Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB : 11 Hati Suami Yang Teluka
Suara pintu kaca tebal Bank Central berdentang keras saat Prasetio dan Prilia terdorong keluar. Dua petugas keamanan bertubuh tegap berdiri di muka pintu, menatap mereka berdua dengan pandangan dingin dan tanpa kompromi.
"Silakan selesaikan urusan pribadi Anda berdua di luar! Jangan membuat keributan di area pelayanan bank kami!" tegas salah satu satpam sebelum memutar kunci dan menutup rapat pintu kaca tersebut.
Di pelataran gedung bank yang megah, gerimis tipis menyiram udara pagi jelang siang di hari itu. Beberapa pasang mata nasabah dan pejalan kaki yang melintas tertuju pada mereka, melemparkan tatapan heran dan penuh tanda tanya.
Orang-orang yang lalu-lalang tampak kebingungan melihat sepasang pria dan wanita berpakaian mewah itu berdiri kaku dengan wajah tegang usai diusir keluar di depan umum. Rasa malu memoles wajah Prasetio hingga memerah padam, diiringi urat-urat leher yang menegang menahan kekecewaan dan kebingungan yang membakar dadanya.
Ia mencengkeram jas mewahnya yang kini kusam dan basah oleh rintik hujan, lalu menoleh kasar pada Prilia yang berdiri gemetar di sampingnya.
"Ini ada apa sebenarnya, Prilia?!" gumam Prasetio dengan suara serak dan berat. Ia menunduk, menatap susunan batako yang tersusun rapi di depan kantor bank mewah itu. "
Prasetio mengepalkan tangannya yang gemetar hebat. Selama berbulan-bulan ini, dalam benaknya yang lugu, perkebunan sawit itu adalah milik seorang pengusaha kaya dari masa lalu. Prasetio sangat meyakini bahwa ayahnya, Pak Burhan, adalah sosok kepercayaan paling inti yang memegang kendali penuh atas kejayaan bisnis tersebut. Bagi Prasetio, tugasnya di lapangan selama ini murni pekerjaan sah untuk mengelola warisan kepercayaan yang diamanahkan kepada ayahnya.
"Ada apa sebenarnya ini Ma?!" Prasetio berucap pada istrinya.
"Lah, mana aku tahu?!" Prilia menyapu rambutnya yang kusut dengan napas memburu. Gaun mewahnya yang mahal tampak kusam oleh rasa frustrasi. Matanya merah, memancarkan kepanikan yang teramat sangat. "Kamu 'kan yang mengurus operasional lapangan selama ini! Harusnya kamu becus menjaga aset itu, bukannya mendadak tidak bisa berbuat apa-apa saat bank memblokirnya!"
"Aku cuma menjalankan pekerjaan sesuai arahan Ayah!" pangkas Prasetio dengan nada frustrasi. "Dulu Ayah Burhan bilang dia yang mengurus seluruh lalu lintas modal dan suatu saat perusahaan itu akan sepenuhnya jatuh ke tanganku!
Aku tidak pernah tahu-menahu kalau ada masalah legalitas atau sengketa! Kenapa sekarang pengacara tua itu muncul membawa surat pembekuan aset?! Prasetio mengusap wajahnya yang basah
" Tiba tiba Maya berada di bank bersama pengacara itu pula. " Suara Prsetio terdengar mengambang.
"Siapa Maya sebenarnya? " Pikiran Prasetio yang memang tidak pernah tahu siapa pemilik CV sebenarnya menjadi sangat bingung.
Memang ada Pak Burhan ayahnya dulu sempat bicara tentang pemilik asli, apa bila Si pemilik yang sebenarnya datang, maka kita harus menyerahkan semua aset kepadanya, karena Ayah sekedar di beri ijin untuk mengelolah, bukan memiliki.
Tapi tiba tiba Maya barusan berkata pemilik asli sudah tahu tentang penggelapan dana itu, jangan jangan Maya adalah.... tebakan itu menggantung dalam pikiran Prsetio, hingga tanpa sadar bibirnya menyebut nama itu pelan hampir terdengar berbisik.
