NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27

****

Beberapa bulan bergulir melintasi tanah Lemah Wungu. Di bawah naungan kepemimpinan Bagas yang bijaksana, desa yang dulu dihantu gumpalan kemiskinan dan ketakutan kini benar-benar memasuki zaman keemasannya. Bagas bukan lagi sekadar pemuda kaya biasa, melainkan sosok Kepala Desa sekaligus juragan besar yang amat disegani di seluruh perbukitan. Hasil panen raya tebu, cengkeh, dan padi melimpah ruah hingga lumbung-lumbung desa tak lagi mampu menampung. Pembangunan jaringan irigasi beton modern telah rampung sepenuhnya, mengalirkan air jernih ke ribuan petak sawah warga tanpa cela.

Di tengah padatnya kesibukan Bagas mengurus jalannya roda pemerintahan dan ekspansi bisnis perkebunannya, rumah joglo megah itu tetap menjadi peraduan yang paling menentramkan jiwa. Candra Kirana menjalankan keutamaan perannya sebagai istri fana dengan pengabdian yang teramat murni. Tidak ada sedikit pun sisa pendar keangkuhan Ratu Ular di masa lalu. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Kirana sudah sibuk di dapur meracik teh melati, menanak nasi gurih, serta menyiapkan pakaian dinas untuk suaminya.

Pagi itu, suasana di pelataran rumah joglo begitu semarak. Sebuah delman kayu berukir megah berkilat dengan dua ekor kuda gagah berhias kain beludru telah terparkir rapi. Hari ini adalah hari besar bagi seluruh warga Lemah Wungu: peresmian Pasar Desa baru yang dibangun dari gabungan kas desa dan kucuran dana pribadi milik Bagas.

Bagas melangkah keluar dari selasar, tampil amat gagah dan berwibawa dalam balutan beskap hitam berukir benang emas, mengenakan kuluk keraton dan keris pusaka di pinggangnya. Di sampingnya, Candra Kirana melangkah anggun menuntun lengan tegap Bagas. Kirana mengenakan kebaya katun sutra berwarna kuning kunyit yang membalut langsing tubuhnya, dipadu kain jarik motif sidomukti. Sanggul sederhananya dihiasi ronce bunga melati yang harum mendayu-dayu.

"Mas Bagas..." bisik Kirana halus seraya merapikan lipatan kerah beskap suaminya sebelum naik ke atas delman. "Hari ini seluruh warga pasti sangat gembira. Pasar baru yang Mas bangun akan menjadi berkah besar bagi para pedagang kecil."

Bagas menyunggingkan senyuman hangat, merengkuh pinggul mulus istrinya lalu membimbingnya naik ke kursi delman. "Semua ini tidak lepas dari doa dan pelayananmu setiap hari di rumah, Kirana. Kamu adalah sumber kekuatanku."

Mbok Sumi yang berdiri di tangga selasar melambaikan tangannya penuh binar kebahagiaan. "Hati-hati di jalan ya, Le, Nduk! Ibu tunggu di rumah!"

Denting klintingan kuningan delman beradu merdu, diiringi derap langkah kuda yang membawa sepasang pemimpin Lemah Wungu itu menuju pusat desa.

Atmosfer di area Pasar Desa Lemah Wungu begitu meriah luar biasa. Ratusan warga, pedagang sayur, penjual kain, hingga para tetua adat berdesak-desakan riang gembira mengelilingi bangunan pasar baru berdinding bata kokoh dengan atap genteng yang rapi. Umbul-umbul warna-warni berkibar megah ditiup angin perbukitan.

Begitu delman mewah yang ditumpangi Bagas dan Kirana memasuki gerbang pasar, sorak-sorai riuh rendah puluhan ribu warga seketika meledak membahana!

"SELAMAT DATANG PAK KADES!"

"HIDUP PAK KADES BAGAS DAN NYONYA KIRANA!"

"SUKSES PASAR BARU LEMAH WUNGU!"

Bagas melangkah turun dari delman, lalu mengulurkan tangannya membimbing Kirana. Pasangan suami istri itu menyapa warga dengan melambaikan tangan penuh keramahan. Kirana menunduk santun setiap kali melewati ibu-ibu pedagang yang menyapanya dengan mata berbinar takjub.

Bagas melangkah naik ke panggung utama di depan gerbang pasar, didampingi oleh Camat setempat dan para tetua desa. Pria tegap itu berdiri di depan mikrofon, memandangi rakyatnya dengan ketenangan yang mengayomi.

"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, serta seluruh warga Lemah Wungu yang saya cintai..." suara Bagas menggelegar tenang namun mantap melalui pengeras suara. "Hari ini, Pasar Desa Lemah Wungu resmi kita buka! Tempat ini dibangun bukan untuk memeras atau menarik sewa mahal dari panjenengan semua. Mulai hari ini, seluruh lapak dagang di dalam pasar ini gratis digunakan oleh warga Lemah Wungu tanpa sepeser pun pungutan liar!"

GUSRRRK!

