Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.
Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.
Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.
Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.
Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.
Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. PERMAINAN KEJI SANG TAKDIR
Ketika air sudah sepanas mungkin, ia menuangkannya ke ember yang lebih lebar—ember yang sama yang pernah mereka pakai merendam kaki. Ia menetralkan panasnya dengan air dingin, karena air itu akan ia gunakan untuk membersihkan bayi-bayinya begitu lahir.
Kontraksinya kini terasa semakin kuat. Ia merasa hampir siap, dan dorongan untuk mengejan mulai muncul. Dalam keputusasaannya, ia teringat pada suatu kelas, saat seorang dosen berkata,
"Pada pertengahan abad ke-20, para perempuan di pedesaan melahirkan di rumah mereka. Banyak dari mereka, untuk memudahkan persalinan, melahirkan dengan posisi jongkok—sesuatu yang mengurangi nyeri di punggung bawah dan meringankan kontraksi."
Teringat akan hal itu, ia menghamparkan seprai di lantai, bersandar ke dinding, lalu berjongkok untuk mulai mengejan.
Ia menangis karena sakit yang mendera. Ia mulai merasa putus asa, dan hanya memohon kepada Tuhan agar bayi-bayinya selamat. Entah karena keberuntungannya, atau pengetahuan medisnya, atau mungkin Tuhan yang melindunginya, ia merasakan saat yang tepat untuk mengejan. Setelah perjuangan panjang, dengan teriakan yang berbaur dengan suara petir, ia berhasil menggendong bayi pertamanya—si bayi laki-laki. Baru saja ia berhasil membuatnya bernapas dan mendengar tangisannya, rasa sakit berikutnya datang: sang bayi perempuan ingin lahir.
Ia mengejan dan berteriak sampai bayi perempuannya lahir. Ia sedang membersihkan mulut dan hidung si bayi ketika Marisa tiba. Marisa membawa kunci apartemen itu—ia pernah minta dibuatkan salinan untuk keadaan darurat, karena selama Saras hamil, ia ingin selalu siaga untuk apa pun.
Melihat keadaan Saras, Marisa bergegas menghampirinya, tepat pada waktunya, sebab Saras kehilangan kesadaran. Marisa berhasil menangkap dan membaringkannya di lantai. Pertama-tama ia mengurus kedua bayi itu. Ia mengambil tas medis Saras yang masih tergeletak di meja, mengeluarkan benang jahit luka, mengikat kedua tali pusar, lalu mengambil pisau dapur, mensterilkannya dengan hidrogen peroksida dan alkohol, dan memotong tali pusar.
Ia memandikan bayi-bayi itu di air yang telah disiapkan Saras, membungkus mereka dengan selimut bayi, membaringkan mereka di ranjang, lalu mulai menangani Saras. Setelah selesai, ia membersihkan tubuh Saras dengan lap-lap yang ia buat dari seprai yang dirobek-robeknya. Dengan susah payah ia mengangkat Saras ke ranjang—nyaris tak sanggup mengangkatnya, tapi akhirnya berhasil membaringkannya di sana, di samping bayi-bayinya.
Ia mencari sebuah gaun tidur panjang, salah satu yang pernah ia hadiahkan untuk hari ini. Begitu menemukannya, ia mengenakannya pada Saras. Di dalam tas medis Saras ia menemukan cairan infus dan memasangnya melalui pembuluh darah. Ia tahu akan butuh beberapa obat lagi; ia harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil yang diperlukan, tapi ia tak mau meninggalkan Saras sendirian.
Marisa memikirkannya sejenak, dan setelah lama menimbang, ia memutuskan menelepon Klaudia, atasan langsung Saras. Begitu Klaudia menjawab, ia berkata.
Dengan tegang Marisa berkata, "Klaudia, bisa bantu aku? Saras baru saja melahirkan di apartemennya, dan sampai sekarang keadaannya baik. Tapi aku butuh beberapa obat, aku tak mau ia terkena infeksi atau terjadi sesuatu. Bisakah kau ke rumah sakit dan membawakan apa yang kubutuhkan?"
Dengan suara cemas Klaudia berseru, "Bagaimana ini bisa terjadi? Kirimkan alamatnya, sekarang juga aku berangkat ke rumah sakit lalu langsung ke tempat kalian."
Marisa merasa sedikit lega dan saat itu ia menjawab, "Terima kasih, Klaudia, aku tunggu di sini."