Mendengar Prasetio menyebut nama Maya, otak Prilia yang sudah dibakar kebencian sejak dahulu menjadi makin emosi. Prilia sangat tahu siapa Maya sebenarnya: anak semata wayang dari ayahnya, tetapi beda ibu.
Bagi Prilia, ibu Maya adalah seorang pelakor yang merusak keluarganya. Karena itulah Prilia dahulu menyusun rencana bersama ibunya, menyuruh Pak Burhan mengatur perjodohan Prasetio dengan Maya agar Maya mendapat gelar hina yang sama, menyiksanya, lalu memberinya racun—persis seperti Pratiwi, ibu Maya, yang meninggal dunia karena diracun.
Api kebencian membuat Prilia secara spontan berteriak, "Jangan kamu sebut nama wanita jalang itu! Dia cuma anak pelakor yang terlahir jadi adik tiriku!"
"Tunggu..apa kau bilang..... adik tiri?!"
Prasetio makin tersentak kaget. Matanya terbelalak lebar, menatap Prilia dengan pandangan tidak percaya. Dadanya naik turun menahan guncangan hebat.
Bagaimana mungkin Maya tiba-tiba bisa jadi adik tiri Prilia? Pernyataan Prilia barusan benar benar bagai kan petir di siang bolong baginya.
Dengan suara gemetar dipenuhi rasa kaget dan kecurigaan yang meluap, Prasetio berteriak, "Prilia, kamu gila?! Selama ini kamu dan Ibuku bilang Maya itu cuma janda miskin yang tidak punya siapa siapa, karena kalian kasihan hingga sengaja menjodohkanku dengannya, juga karena kamu tidak bisa punya anak lagi! Tapi sekarang kamu bilang dia adik tiri di keluargamu?! Berarti kalian semua sudah saling kenal dari awal?! Cerita miom, rasa iba Ayah terhadap Maya... semuanya cuma rekayasa kalian, dan aku......aku ternyata menikahi dua perempuan yang sedarah meski beda ibu, aku benar benar tidak habis pikir Prilia, di mana otak kalian?!"
Prilia terdiam Ia baru menyadari bahwa dalam puncak emosinya ia justru salah dalam berucap. Rahasia besar yang ditutupi rapat-rapat selama bertahun-tahun justru terbongkar sendiri karena emosi. Mata Prilia menjadi liar Ia menghindari tatapan tajam Prasetio.
"B-bukan begitu maksudku!" tampik Prilia panik, suaranya bergetar hebat. "Maksudku... dia itu cuma benalu di masa lalu keluarga kami pa?!
"Jangan membodohiku lagi!" bentak Prasetio, suaranya menggelegar di tengah gerimis jalanan. "Kalian menjadikan aku seperti orang bodoh! Kenapa kamu dan Ibuku menyembunyikan identitas Maya dariku!"
Amarahnya seperti tidak terbendung lagi.
"Kalau Maya memang adik tirimu, kenapa kau setuju saja saat aku menikahinya, Rahasia kotor apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku, beri aku penjelasan Prilia?!"
Prasetio mencengkeram lengan Prilia dengan kasar. "Ayo kita pulang ke rumah Ayah sekarang! Aku butuh penjelasan juga dari Beliau!" Ia menarik Prilia menjauh dari halaman bank menuju area parkir mobil.
Prilia yang makin panik merogoh tas mewahnya dengan tangan kanan yang gemetar. Ia mencoba menghubungi ponsel ibu kandungnya, lalu mencoba menelpon Bu Salma, ibu mertuanya. Namun, hanya nada sibuk yang terdengar berulang kali dari kedua ponsel wanita senior tersebut.
Tangan kirinya terus ditarik oleh Prasetio. Lelaki muda itu terlihat sangat kusut; dadanya sesak oleh kesadaran yang mengerikan bahwa hidupnya, pernikahannya, dan pekerjaannya selama ini hanyalah alat yang dimanfaatkan oleh orang-orang terdekatnya. Prasetio terlihat hancur dan terpukul total.
Sementara itu, di ruang privat lantai atas Bank Central yang tenang dan berwibawa, suasana terasa begitu kontras.
Aku duduk berhadapan dengan Pak Baskoro. Di atas meja kayu jati yang berkilau, terhampar map kulit berisi dokumen-dokumen resmi lengkap dengan stempel basah peninggalan almarhum Ayahku, Pak Hendra.
