NovelToon NovelToon
Pelakor Sang Mafia

Pelakor Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
​Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
​Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
​Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27 maya di culik

Suara bip digital yang berasal dari dalam tas ransel Maya itu mendadak mengubah seluruh atmosfer di dalam ruangan menjadi sangat mencekam.

Rian langsung melompat mendekati tas tersebut, sementara Reza dengan sigap menarik Maya ke belakang tubuhnya untuk melindunginya.

​"Jangan disentuh! Itu bom waktu sensor frekuensi!" seru Rian panik, keringat dingin membasahi dahinya.

​"Sialan!" maki Reza penuh amarah, menyadari kalau mereka telah masuk ke dalam jebakan tersembunyi yang disiapkan bukan lagi oleh Sora, melainkan oleh musuh bebuyutan lama di dunia hitam yang memanfaatkan kekacauan ini.

​Sebelum Reza sempat berpikir untuk mencari jalan keluar, lampu di dalam ruangan mendadak padam total.

Suara letupan kecil terjadi di panel listrik dinding, disusul oleh gas putih beraroma menyengat yang mengepul cepat dari ventilasi udara.

​"Gas bius! Tutup hidung kalian!" teriak Reza sambil melepas kemeja luarnya untuk menutup wajah Maya.

​Namun, gas itu menyebar terlalu cepat. Maya terbatuk hebat, kepalanya mendadak pusing luar biasa.

Pandangannya kabur, dan dalam hitungan detik, tubuhnya melemas sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri ke lantai.

​"Maya!" panggil Reza panik saat melihat tubuh gadis itu terkulai.

​Reza berusaha menerjang maju untuk menangkap Maya, namun dari arah kegelapan lorong ventilasi dan pintu rahasia, tiga orang pria bertubuh kekar mengenakan topeng tengkorak langsung melompat masuk. Mereka menyerang Reza dan Rian secara membabi-buta untuk mengalihkan perhatian.

​Baku hantam di dalam ruangan gelap itu tidak terelakkan. Reza yang sedang dikuasai amarah melayangkan pukulan telak yang membuat salah satu penyerang tersungkur muntah darah. Namun, jumlah musuh yang datang bergelombang membuat mereka terpecah.

​Ketika lampu darurat menyala merah berkedip-kedip, Reza melihat salah satu penculik sudah mengangkat tubuh Maya yang pingsan dan membawanya kabur lewat pintu belakang menuju dermaga pelabuhan.

​"Lepaskan dia, bajingan!" murka Reza, melangkah mengejar mereka sambil menghunus senjata.

​Tapi terlambat. Sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor sudah melesat kencang meninggalkan area pelabuhan, membawa Maya pergi ke tempat persembunyian musuh.

​Dua jam kemudian. Di sebuah gudang tua terbengkalai di tepi pelabuhan lama yang berbau amis ikan dan karat, Maya perlahan membuka matanya.

​Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut nyeri. Maya mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya lampu gantung temaram yang berayun-ayun di atasnya.

Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya, namun ia mendapati dirinya sudah terikat erat di sebuah kursi kayu tua dengan tali tambang kasar.

​"Ehm... akh..." rintih Maya lirih, bibirnya terasa kering.

​"Wah, rupanya putri tidur kita sudah bangun," sebuah suara parau bernada mengejek terdengar dari sudut gelap gudang.

​Seorang pria berbadan besar dengan luka parut melintang di pipi kanannya melangkah keluar dari bayangan. Namanya Bram. Ia adalah pemimpin geng saingan lama Reza yang sudah lama menunggu kesempatan untuk menjatuhkan sang bos mafia.

​Maya menelan ludah dengan susah payah, menatap pria asing itu dengan mata membelalak ketakutan. "Siapa kamu...? Di mana aku?"

​Bram tertawa kecil serak, lalu menarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan Maya. Ia memainkan sebilah pisau lipat di tangannya, membuka dan menutup bilah tajam itu dengan santai.

