NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11. Memilihmu.

Vellano berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sementara Alessia naik ke tempat tidur, bersandar pada kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.

Di tengah keheningan, ponsel Vellano tiba-tiba berdering.

Nama Ansley muncul di layar.

Vellano terdiam beberapa detik. Tatapannya beralih kepada Alessia, seolah meminta izin tanpa ingin menyembunyikan apa pun. Alessia yang masih duduk di tepi ranjang hanya menghela napas pelan.

“Angkat saja,” katanya.

Vellano akhirnya menerima panggilan itu.

“Ansley?”

Namun suara di seberang membuat wajahnya seketika berubah. Napas Ansley terdengar berat dan bergetar hebat, seperti sedang berusaha menahan tangis.

“Vellano... aku... aku tidak tahu harus menghubungi siapa.”

Vellano langsung duduk tegak. “Apa yang terjadi?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Hanya isak tertahan yang terdengar dari seberang.

Vellano mengepalkan tangannya. Pikirannya kacau. Ansley jelas sedang tidak baik-baik saja. Tetapi di sampingnya, Alessia duduk dengan dahi yang masih dijahit dan lengan yang terbungkus gips.

Lebih buruk lagi, mansion itu hampir kosong. Para maid sudah pulang pukul sepuluh malam dan baru akan kembali pukul enam pagi. Hanya penjaga gerbang yang berjaga.

Vellano menatap Alessia sekali lagi.

Untuk pertama kalinya malam itu,ia benar-benar tidak tahu harus memilih apa

Vellano menarik napas panjang, mendengarkan suara Ansley yang masih bergetar di seberang telepon. Ia tahu wanita itu sedang kesakitan dan benar-benar membutuhkan seseorang. Namun untuk pertama kalinya, Vellano tidak membiarkan rasa bersalah mengendalikan keputusannya.

“Aku tidak bisa ke sana, Ansley.”

Suasana di seberang langsung hening.

Vellano melirik Alessia yang masih duduk diam di ranjang. Dahi wanita itu masih diperban, lengan kanannya terbungkus gips. Tatapannya terlihat lelah, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Alessia adalah istriku,” lanjut Vellano tegas. “Dan dia juga membutuhkanku sekarang.”

Suara Ansley terdengar semakin pelan. “Jadi... kamu benar-benar tidak datang?”

“Tidak. Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini.” Vellano segera mengambil ponselnya yang lain. “Aku akan menyuruh Maxime mencari dokter untukmu. Kau tetap di apartemen mu dan tunggu di sana.”

Panggilan itu berakhir dengan keheningan yang terasa berat.

Ansley kembali kecewa.

Lagi.

Dan lagi.

Sementara Vellano hanya terdiam, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, memilih Alessia terasa jauh lebih benar daripada terus mempertahankan sesuatu yang seharusnya sudah ia lepaskan.Panggilan itu berakhir. Vellano menurunkan ponselnya perlahan, tetapi belum sempat meletakkannya ketika suara Alessia terdengar dari ranjang.

“Kenapa kamu memilih tetap di sini?”

Vellano menoleh.Alessia menatapnya dengan ekspresi tenang, meski ada sedikit kebingungan di matanya.

“Ansley jelas sedang membutuhkanmu. Kalau memang dia sakit atau dalam keadaan buruk, kamu seharusnya pergi.”

Vellano terdiam.

Alessia menarik napas pelan. “Aku tahu pernikahan kita hanya sebuah kontrak. Jadi, aku tidak akan ikut campur dalam urusan pribadimu. Kalau kamu ingin pergi menemuinya, pergilah. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Vellano menatapnya cukup lama sebelum menggeleng.

“Tidak sesederhana itu, Alessia.”

Ia mendekat beberapa langkah.

“Kita sudah menikah. Apa pun alasannya, sekarang kau adalah istriku. Dan selama perjanjian itu masih berlaku, aku punya tanggung jawab terhadapmu.”

Alessia terdiam mendengar jawabannya.

Vellano kemudian menambahkan dengan nada lebih rendah, “Lagipula, kalau aku pergi ke apartemen Ansley tengah malam seperti ini dan media mengetahuinya, itu akan menjadi masalah besar. Mereka tidak akan peduli dengan alasannya. Yang mereka lihat hanya seorang pria menikah mendatangi wanita lain sendirian di tengah malam.”

Alessia menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

Untuk pertama kalinya, alasan Vellano terdengar begitu masuk akal—namun entah mengapa, dadanya tetap terasa sedikit hangat mendengarnya.

..........

   Dua minggu berlalu sejak malam ketika panggilan Ansley mengubah suasana di antara Alessia dan Vellano. Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan menjadi lebih hangat. Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam semalam, tetapi perhatian-perhatian kecil mulai terasa begitu nyata.

