Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
****
Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di aula utama villa memancarkan kilau keemasan yang megah, memantulkan kemewahan tak tertandingi di malam jamuan eksklusif keluarga Wiliam. Suara gesekan biola yang memainkan komposisi klasik mengalun lembut, berpadu dengan denting gelas sampanye dan bisik-bisik tenang dari para pebisnis papan atas serta bangsawan Eropa yang hadir dengan balutan busana berharga fantastis.
Di sudut ruangan, Lyn berdiri canggung. Malam ini, atas paksaan Clara, ia mengenakan gaun malam berbahan sutra hitam tanpa lengan yang melekat sempurna di tubuh rampingnya. Potongan gaun itu sangat sederhana namun memancarkan keanggunan yang elegan—memperlihatkan leher jenjang dan kulit putih mulusnya yang bersih, bebas dari jejak semalam karena polesan riasan tipis.
"Kamu cantik sekali malam ini, Lyn!" puji Clara seraya menyerahkan segelas minuman ringan pada sahabatnya. "Sudah kubilang, kamu tidak boleh terus mengurung diri di kamar. Malam ini pesta Papa, banyak orang penting yang hadir. Siapa tahu kamu bisa berkenalan dengan pria yang jauh lebih baik dari mantan brengsekmu itu."
Lyn tersenyum tipis, menggenggam tangannya yang dingin. "Terima kasih, Clara. Tapi aku sebenarnya kurang terbiasa dengan suasana seramai dan semewah ini..."
"Santai saja, Lyn. Nikmati malam ini!" Clara tertawa kecil, lalu melambaikan tangan ke arah kelompok pengusaha muda di dekat panggung kecil. "Ah, Lyn, sebentar ya! Aku melihat temanku di sana. Aku ke sana dulu sebentar, oke?"
"Clara, tunggu—"
Belum sempat Lyn menahan, Clara sudah melangkah pergi meninggalkannya di tengah kerumunan tamu. Lyn menghela napas panjang, merasa makin terasing di tengah kemewahan ini.
Tiba-tiba, pandangan Lyn tak sengaja beradu dengan sosok yang berdiri di pusat aula. Wiliam. Pria paruh baya itu tampil sangat tampan dan berkarisma dalam balutan tuxedo hitam buatan penjahit ternama Italia. Rambut perak kelabunya tersisir rapi, dan wajah tegasnya memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat para pengusaha besar tunduk hormat padanya.
Mata sehitam jelaga milik Wiliam mengunci sosok Lyn dari kejauhan. Tatapan pria matang itu begitu intens, tajam, dan penuh rasa kepemilikan yang dingin, seolah-olah seluruh keramaian di aula itu hanyalah latar belakang tak berguna.
Lyn menunduk cepat, jantungnya berdebar gila-gilaan. Jangan menatapku seperti itu, Wiliam... banyak orang di sini, batin Lyn panik.
"Permisi, Nona anggun. Bolehkah saya menyapa kecantikan yang berdiri sendirian ini?"
Sebuah suara pria muda bernada halus memecah lamunan Lyn. Seorang pria berusia sekitar belasan akhir atau awal dua puluhan dengan setelan jas mewah dan senyum percaya diri berdiri di hadapannya. Pria itu adalah Julian, putra dari salah satu keluarga bangsawan terkemuka di Italia.
Lyn tersentak pelan, mencoba mengulas senyum sopan. "S-selamat malam, Tuan."
"Saya Julian," ucap pria muda itu seraya mengambil tangan kanan Lyn dan mendaratkan ciuman lembut di punggung tangannya. "Sangat jarang melihat pesona semurni ini di pesta Tuan Wiliam. Apakah Anda salah satu kerabat dari keluarga pengusaha Asia?"
Lyn dengan halus menarik tangannya kembali. "Saya... saya hanya teman dari Clara, putri Tuan Wiliam."
"Ah, jadi Anda teman Clara?" Mata Julian berkilat makin tertarik. Pria muda itu mengambil satu langkah lebih dekat, tatapannya menyusuri leher jenjang Lyn dengan terang-terangan. "Beruntung sekali saya menghadiri pesta malam ini. Bolehkah saya meminta berdansa dengan Anda, Nona...?"
"Lyn. Nama saya Lyn," jawab Lyn canggung, melangkah mundur satu tapak. "Maaf, Tuan Julian, tapi saya kurang pandai berdansa—"
"Hanya satu dansa kecil, Lyn. Jangan menolak niat baik seorang pria yang terpesona olehmu," potong Julian manis, tangannya kembali terulur hendak meraih pinggang Lyn.
Di sudut ruangan lain, Wiliam yang sedang berbicara dengan seorang diplomat senior mendadak menghentikan kalimatnya. Matanya yang tajam menangkap setiap gerakan Julian yang mencoba menyentuh dan menggoda Lyn. Rahang tegas Wiliam mengeras seketika, urat-urat di leher dan tangannya menegang hebat saat melihat jemari pria muda itu nyaris menyentuh gaun hitam Lyn.
Naluri posesif dan cemburu dari pria matang yang berkuasa itu memuncak hingga ke ubun-ubun.
