Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Tembikar Mistis dan Jerat Rahasia di Balik Singgasana
Kegelapan malam membungkus lorong-lorong bawah tanah Cheonbugwan yang dingin dan lembap. Di dalam ruang rahasia yang terisolasi, suara langkah kaki yang seragam bergema konstan di atas lantai batu. Jin Wu berjalan dengan keanggunan yang licik, didampingi oleh Baek Yun O yang tampak gelisah sembari sesekali merapikan jubah mewahnya.
"Bergabung dengan Cheonbugwan adalah keputusan terbaik yang pernah kau ambil, Yun O," ucap Jin Wu, menyunggingkan senyum tipis sarat akan manipulasi.
Rencana besarnya malam ini adalah merekrut pria paruh baya dari keluarga Baek tersebut untuk menjadi bagian dari kelompok elite rahasianya.
Meskipun Yun O masih berstatus sebagai anggota baru yang belum memiliki kontribusi apa pun, Jin Wu tidak membuang waktu. Ia langsung memberikan sebuah tugas yang teramat penting dan rahasia.
"Aku memiliki tugas khusus untukmu. Aku ingin kau mengamankan sebuah kapal kargo yang saat ini tengah berlabuh di dermaga timur, membawa barang pesanan berharga milikku."
Yun O mengernyitkan dahi. "Barang berharga seperti apa, Tuan Jin Wu?"
"Sebuah tembikar kuno," bisik Jin Wu dengan mata yang berkilat serakah.
Tembikar yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah wadah mistis yang memicu terciptanya patung burung merah Hwajo—benda yang sebelumnya ditemukan oleh Master Lee di dalam sumur-sumur warga yang mendadak mengering.
"Sebagai pria yang memiliki koneksi dan pengaruh besar dari keluarga Baek, aku berharap kau bisa mengamankan barang tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun dari para penyihir Cheon Gi Won yang sedang berkeliaran di pelabuhan."
****
Sementara itu, di bawah atap megah benteng Jinyowon, suasana makan malam keluarga terasa begitu formal dan penuh ketegangan tersembunyi. Setelah prosesi pemberian restu pernikahan yang berjalan kaku selesai, Han Seol duduk berhadapan dengan sang ibu mertua, Jin Hwa Young. Di sampingnya, Jin So Hwa duduk diam dengan jemari yang saling bertautan, merasa gugup sekaligus bahagia karena suaminya berada di sana.
Han Seol meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Jin Hwa Young dengan pandangan datar yang dingin. "Nyonya Jin, berhubung malam sudah terlampau larut dan perjalanan kembali ke padepokan cukup jauh, aku meminta agar disiapkan kamar bagi kami untuk menginap di Jinyowon pada malam ini."
Jin Hwa Young sempat tertegun, namun ia akhirnya mengangguk setuju demi menjaga martabat keluarga di depan para pelayan.
Namun, di balik permintaan menginap yang terkesan biasa tersebut, Han Seol telah menyusun sebuah rencana rahasia yang teramat krusial.
Alasan utama ia nekat bermalam di benteng musuh adalah agar ia bisa memiliki waktu luang untuk memeriksa keadaan artefak burung api Hwajo yang kini tersimpan rapat di dalam ruang pusaka terdalam Jinyowon, memenuhi permintaan rahasia Master Lee siang tadi.
Dan tentu saja, untuk melancarkan eksekusi penyusupan malam nanti, Han Seol berencana meminta bantuan Jin So Hwa. Ia tahu, hanya garis keturunan murni dan kemampuan spiritual melihat energi milik So Hwa yang mampu membukakan pintu ruang pusaka sakral tersebut tanpa memicu alarm sihir Jinyowon.
Di sudut lain benteng Jinyowon yang gelap, tepatnya di dalam ruang tahanan bawah tanah yang lembap, hawa penyiksaan terasa begitu pekat. Soi terduduk lemas dengan rantai besi membelenggu kedua pergelangan tangannya.
Tubuhnya sudah terlihat babak belur, dengan gurat luka dan lebam akibat siksaan cambuk sihir yang dilayangkan oleh anak buah Jin Hwa Young sejak siang tadi.
Krieeet...
Pintu besi terbuka. Jin Hwa Young melangkah masuk dengan keanggunan yang kejam, menatap tahanannya dengan pandangan meremehkan.
Soi mendongak dengan susah payah, darah menetes dari sudut bibirnya yang pecah. Ia terbatuk pelan sebelum akhirnya tertawa getir. Melalui rentetan interogasi dan intimidasi yang ia terima sepanjang sore, Soi akhirnya tahu sebuah kenyataan yang mencengangkan: Jin Hwa Young ternyata sudah mengetahui seluruh identitas asli dari putri sulung palsunya sejak awal.
"Kau... kau sudah tahu semuanya..." desis Soi dengan suara serak yang bergetar.
