NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Pengakuan di Kursi Penonton

Keramaian penonton perlahan berkurang setelah pertandingan selesai. Sebagian peserta meninggalkan arena untuk kembali, sementara beberapa tim masih bertahan guna untuk melanjutkan pertandingan berikutnya.

Mita memilih duduk di deretan kursi penonton yang berada tidak jauh dari lapangan. Tubuhnya masih terasa lelah setelah pertandingan yang menguras tenaga, tetapi suasana hatinya jauh lebih baik daripada beberapa hari sebelumnya.

Ia menyandarkan punggung, meluruskan kaki, lalu memejamkan mata sejenak. Kemenangan tadi memberinya perasaan yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa mampu menikmati sesuatu tanpa terus-menerus dihantui bayangan pengkhianatan yang pernah diterimanya.

Ia belum sepenuhnya sembuh. Ia tahu itu.

Namun, setidaknya ia mulai belajar bahwa hidupnya tidak harus berhenti hanya karena seseorang yang pernah dicintainya memilih jalan yang menyakitkan.

"Capek?" Suara Budi membuat Mita membuka mata.

Laki-laki itu datang membawa dua botol minuman dan sebungkus makanan ringan. Ia duduk di kursi sebelah Mita, kemudian menyerahkan salah satu botol kepadanya.

"Sedikit," jawab Mita, "Tapi puas."

"Memang pantas puas. Kalian bermain bagus."

"Masih ada satu pertandingan lagi."

"Benar. Jadi, jangan menghabiskan seluruh tenaga untuk merayakan kemenangan hari ini."

Mita tertawa kecil. "Anda seperti pelatih saja."

"Kalau pelatihnya boleh berdiri dekat  bu Mita sepanjang pertandingan, Saya bersedia."

Mita menoleh, mendapati Budi sedang tersenyum.

"Om Budi ini ada-ada saja."

Budi ikut tertawa, tetapi kali ini tawanya tidak berlangsung lama.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sejak pertandingan berakhir, ia terus memikirkan niatnya untuk mengungkapkan perasaan kepada Mita. Ia bahkan sudah beberapa kali mencoba menyusun kalimat yang tepat di dalam kepala.

Namun, sekarang ketika mereka benar-benar duduk berdua, seluruh kalimat itu seakan menghilang.

Budi mengusap tengkuknya.

Mita memperhatikannya.

"Kenapa, Om? Apa ada yang mengganggu?" Melihat kegelisahan lelaki yang duduk di sampingnya membuat Mita tak bisa menahan keingintahuannya.

Budi menatap perempuan itu. Untuk sesaat, ia hampir memilih mundur.

Mungkin bukan sekarang. Mungkin ia bisa menunggu beberapa hari lagi. Mungkin ia bisa terus menjadi teman yang baik sampai Mita benar-benar merasa nyaman di dekatnya. Namun, ia teringat ucapan Yanto. Memperjuangkan seseorang bukan berarti memaksanya menerima perasaanmu.

Budi menarik napas panjang, “Bu Mita, saya mau bicara serius."

Senyum di wajah Mita perlahan memudar, digantikan tatapan penuh perhatian, "Serius bagaimana?"

"Ada sesuatu yang sudah lama ingin saya katakan.” Budi menjeda kalimatnya sebentar, ”Saya sebenarnya tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Tapi kalau terus saya simpan, sepertinya saya sendiri yang akan semakin kesulitan."

Mita tidak menyela.

Budi menunduk sebentar, mengumpulkan keberanian, "Saya suka sama bu Mita."

Kalimat itu akhirnya keluar. Sederhana, tanpa rangkaian kata yang berlebihan, tetapi membutuhkan keberanian yang tidak sedikit untuk mengucapkannya.

Budi mengangkat wajah, menatap Mita dengan sungguh-sungguh, "Saya tahu bu Mita mungkin belum siap mendengar ini. Atau mungkin bu Mita tidak pernah menyangka saya akan mengungkapkan perasaan.”