Tanpa memedulikan lawan bicaranya yang tertegun, Wiliam meletakkan gelas whisky-nya di meja pelayan dengan dentingan keras, lalu melangkah lebar membelah kerumunan tamu.
"Tuan Julian," suara berat dan dingin Wiliam menggelegar tenang namun sanggup menghentikan tawa kecil Julian.
Julian berbalik, sedikit terkejut melihat sang pemilik acara sudah berdiri menjulang di belakangnya dengan aura membunuh yang sangat pekat. "Ah, Tuan Wiliam! Pesta yang sangat luar biasa malam ini—"
"Putra Tuan Perdana Menteri sedang mencarimu di area balkon luar, Julian," potong Wiliam dengan nada suara yang begitu dingin dan tak terbantahkan. Matanya menatap Julian bagaikan elang yang siap mencengkeram mangsanya. "Ada urusan bisnis penting yang harus kamu selesaikan bersama mereka sekarang."
Julian menelan ludah, merasa terintimidasi oleh tekanan aura Wiliam. "A-ah, begitu? Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Sampai jumpa lagi, Nona Lyn."
Begitu Julian melangkah pergi, Wiliam tidak memberikan Lyn kesempatan untuk bernapas. Sebelum ada tamu lain yang memperhatikan, tangan besar Wiliam yang hangat dan kuat menyambar pergelangan tangan Lyn, menariknya dengan sentakan tegas menuju koridor privat di balik tirai beludru tebal.
"W-Wiliam! Apa yang Anda lakukan?! Seseorang bisa melihat kita!" bisik Lyn panik, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Wiliam saat pria itu membimbingnya dengan cepat melewati lorong-lorong sepi lantai bawah.
Wiliam tidak menjawab. Pria paruh baya yang terbakar cemburu itu mendorong pintu kayu tebal sebuah ruang kerja cadangan yang gelap, menarik Lyn masuk, lalu mengunci pintu dari dalam.
KLIK.
Suasana seketika berubah menjadi sunyi dan pekat. Hanya ada remang cahaya rembulan yang menerobos jendela tinggi.
BRUK.
Wiliam menyudutkan tubuh ramping Lyn ke pintu kayu kaku, mengurung gadis itu di antara kedua lengan kokohnya. Kehangatan tubuh Wiliam dan aroma sandalwood yang bercampur dengan wangi whisky mengurung seluruh indra Lyn.
"W-Wiliam... lepas—"
"Siapa yang mengizinkanmu tersenyum dan membiarkan pria muda tadi menyentuh tanganmu, Little Lady?" bisik Wiliam dengan suara yang teramat berat, dalam, dan dipenuhi amarah posesif yang tertahan. Tangannya naik, mencengkeram rahang lembut Lyn agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang sehitam malam.
Napas Lyn memburu di dada bidang Wiliam. "D-dia hanya menyapa saya, Wiliam! Saya tidak melakukan apa-apa..."
"Kamu membiarkan bibirnya menyentuh kulitmu," potong Wiliam dingin, ibu jarinya mengusap kasar punggung tangan kanan Lyn yang tadi dicium oleh Julian, seolah-olah ingin menghapus jejak pria lain dari kulit halus itu. "Apakah kamu menikmati godaan pria-pria muda seusiamu, hmmm?"
"Tidak! Tidak sama sekali!" air mata panik menggenang di pelupuk mata jernih Lyn. "Saya hanya tidak enak untuk menolaknya di tengah pesta... ini pesta Anda, dan saya tidak ingin membuat keributan!"
Wiliam menatap wajah manis Lyn yang memerah dan pasrah di bawah kukungannya. Rasa cemburu gila yang membakar dadanya perlahan beradu dengan pikat keindahan gadis 21 tahun itu. Daya pikat pria di usia Wiliam yang begitu dominan dan matang membuat Lyn tak sanggup bergeming.
"Kamu milikku, Lyn," bisik Wiliam tepat di depan bibir Lyn yang gemetar, napas hangatnya yang memburu menyapu wajah gadis itu. "Setiap senti dari tubuh ini... hanya milikku. Jangan pernah biarkan mata pria lain memandangmu seperti tadi."
Tanpa menunggu balasan, Wiliam menunduk dan menyapu bibir manis Lyn dengan ciuman yang sangat dalam, pekat, dan menuntut kepatuhan mutlak. Lyn melenguh pasrah, jemari lentiknya refleks meremas kerah tuxedo mewah Wiliam untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.
Sementara itu, di luar aula utama pesta yang ramai, Clara berjalan celingukan di antara para tamu undangan. Tangannya memegang dua gelas minuman manis.
"Aneh... ke mana Lyn pergi?" gumam Clara bingung. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, namun sosok sahabatnya dengan gaun hitam itu tak kunjung terlihat. "Perasaan tadi dia berdiri di dekat meja minuman... Papa juga tidak kelihatan di mana-mana."
Clara memutuskan untuk berjalan menyusuri lorong-lorong privat villa, mencari keberadaan sahabatnya yang mendadak menghilang di tengah keramaian pesta.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