Dari percakapan dingin penuh ancaman dengan pemimpin Jinyowon itu, Soi juga akhirnya paham secara mutlak bahwa Jin So Hwa yang hidup sekarang ini adalah jiwa asli Nara—sang pembunuh bayangan—yang dulu berhasil diselamatkan dan diangkat oleh orang-orang suruhan Jin Hwa Young dari kedalaman dasar Danau Cheon Gi dalam kondisi membatu.
Jin Hwa Young sengaja memanfaatkan amnesia rahasia itu demi mempertahankan pilar kekuasaan Jinyowon.
****
Di belahan tempat lain, tepatnya di dalam ruang kerja pribadi pemimpin Cheonbugwan, suasana dipenuhi oleh ketegangan politik tingkat tinggi.
Pangeran Go Si Woo berdiri mematung dengan wajah memerah menahan amarah, sementara Jin Wu duduk tenang di kursinya sembari memutar-mutar segelas cangkir giok.
Malam itu, Pangeran Go Si Woo akhirnya diberitahu secara gamblang mengenai seluruh rencana busuk yang sedang disusun oleh Jin Wu selama ini—yaitu rencana nekat untuk menurunkan kembali Batu Es dari langit ke bumi.
"Semua ritual kekeringan dan pemanggilan Batu Es ini, hamba lakukan semata-mata demi kepentingan dan masa depan kejayaan Anda juga, Yang Mulia Pangeran," ucap Jin Wu dengan mulut manisnya yang penuh kebohongan.
Sebagai seorang pangeran yang cerdas, Go Si Woo sebenarnya sudah tahu banyak tentang deretan kejahatan keji yang telah Jin Wu perbuat sebelumnya di masa lalu. Termasuk keikutsertaan aktif Jin Wu di dalam organisasi rahasia pemindah jiwa terlarang yang melibatkan dukun Choi di tubuh Ratu serta mendiang Jin Sang Wook.
Akan tetapi, selama ini sang Pangeran hanya bisa diam seribu bahasa dan tidak berkutik. Hal itu dikarenakan Jin Wu selalu memiliki seribu satu alasan dan berdalih bahwa semua tindakan kejam itu ia lakukan semata-mata demi kebaikan Pangeran, yaitu demi bisa menghancurkan reputasi serta melenyapkan Han Seol—pria yang selama ini Pangeran benci karena dianggap mengancam takhta.
Yang padahal, rasa kebencian yang mendalam di hati Pangeran itu memang sengaja dirancang dan diadu domba oleh Jin Wu sendiri agar ia bisa menggunakan kekuasaan istana untuk menghancurkan padepokan Cheon Gi Won beserta Han Seol yang berada di dalamnya.
Namun, untuk saat ini, batas kesabaran Pangeran Go Si Woo telah habis. Ia sudah merasa teramat muak, lelah, dan sama sekali tidak mau ikut-ikutan lagi dengan apa pun rencana gila yang sedang Jin Wu rencanakan terkait bencana kekeringan tersebut.
Selain itu, seiring berjalannya waktu, sudut pandang sang Pangeran telah berubah; ia sudah mulai bisa menerima keberadaan Han Seol sebagai pelindung Niskala dan tidak mau lagi menganggap pria pemilik Batu Es itu sebagai musuh bebuyutannya.
"Cukup, Jin Wu! Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan negeri ini dengan kekeringan!" bentak Pangeran Go Si Woo dengan napas memburu.
"Aku akan melaporkan seluruh kebusukanmu ini kepada Raja dan Han Seol!"
Mendengar ancaman tersebut, Jin Wu tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru terkekeh rendah, lalu bangkit berdiri dan menantang balik sang Pangeran dengan sorot mata yang teramat licik.
"Silakan saja jika Anda berani, Yang Mulia. Ungkapkanlah semua kebusukanku ini kepada Han Seol sekarang juga."
Jin Wu melangkah mendekat, berbisik tepat di hadapan wajah sang Pangeran yang mendadak kaku. "Namun ingatlah satu hal... jika Anda berani membuka mulut kepada Han Seol, otomatis Anda pun akan ikut terseret ke dalam lubang kematian yang sama. Kedekatan hubungan politik dan kerja sama antara aku dan Anda selama bertahun-tahun ini sudah terlanjur diketahui oleh Han Seol sejak lama. Jika aku hancur, Han Seol akan menganggap Anda sebagai otak di balik pembunuhan sahabatnya, Park Ji Hoon. Dia akan membantaimu tanpa ampun."
Mendengar ancaman balik yang teramat telak tersebut, Pangeran Go Si Woo seketika terdiam seribu kata, tak berkutik dengan tubuh yang gemetar menahan amarah yang membakar dadanya.
Pangeran sadar sepenuhnya bahwa posisi politiknya kini telah terkunci rapat oleh jebakan Jin Wu. Jika ia bicara, ia mati; jika ia diam, kemungkaran akan merajalela. Alhasil, sang Pangeran hanya bisa mengelus dada di dalam kesunyian malam, menahan rasa sesak dan amarah yang luar biasa atas segala kemungkaran dan rencana bencana besar yang sedang Jin Wu jalankan di bawah hidung kerajaan.