Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — Tamu yang Tak Terduga
Suara kendaraan terdengar samar dari jalanan di luar rumah ketika Alisha Amanda duduk di ruang keluarga. Sebuah buku catatan terbuka di atas meja, berisi daftar pengeluaran yang ia susun sejak beberapa hari terakhir.
Di sebelahnya terdapat beberapa lembar kertas dari rumah sakit tempat ibunya dirawat. Alisha sedang mencocokkan catatan tersebut dengan uang yang masih dimilikinya.
Ia menarik napas panjang setelah selesai menghitung.
Ada beberapa kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk pemeriksaan Ratih Amanda berikutnya. Walaupun sebagian biaya sudah dibayarkan, Alisha tetap harus mengatur pengeluarannya dengan hati-hati. Ia tidak ingin kehabisan uang ketika tiba-tiba ada kebutuhan tambahan.
Ponselnya tergeletak di samping buku.
Alisha melirik layar yang menampilkan pesan terakhir dari Adrian Mahendra.
Adrian: Aku mungkin pulang agak malam. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pesan itu dikirim sekitar satu jam sebelumnya.
Alisha membalas singkat bahwa ia mengerti. Setelah itu, ia kembali mengurus catatannya tanpa menunggu percakapan berlanjut.
Ia sudah terbiasa dengan jadwal Adrian yang padat. Sebagai CEO Mahendra Group, laki-laki itu sering pulang setelah malam tiba. Alisha juga tidak memiliki alasan untuk meminta Adrian mengubah kebiasaannya hanya agar mereka bisa makan malam bersama.
Hubungan mereka memang belum seperti pasangan yang saling mencari ketika berjauhan.
Mereka tinggal di rumah yang sama, tetapi memiliki kamar masing-masing. Mereka berbicara ketika diperlukan, makan bersama sesekali, dan berusaha tidak mencampuri urusan pribadi satu sama lain.
Bagi Alisha, keadaan itu tidak terlalu sulit dijalani.
Setidaknya, ia masih memiliki cukup waktu untuk bekerja, mengunjungi ibunya, dan mengurus hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya.
Ketika ia hendak menutup buku catatannya, suara bel rumah tiba-tiba terdengar.
Alisha mengangkat wajah.
Ia menoleh ke arah pintu, kemudian melirik jam dinding.
Siapa yang datang pada jam seperti ini?
Ia tidak sedang menunggu tamu. Adrian juga belum mengatakan bahwa seseorang akan berkunjung.
Setelah merapikan buku dan kertas di atas meja, Alisha bangkit lalu berjalan menuju pintu depan.
Bel kembali berbunyi.
“Sebentar,” ucapnya sambil mempercepat langkah.
Ketika pintu terbuka, seorang perempuan berdiri di hadapannya.
Perempuan itu tampak berusia sekitar akhir dua puluhan. Ia mengenakan blus berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya tergerai rapi, sementara sebuah tas berwarna cokelat muda tergantung di lengannya.
Wajahnya menunjukkan sedikit keraguan ketika melihat Alisha.
“Selamat sore,” sapanya sopan. “Apa benar ini rumah Adrian Mahendra?”
Alisha mengangguk.
“Benar. Ada keperluan dengan Pak Adrian?”
Perempuan itu sempat terdiam mendengar cara Alisha menyebut nama Adrian.
“Saya Clarissa. Teman lama Adrian. Apakah dia sedang berada di rumah?”
Alisha menggeleng pelan.
“Maaf, Pak Adrian masih di kantor.”
“Oh, begitu.”
Clarissa melirik ke arah dalam rumah, seolah berharap Adrian akan muncul dari salah satu ruangan.
Namun, tidak ada siapa pun selain Alisha.
“Saya sebenarnya sudah mencoba menghubunginya,” kata Clarissa kemudian. “Tetapi belum mendapatkan balasan.”
Alisha tidak memberikan komentar. Ia tidak tahu hubungan seperti apa yang dimiliki Clarissa dengan Adrian, sehingga ia memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan yang terlalu pribadi.
