari belati perunggu itu. Tanpa ini, kau akan mati sebelum sempat menginjakkan kaki di tangga batu tempat persembahan utama."

​Di dalam peti kayu bertatahkan kain mori kuning tersebut, terbaring sebuah botol kaca kecil berisi cairan keemasan yang bergolak pelan tanpa disentuh. Saat Arya mendekatkan jemarinya, cairan keemasan itu memancarkan aura hangat yang seketika meredakan rasa terbakar pada luka di dadanya, memberi sedikit kelegaan di tengah kelelahan yang luar biasa.

Namun, sebelum Arya sempat menyentuh botol tersebut, suara derum gelombang laut yang maha dahsyat mendadak bergema dari arah selatan, disertai getaran tanah yang membuat pepohonan di sekitar halaman rumah berguncang kencang. Langit pagi yang tadinya mulai cerah mendadak tertutup oleh gulungan awan hitam tebal yang bergerak cepat dari laut lepas.

​"Pimpinan tertinggi sekte sudah mulai menyerap energi tumbal ke-999," bisik Kirana dengan wajah yang mendadak pucat pasi. "Waktu kita sudah habis. Kita harus berangkat sekarang!"

1
Renjana
malem gini bacanya agak serem tapi penasaran 😊
Renjana
semangat nulis💪
mampir juga diceritaku yah😊
Banjoriuga: Iya ka terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!