sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ibu Ani Dari Jakarta
Debu di Kolorai belum juga turun.
Jam delapan pagi, tapi panasnya sudah menusuk. Sisa api semalam masih meninggalkan bau gosong, di setengah Rumah Bintang. Bekas ban truk PT Nikel masih jelas di tanah, melintas sampai ke dekat pohon lontar.
Di bawah pohon lontar itu Sari duduk. Tangannya lecet. Darah kering masih nempel di sela jarinya karena ujung paku dari tiang yang ditarik lima orang helm kuning tadi pagi. Perutnya yang hamil tiga bulan terasa perih, kencang, tapi dia tetap peluk Bintang erat. Tidak dilepas sama sekali.
Bintang juga sama. Tangannya kotor debu. Matanya merah habis menangis semalam, tapi dia tidak rewel. Dia bersandar di dada Sari, menatap tiang utama rumah yang masih berdiri tanpa papan nama.
Johan duduk di tanah, agak jauh. Kakinya diperban dengan kain sobekan sarung Mama Leni. Luka bakar semalam belum kering, masih perih kalau kena angin. Di depannya ada tanah yang masih lembab bekas siraman Mama Leni tadi subuh. Ajaibnya, di atas tanah lembab itu tumbuh satu bunga kuning kecil. Bunganya goyang kena angin sabana.
Dua puluh warga masih berdiri melingkar. Tidak ada yang pulang. Mama Leni berdiri paling depan, tangannya masih pegang ember kosong. Pak Frans rambut putihnya penuh debu, HP-nya masih merekam. Ibu dari Dinsos yang kemarin sobek surat penjemputan paksa, wajahnya masih tegang.
Semua menatap tiang utama rumah yang masih berdiri. Papan nama Rumah Bintang sudah tidak ada. Dibawa truk tadi pagi.
Tiba-tiba klakson panjang, keras sekali.
Bukan truk PT Nikel.
Sebuah mobil hitam besar datang kencang dari arah Waingapu. Debu sabana yang baru turun, naik lagi tinggi.
Mobil itu berhenti sepuluh meter dari rumah. Mesinnya masih menyala. Pintu depan dibuka.
Turun seorang wanita umur lima puluhan. Rambut pendek dicat pirang, kacamata hitam besar, tas mahal, sepatu hak tinggi yang langsung tenggelam kena tanah berdebu Kolorai. Di belakangnya turun dua pria muda berjas hitam rapi, bawa map tebal hitam.
Sari langsung kaku. Jantungnya berdegup. Dia peluk Bintang lebih kuat, sampai Bintang agak sesak.
"Ibu Ani...?"
Johan yang di tanah mencoba berdiri pakai tongkat bambu patah. Kakinya yang diperban sakit sekali, dia jatuh lagi ke tanah. Debu naik.
"Ibu..."
Ibu Ani tidak langsung memeluk anaknya. Dia berdiri di dekat mobil, membuka kacamata hitamnya pelan-pelan. Matanya menyapu sekeliling. Dia lihat rumah gosong setengah. Dia lihat tiang kayu hitam bekas api yang masih berdiri. Dia lihat tanah lembab dan bunga kuning kecil yang tumbuh. Terakhir, matanya berhenti lama di Bintang.
"Jadi ini anak yang kalian bilang ajaib itu? Yang viral tiga juta views lari seratus meter itu?"
Suaranya dingin, datar.
Sari langsung maju selangkah ke depan Bintang, meskipun perutnya sakit.
"Dia bukan pembawa sial, Bu. Dia yang selamatkan tanah ini tadi pagi. Dia yang berani robek cek palsu itu. Dia yang peluk tiang rumah sampai tangannya luka seperti ini, Bu, lihat!"
Ibu Ani tersenyum tipis, sinis.
Dia memberi kode dengan dagu ke dua pengacaranya. Map hitam tebal itu dibuka. Kertas-kertas di dalamnya tebal.
"Justru karena dia viral itu saya datang jauh-jauh dari Jakarta. Tadi malam jam sebelas saya lihat video Pak Frans yang satu juta views itu di pesawat. Kalian tahu? Tanah dua hektar warisan almarhum suami saya, yang dulu saya anggap tidak laku, sekarang harganya naik jadi lima miliar karena di bawahnya ada nikel. PT Nikel Sejahtera sudah telepon saya."