“Kalau begitu, mungkin Anda bisa menghubunginya lagi nanti,” jawab Alisha.
Clarissa mengangguk, tetapi belum beranjak pergi.
Ada sesuatu yang membuatnya memperhatikan wajah Alisha lebih lama daripada seharusnya. Ia merasa pernah melihat perempuan itu, meskipun tidak secara langsung.
Ingatan Clarissa akhirnya kembali kepada sebuah foto yang beberapa hari lalu ia lihat melalui media sosial.
Foto pernikahan Adrian.
Di foto tersebut, Adrian berdiri di samping seorang perempuan yang mengenakan gaun pengantin. Clarissa hanya melihatnya sekilas saat itu, tetapi wajah perempuan di hadapannya sekarang terasa tidak asing.
Jantung Clarissa seakan berhenti sesaat ketika ia menyadari kemungkinan tersebut.
“Maaf,” katanya, mencoba memastikan dugaannya. “Boleh saya tahu nama kamu?”
“Alisha Amanda.”
Clarissa terdiam.
Alisha Amanda.
Nama itu sama dengan nama yang tercantum dalam keterangan foto pernikahan Adrian.
“Jangan-jangan kamu adalah…”
Alisha menunggu dengan tenang.
Clarissa akhirnya menyelesaikan kalimatnya.
“Kamu istri Adrian?”
Alisha mengangguk.
“Iya.”
Untuk beberapa saat, Clarissa tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Ia sudah mengetahui bahwa Adrian menikah. Ia bahkan sempat melihat foto pernikahan tersebut. Namun, mengetahui kenyataan itu dari sebuah foto ternyata berbeda dengan berdiri langsung di hadapan perempuan yang kini menjadi istri Adrian.
Clarissa mencoba mengatur ekspresinya sebelum kembali tersenyum.
“Maaf, saya tidak menyangka akan bertemu denganmu hari ini.”
“Tidak apa-apa.”
“Namaku Clarissa, seperti yang tadi kukatakan. Aku dan Adrian sudah saling mengenal sejak lama.”
Alisha mengangguk sopan.
“Senang berkenalan denganmu.”
Jawaban itu terdengar biasa saja.
Tidak ada pertanyaan tentang sejak kapan Clarissa mengenal Adrian. Tidak ada perubahan ekspresi yang menunjukkan bahwa nama tersebut memiliki arti khusus baginya.
Clarissa justru semakin merasa canggung.
Ia datang dengan harapan bisa bertemu Adrian dan berbicara dengannya secara langsung. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang pertama yang ditemuinya di rumah tersebut adalah istri laki-laki itu.
Setelah terdiam sebentar, Clarissa mencoba kembali membuka percakapan.
“Apakah Adrian akan pulang dalam waktu dekat?”
“Maaf, aku tidak tahu pasti. Tadi dia bilang masih ada pekerjaan di kantor.”
Clarissa menatap jam tangannya.
“Kalau begitu, apakah aku boleh menunggu sebentar? Tentu saja kalau tidak merepotkan.”
Alisha mempertimbangkan permintaan itu.
Ia masih belum mengenal Clarissa dengan baik. Namun, perempuan tersebut berbicara dengan sopan dan tidak menunjukkan sikap yang membuatnya merasa terancam.
“Silakan. Tetapi aku tidak bisa memastikan kapan Adrian akan pulang.”
“Tidak masalah. Terima kasih.”
Alisha membuka pintu lebih lebar dan mempersilakannya masuk.
---
Ruang keluarga terasa tenang ketika Clarissa duduk di salah satu sofa.
Alisha mengambilkan air minum, lalu meletakkan gelas di atas meja.
“Silakan diminum.”
“Terima kasih.”
Alisha duduk di sofa seberangnya. Ia tidak langsung mengajukan pertanyaan karena merasa belum ada hal penting yang perlu dibicarakan.
Sementara itu, Clarissa mengamati ruangan di sekelilingnya.
