"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua
Dugh...
Bugh...
Reyhan...
"Salam perkenalan, Papa." ucap seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun itu dengan raut wajah tanpa bersalahnya. Dia adalah Reyhan Elvano Pramudya, anak sulung dari Bian.
Setelah Aluna keluar dari mobil pick up dan hendak berjalan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ada sebuah bola melesat ke arah gadis itu. Aluna yang merasakan bahaya pun langsung menggunakan tongkat kayunya untuk menangkal bola yang datang. Pukulan itu membuat berbalik arah kepada Reyhan. Bocah laki-laki itu langsung menghindari bola yang akhirnya jatuh pada tanah.
Reyhan mengetahui tentang pernikahan Papanya, beberapa menit yang lalu. Bian menghubungi pengasuh dari anak bungsunya agar dipersiapkan untuk kedua anaknya itu bertemu dengan Ibu tirinya. Reyhan yang tak mau mempunyai Ibu tiri mempunyai rencana untuk membuatnya tidak betah. Reyhan tidak menyangka kalau perempuan yang dinikahi Papanya itu bisa mempunyai refleks bagus saat ada bahaya mengintai.
"Salam perkenalan itu yang bagus, bukan seperti tadi. Itu namanya tidak sopan. Papa tidak pernah mengajarkanmu hal begitu," seru Bian dengan raut wajah kesalnya.
"Tidak apa, Mas. Mungkin cara perkenalan ala anak-anak jaman sekarang tuh beda. Mungkin nanti aku juga akan cari cara untuk mengenalkan diri dengan hal yang berbeda," ucap Aluna dengan lembut tapi menyiratkan makna yang berbeda bagi Reyhan. Laki-laki itu merasa terancam dengan ucapan Aluna.
Hah...
"Ayo masuk," ajak Bian sambil menghela nafasnya kasar.
"Kenapa jalannya aneh sekali? Dia hanya menatap lurus ke depan dengan tongkat yang diraba pada jalan? Mana dituntun sama orang lagi?" gumam Reyhan dengan tatapan bingungnya.
"Dia tidak bisa melihat," ucap Bian tiba-tiba.
Tahu kebingungan anaknya dengan cara berjalan dan menatap jalan, Bian langsung merangkul bahu Reyhan. Dia menjelaskan bahwa Aluna tidak bisa melihat. Namun dia nanti akan coba memeriksa ulang mata Aluna ke Dokter. Siapa tahu mata Aluna masih bisa diselamatkan untuk melihat kembali. Reyhan yang memang sedari awal tak setuju dengan Papanya menikah lagi pun seketika tersenyum miring. Dia akan membuat rencana agar Aluna tidak betah menjadi Ibu tirinya, tentu saja dengan memanfaatkan kekurangannya.
"Jangan macam-macam, Reyhan. Awas saja kalau kamu sampai menyakiti Mamamu," ucap Bian memberikan peringatan.
"Dia orang baik. Dia begini karena keadaan. Jangan sampai orang baik malah kamu sakiti," lanjutnya.
"Yang namanya Ibu tiri itu tidak baik. Di sinetron aja pada banyak Ibu tiri yang menyiksa anaknya," gumam Reyhan tak percaya dengan ucapan Bian.
"Hei... Lopa ada di samping kamu. Kenapa kamu lihatnya sebelah sana?" seru seorang bocah perempuan berusia 3 tahun sambil berkacak pinggang. Seruan itu membuat Bian dan Reyhan langsung berlari mencari arah sumber suara.
Bocah cilik bernama Elova Evangeline itu kesal karena orang yang diajaknya berbicara malah menatap arah lain. Elova yang tadi diminta pengasuhnya berkenalan dengan seseorang pun langsung melihat siapa orang itu. Namun saat Elova memperkenalkan diri, malah Aluna tidak melihat ke arahnya. Dia kesal sampai berkacak pinggang dan menggembungkan pipinya.
"Dia itu buta, Lova. Jadi nggak bisa lihat. Dia itu Ibu tirimu yang akan menyiksamu dan bikin badanmu kempes," ucap Reyhan menakut-nakuti adiknya sambil tertawa.
"Ibu tili? Yang suka siksa cendol itu?" tanya Elova dengan mata membulat.
"Cinderella bukan cendol, Lova."
