NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#9

Kalimat terakhir yang diucapkan Ember di perpustakaan masih bergema kuat di telinga Draxler, seolah berulang tanpa henti bagaikan pita kaset yang rusak.

“Gadis bodoh yang mengejar-ngejarmu tanpa harga diri itu... sudah mati kemarin malam. Kau bebas, Mr. Ashford.”

Draxler mengepalkan tangannya di atas meja perpustakaan hingga buku-buku jarinya memutih.

Bebas?

Kata itu yang harusnya menjadi angin segar bagi hidupnya yang selama berbulan-bulan diganggu oleh tingkah absurd gadis bernama Marcella Ember Vitiello.

Namun entah mengapa, bukannya merasa lega, ada rasa tak terima yang mendadak membakar dadanya—sebuah gejolak emosi yang asing dan sangat mengusik ketenangannya.

Enam bulan.

Selama enam bulan penuh sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di universitas ini, gadis itu hadir bagaikan badai berisik yang tak diundang.

Ember selalu memposisikan dirinya di sekitar Draxler.

Gadis itu mencegatnya di koridor, berteriak memanggil namanya di tengah keramaian kafetaria, melontarkan ajakan berkencan tanpa urat malu, hingga mengacaukan konsentrasinya setiap kali ia berusaha mengabaikannya.

Ember telah dengan sengaja menyusup masuk ke dalam ruang pikirannya, merusak ketenangan hidupnya yang teratur, dan membuat nama Draxler selalu dikaitkan dengan tingkah gilanya.

Lalu sekarang, dalam hitungan jam, gadis itu tiba-tiba memutuskan untuk berhenti?

Berlagak seolah-olah Draxler hanyalah barang bekas yang bisa dicapai, diabaikan, lalu dibuang begitu saja saat ia bosan?

Tidak akan kubiarkan, batin Draxler murka. Gigi-giginya berkatup rapat. Kau yang memulai permainan gila ini, Ember. Kau tidak bisa keluar begitu saja sesukamu tanpa izinku.

Draxler bangkit berdiri secara mendadak.

Kursi kayu di belakangnya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan nyaring yang membuat beberapa mahasiswa di perpustakaan menoleh terkejut.

Tanpa memedulikan tatapan heran di sekelilingnya, Draxler melangkah lebar keluar dari perpustakaan, memburu jejak Ember yang belum jauh melangkah.

Pikirannya berkecamuk hebat saat menyusuri koridor kampus.

Di satu sisi, logika sehatnya berteriak mengingatkan seluruh reputasi buruk yang melekat pada nama Marcella Ember Vitiello.

Ember gadis yang dicap buruk oleh desas-desus kejam di kampus.

Dan yang paling utama... ada bayangan sang Mommy yang menari-nari di ingatan Draxler.

Parrie Ashford.

Ibunya yang penyayang namun memiliki prinsip baja.

Sejak Draxler dan saudara kembarnya—Tiga putra Ashford yang selalu menjadi sorotan—masih kecil, sang ibu selalu menanamkan satu aturan sakral yang tak boleh dilanggar: Kalian dilarang berpacaran main-main.

“Ungkapkan perasaanmu hanya pada gadis yang tepat,” ucapan sang ibu kembali bergema jernih di dalam ingatan Draxler.

“Jangan pernah bermain-main dengan perasaan wanita, dan jangan pernah membawa wanita ke dalam hidupmu hanya karena dorongan impulsif atau kebanggaan ego belaka. Sekali kalian memilih, bertindaklah sebagai pria gentle yang bertanggung jawab.”

Prinsip itulah yang membuat Draxler dan Dua saudara kembarnya memegang teguh komitmen hingga usia 19 tahun.

Tak satu pun dari mereka yang pernah berpacaran.

Mereka menolak puluhan gadis yang mencoba mendekat, menjaga diri dan kehormatan keluarga mereka dengan sangat ketat.

Draxler bahkan selalu bangga karena dirinya mampu menahan godaan dunia malam yang liar.

Namun hari ini... di tengah amarah, juga tragedi bunuh diri Cinderella di penthouse-nya semalam, dan rasa penasaran yang membakar atas perubahan drastis Ember, tembok pertahanan Draxler runtuh berantakan.

Draxler mengepalkan tangannya di samping tubuh seraya mendongak menatap langit-langit koridor.

Maafkan aku, Mommy... bisik Draxler di dalam hatinya dengan kepasrahan yang pekat.

Maaf karena aku tidak bisa memegang janjiku kali ini. Aku tidak bisa membiarkan gadis ini berlari sesukanya setelah dia mengacaukan Otakku.

...oOo...

Cinderella berjalan melintasi area halaman belakang kampus yang sepi.

Angin sore bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut hitam lurus milik Ember yang terurai bebas.

Langkah kakinya mengarah ke gerbang samping kampus, berniat untuk segera pulang ke rumah sewaan Ember demi menyusun strategi keuangan jangka pendek.

Namun, belum sempat ia melewati deretan pohon mapel di dekat tangga batu, sebuah cengkeraman kuat dan hangat mendadak mendarat di pergelangan tangannya dari arah belakang.

Tubuh Cinderella tertarik ke belakang dengan cukup keras.

Sebelum ia sempat melontarkan protes atau jurus pertahanan diri, punggungnya sudah membentur batang pohon mapel yang kokoh, dan kedua lengan tinggi Draxler langsung terkunci di kanan dan kiri kepalanya—mengurungnya rapat dalam jarak yang sangat intim.

Cinderella terkejut sejenak, namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras dingin.