Rumah tersebut tampak luas dan tertata rapi. Perabotannya terlihat elegan, tetapi tidak berlebihan. Di salah satu sudut ruangan terdapat beberapa foto keluarga Mahendra, sementara meja di dekat jendela dihiasi vas bunga sederhana.
Clarissa tidak menemukan banyak foto Adrian bersama Alisha.
Ia tidak tahu apakah memang hanya sedikit foto yang dipajang atau pasangan itu sengaja tidak memajang terlalu banyak foto pribadi.
Setelah beberapa saat, Clarissa kembali memandang Alisha.
“Sudah berapa lama kalian menikah?”
“Belum terlalu lama,” jawab Alisha.
“Apakah kalian mengadakan pesta besar?”
“Tidak terlalu besar.”
Alisha tidak bermaksud menghindar. Ia hanya tidak terbiasa membicarakan kehidupan pribadinya dengan orang yang baru dikenal.
Clarissa mengangguk pelan.
“Aku melihat foto pernikahan kalian. Adrian terlihat berbeda di sana.”
Alisha menatapnya.
“Berbeda bagaimana?”
“Lebih serius dari biasanya. Tapi memang begitulah Adrian sejak dulu. Dia jarang menunjukkan ekspresi yang berlebihan.”
Alisha hampir tersenyum.
“Sepertinya dia memang tidak banyak berubah.”
Clarissa memperhatikan jawaban itu.
“Kamu sudah terbiasa dengan sifatnya?”
“Kurasa begitu. Dia tidak banyak bicara, jadi aku juga tidak terlalu memaksanya untuk mengobrol.”
Clarissa mengangguk, lalu menunduk memandang gelas di tangannya.
“Dulu, aku sering kesal karena dia terlalu diam.”
Alisha tidak menyela.
Clarissa mengangkat wajah lagi.
“Kadang-kadang, aku harus menebak sendiri apa yang sedang dipikirkannya. Kalau ada masalah, dia lebih suka menyelesaikannya sendiri daripada membicarakannya denganku.”
Ia tertawa kecil, tetapi tawanya tidak sepenuhnya terdengar ringan.
“Pernah suatu kali aku bertanya apakah dia sedang marah. Dia hanya menjawab tidak, lalu kembali bekerja. Aku sampai berpikir bahwa mungkin aku telah melakukan sesuatu yang salah.”
Alisha mendengarkan dengan saksama.
Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya berhadapan dengan seseorang yang tidak mudah mengungkapkan pikiran. Adrian memang bukan orang yang suka menjelaskan banyak hal tanpa alasan.
Namun, Alisha tidak merasa perlu menilai hubungan Clarissa dengan Adrian berdasarkan cerita tersebut.
“Aku rasa setiap orang punya cara sendiri untuk menghadapi masalah,” katanya akhirnya.
Clarissa mengangguk.
“Benar. Hanya saja, dulu aku ingin dia lebih terbuka.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Adrian selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi terkadang aku ingin mendengar lebih banyak daripada sekadar kalimat itu.”
Alisha memahami maksudnya, tetapi ia tidak memberikan tanggapan panjang.
Percakapan mereka masih terasa seperti dua orang yang sedang mencoba mengenal satu sama lain.
Clarissa kemudian mengajukan pertanyaan lain.
“Bagaimana kehidupan kalian setelah menikah? Apakah Adrian masih sering pulang malam?”
“Cukup sering,” jawab Alisha jujur. “Pekerjaannya memang banyak.”
“Dia memang seperti itu.”
Clarissa tersenyum kecil.
“Bahkan ketika kami masih bersama, pekerjaan selalu menjadi bagian besar dari kehidupannya.”
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, seolah mulai tenggelam dalam kenangan lama.
“Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih kuingat. Waktu itu kami sudah membuat janji makan malam. Aku sudah bersiap dari sore, tetapi Adrian mengirim pesan bahwa rapatnya belum selesai.”
Clarissa menggeleng pelan.
“Aku marah sekali. Aku merasa dia selalu menganggap waktuku bisa menunggu.”
“Lalu bagaimana?” tanya Alisha.