"Iya, Ibu tiri yang suka siksa anak. Badanmu yang bulat itu jadi kempes karena disuruh..."
Dugh...
"Reyhan, jangan takut-takuti adikmu." tegur Bian sambil sedikit menendang kaki anaknya.
"Tidak menakuti, Pa. Kan emang benar, Ibu tiri mah begitu." ucap Reyhan dengan santainya.
Huaaaaa...
Ndak mau badan Lopa kempes. Nanti ndak bisa geal-geol lagi,
Tiba-tiba saja Elova langsung menangis karena mendengar penjelasan dari Reyhan. Aluna sedari tadi diam. Dia masih menerka dan mempelajari apa yang terjadi di rumah ini. Bibi Tari pun sedari tadi ada di sampingnya. Tadi Bibi Tari ingin menggendong Elova tapi dihentikan oleh Aluna. Gadis itu ingin menghafal karakter dari orang-orang di sekitarnya.
"Nggak jadi model geal-geol lagi kamu nanti, Lova." Bukannya berhenti meledek, Reyhan malah melanjutkannya.
"Lo..."
"Biar aku saja, Mas." sela Aluna saat Bian hendak membujuk Elova. Tangan Aluna mencoba meraba dimana posisi Elova. Saat sudah mengetahui dimana Elova, Aluna pun segera berjongkok di depan gadis cilik itu yang menangis tanpa keluar air matanya.
"Halo... Kenalkan namaku Aluna. Kamu namanya lobak ya?" tanya Aluna dengan senyum manisnya.
"Lobak? Dikila aku ini sayulan. Lopa pakai p," seru Elova yang langsung menghentikan tantrumnya. Dia kesal karena ada seseorang yang memanggilnya lobak padahal namanya Elova.
"Minggir sana. Nggak usah dekat-dekat sama adikku. Nanti adikku jadi kempes,"
Reyhan...
Reyhan langsung mendorong bahu Aluna agar menyingkir dari hadapan Elova. Bahkan Reyhan tak peduli dengan seruan Bian yang mengecam tindakannya mendorong Aluna. Pasalnya Aluna sampai hampir terjengkang ke belakang jika badannya tidak ditahan oleh Bian. Namun Reyhan tak peduli, justru dia langsung membawa adiknya pergi. Elova yang tak paham dengan kejadian ini hanya bisa mengerjapkan matanya berulangkali. Dia bingung mengapa Reyhan dimarahi oleh Papanya padahal hanya menggendongnya.
"Aku nggak mau punya Ibu tiri, Pa. Cukup Bunda Kalya aja yang jadi Ibuku," ucap Reyhan sebelum meninggalkan Bian dan lainnya.
"Anak itu emang sangat bebal kalau dibilangin," gerutu Bian sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Jangan dibentak-bentak, Mas. Anak akan semakin memberontak kalau dibentak atau pakai cara kekerasan seperti itu. Coba nanti biar aku yang bicara dari hati ke hati pada Reyhan dan Elova. Aku paham kok sama stigma negatif yang selama ini terbentuk tentang Ibu tiri," ucap Aluna yang sama sekali tidak marah atau menyalahkan Reyhan.
"Kalau dia tidak bisa diberi tahu, nggak usah didekati. Biar terserah dia," ucap Bian sambil meraup wajahnya kasar.
Aluna hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Bian. Tampaknya Bian ini terlalu emosian saat menghadapi anak. Padahal anak memberontak juga pasti ada alasannya. Aluna tak bisa menebak apa yang terjadi karena dia baru saja masuk dalam keluarga ini. Mungkin ini akan menjadi tugasnya untuk mendekatkan atau memperbaiki apa yang terjadi. Bibi Tari tersenyum melihat Aluna yang hatinya begitu kuat. Tidak tersinggung sama sekali walaupun ucapan dari Reyhan itu sangat pedas.
"Mas, katanya kamu pacaran sama Salsa itu dari awal kuliah. Berarti udah 4 tahun kan? Terus tadi Elova usianya baru 3 tahun. Jangan-jangan kamu selingkuh dari Ibunya Elova?" tanya Aluna tiba-tiba ketika mengingat Bian menceritakan tentang Salsa dan anaknya saat di mobil bak terbuka tadi.
Eh...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..
🙏😍💪