Johan mengepalkan tanah berdebu sampai kukunya hitam.
"Tanah ini warisan Bapak untuk Bintang! Bapak tulis sendiri di sertifikat tiga puluh tahun lalu untuk cucu! Bukan untuk Ibu jual ke tambang!"
Ibu Ani tidak peduli dengan teriakan Johan. Dia mengambil satu lembar cek dari dalam map. Cek asli, kertasnya tebal, tanda tangan basah warna biru. Nominalnya lima ratus juta.
Dia lempar cek itu ke tanah berdebu. Cek itu melayang, jatuh tepat di dekat tanah lembab dan bunga kuning kecil.
"Ini lima ratus juta untuk kalian. Bawa anak ini pindah dari Kolorai. Pindah ke Lombok, ke rumah Mama Leni. Bisa bangun rumah baru, tidak gosong. Tanah dua hektar ini biar saya yang urus sama PT Nikel di pengadilan Waingapu tujuh hari lagi. Kalian dapat uang, saya dapat tanah. Adil, kan?"
Dua puluh warga Kolorai yang melihat cek lima ratus juta dilempar ke tanah, semua diam. Tidak ada yang berani bersuara. Lima ratus juta itu banyak sekali. Bisa bangun tiga rumah bagus di Kolorai.
Mama Leni refleks mau ambil cek itu, kasihan lihat Sari hamil. Tapi Sari tahan tangan Mama Leni.
"Jangan, Mama..."
Bintang yang sejak tadi diam di pelukan Sari, tiba-tiba lepas. Dengan kaki kecilnya yang baru belajar lari, Bintang jalan dua langkah ke depan. Pelan, tapi pasti. Ke arah cek lima ratus juta itu.
Semua kaget. Mengira Bintang mau ambil uang itu.
Pak Frans yang dari tadi merekam langsung teriak, "Bintang mau ambil cek lima ratus juta dari Jakarta! Rekam! Rekam!"
Tapi Bintang tidak ambil untuk simpan.
Bintang pungut cek itu dengan tangan kecilnya yang kotor berdebu. Dia lihat cek itu lama. Dia lihat angka nol yang banyak.
Lalu dengan dua tangan kecil itu, Bintang merobek!
Krek! Suara kertas cek robek keras sekali di sabana yang sunyi!
Semua warga teriak kaget!
Bintang robek lagi! Dua kali! Cek yang banyak nolnya itu jadi empat potongan!
"Tanpa ragu, Bintang tabur potongan cek itu ke bara api kecil, sisa kebakaran Rumah Bintang.."
Bara api itu langsung menyala lagi besar karena kertas!
"Tanah ini tidak dijual! Rumah Bintang tidak dijual! Ini rumahku! Tanah ayah dari kakek!"
Suara Bintang kecil, tapi jelas sekali. Itu pertama kalinya dia bicara keras di depan orang Jakarta. Suara paling keras yang pernah keluar dari mulutnya.
Ibu Ani kaget! Mukanya yang tadi sinis dan sombong, langsung pucat. Tangannya yang pegang tas mahal gemetar.
Dia menatap Bintang lama. Menatap tangan kecil Bintang yang masih pegang sisa robekan. Menatap bunga kuning kecil yang tumbuh di tanah lembab.
Wajah Ibu Ani yang tadi dingin, tiba-tiba berubah. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca, air mata jatuh.
"Johan... dia... dia mirip bapakmu waktu muda... waktu bapakmu melawan preman tanah di Jakarta tiga puluh tahun lalu... tidak mau jual tanah warisan... sama persis..."
Ibu Ani yang tadi berdiri sombong dengan sepatu hak tinggi, tiba-tiba berlutut! Lututnya kena debu sabana. Bukan di depan Johan anak kandungnya! Tapi di depan Bintang yang baru saja merobek ceknya!
"Maafkan nenek, Bintang... Nenek salah... tujuh tahun lalu nenek usir mamamu dari Jakarta... nenek berdosa..."
Sabana Kolorai yang tadi panas karena api dan cek yang dibakar, tiba-tiba sunyi. Hanya ada suara angin dan isak tangis Ibu Ani dari Jakarta yang berlutut di depan cucunya.
Dua puluh warga Kolorai melihat itu, semua ikut menangis.
Pak Frans yang masih merekam, videonya langsung naik. Dalam lima menit sudah seratus ribu views.