“Dia datang terlambat hampir dua jam. Ketika tiba, dia meminta maaf dan menjelaskan bahwa ada masalah penting di perusahaan. Aku masih kesal, tetapi akhirnya tetap makan bersamanya.”
Clarissa tertawa kecil.
“Besoknya, dia mengirimkan makanan ke tempat kerjaku karena merasa bersalah. Dia tidak pandai meminta maaf dengan kata-kata panjang, jadi biasanya dia melakukan sesuatu sebagai gantinya.”
Alisha mengangguk pelan.
“Begitu, ya.”
“Ya. Kadang-kadang, dia memang bisa perhatian. Tetapi karena dia jarang mengatakannya secara langsung, orang lain mungkin tidak menyadarinya.”
Alisha teringat beberapa hal kecil yang dilakukan Adrian sejak mereka menikah.
Laki-laki itu pernah menanyakan keadaan ibunya, menawarkan agar Alisha mengatur jadwal kerja ketika harus pergi ke rumah sakit, dan memastikan bahwa Alisha tidak memaksakan diri ketika kelelahan.
Namun, Alisha tidak menghubungkan hal-hal tersebut dengan cerita Clarissa.
Adrian mungkin memang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kepedulian. Itu tidak berarti setiap tindakan baiknya harus ditafsirkan sebagai sesuatu yang istimewa.
Terlebih, mereka sudah memiliki kesepakatan sejak awal.
Alisha tidak ingin membuat kesimpulan yang tidak perlu.
---
Percakapan berlanjut ketika Clarissa mulai menceritakan kenangan lain.
Ia bercerita tentang sebuah restoran kecil di pusat kota yang dahulu sering mereka kunjungi. Tempat itu bukan restoran mewah, tetapi memiliki makanan yang disukai Adrian.
“Dia selalu memesan menu yang sama,” kata Clarissa sambil tersenyum. “Aku pernah menyuruhnya mencoba sesuatu yang berbeda, tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia sudah tahu makanan mana yang cocok untuknya.”
Alisha tertawa kecil mendengar cerita tersebut.
“Sepertinya dia memang tidak suka mengambil keputusan yang tidak perlu.”
“Benar sekali. Kalau soal pekerjaan, dia bisa memikirkan banyak kemungkinan. Tetapi kalau soal makanan, dia justru sangat sederhana.”
Clarissa kemudian menceritakan sebuah kejadian ketika mereka berjalan-jalan setelah hujan.
Waktu itu, Clarissa tidak membawa jaket. Cuaca mendadak menjadi dingin, dan ia mulai mengeluh karena pakaiannya terkena angin.
Adrian yang berjalan di sampingnya akhirnya melepaskan jaket dan memberikannya kepada Clarissa.
“Dia sendiri hanya mengenakan kemeja,” kata Clarissa. “Aku sempat menyuruhnya memakai kembali jaket itu, tetapi dia menolak.”
“Lalu kamu mengembalikannya?”
“Tentu saja. Keesokan harinya, aku mencucinya dan mengembalikannya ke kantor.”
Clarissa tersenyum saat mengingat kejadian tersebut.
“Hal kecil seperti itu membuatku merasa dia sebenarnya peduli. Hanya saja, dia tidak pernah pandai menunjukkan perasaan.”
Alisha mendengarkan sampai Clarissa selesai berbicara.
Ia tidak merasa tersaingi oleh kenangan tersebut. Ia juga tidak berusaha membayangkan apakah Adrian akan melakukan hal yang sama kepadanya jika mereka berada dalam situasi serupa.
Baginya, itu adalah cerita tentang dua orang yang pernah menjalin hubungan.
Tidak lebih.
Clarissa mungkin masih mengingat kejadian itu karena memiliki arti tersendiri baginya. Namun, Alisha tidak harus merasakan hal yang sama.
Setelah beberapa saat, Clarissa menyadari bahwa Alisha tidak menunjukkan reaksi yang ia harapkan.
