NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah ke Kamar Utama

Arga tiba di apartemen menjelang pukul sembilan pagi. Begitu pintu terbuka, ia melihat Alya sudah menunggunya di ruang tengah dengan wajah sedikit gelisah.

“Mas, akhirnya datang juga,” ujar Alya.

“Maaf, tadi jalanan agak padat.” Arga meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu melihat jam tangan. “Ibu bilang datang jam berapa?”

“Sekitar tengah hari. Tapi sebaiknya kita selesaikan semuanya sebelum beliau datang.”

Arga mengangguk. Ia langsung mengikuti Alya menuju kamar tamu, tempat sebagian besar barang pribadinya masih tersimpan.

Pakaian kerja masih tergantung di lemari. Beberapa celana tersusun di rak, sementara perlengkapan mandi dan dokumen pribadi berada di atas meja kecil. Semuanya menunjukkan bahwa kamar itu memang pernah digunakan Arga untuk beristirahat.

Arga mengembuskan napas panjang.

“Sepertinya barangku lebih banyak daripada yang kukira.”

Alya melirik lemari yang terbuka. “Kalau begitu, kita harus bergerak lebih cepat, Mas.”

Arga tertawa kecil mendengar jawabannya. Namun, ia tidak membuang waktu lagi. Ia mulai mengumpulkan pakaian yang tergantung di lemari, sementara Alya mengambil barang-barang kecil di atas meja.

Mereka bekerja berdampingan. Arga membawa pakaian ke kamar utama, sedangkan Alya membantu menatanya di lemari. Beberapa barang harus dipindahkan ke laci meja kerja agar tidak bercampur dengan perlengkapan milik Alya.

“Dokumen ini mau diletakkan di mana?” tanya Arga sambil menunjukkan beberapa map.

“Di laci meja kerja saja, Mas. Biar nanti gampang dicari.”

Arga mengikuti sarannya. Setelah itu, ia kembali ke kamar tamu untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa.

Pekerjaan yang terlihat sederhana itu ternyata membutuhkan waktu lebih lama daripada perkiraan mereka. Ada beberapa barang yang harus ditata ulang agar kamar utama tetap rapi. Alya juga perlu memastikan pakaian Arga tidak memenuhi seluruh lemari.

Sesekali mereka saling bertanya tentang tempat penyimpanan, tetapi tidak banyak membicarakan hal lain.

Setelah hampir satu jam, sebagian besar barang Arga akhirnya sudah berada di kamar utama. Arga berdiri di depan lemari, memastikan tidak ada pakaian yang tertinggal.

“Sepertinya sudah semua.”

Alya memeriksa bagian meja dan rak kecil. “Perlengkapan mandi Mas masih ada di kamar mandi tamu.”

Arga segera mengambilnya. Ia memindahkan perlengkapan tersebut ke kamar mandi utama, lalu kembali untuk membantu Alya merapikan kamar tamu.

Mereka mengganti seprai, merapikan bantal, membersihkan meja, dan mengembalikan barang-barang yang tidak lagi diperlukan ke tempat penyimpanan. Setelah selesai, kamar itu kembali terlihat rapi dan siap digunakan oleh siapa pun yang membutuhkan tempat beristirahat.

Alya berdiri sebentar di ambang pintu, memeriksa hasil pekerjaan mereka.

“Sudah cukup,” katanya.

Arga mengangguk. Ia tahu yang perlu mereka lakukan memang hanya menata ulang kamar dan memindahkan barang-barangnya. Tidak perlu ada perubahan berlebihan yang justru membuat apartemen terlihat tidak wajar.

Setelah semuanya selesai, Arga kembali ke ruang tengah dan mengambil ponselnya. Ia baru teringat bahwa beberapa agenda pekerjaan sudah menunggunya sejak pagi. Ia membuka percakapan dengan asistennya, kemudian mengetik pesan.

Hari ini aku tidak bisa datang pagi. Kemungkinan baru tiba di kantor setelah makan siang. Tolong sesuaikan jadwal pertemuan yang bisa ditunda dan kirimkan dokumen penting melalui email.

Tidak lama kemudian, asistennya membalas bahwa jadwal akan disesuaikan.

Arga mengembuskan napas lega. Setidaknya, ia tidak perlu terburu-buru meninggalkan apartemen sebelum ibunya datang.

Alya yang sedang menata camilan di atas meja, menoleh ketika Arga menghampirinya.

“Urusan kantor sudah beres, Mas?”

“Untuk sementara. Aku bilang kepada asistensku bahwa aku baru bisa datang setelah makan siang.”

“Bagus. Berarti kita masih punya waktu untuk menyiapkan semuanya.”

Arga memperhatikan Alya yang kembali sibuk di dapur. Perempuan itu tidak mengeluh meskipun harus mengubah rencana hariannya untuk menyambut Ratna. Ia hanya ingin kunjungan ibu mertuanya berjalan dengan baik.

“Alya,” panggil Arga.

Alya menoleh. “Iya, Mas?”

“Terima kasih sudah membantuku pagi ini.”

Alya tersenyum tipis. “Kita tinggal di tempat yang sama, Mas. Wajar kalau kita saling membantu. Lagi pula aku tidak ingin masalah ini akan bertambah rumit apalagi sampai melibatkan orang tua.”

Jawaban itu sederhana, tetapi Arga kembali teringat pada percakapan mereka malam sebelumnya. Alya memang bersedia menjalani kehidupan bersama dengan baik, tetapi bukan berarti semua persoalan di antara mereka sudah selesai.

Arga tidak melanjutkan pembicaraan. Ia justru mengambil beberapa gelas dan membantu Alya menatanya di atas meja.

Menjelang tengah hari, apartemen mereka sudah siap menerima tamu. Ruang tengah terlihat rapi, minuman dan camilan telah disiapkan, sedangkan barang-barang pribadi Arga kini tersusun di kamar utama.

Alya memeriksa ponselnya untuk memastikan tidak ada pesan baru dari ibu Ratna. Setelah itu, ia duduk di sofa sambil menunggu kabar kedatangan ibu mertuanya.

Arga duduk tidak jauh darinya. Sesekali ia melihat jam tangan, memperkirakan kapan ibunya akan tiba.

Dari luar, apartemen itu tampak seperti rumah pasangan yang baru memulai kehidupan bersama. Tidak ada barang yang berantakan, tidak ada persiapan yang tertunda.

Namun, bagi Arga, semua kerapian itu tidak menghapus kenyataan bahwa ia masih menyimpan kebohongan besar. Ia telah memindahkan pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang pribadinya ke kamar utama. Ia juga telah menata ulang kamar tamu agar kembali terlihat sewajarnya.

Sayangnya, persoalan yang paling sulit bukanlah memindahkan barang-barang tersebut, melainkan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang telah ia buat sendiri.

Arga mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatap pintu apartemen. Sebentar lagi, ibunya akan datang. Dan seperti biasa, ia harus berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

1
Setyowati Setyowati
dari kemarin ngintip trs sy kira keman Thor ...tp syukurnya up juga ..jangan Hiatus Thor 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kalau bisa jangan simpan semua sendiri Nadira...karena kamu akan banyak pikiran jadi akan berimbas pada janinmu dan dirimu ..bagi bebanmu pada Arga juga ..biar sama " mencari solusinya
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!