NovelToon NovelToon
Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Perjodohan Pembunuh Naga Dan Putri Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: EMPIRE RAJA

**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**

Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.

Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.

Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 harta naga yang melimpah

Kurang dari tiga jam kemudian, bayangan sebuah gunung besar yang menjulang kelabu mulai memenuhi pandangan Altres. Tempat itu terkenal sebagai sarang monster yang buas dan haus darah, tetapi berkat Veronica, perjalanan mereka berlangsung tanpa hambatan. Tak satu pun makhluk berani mendekat, seakan naluri mereka berteriak agar menjauh dari sosok merah raksasa yang melintas di atas kepala mereka. Altres hanya sempat mengamati lereng-lereng berbatu di bawahnya dengan tangan tetap menggenggam gagang pedang, sementara hembusan angin dingin dari kepak sayap Veronica menerpa wajahnya tanpa henti. Ia sudah bersiap menghadapi serangan dari segala arah, tetapi hutan di bawah mereka justru sunyi seperti kuburan, dan ketika Veronica akhirnya mendarat di depan mulut sebuah gua gelap, ia belum perlu mencabut Carax sama sekali.

Begitu kakinya menyentuh tanah, tubuh raksasa itu menyusut dan berubah menjadi sosok wanita muda berambut merah. Wajahnya tertekuk enggan, bibirnya mengerucut sementara ia merapikan pakaiannya dengan gerakan kasar. Menyembunyikan jati dirinya jelas bukan hal yang membuatnya nyaman. Altres menatapnya dengan sorot dingin, seolah masih tak mengerti isi kepala naga yang satu ini, lalu mengikuti langkahnya masuk ke dalam gua.

Mulut gua itu sempit dan berliku, begitu sulit dilalui hingga Altres harus beberapa kali memiringkan bahunya agar tidak tersangkut batu. Ia menggerutu pelan, dan Veronica menjawab tanpa menoleh bahwa justru karena itulah tempat ini aman, sebab jalan yang menyulitkan adalah cara terbaik menjaga hartanya dari tangan-tangan serakah. Mereka menyusuri sebuah lorong panjang yang lembap, hanya diterangi cahaya redup dari kristal di dinding, sampai akhirnya lorong itu terbuka menjadi ruangan luas yang membuat Altres berhenti melangkah.

Emas menggunung di sana, berpadu dengan berlian, permata, dan perhiasan yang berkilau dalam gelap hingga memantulkan cahaya biru ke wajahnya. Gundukan-gundukan itu menjulang hampir menyentuh langit-langit gua, dan beberapa peti tua yang terbuka memuntahkan koin-koin kuno ke lantai batu. Altres mengamati tumpukan itu cukup lama dengan alis berkerut, lalu bertanya apa gunanya semua benda ini bagi seekor naga. Veronica melipat tangan di depan dada dan menjawab dengan dagu terangkat bahwa harta itu penting baginya, karena ia memang menyukainya. Jawaban sesederhana itu membuat Altres mendengus pendek, seakan baru saja mendengar alasan anak kecil yang menolak melepas mainannya.

"Karena itu juga kau diburu manusia," ucapnya datar sambil melirik ke arah wanita itu. "Orang-orang yang ingin kaya raya tidak akan berhenti sampai mereka menemukan tempat ini." Ia kembali menatap tumpukan emas dan menambahkan dengan nada penasaran, "Lalu bagaimana caramu membawa semua ini ke dalam gua?"

Veronica terdiam. Ia memalingkan wajah, berpura-pura tertarik pada dinding gua sambil menggaruk pipinya, lalu bergumam bahwa ia sudah lupa. Altres tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lurus dengan sorot tajam yang membuat bahu Veronica perlahan menegang, dan keheningan di antara mereka terasa semakin panjang hingga tetesan air dari langit-langit gua terdengar jelas di telinga mereka.

"Kau tahu caranya," kata Altres akhirnya, pelan tapi tidak memberi ruang untuk mengelak.

"Itu hal yang tidak menyenangkan," sahut Veronica cepat, kali ini sambil menoleh dengan wajah masam. "Karena itulah aku tidak mau melakukannya lagi."

"Kita tidak akan bisa membawa semua ini tanpa caramu." Altres melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan yang tak bergeser sedikit pun. Desakan itu membuat Veronica akhirnya mengacak rambutnya dengan kesal, lalu mengaku dengan suara tertahan bahwa ia menelan semuanya, lalu memuntahkannya kembali di tempat yang ia inginkan. Wajahnya meringis seakan ingatan itu saja sudah membuat perutnya mual, dan tangannya refleks menekan perut sendiri. "Rasanya menyiksa, tahu," tambahnya lirih. "Seperti ada batu gunung yang berputar di dalam tubuhku."

"Aku mengerti." Altres mengangguk, tetapi nadanya tetap dingin. "Namun kau perlu harta ini untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri. Makananmu cukup untuk pesta besar setiap hari, dan aku tidak berniat jatuh miskin hanya demi perutmu."