Mita tertegun. Ia tidak tau harus menjawab apa, karena ini benar-benar di luar dugaannya.  Ia melihat tatapan tulus yang tergambar pada sorot mata  prajurit yang kini mengabdi di perbatasan, sebagaimana ia sendiri pun juga sama. Hanya profesi yang membedakan.

“Saya tidak menuntut bu Mita harus memberikan jawaban sekarang, apalagi merasa berutang sesuatu hanya karena saya sudah menyampaikan rasa yang ada buat bu Mita."

Mita membeku. Ia memandang Budi seolah-olah sedang memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

Selama ini, ia memang mengakui bahwa Budi adalah sosok yang penuh perhatian. Apalagi dari awal proses pelibatan prajurit yang bertugas menjaga perbatasan dalam perayaan HUT RI Ke-81 ini di desa mereka, kecamatan Entikong ini.

Laki-laki itu sering mensuportnya, membuat ia dan rekan lainnya tertawa ketika suasana hatinya memburuk, dan hadir tanpa banyak bertanya ketika mereka membutuhkan seseorang untuk meringan tugas yang diemban.

Namun, Mita tidak pernah menyangka bahwa perhatian tersebut menyimpan perasaan yang lebih dalam.

"Om Budi..." suaranya terdengar pelan.

Budi tersenyum tipis, meskipun dadanya berdebar keras, "Saya tidak meminta bu Mita membalas perasaan saya. Saya hanya ingin jujur. Kalau ternyata bu Mita tidak memiliki perasaan yang sama, saya akan berusaha menerimanya."

Ia menjeda kalimatnya, “… setidaknya, saya  sudah mencoba. Daripada suatu hari nanti saya menyesal karena tidak pernah memberanikan diri mengatakan apa yang saya rasakan."

Mita menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Budi adalah laki-laki baik. Ia tidak bisa menyangkal itu. Selama kegiatan berlangsung ia menjadi orang terdepan dalam memberikan bantuannya, sehingga semua kendala di lapangan nyaris tidak pernah terjadi. Semua merasa aman dan nyaman.

Tetapi kenyamanan tidak selalu berarti cinta. Dan setelah pengalaman pahit yang baru saja dilaluinya, Mita merasa belum memiliki keberanian untuk membuka pintu hatinya kembali. Apalagi dengan seseorang yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya.

Ia pernah begitu yakin bahwa seseorang akan menjadi teman sehidup sesurga. Ia pernah membayangkan masa depan bersama laki-laki itu, memercayai setiap janji, dan menyiapkan diri untuk sebuah pernikahan yang pada akhirnya tidak pernah menjadi kenyataan sebagaimana yang ia harapkan.

Lalu, semua itu runtuh.

Kini, membayangkan harus kembali memercayai hatinya kepada seseorang membuatnya takut. Bukan karena ia menganggap semua laki-laki sama, melainkan karena ia belum siap untuk memulai kembali. Luka yang ada saja bahkan belum sembuh, masih menganga. Terkadang perasannya masih berdarah-darah jika mengingat semua yang telah terjadi.

"Saya tidak menyangka om Budi akan mengatakan ini," ujar Mita akhirnya.

Budi mengangguk pelan, “Saya tahu."

Mita mengusap telapak tangannya yang terasa dingin, “Om Budi lelaki yang baik. Kami  nyaman berteman dengan om Budi. Saya pun juga menghargai semua perhatian om Budi selama ini."

Budi mendengarkan tanpa menyela, meskipun ia mulai bisa menebak arah pembicaraan tersebut.

"Tapi saya belum siap untuk menerima perasaan om Budi,” ujar Mita pelan sambil menghela napas.

"Saya belum siap membuka hati dan memulai hubungan lagi. Bukan karena om Budi kurang baik. Bukan juga karena saya menganggap perasaan om Budi tidak penting…“ matanya mulai berkaca-kaca, “Saya hanya... masih belum selesai dengan diri saya sendiri."

Budi tertegun mendengar kata-kata yang meluncur dari perempuan yang ia idamkan dan menjadi bunga tidurnya di sekian malam. Pikirannya mulai mengembara.