​"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, Nona manis," jawab Bram menyeringai lebar.

"Yang penting, sekarang kamu adalah tiket emas buat aku untuk menghancurkan Reza sampai tidak bersisa."

​Maya menggelengkan kepalanya pelan, air matanya mulai menggenang.

"Kamu salah orang... aku cuma cewek biasa... Reza bukan siapa-siapa buat aku..."

​"Cewek biasa?" potong Bram dengan nada mengejek, mencondongkan wajahnya ke depan.

"Jangan berpura-pura bodoh, Maya! Seluruh kota sekarang tahu kalau bos mafia yang paling ditakuti itu mempertaruhkan seluruh kerajaannya cuma buat melindungi perempuan rendahan seperti kamu! Kalau Reza sangat peduli padamu, kita lihat seberapa besar nyali pria itu saat aku mencincangmu bagian per bagian!"

​Mendengar ancaman itu, sekujur tubuh Maya bergetar hebat. Rasa takut yang teramat sangat mencengkeram dadanya, bukan cuma karena nyawanya sendiri yang terancam, tapi karena ia tahu Reza pasti akan datang menyusulnya dan masuk ke dalam perangkap maut ini.

​"Jangan... jangan sakiti aku..." bisik Maya putus asa, air matanya tumpah membasahi pipinya.

​Bram berdiri sambil tersenyum kejam. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang memegang kamera video kecil di sudut ruangan.

"Nyalakan kameranya. Kita kirimkan salam hangat ini langsung ke ponsel kesayangan Tuan Reza."

​Anak buah Bram mengangguk, mengarahkan lensa kamera tepat ke wajah Maya yang terikat tak berdaya.

​"Halo, Reza..." ucap Bram sambil melambaikan tangan ke arah kamera dengan seringai lebar.

"Kalau kamu masih ingin melihat perempuan kesayanganmu ini bernapas esok hari, datanglah seorang diri ke gudang pelabuhan lama dalam waktu satu jam. Jangan bawa polisi, jangan bawa anak buah... atau kepala perempuan ini akan pulang lebih dulu dalam kantong plastik!"

​KLIK. Rekaman video itu dimatikan dan langsung dikirim ke nomor pribadi Reza.

​Di tempat lain, di dalam mobil jip yang melaju kencang menembus malam, ponsel Reza mendadak bergetar menampilkan sebuah video singkat.

Begitu Reza membuka dan melihat wajah Maya yang menangis ketakutan diikat di kursi gudang tua, mata hitam Reza membelalak sempurna, rahangnya mengeras hingga berbunyi, dan aura kemarahan yang luar biasa gelap melingkupi sekujur tubuhnya.

​"Tuan Besar, itu jebakan!" cegah Rian saat melihat ekspresi Reza. "Bram sengaja memancing Anda ke sarangnya!"

​Reza mengepalkan ponselnya hingga layarnya retak berkeping-keping. Suaranya terdengar sangat dingin dan mematikan saat ia menoleh menatap Rian.

​"Putar balik mobilnya sekarang," perintah Reza mutlak.

"Kalau ada satu saja goresan di tubuh Maya, saya akan ratakan seluruh pelabuhan itu jadi rata dengan tanah!"

​Konvoi mobil jip itu langsung berputar arah dengan decitan ban yang memekakkan telinga, meluncur deras menuju sarang maut tempat Maya disekap.

​Sementara itu di dalam gudang gelap, Maya yang mendengar langkah kaki mendekat dari arah pintu depan menahan napasnya.

Pintu besi gudang itu perlahan terbuka lebar, menampakkan sesosok bayangan tinggi yang berdiri di tengah terpaan angin malam.

​Bersambung....

1
Naelong
makasi udah mampir.. jangan lupa tinggalin jejak, like dan komen agar autor tambah semangat.. makasi🙏🙏😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!