Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
prolog 2
Tiga tahun.
Bukan waktu yang singkat bagi seorang perempuan untuk bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah memberinya kebahagiaan. Tiga tahun pula Lili Valley menghabiskan hari-harinya dengan mencintai seorang pria yang bahkan tidak pernah berusaha menyembunyikan kebenciannya terhadap dirinya.
Pria itu adalah Satoshi Katagiri, suaminya sendiri.
Bagi dunia luar, mereka merupakan pasangan sempurna. Satoshi adalah pewaris tunggal keluarga Katagiri, seorang pengusaha muda yang menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Amerika. Sementara itu, Lili dikenal sebagai istri cantik yang beruntung mendapatkan pria dengan kekayaan dan kekuasaan luar biasa.
Tidak seorang pun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah mewah mereka.
Tidak ada kemesraan, tidak ada percakapan hangat sebelum tidur, bahkan tidak ada perhatian sederhana yang biasanya diberikan seorang suami kepada istrinya.
Bagi Satoshi, Lili hanyalah perempuan yang dipaksakan masuk ke dalam kehidupannya oleh Mahito Katagiri, kakeknya sendiri.
Namun, bagi Lili, Satoshi pernah menjadi seluruh alasan mengapa ia terus bertahan.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya muncul, Lili akan bangun dari tidurnya dan berjalan menuju dapur. Dengan telaten, ia menyiapkan berbagai hidangan untuk bekal makan siang suaminya. Ia selalu berusaha membuat makanan kesukaan Satoshi, mengemasnya dengan rapi, lalu berangkat menuju gedung perusahaan Katagiri.
Ia melakukan semuanya dengan harapan sederhana.
Ia ingin Satoshi menyadari keberadaannya.
Barangkali, suatu hari nanti, pria itu akan tersenyum ketika melihatnya datang. Barangkali, suatu hari nanti, Satoshi akan mengucapkan terima kasih dan bersedia duduk bersamanya untuk menikmati makanan yang telah dibuatnya dengan penuh kasih sayang.
Sayangnya, kenyataan selalu jauh berbeda dari harapannya.
Setiap kali Lili tiba di kantor, ia harus melewati lorong panjang menuju ruang kerja suaminya. Tidak jarang, langkahnya terhenti di depan pintu ketika mendengar suara tawa seorang perempuan dari dalam ruangan.
Pada suatu pagi, Lili datang membawa kotak bekal berwarna hitam yang dibungkus dengan pita kecil. Ia mengetuk pintu ruang kerja Satoshi, tetapi tidak segera mendapatkan jawaban.
Ketika pintu itu terbuka, hatinya seketika terasa diremas.
Satoshi sedang duduk di sofa bersama seorang perempuan. Kedekatan mereka tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Perempuan itu bahkan masih tersenyum manja ketika menyadari kehadiran Lili.
Satoshi hanya melirik istrinya dengan tatapan tidak senang.
“Apa lagi yang kau inginkan?” tanyanya dingin.
Lili menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Saya membawakan makan siang untuk anda Tuan.”
“Letakkan di sana.”
Hanya itu.
Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada pertanyaan mengenai keadaannya. Satoshi bahkan kembali memusatkan perhatian kepada perempuan di sisinya, seolah-olah Lili hanyalah seorang pelayan yang datang mengantarkan pesanan.
Lili meletakkan bekal itu di atas meja, lalu meninggalkan ruangan dengan langkah perlahan.
Di dalam lift, air matanya akhirnya jatuh.
Namun, ia tetap pulang dengan keyakinan bahwa esok hari masih ada kesempatan untuk mencoba kembali.
Ia tidak mengetahui bahwa setelah kepergiannya, Satoshi akan memerintahkan asistennya untuk membawa bekal tersebut keluar dan memberikannya kepada para pekerja bangunan yang sedang mengerjakan proyek di samping gedung perusahaan.
Bagi Satoshi, makanan itu tidak lebih dari sesuatu yang tidak diinginkannya.