Veronica menggembungkan pipinya, menatapnya sebal, lalu menggerutu tak jelas sambil menendang kerikil di dekat kakinya. Ia memang tidak punya bantahan yang cukup kuat, dan pada akhirnya ia menghela napas panjang seperti orang yang kalah. Ia melangkah mundur, dan tubuhnya kembali membesar, memenuhi ruangan itu dengan sisik merah yang berkilat. Naga itu membuka rahangnya lebar-lebar. Angin berputar kencang, dan seketika emas, berlian, serta permata melayang deras masuk ke mulutnya seperti air bah yang tersedot ke dalam lubang tak berdasar. Altres harus menahan jubahnya agar tidak ikut tertarik. Namun setelah cukup banyak yang tertelan, Veronica tiba-tiba berhenti. Tubuh besar itu limbung ke satu sisi, lalu roboh ke lantai gua dengan suara dentuman keras hingga debu berjatuhan dari langit-langit dan getarannya merambat sampai ke kaki Altres.

Altres mengernyit dan menghampiri kepala naga itu dengan langkah hati-hati, menimbang apakah ini hanya akal-akalan atau memang sesuatu yang serius. "Ada apa denganmu?"

"Aku tidak bisa bergerak," keluh Veronica dengan suara berat yang bergema, sementara matanya yang bagai mata ular melirik malas ke arahnya. "Benda-benda di dalam tubuhku terlalu berat."

Altres tampak heran, seakan tak percaya mendengarnya. Ia teringat bagaimana makhluk ini bisa menghabiskan makanan sebanyak apa pun tanpa terlihat kesulitan. "Padahal kau bisa makan sebanyak itu setiap hari."

"Emas dan permata bukan makanan," balas Veronica ketus, ekornya mengibas lemah di lantai. "Tidak bisa dicerna, jadi hanya menumpuk di dalam. Itulah sebabnya aku benci melakukannya, apalagi kalau jumlahnya sebanyak ini."

Altres menoleh ke belakang, lalu menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya. Di balik tubuh raksasa Veronica, tumpukan harta di ruangan itu ternyata masih tersisa begitu banyak, seakan baru sepersepuluhnya saja yang berpindah. Ia terdiam sejenak, berpikir, lalu kembali menatap kepala naga itu. "Bisakah kau berubah ke wujud manusia?"

Veronica mendengus, tetapi tak membantah. Tubuh raksasanya mengerut hingga kembali menjadi wanita muda yang terduduk lemas di lantai dengan napas sedikit terengah. Altres berjongkok, lalu mencoba mengangkat tubuhnya, bersiap menahan beban yang menurutnya akan sangat berat. Namun ternyata tubuh itu terangkat dengan mudah, seakan beratnya hanya sebanding dengan ukuran tubuh wanita pada umumnya. Alisnya terangkat sedikit karena heran, dan untuk sesaat ia memandangi wajah Veronica dari jarak yang begitu dekat, seakan sedang memastikan bahwa ini memang naga yang sama dengan makhluk raksasa tadi.

"Itu efek sihir yang kugunakan dalam wujud manusia," jelas Veronica sambil bersandar di lengannya, kepalanya terkulai malas. "Bisa dibilang tubuh asliku sedang disimpan di suatu tempat, jadi bebannya tidak terasa di sini."

Altres terdiam, lalu bertanya dengan penasaran yang terselip di balik suaranya yang datar, apa yang akan terjadi jika tubuh manusia ini terluka. Veronica menjawab tanpa banyak pikir bahwa luka itu akan segera beregenerasi, selama ia masih memiliki kekuatan sihir. Altres mengangguk pelan, menyimpan jawaban itu dalam benaknya, sementara matanya sekilas melirik wajah Veronica yang tampak tak terlalu memikirkan jawabannya sendiri.

Sambil menggendong Veronica, Altres berjalan menyusuri kembali lorong yang tadi mereka lalui. Di sepanjang jalan keluar dari gua, mereka saling berbicara, mulai dari pertanyaan kecil tentang gunung itu hingga keluhan Veronica tentang betapa menyebalkannya perut yang penuh logam, yang ia ceritakan dengan gerakan tangan berlebihan sampai nyaris membuatnya terjatuh dari gendongan. Altres terpaksa mengeratkan pegangannya sambil menghela napas pendek, meski sudut bibirnya nyaris terangkat tanpa ia sadari. Ia sesekali menanggapi dengan jawaban singkat, tetapi tidak lagi dengan nada sedingin sebelumnya, dan langkahnya pun terasa lebih ringan dibanding saat mereka masuk tadi. Veronica tak lagi memasang wajah masam sama sekali. Cahaya matahari di ujung lorong membuat rambut merahnya tampak menyala, dan ia bahkan sempat tertawa kecil ketika Altres menyindir bahwa perutnya lebih berbahaya daripada seluruh monster di gunung itu. Tanpa mereka sadari, di tengah perjalanan yang tenang itu, suasana di antara suami istri baru itu berubah menjadi jauh lebih akrab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!