Alessia sudah sepenuhnya pulih. Jahitan di dahinya telah dilepas dan lengannya tidak lagi membutuhkan gips. Ia bahkan sudah kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa.

Siang itu, mereka sedang makan siang di sebuah restoran mewah yang cukup ramai. Vellano sebenarnya tengah disibukkan dengan berbagai urusan di kantor, tetapi ia tetap menyempatkan diri datang.

Alessia menatapnya dari seberang meja. “Kamu yakin tidak seharusnya berada di kantor?”

Vellano memotong steak dengan tenang. “Aku bisa bekerja setelah makan.”

“Hebat. Ternyata CEO perusahaan bisa makan siang juga.”

Vellano mengangkat alis. “Maksudmu selama ini aku tidak pernah makan?”

“Entahlah. Wajahmu selalu seperti orang yang sedang memikirkan laporan keuangan.”

Vellano menatapnya datar.

Alessia langsung menahan tawa.

Beberapa detik kemudian, Vellano justru tersenyum tipis. “Setidaknya wajahku tidak seperti orang yang baru saja kabur dari rumah sakit.”

Alessia langsung memasang wajah kesal. “Hei!”

Vellano tertawa kecil. Itu membuat Alessia terdiam sejenak. Ia jarang melihat suaminya tertawa seperti itu.

Pelayan datang membawa hidangan penutup. Alessia tanpa ragu langsung mengambil salah satu kue dari piring Vellano.

“Itu punyaku,” ujar Vellano.

“Sekarang punyaku.”

“Kamu punya sendiri.”

“Aku mau yang itu.”

Vellano menatap kue yang sudah berpindah ke piring Alessia, lalu menghela napas pasrah. “Baiklah.”

Alessia tersenyum puas.

Hubungan mereka memang masih dibangun di atas sebuah pernikahan kontrak. Namun tanpa disadari keduanya, batas antara kewajiban dan perhatian perlahan mulai menjadi semakin kabur.

Dan mungkin, justru itulah yang membuat suasana di antara mereka terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.Setelah makan siang selesai, Alessia dan Vellano meninggalkan restoran. Namun baru beberapa langkah menuju mobil, Alessia tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Vellano.”

“Hm?”

“Aku mau balapan.”

Vellano langsung menoleh. “Tidak.”

Jawaban itu terlalu cepat sampai Alessia mengernyit.

“Aku bahkan belum menjelaskan.”

“Tidak perlu. Aku sudah tahu mau ke mana arahnya.”

Alessia mendengus. “Aku balapan legal. Di sirkuit resmi, bukan jalanan.”

“Alessia, kau baru saja sembuh dari kecelakaan.”

“Aku sudah sembuh.”

“Kau baru sembuh dua minggu lalu.”

Alessia menyilangkan tangan di dada. “Kontrak.”

Vellano terdiam.

Alessia tersenyum penuh kemenangan. “Di dalam perjanjian pernikahan kita tertulis jelas bahwa suami harus memberi izin dan membayar biaya pendaftaran untuk dua kali balapan dalam sebulan.”

Vellano menghela napas panjang. “Kau benar-benar menghafal isi kontrak itu?”

“Tentu. Aku bahkan tahu halaman dan paragrafnya.”

Vellano menatapnya tidak percaya. “Aku menikahi pengacara atau pembalap?”

“Dua-duanya.”

Vellano akhirnya kalah. Ia mengusap kening sambil bergumam, “Aku mulai menyesal menandatangani kontrak itu.”

Alessia tertawa kecil.

Sebelum berpisah, Vellano menatapnya serius. “Baik. Pergilah. Tapi hati-hati.”

Alessia mengangguk.

“Dan satu lagi,” lanjutnya. “Kau harus pulang dengan selamat.”

Alessia terdiam sejenak sebelum tersenyum. “Aku akan pulang.”

Vellano mengangguk, tetapi tatapannya masih menyimpan kekhawatiran.

..................

 Sementara itu, jauh dari restoran tempat Alessia dan Vellano menikmati makan siang, suasana di rumah sakit terasa jauh lebih sunyi.

Ansley terbaring lemah di atas ranjang. Hari itu ia dijadwalkan menjalani operasi usus buntu. Dua minggu sebelumnya, kondisinya sempat memburuk hingga membuatnya menelepon Vellano di tengah malam. Saat itu, Vellano memilih tetap berada di sisi Alessia.

Namun Ansley masih beruntung. Vellano mengutus Maxime untuk segera mencari dokter. Dokter tersebut datang tepat waktu, memberikan pertolongan pertama, kemudian memastikan Ansley dibawa ke rumah sakit. Tanpa bantuan itu, kondisinya mungkin sudah jauh lebih fatal.