Perempuan itu tetap mendengarkan dengan sopan, sesekali mengangguk atau memberikan komentar singkat. Tidak ada perubahan sikap yang berarti.
Akhirnya, Clarissa bertanya secara langsung.
“Kamu tidak penasaran dengan cerita-ceritaku?”
Alisha mengangkat wajah.
“Penasaran tentang apa?”
“Tentang hubunganku dengan Adrian dulu.”
Alisha berpikir sebentar.
“Kalau kamu ingin bercerita, aku bisa mendengarkan. Tetapi aku tidak merasa harus mengetahui semua hal yang terjadi sebelum aku mengenal Adrian.”
Clarissa tampak terkejut.
“Benarkah?”
Alisha mengangguk.
“Setiap orang punya masa lalu, Clarissa. Aku juga punya masa lalu sendiri. Aku tidak berharap Adrian menceritakan setiap hal yang pernah terjadi dalam hidupnya sebelum kami menikah.”
“Tapi aku adalah mantan kekasihnya.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tidak merasa terganggu karena aku datang ke sini?”
Alisha meletakkan gelasnya di atas meja.
“Sejujurnya, aku sedikit terkejut karena tidak tahu kamu akan datang. Tapi aku tidak merasa perlu mempermasalahkan hubungan kalian yang sudah berlalu.”
Clarissa terdiam.
Alisha melanjutkan dengan nada tenang.
“Kalau kalian pernah memiliki kenangan baik, itu tetap menjadi bagian dari kehidupan kalian. Aku tidak bisa mengubahnya, dan aku juga tidak perlu menyangkalnya.”
“Tapi bagaimana kalau suatu hari Adrian ingin bertemu denganku?”
Alisha tidak langsung menjawab. Ia mempertimbangkan pertanyaan tersebut sebelum akhirnya berkata, “Kalau dia ingin bertemu denganmu, itu keputusan Adrian. Kalian bisa membicarakan hal-hal yang memang perlu dibicarakan.”
“Kamu akan membiarkannya?”
Alisha sedikit mengernyit.
“Aku bukan orang yang bisa menentukan siapa saja yang boleh dia temui. Selama semuanya dilakukan dengan saling menghormati batasan, aku tidak punya alasan untuk melarang.”
Clarissa menatap Alisha cukup lama.
Jawaban itu terdengar masuk akal, tetapi justru membuatnya semakin sulit memahami perempuan di hadapannya.
Ia membayangkan istri Adrian akan merasa tidak nyaman ketika mendengar cerita tentang mantan kekasih suaminya. Mungkin perempuan itu akan bertanya sejak kapan mereka berpisah, apakah Adrian masih menyimpan perasaan, atau apakah Clarissa berniat kembali ke kehidupan laki-laki tersebut.
Namun, tidak satu pun pertanyaan itu muncul.
Alisha bahkan tidak terlihat berusaha mencari tahu apakah Clarissa masih mencintai Adrian.
Seolah-olah semua cerita tadi memang tidak memiliki pengaruh terhadap dirinya.
Clarissa akhirnya menunduk.
“Sepertinya kamu lebih tenang daripada yang kubayangkan.”
Alisha tersenyum tipis.
“Mungkin karena aku tidak ingin memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi masalah.”
Jawaban itu membuat Clarissa terdiam lagi.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kedatangannya mungkin tidak menghasilkan apa yang ia harapkan.
Ia ingin mengetahui seperti apa istri Adrian.
Sekarang, ia sudah mengetahui sedikit tentang Alisha, tetapi justru muncul lebih banyak pertanyaan.
---
Waktu menunjukkan hampir pukul lima sore ketika Clarissa kembali memeriksa jam tangannya.
Adrian belum pulang.
Ia mulai mempertimbangkan untuk pergi karena tidak ingin menghabiskan terlalu banyak waktu di rumah tersebut. Namun, sebagian dirinya masih berharap Adrian tiba sebelum ia meninggalkan tempat itu.
Alisha memperhatikan gerak-geriknya.
“Kalau kamu masih ingin menunggu, tidak apa-apa,” katanya. “Tetapi aku tidak tahu apakah Adrian akan pulang sebentar lagi.”