Tiba tiba bayangan Pak Burhan melintas di mataku, dahulu aku selalu memanggil pengelola perkebunan itu dengan sebutan Paman Burhan karena rasa hormatku pada sosok senior yang mengaku masih terhitung paman dari keluarga mendiang ibuku. Namun sekarang, dalam lembaran-lembaran hukum dan kenyataan hidup yang membentang, aku lebih memilih menyapanya secara rasional sebagai Pak Burhan. Beliau adalah ayah mertuaku sekaligus kakek dari Rian, anakku. Sebuah garis takdir yang terikat rumit dan kini berada di ambang kehancuran. Mengapa aku teringat mereka di rumah? Hatiku semakin terasa gelisah.
"Semua rekening operasional perkebunan dan aset utama sudah resmi dibekukan di bawah pengawasan hukum saya, Maya," ujar Pak Baskoro pelan namun pasti. "Prasetio dan Prilia tidak akan pernah bisa menyentuh sepeser pun uang itu lagi." Ucapan Pak Baskoro membuyarkan ingatanku tentang Pak Burhan dan anak anakku.
Jemariku mengelus pelan lembaran kertas dokumen asli peninggalan Ayah. Ada rasa hangat yang mengalir di dadaku, tiba- tiba aku merindukan sosok lelaki yang sudah meninggalkanku untuk selamanya itu.
Kasih sayangnya sangat kurasakan saat ini. Namun, rasa haru itu dengan cepat berganti ketegasan saat teringat sosok Prilia yang sudah menghancurkan hidupku mirisnya lagi aku baru tau dia adalah saudariku.
"Terima kasih, Pak Baskoro," kataku lirih, menatap mata pengacara senior kepercayaan Ayahku itu. "Tapi bagaimana dengan aliran dana penggelapan yang selama ini mengalir melalui Pak Burhan?"
Pak Baskoro menarik napas panjang, lalu membetulkan posisi kacamata bingkai perak yang bertengger di hidungnya. "Pak Burhan memang dijadikan benteng utama untuk menutupi jejak. Namun, hampir delapan puluh persen dari dana tersebut langsung dialihkan ke rekening perusahaan bayangan milik Bu Salma dan Prilia. Prasetio sendiri murni dijadikan bidak lapangan yang tidak tahu apa-apa tentang manipulasi keuangan ini."
Mataku memicing tajam. Mereka tidak hanya merampas hak hidupku dan membunuh ibuku secara perlahan, tetapi juga memperalat kepolosan Prasetio dan menumbalkan Pak Burhan demi keserakahan mereka sendiri.
"Urusan di sini sudah selesai, Pak Baskoro. Kita harus bergegas," kataku seraya beranjak dari kursi. "Entah mengapa aku cemas memikirkan kondisi di rumah dari tadi. Pak Burhan, Siska, dan Rian sudah terlalu lama menunggu bersama di rumah Bu Aminah." Ujarku pelan.
"Baik, Maya. Mari kita ke bawah," balas Pak Baskoro mengangguk setuju.
Kami berjalan beriringan meninggalkan ruangan privat tersebut, melangkah menuju lift lalu mengarah ke area parkiran basement.
Kring! Kring!
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas genggamku berdering nyaring. Langkah kami terhenti di lorong basement yang agak remang. Nama Bu Aminah tertera di layar. Perasaan tak tenang mendadak mencengkeram dadaku. Aku segera mengusap layar dan menggeser tombol hijau.
"M-Maya... tolong..." suara Bu Aminah bergetar hebat, terdengar terengah-engah dan penuh ketakutan dari balik saluran telepon. "Ada... ada dua orang pria berjaket hitam memantau rumah Ibu... Mereka mencoba mendobrak pintu belakang, Maya! Mereka mencari dokumen lama milik Pak Hendra!"
PRANG!
Panggilan terputus secara mendadak diiringi suara barang pecah yang keras. Darah di dalam tubuhku serasa berhenti mengalir seketika.
"Pak Baskoro! Ada masalah di rumah sepertinya! " Aku mulai panik.
"Tenang, Maya," balas Pak Baskoro ayo kita segera keluar.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