Tepuk tangan dan sorak gembira kembali meledak di seluruh pelataran pasar! Para pedagang kecil meneteskan air mata bahagia, merasa terlindungi seutuhnya di bawah naungan Bagas.

Usai pemotongan pita secara resmi, Bagas memboyong Kirana berjalan menyusuri lorong-lorong pasar yang bersih untuk meninjau langsung aktivitas ekonomi warga. Di setiap lapak yang dikunjungi, Bagas membeli barang dagangan warga dan membagikan bantuan sembako serta amplop santunan yang telah disiapkan khusus untuk para janda tua dan warga miskin.

Kirana mendampingi di samping Bagas tanpa henti. Melihat pelipis dan dahi suaminya yang mulai dibasahi keringat usai menyapa ratusan warga di bawah terik matahari siang, Kirana mengambil saputangan sutra harum dari tas kecilnya.

Dengan kelembutan seorang istri yang amat memuliakan suaminya, Kirana berjinjit pelan seraya mengusap lembut keringat di dahi dan leher Bagas di hadapan puluhan warga yang melintas.

"Pelan-pelan, Mas Bagas... Keringatnya banyak sekali," bisik Kirana halus seraya tersenyum manis.

Bagas memegang jemari istrinya yang sedang mengusap dahinya, menatap mata bening Kirana penuh rasa cinta. "Matur nuwun, Dinda..."

Pemandangan mesra dan santun itu membuat para ibu-ibu pedagang di sekitar lapak terkagum-kagum.

"Gusti... Bu Kirana betul-betul istri yang sempurna ya..." bisik Bu Lastri terharu pada tetangganya. "Sudah cantik seperti bidadari, sangat telaten dan hormat sekali sama Pak Kades!"

"Iya, betul! Pak Kades dan Bu Kirana memang pasangan yang dikirim Tuhan untuk membahagiakan desa kita!" sahut pedagang lainnya gembira.

Namun, saat hari beranjak menjelang sore dan kegiatan peninjauan pasar hampir selesai, perubahan tak terduga mulai terjadi pada Candra Kirana.

Sinar matahari sore yang agak menyengat membuat pandangan mata Kirana perlahan mengabur. Pijakan kakinya di atas lantai pasar yang rata mendadak terasa melayang dan goyah. Rasa pusing yang teramat berat menghantam kepalanya, disertai gejolak mual yang sangat hebat di dalam perutnya.

Kirana meremas cengkeraman tangannya di lengan baju beskap Bagas. Pipi meronahnya perlahan berubah menjadi pucat pasi, pelipisnya dibasahi keringat dingin.

"Mas... Bagas..." bisik Kirana dengan suara yang mendadak amat parau dan lemah.

Bagas tersentak kaget, segera menoleh dan merangkul pinggang langsing istrinya. "Kirana...? Kamu kenapa, Dinda? Wajahmu kok pucat sekali?!"

Kirana mencoba menyunggingkan senyuman tipis untuk menutupi rasa sakitnya. "Nda... ndak apa-apa, Mas... Cuma kepala Kirana agak pusing dan perut Kirana rasanya mual sekali..."

Belum sempat Kirana menyelesaikan kalimatnya, seluruh kesadarannya mendadak gelap gulita. Tubuh anggun berbalut kebaya kuning kunyit itu seketika terkulai lemas tanpa tenaga!

"KIRANA!" jerit Bagas panik setengah mati.

Dengan refleks cepat, Bagas menangkap raga istrinya sebelum menyentuh lantai. Kepala Kirana terkulai di atas dada bidang Bagas, matanya terpejam rapat dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.

Suasana di tengah pasar yang tadinya riuh gembira seketika berubah menjadi panik dan gempar! Para warga dan perangkat desa berdatangan mendekat dengan wajah cemas.

"Gusti Pangeran! Nyonya Kirana pingsan!" teriak Kang Saman panik.

"Pak Kades! Bawa Nyonya ke delman cepat, Pak!" seru para warga lainnya khawatir.

Bagas tidak membuang waktu. Tanpa peduli pada beskap dinasnya yang rapi, pria tegap itu langsung menggendong raga mulus istrinya di dalam dekapannya. Bagas membopong Kirana melangkah cepat menuju delman mewah, menaruh tubuh istrinya di atas kursi berbusa empuk seraya memangku kepalanya dengan penuh ketakutan dan rasa cemas yang membuncah di dadanya.

"Jalan, Pak Kusir! Pulang ke rumah joglo sekarang juga!" perintah Bagas berteriak tegas dengan napas tersengal-sengal. "Panggil Tabib Dirjo ke rumah sekarang juga!"

Kuda delman meringkik nyaring, memacu langkahnya dengan cepat meninggalkan area pasar desa. Bagas menggenggam erat telapak tangan Kirana yang dingin, menciumi kening pucat istrinya berulang kali dengan rasa cemas yang teramat sangat. Di dalam hatinya, Bagas terus memanjatkan doa, memohon keselamatan bagi wanita fana yang paling dicintainya itu di tengah puncak kebahagiaan yang sedang melingkupi hidup mereka di tanah Lemah Wungu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!