Clarissa menggeleng pelan.
“Sepertinya aku harus pergi. Aku tidak ingin mengganggu waktumu.”
“Kamu tidak mengganggu.”
“Terima kasih sudah menemaniku.”
Alisha berdiri.
“Sama-sama.”
Mereka berjalan menuju pintu depan.
Sebelum melangkah keluar, Clarissa berhenti dan menoleh kepada Alisha.
“Aku boleh bertanya satu hal lagi?”
“Tentu.”
“Apakah Adrian selalu seperti ini setelah menikah? Maksudku, apakah dia masih terlalu sibuk dengan pekerjaan?”
Alisha mengangguk.
“Kurang lebih begitu. Tetapi aku juga punya pekerjaan sendiri, jadi kami biasanya mengurus kesibukan masing-masing.”
Clarissa tersenyum kecil.
“Jadi, kalian tidak terlalu sering menghabiskan waktu bersama?”
Alisha tidak merasa perlu menjelaskan secara terperinci bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga.
“Jadwal kami berbeda-beda. Kalau ada waktu, kami bisa makan bersama atau berbicara sebentar.”
Clarissa mengangguk pelan.
“Begitu, ya.”
Alisha membuka pintu.
“Hati-hati di jalan, Clarissa.”
“Terima kasih, Alisha.”
Clarissa melangkah keluar, tetapi sebelum berjalan menuju mobilnya, ia kembali menoleh.
“Senang bisa bertemu denganmu.”
“Senang bertemu denganmu juga.”
Clarissa kemudian pergi.
Alisha menutup pintu dan berdiri sejenak di ruang depan.
Kunjungan itu memang tidak terduga, tetapi tidak ada sesuatu yang menurutnya perlu dipermasalahkan.
Ia kembali menuju ruang keluarga, mengambil gelas yang tadi digunakan Clarissa, lalu membawanya ke dapur.
Setelah mencuci gelas, ia kembali duduk di sofa dan membuka buku catatannya.
Angka-angka pengeluaran rumah sakit masih menunggu untuk diperiksa.
Alisha mengambil pena dan melanjutkan pekerjaannya.
Tidak lama kemudian, ia kembali sibuk menghitung, seolah kunjungan Clarissa hanyalah kejadian kecil yang tidak mengubah apa pun dalam hidupnya.
---
Di dalam mobil, Clarissa duduk diam sambil memandang jalanan yang mulai padat.
Pengemudi taksi yang membawanya sesekali memperlambat kendaraan karena lalu lintas sore. Namun, Clarissa hampir tidak memperhatikan keadaan di luar.
Pikirannya masih tertuju pada percakapannya dengan Alisha.
Ia teringat bagaimana perempuan itu menyambutnya tanpa berlebihan, memberinya minum, dan membiarkannya berbicara tentang masa lalu.
Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus membela diri.
Alisha bahkan tidak berusaha mencari tahu apakah Clarissa masih memiliki perasaan kepada Adrian.
Clarissa menyandarkan kepala ke kursi.
“Dia benar-benar berbeda,” gumamnya.
Ia tidak tahu apakah harus merasa lega atau justru semakin penasaran.
Jika Alisha begitu tenang menghadapi kedatangan mantan kekasih suaminya, apakah itu berarti ia sangat percaya kepada Adrian?
Atau karena ia tidak terlalu memedulikan kehidupan pribadi Adrian?
Clarissa tidak bisa memastikan.
Ia teringat jawaban Alisha bahwa setiap orang memiliki masa lalu dan tidak perlu menyangkalnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi terus terngiang di pikirannya.
Clarissa kemudian mengambil ponsel dan membuka ruang percakapan dengan Adrian.
Ia ingin mengirim pesan bahwa dirinya tadi sudah berkunjung ke rumah.
Namun, setelah mengetik beberapa kata, ia berhenti.
Ia tidak ingin Adrian merasa bahwa kedatangannya merupakan cara untuk memaksakan pertemuan.