NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki Berjas Hitam

"Kuasa hukum Lalu Mustiadi?"

Baiq Laila berdiri dari kursinya. Wajah perempuan berkerudung hitam itu pucat. "Tidak mungkin, Bu. Pak Arman bilang beliau pengacara yang dulu mengurus harta ayah saya."

"Mungkin keduanya benar," kata Aina pelan. "Mungkin juga tidak."

Raka sudah melangkah keluar. Aina menyerahkan Mentari kepada Rini, lalu menyusul suaminya. Perempuan bertubuh mungil itu tidak ingin Raka menghadapi lelaki itu sendirian.

Lalu Arman masih bersandar di kap mobil ketika mereka tiba di gerbang. Lelaki berjas hitam itu meluruskan tubuhnya dan mengulurkan tangan dengan senyum ramah.

"Bapak Lalu Raka. Ibu Aina. Kita pernah bertemu, bukan? Di rumah tahanan."

Raka tidak menyambut uluran tangan itu. "Bapak pengacara Lalu Mustiadi."

"Dulu." Lalu Arman menarik kembali tangannya tanpa terlihat tersinggung. "Pak Mustiadi sudah bukan klien saya sejak putusan pidananya keluar. Saya pengacara profesional, Pak. Klien saya banyak. Sekarang saya mewakili Mbak Laila."

"Bagaimana Bapak bisa menemukan Mbak Laila di Sumbawa?" tanya Aina.

Lelaki berambut klimis itu tersenyum lebih lebar. "Itu rahasia pekerjaan, Bu. Yang penting, klien saya memiliki surat wasiat yang sah. Kami akan mengajukan gugatan ke pengadilan minggu depan."

Lalu Arman mengeluarkan selembar map dari dalam mobil dan menyerahkannya kepada Raka. "Ini salinan rancangan gugatannya. Supaya Bapak bisa bersiap."

Raka menerima map itu dengan rahang mengeras.

"Satu lagi," lanjut lelaki berjas hitam itu, kali ini sambil menatap Aina. "Saya dengar Ibu Aina sangat teliti memeriksa dokumen. Itu bagus. Tapi Ibu tentu tahu, menuduh seseorang memalsukan dokumen tanpa bukti bisa berbalik menjadi masalah. Apalagi bagi seorang pegawai negeri yang pernah menerima teguran."

Aina menatap lelaki itu tanpa berkedip. "Saya belum menuduh siapa pun, Pak."

"Bagus." Lalu Arman membuka pintu mobil. "Mbak Laila, ayo. Kita masih ada urusan di Kuta."

Baiq Laila keluar dari kantor dengan langkah ragu. Sebelum masuk ke mobil, perempuan berkerudung hitam itu menoleh ke arah Aina. Pandangannya penuh pertanyaan. Lalu pintu mobil tertutup, dan mobil abu-abu itu melaju meninggalkan debu di depan kantor camat.

Malam itu, Hamdan datang ke rumah Sengkol. Lelaki jangkung itu memperhatikan foto surat wasiat di ponsel Aina dengan dahi berkerut.

"Kamu benar, Dik," katanya akhirnya. "Baris yang menyebut letak tanah ini memang terlihat berbeda. Hurufnya lebih tebal, dan jaraknya sedikit tidak rata. Tapi kita tidak bisa menyimpulkan apa pun hanya dari foto. Harus diperiksa ahli."

"Bagaimana dengan Mbak Laila?" tanya Raka. "Apa dia ikut memalsukan?"

Hamdan menggeleng. "Belum tentu. Bisa saja Laila hanya dimanfaatkan."

Sekar, yang datang bersama Arsya untuk menengok si kembar, ikut duduk di ruang tamu. Perempuan berwajah teduh itu menatap layar ponsel, lalu menatap salinan rancangan gugatan di meja.

"Lalu Arman," gumamnya. "Aku pernah melihat lelaki itu di rumah Ayah beberapa kali, waktu Ayah belum ditahan. Selalu datang malam-malam. Selalu membawa map."

"Kamu tahu siapa dia sebenarnya?" tanya Aina.

"Tidak. Ayah tidak pernah mengenalkannya." Sekar menggeleng. "Tapi aku ingat satu hal. Setiap kali lelaki itu datang, Ayah selalu menyuruh kami masuk ke kamar."

Aina terdiam. Perempuan bermata sayu itu menatap Fajar dan Mentari yang tertidur di ayunan kain di sudut ruangan.

"Aku ingin bicara dengan Mbak Laila," katanya. "Tanpa pengacaranya."

"Itu berbahaya, Dik," kata Hamdan.

"Mbak Laila bukan orang jahat, Kak. Aku melihat matanya tadi siang. Mbak Laila seperti orang yang tersesat. Aku pernah tersesat seperti itu."

Sekar meletakkan tangannya di bahu Aina. "Aku ikut."

Keesokan harinya, Aina dan Sekar pergi ke sebuah penginapan kecil di pinggir jalan menuju Pantai Kuta. Ibu Aina menjaga si kembar di rumah. Sekar sudah mencari tahu lewat seorang kenalan bahwa Lalu Arman sedang ke Mataram pagi itu.

Baiq Laila membuka pintu kamar dengan wajah terkejut. Perempuan berkerudung hitam itu baru saja selesai menelepon. Matanya sembap.

"Bu Aina? Bagaimana Ibu tahu saya di sini?"

"Boleh kami masuk sebentar, Mbak? Kami tidak datang untuk bertengkar."

Kamar itu sempit. Hanya ada satu ranjang, sebuah meja kecil, dan kipas angin yang berputar pelan. Di atas meja tergeletak beberapa lembar kertas dari rumah sakit dan sebuah foto berbingkai kayu.

"Itu ibu saya," kata Baiq Laila sambil menunjuk telepon di tangannya. "Barusan saya meneleponnya. Kondisinya memburuk. Adik saya, Bima, yang menjaganya di Sumbawa. Bima baru berumur lima belas tahun."

Sekar duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan perempuan muda itu. "Kamu pasti lelah sekali."

Baiq Laila menangis. Tangis yang selama ini jelas ditahan. "Pak Arman yang membayar penginapan ini. Pak Arman yang membayar tiket kapal saya. Pak Arman bilang, kalau gugatan menang, tanah itu bisa dijual dan ibu saya bisa berobat dengan layak. Saya tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi."

Aina tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat. Perempuan bertubuh mungil itu hanya membiarkan Baiq Laila menangis.

Lalu pandangan Aina jatuh pada foto berbingkai kayu di atas meja.

Foto itu sudah pudar warnanya. Seorang lelaki berusia lima puluhan menggendong seorang bocah perempuan berumur sekitar dua tahun di depan sebuah rumah panggung. Lelaki itu tersenyum lebar. Senyum dengan lesung pipi kecil di sisi kiri.

"Itu ayah saya," kata Baiq Laila pelan. "Satu-satunya foto kami berdua."

Aina mengangkat foto itu dan memperhatikannya lebih dekat. Ada orang lain di foto itu, berdiri sedikit di belakang, setengah tertutup bayangan pohon. Seorang perempuan berkebaya sederhana dengan rambut yang mulai memutih. Tubuhnya kurus. Matanya tajam, menatap lurus ke arah kamera.

Aina mengenal sorot mata itu. Sorot mata yang pernah menatap Raka di teras rumah biru muda di Desa Mertak. Sorot mata yang menggenggam tangannya di ruang bersalin.

Tangan perempuan bermata sayu itu gemetar.

"Sekar," bisiknya. "Lihat ini. Perempuan di belakang itu Bidan Rohani."

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!