Marisa memandangi Saras yang tertidur. Bagi Marisa, itulah perempuan tercantik. Ia merasa mencintainya dan ingin bisa berada di sisinya selamanya, meski Saras takkan pernah membalas cintanya. Melihat kedua bayi di ranjang di samping Saras, ia memotret bayi-bayi itu saja, lalu mengirimkannya kepada Karlo dengan sebuah pesan yang berbunyi.
Sapa keponakan-keponakan barumu ini, sebab bayi-bayi ini sudah seperti anakku sendiri.
Karlo membalas, Marisa, kau sudah gila. Kita sudah membahas ini, dan aku sudah bilang agar kau menjauh dari perempuan itu. Aku tak mau melihatmu menangis lagi.
Marisa membalas pesannya, Karlo, saudaraku sehidup semati, aku sudah pasrah. Aku tahu aku takkan pernah bisa memiliki apa pun dengannya, tapi aku juga tak bisa meninggalkannya sendirian. Ia butuh seorang sahabat, dan kalaupun cuma itu yang bisa kuberikan, itulah yang akan kulakukan untuknya; dengan itu aku akan menghibur diri. Sudahlah, lupakan topik ini, lebih baik ikut bergembira denganku. Lihat, betapa cantiknya bayi-bayi ini. Andai kau lihat mata mereka, warnanya cokelat terang, sangat terang, sampai-sampai seperti kuning keemasan. Aku cuma sempat melihatnya sekilas, nanti akan kukirim foto mata mereka yang indah itu.
Karlo membalas pesan itu, Marisa, jaga dirimu, nanti kita bicara lagi. Aku sedang bersama Bos.
Karlo berada di ruang kerja bersama Nael dan Peni, menerima sejumlah perintah soal pengamanan. Peni menjelaskan bagaimana semuanya akan diatur, sementara Nael tak henti mondar-mandir dari satu sisi ke sisi lain. Sepanjang hari itu ia gelisah, cemas, seolah sesuatu yang penting dalam hidupnya sedang akan terjadi.
Nael tak bisa tenang, tak ada yang mampu menenangkannya. Stresnya begitu besar sampai mulai memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Peni terpaksa menahannya seperti itu sepanjang hari, dan akhirnya, dengan putus asa, ia berkata.
Dengan kesal Peni berkata, "Kau membuatku muak. Ayo katakan sekali saja, ada apa denganmu? Kenapa kau segelisah itu? Kau mulai membuatku stres dan kau menggangguku."
Dengan resah Nael menjawab, "Peni, biarkan aku tenang. Kerjakan saja urusanmu dan jangan pedulikan aku."
Peni menatapnya dan berkata dengan nada serius, "Nael, ada sesuatu yang terjadi padamu, dan itu menggangguku. Melihatmu segelisah dan seputus asa ini membuatku memikirkan hal-hal buruk, seolah sesuatu akan terjadi. Jadi lebih baik bicaralah."
Dengan resah Nael berseru, "Peni, aku merasa seharusnya aku berada di tempat lain, menjaga seseorang, seolah sesuatu yang penting dalam hidupku sedang terjadi saat ini. Perasaan bahwa ada yang membutuhkanku ini tak bisa kusingkirkan, dan itu membuatku tegang."
Dengan bersemangat Karlo berkata, "Bos, maaf saya ikut campur, tapi dulu nenek saya selalu bilang, kalau saya merasa seperti itu, artinya ada hal baik yang akan terjadi. Menurut saya sebaiknya Bos mencoba tenang. Yang baik akan datang pada waktunya. Lebih baik lihat foto ini yang dikirim teman saya—ini si kembar, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Mereka cantik sekali."
Nael merasa penasaran dan mengambil ponsel Karlo. Ia memandangi foto itu—kedua bayi yang sedang tertidur. Sesuatu yang aneh terjadi saat ia melihat mereka: foto itu menenangkannya dan membangkitkan perasaan aneh, sesuatu yang baginya tak masuk akal. Tapi ia senang melihat bayi-bayi mungil yang baru lahir itu. Tanpa sadar, saat memandangi gambar itu, ia tersenyum, dan dengan jari telunjuknya ia menyusuri wajah mereka, seolah membelainya. Ia terhipnotis menatap foto itu, dipenuhi perasaan-perasaan asing yang membuatnya merasa bahagia.
Entah itu takdir yang sedang berbicara, mencoba menunjukkan jalan padanya, atau sekadar sebuah kebetulan yang teramat kejam, yang mempermainkan hidup mereka.