Ia menatap lurus ke dalam manik mata Draxler yang kini berkilat memancarkan kemarahan yang tertahan dan napas yang memburu.

"Permainan gila apa lagi ini, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dengan suara datar, tanpa sedikit pun nada panik.

Draxler menunduk, mengikis jarak di antara wajah mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

Suasana di halaman sepi itu mendadak mengencang, sarat akan ketegangan yang pekat.

"Kau tanya ini permainan apa?" bisik Draxler dengan suara rendah yang dalam dan berbahaya. "Harusnya aku yang bertanya padamu, Ember. Apa maksud dari semua sandiwara memuakkanmu hari ini?"

Cinderella menaikkan satu alisnya tipis.

"Sandiwara? Aku tidak sedang bersandiwara. Aku hanya memberimu apa yang selama ini kau inginkan: ketenangan."

"Ketenangan?!" Draxler terkekeh sinis, sebuah tawa penuh kekesalan yang jarang sekali keluar dari bibir pria tenang itu.

"Kau pikir setelah mengejarku berbulan-bulan seperti orang gila, mengganggu pikiranku, membuat seluruh kampus membicarakan kita, lalu kau bisa berjalan menjauh begitu saja dan berpura-pura bahwa aku tidak pernah ada dalam hidupmu?!"

Cinderella menatap Draxler dengan tatapan menilai yang dingin.

"Bukankah kau membenciku? Kau membenci gadis berisik yang selalu mengejar uang dan ketampananmu, kan? Sekarang gadis itu sudah sadar dan berhenti. Harusnya kau merayakannya bersama teman-temanmu, bukan menyudutkanku di bawah pohon seperti pria frustrasi."

Kata 'pria frustrasi' menghantam ego Draxler tepat di pusatnya.

Cengkeramannya di batang pohon makin mengencang.

"Kau tidak bisa memperlakukanku seperti barang, Ember!" desis Draxler dengan tatapan mata yang makin menajam.

"Kau yang menyeret namaku ke dalam hidupmu! Kau yang mengetuk pintuku setiap hari! Dan kau tidak punya hak untuk memutuskannya secara sepihak hanya karena kau mendadak ingin bermain menjadi 'gadis dingin yang tak terjangkau'!"

Cinderella menatap ke dalam mata Draxler yang penuh kepenuhan.

Di balik kemarahan pemuda ini, Cinderella yang berpengalaman dapat membaca dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi: ego seorang pria muda dari kasta teratas yang terpukul karena secara mendadak kehilangan kendali atas seseorang yang biasanya bertekuk lutut di bawah kakinya.

"Draxler," panggil Cinderella pelan, menyebut nama pemuda itu tanpa embel-embel formalitas.

"Dengar, Apapun yang terjadi di masa lalu antara kau dan pemilik raga... maksudku, antara kau dan diriku, anggap saja itu kesalahan masa remaja yang konyol. Aku tidak tertarik lagi padamu, tidak tertarik pada uangmu, dan tidak tertarik pada status keluargamu."

Cinderella mengulurkan tangannya, mendorong dada tegap Draxler dengan kekuatan yang cukup untuk memberi jarak di antara mereka.

"Jadi, singkirkan tanganmu," lanjut Cinderella tegas.

"Jangan merusak reputasimu sendiri hanya demi mengejar jawaban dari gadis yang sudah tidak peduli lagi padamu."

Draxler terpaku menerima dorongan itu. Ia menatap tangan Ember yang menyentuh dadanya, lalu beralih menatap wajah pucat gadis itu yang sama sekali tak menyisakan binar obsesi seperti biasanya.

Tidak ada ketakutan, tidak ada godaan centil, hanya keheningan seluas samudra benua Antartika.

Kehilangan yang aneh mendadak mencengkeram dada Draxler. Rasa tak terima itu justru membakar tekadnya hingga ke batas tertinggi.

"Kau salah jika berpikir kau bisa melepaskan diri dariku begitu saja, Ember," ucap Draxler pelan namun penuh penekanan yang mutlak.

"Jika kau pikir kau bisa berhenti mengejarku... maka biar aku yang akan memastikan bahwa kau tidak akan pernah bisa berpaling pada pria lain di kampus ini."

Cinderella menatap Draxler dengan helaan napas lelah.

"Kau benar-benar tidak masuk akal."

"Aku tidak peduli," potong Draxler cepat.

"Mulai hari ini, permainan kita baru saja dimulai dengan aturanku."

Tanpa memedulikan tatapan dingin Cinderella, Draxler mundur satu langkah, melepaskan kurungannya, namun matanya tetap terkunci tajam pada sosok Cinderella yang merapikan pakaiannya.

Cinderella tidak melontarkan perdebatan lagi.

Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Draxler yang berdiri di bawah naungan pohon mapel.

Namun kini, Cinderella tahu satu hal pasti: kehidupan barunya sebagai Marcella Ember Vitiello tidak akan pernah berjalan tenang selama Draxler Lutolf Ashford memutuskan untuk menjadikannya sebagai urusan pribadinya.

1
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
Nita Nita
lanjut kak 💪
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
kyknya bnyk teka teki nih Thor 😁😁
Yusry Ajay
masih menyimak Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
koq ga up2 Thor..
Rosdianah 🌷: ini Novel Author yang sedikit berbeda. author sedang Baca² dan searching terkait Transmigrasi 🙏🏻🙏🏻 huhu🥲
total 1 replies
nayla tsaqif
Knp gk cerita penny dulu,, kan dia primadonanya,,?? 😌
Rosdianah 🌷: huhuh Penny ditolak Mulu 😭 sudah 10.bab tapi ditolak. capek revisi 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!