"Saya masih belajar menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi,” ucapan Mita kembali membuyarkan pikirannya. “Kadang saya merasa sudah baik-baik saja, tapi kadang semuanya kembali terasa menyakitkan. Saya tidak ingin menerima seseorang hanya karena dia baik, lalu pada akhirnya saya justru melukainya karena ternyata belum mampu membalas perasaan yang sama."

Budi merasakan sesuatu yang berat menekan dadanya. Ia berharap Mita akan memberikan kesempatan, sekecil apa pun. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan kejujuran perempuan itu.

"Saya mengerti," jawabnya.

Padahal ia sangat berharap agar perempuan di depannya bisa memberikan waktu dan kesempatan lebih lama. Sehingga perasaan mereka bisa berproses. Tetapi jawaban yang ia terima membuktikan bahwa kemungkinan itu tidak akan ada.

Budi pun tak ingin memaksakan diri. Kuncupnya telah layu sebelum berkembang. Tetapi seperti ucapan Yanto tempo hari, kita tidak akan tau perjuangan kita berhasil atau tidak jika tak mencobanya.

Dan kini ia paham. Sekarang waktunya undur diri. Mungkin ia memang bukan  pilihan yang tepat. Ia sadar diri.

Mita menatapnya, seolah-olah ingin memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar memahami maksudnya, “Maaf, Om …"

Budi menggeleng, "Bu Mita tidak perlu meminta maaf karena telah mengakui dengan jujur."

Ia berusaha tersenyum dengan sisa kekuatan yang berusaha ia kumpulkan dari retakan hati yang tercerai berai, akibat penolakan halus yang keluar dari perempuan yang telah mengobrak-abrik perasaannya.

"Kalau saya berani mengungkapkan perasaan, itu adalah pilihan saya sendiri. Jadi, bu Mita juga berhak memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dirasakan."

Mita terdiam. Ada rasa lega karena Budi tidak memaksanya, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula rasa bersalah. Ia tahu tidak mudah bagi seseorang untuk membuka hati dan mempertaruhkan perasaan.

Terlebih, prajurit itu telah menunjukkan perhatian yang tulus selama ini.

"Saya tidak ingin kehilangan pertemanan dengan orang baik seperti om Budi," kata Mita pelan.

Budi memandangnya beberapa saat, “Saya juga merasa bu Mita adalah teman yang menyenangkan."

Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya akan langsung kembali seperti semula. Ia cukup jujur untuk mengakui bahwa perasaannya membutuhkan waktu untuk ditata kembali.

Namun, ia tidak ingin menjadikan pengakuannya sebagai beban bagi Mita, “Jangan khawatir. Saya mungkin butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri, tapi saya tidak akan menyalahkan bu Mita atas semua yang terjadi hari ini."

Mita tersenyum tipis, kali ini dengan tatapan yang masih menyimpan rasa haru, "Terima kasih atas pengertian om Budi."

Budi mengangguk.

Mereka kemudian duduk berdampingan, membiarkan percakapan itu berakhir tanpa pertengkaran atau kata-kata yang saling menyakitkan.

Di depan mereka, pertandingan lain mulai berlangsung. Suara peluit dan sorakan penonton kembali memenuhi gedung.

Budi mencoba memusatkan perhatian pada lapangan, tetapi pikirannya masih tertinggal pada peristiwa pahit yang ia alami beberapa menit sebelumnya.

Ia telah mengatakan apa yang selama ini disimpannya. Dan meskipun jawaban Mita bukanlah jawaban yang harapkan, setidaknya ia tidak lagi harus bertanya-tanya tentang bagaimana perempuan itu akan menanggapi perasaannya.

Ia telah berjuang.

Kini, ia harus belajar menerima kenyataan bahwa perjuangan tidak selalu berakhir dengan mendapatkan apa yang diinginkan. Kadang-kadang, keberanian terbesar justru terletak pada kesediaan untuk menghormati jawaban seseorang, meskipun jawaban itu membuat hati sendiri terluka.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!