Akan tetapi, bagi seorang pekerja bernama Tyson, bekal tersebut justru menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Tyson adalah pria berambut pirang dengan mata hijau yang menawan. Wajahnya tidak kalah tampan dibandingkan Satoshi, tetapi kehidupannya jauh dari kemewahan. Ia bekerja keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya, tanpa pernah membayangkan bahwa makanan yang sesekali diterimanya berasal dari seorang perempuan yang sedang berjuang mempertahankan pernikahannya.
Awalnya, Tyson tidak mengetahui siapa yang membuat bekal-bekal tersebut.
Ia hanya mengetahui bahwa makanan itu selalu dikemas dengan rapi dan memiliki rasa yang berbeda dari makanan yang biasa dibelinya.
Hingga suatu hari, ia melihat seorang perempuan keluar dari gedung perusahaan dengan mata sembap dan wajah yang berusaha tetap tenang.
Sejak saat itu, Tyson mulai memperhatikan Lili.
Ia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang tampak begitu lembut itu menyimpan kesedihan sedalam lautan.
Sementara itu, kehidupan Lili di rumah tidak pernah menjadi lebih baik.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, Satoshi hampir tidak pernah melewatkan malam tanpa membawa perempuan berbeda ke kamarnya. Ia hidup seolah-olah tidak terikat oleh pernikahan, sedangkan Lili harus menanggung penghinaan sebagai istri yang tidak pernah dianggap ada.
Semua itu dirahasiakan dari keluarga Katagiri.
Mahito, orang tua Satoshi, dan kerabat lainnya tidak mengetahui bagaimana Satoshi memperlakukan Lili. Di hadapan keluarga, ia selalu mampu memainkan peran sebagai suami yang sibuk dengan pekerjaan. Lili pun memilih diam, sebab ia tidak ingin menjadi alasan pertengkaran dalam keluarga yang telah menerimanya.
Namun, penderitaan Lili tidak berhenti sampai di situ.
Pada suatu malam, rumah mewah keluarga Katagiri mengadakan pesta yang dihadiri sejumlah rekan bisnis dan teman-teman Satoshi. Musik memenuhi ruangan, minuman disajikan tanpa henti, dan para tamu menikmati kemewahan yang terpampang di setiap sudut rumah.
Di tengah keramaian tersebut, beberapa teman Satoshi mulai bertindak melampaui batas terhadap Lili.
Mereka memanfaatkan situasi ketika perempuan itu sendirian, mengabaikan penolakan dan jeritannya. Lili berusaha melawan, tetapi ketakutan membuat tubuhnya gemetar. Malam itu, ia nyaris menjadi korban kekerasan seksual yang akan meninggalkan luka mendalam dalam hidupnya.
Beruntung, Tian Wu datang tepat waktu.
Pria asal Tiongkok itu bukanlah seseorang yang dapat dipandang sebelah mata. Ia merupakan pewaris keluarga Wu, pemilik perusahaan raksasa yang kekayaannya dikenal luas di dunia internasional. Pada usia muda, Tian telah menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di negaranya.
Ia dan Satoshi merupakan sahabat sekaligus rekan bisnis yang telah lama bekerja sama.
Ketika mendengar suara Lili, Tian segera bergegas menuju sumber suara. Tanpa ragu, ia menghentikan tindakan para pria tersebut dan membawa Lili menjauh dari mereka.
“Tenanglah. Kau sudah aman,” ucap Tian dengan suara rendah.
Lili tidak mampu menjawab. Ia hanya menangis sambil berusaha mengatur napasnya yang berantakan.
Tian menatap perempuan itu dengan sorot mata yang berubah muram. Ia tidak memahami bagaimana seorang suami dapat membiarkan istrinya hidup dalam kesepian, terlebih ketika perempuan itu bahkan tidak memperoleh perlindungan di rumahnya sendiri.
Sejak malam tersebut, perhatian Tian terhadap Lili perlahan berubah.
Awalnya, ia hanya merasa iba. Namun, setiap kali mengunjungi rumah Satoshi untuk membicarakan urusan bisnis, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.
Ia melihat Lili menyambut tamu dengan sopan meskipun wajahnya tampak lelah. Ia melihat perempuan itu tetap berusaha tersenyum ketika Satoshi berbicara kasar kepadanya. Ia juga menyadari bahwa Lili selalu memastikan kebutuhan orang lain terpenuhi, meskipun dirinya sendiri tidak pernah diperhatikan.
Tanpa disadari, Tian mulai menaruh perasaan kepada perempuan itu.
Ia mengagumi ketulusan Lili, tetapi tidak ingin memanfaatkan luka yang dimilikinya. Karena itu, ia memilih berada di dekatnya dengan sabar, memberikan perhatian sewajarnya, dan memastikan bahwa Lili tidak selalu harus menghadapi kesedihannya seorang diri.
Sementara itu, hati Lili perlahan mengalami perubahan.
Tiga tahun mencintai Satoshi tanpa balasan telah menghabiskan sebagian besar kekuatannya. Setiap penghinaan mengikis harapannya. Setiap pengkhianatan membuatnya semakin sulit mempercayai janji tentang cinta. Dan setiap malam yang dilaluinya seorang diri mengajarkan bahwa kesetiaan tidak selalu mampu mempertahankan sebuah pernikahan.
Bekal makan siang yang dahulu selalu ia antarkan sendiri kini tidak lagi sampai ke tangan Satoshi.
Lili berhenti datang ke kantor suaminya.
Sebaliknya, setiap pagi ia tetap memasak, tetapi bekal itu kini langsung diberikan kepada Tyson, pekerja yang selama ini menerimanya tanpa mengetahui siapa pembuatnya.
Perubahan kecil tersebut seharusnya tidak berarti apa-apa bagi Satoshi.
Namun, ketika suatu hari ia menyadari bahwa Lili tidak lagi datang, tidak lagi mengetuk pintu ruang kerjanya, dan tidak lagi memenuhi rumah dengan perhatian-perhatian kecilnya, ia mulai merasakan sesuatu yang asing.
Kehadiran yang selama ini dianggap mengganggu ternyata meninggalkan kekosongan ketika menghilang.
Untuk pertama kalinya, Satoshi mulai memperhatikan istrinya.
Ia menyadari bahwa rumah mereka terasa berbeda. Ia mulai mencari sosok Lili di ruang makan, di dapur, dan di lorong-lorong rumah yang biasanya dilewati perempuan itu. Ia bahkan mulai bertanya-tanya mengapa Lili tidak lagi berusaha menyambutnya setiap kali ia pulang.
Perasaan yang tidak pernah ia izinkan tumbuh itu perlahan muncul ke permukaan.
Sayangnya, semuanya mungkin telah terlambat.
Setelah tiga tahun berjuang, Lili akhirnya memahami bahwa ia tidak dapat terus memaksa seseorang untuk mencintainya. Ia telah memberikan kesetiaan, kesabaran, dan seluruh ketulusan yang dimilikinya, tetapi tidak pernah memperoleh kebahagiaan yang selama ini diharapkannya.
Pada suatu malam, Lili berdiri di hadapan Satoshi dengan wajah tenang dan mata yang tidak lagi dipenuhi harapan.
"Tuan, saya ingin kita bercerai.”
Satoshi terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban yang siap dilontarkan.
Ia menatap perempuan di hadapannya, mencoba mencari air mata yang biasanya selalu mengiringi setiap pertengkaran mereka. Namun, kali ini Lili tidak menangis. Tidak ada permohonan agar ia berubah, tidak ada janji untuk bertahan, dan tidak ada lagi tatapan penuh cinta yang selama ini selalu ia abaikan.
Hanya ada ketenangan yang terasa asing.
Dan entah mengapa, ketenangan itu justru membuat dada Satoshi terasa sesak.
Ia belum memahami bahwa perasaan yang baru mulai tumbuh di dalam dirinya mungkin merupakan sesuatu yang telah lama ditunggu Lili.
Namun, ketika akhirnya Satoshi ingin mempertahankan perempuan itu, Lili mungkin sudah tidak memiliki cinta yang tersisa untuk diberikan kepadanya.
Tiga tahun telah berlalu.
Kini, untuk pertama kalinya, bukan Lili yang takut kehilangan Satoshi.
Melainkan Satoshi yang mulai takut kehilangan Lili.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