Tetapi pertolongan itu tidak mampu menyembuhkan luka yang lain—luka di hatinya.

Ansley memejamkan mata, dan bayangan tiga tahun terakhir kembali memenuhi pikirannya. Tawa Vellano, perhatian kecilnya, makan malam bersama, hingga malam-malam ketika mereka berbicara berdua. Semua kenangan itu terasa begitu nyata.

Air matanya perlahan mengalir.

Ia tahu dirinya salah. Vellano kini sudah memiliki seorang istri. Seharusnya ia tahu kapan harus berhenti.

Namun bagian paling egois dalam dirinya terus berbisik bahwa Vellano adalah miliknya.

Baginya, Alessia datang belakangan.

Sedangkan dirinya dan Vellano telah saling mengenal dan mencintai selama tiga tahun.

Ansley menggenggam selimut erat-erat.

Untuk pertama kalinya, ia mulai takut bahwa tiga tahun kenangan itu mungkin tidak cukup untuk membuat Vellano tetap memilihnya.

Lamunan Ansley buyar ketika pintu bangsal perlahan terbuka. Ia mengangkat kepala dan terkejut melihat Vellano berdiri di sana. Pria itu datang diam-diam, memastikan kedatangannya tidak diketahui media. Di tangannya terdapat beberapa buah segar dan sekotak kue kesukaan Ansley.

Senyum Ansley seketika merekah.

“Kamu datang…”

Vellano mengangguk. “Bagaimana keadaanmu?”

Untuk beberapa saat, suasana di antara mereka kembali seperti dulu. Mereka mengobrol tentang hal-hal kecil, bahkan sesekali tertawa. Ansley sempat merasa seolah tiga tahun hubungan mereka belum berubah.

Namun kebahagiaan itu perlahan meredup ketika Vellano mulai berbicara lebih serius.

“Ansley, aku datang bukan untuk membuatmu berharap.”

Senyumnya menghilang.

Vellano menatapnya lembut, tetapi tegas. “Kita harus mulai memahami batas. Ada hal-hal yang tidak bisa lagi kita lakukan seperti dulu.”

Ansley terdiam.

“Aku tetap peduli padamu,” lanjutnya, “tapi sekarang hidupku sudah berubah. Aku punya tanggung jawab yang tidak bisa kuabaikan.”

Tawa yang sebelumnya memenuhi ruangan benar-benar lenyap.

Ansley menunduk, sementara Vellano tidak mengucapkan kata berpisah sedikit pun.

Namun dari tatapannya, Ansley sudah memahami maksudnya.

Mungkin, tanpa mengatakan secara gamblang, Vellano sedang perlahan mengakhiri segalanya.

Vellano akhirnya berdiri dari kursinya. Tatapannya sempat jatuh pada Ansley yang masih terdiam dengan mata berkaca-kaca.

“Aku harus pergi,” ucapnya pelan. “Ada rapat dengan beberapa klien besar yang tidak bisa ditunda.”

Ansley mengangguk kecil, berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Iya... aku mengerti.”

Vellano mengambil jasnya, lalu menatapnya sekali lagi. “Jaga dirimu. Operasimu besok, jadi jangan terlalu banyak berpikir.”

Kalimat sederhana itu justru semakin membuat hati Ansley sesak.

“Terima kasih sudah datang,” bisiknya.

Vellano hanya mengangguk sebelum akhirnya melangkah keluar dari bangsal.

Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Ansley sendirian bersama kesunyian dan pikirannya.

Ia menatap buah dan kue pemberian Vellano, lalu tersenyum pahit.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar kehilangan pria yang selama ini ia yakini akan selalu menjadi miliknya.

................

Malam semakin larut ketika Vellano akhirnya menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Setelah rapat terakhir dengan klien selesai, ia segera kembali ke mansion.

Begitu memasuki ruang utama, langkahnya terhenti. Alessia sudah menunggunya. Tatapan istrinya langsung membuat Vellano tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda.

“Kamu bertemu Ansley,” ujar Alessia pelan.

Vellano menghela napas. “Aku hanya menjenguknya.”

“Diam-diam?”

“Itu supaya media tidak membuat masalah.”

Alessia tertawa hambar. “Kamu tidak perlu menjelaskan. Aku tahu pernikahan kita hanya kontrak.”

“Kalau begitu, jangan ikut campur.”

Ucapan itu membuat suasana seketika menegang.

“Aku tidak ikut campur,” bantah Alessia. “Aku hanya mengingatkan isi perjanjian. Kita harus menjaga citra kedua keluarga. Kalau suami yang berasal dari keluarga Luca terlihat mengunjungi wanita lain diam-diam, siapa yang akan terkena dampaknya?”

Vellano terdiam, emosinya mulai naik.

“Cukup, Alessia.”

“Kenapa? Aku salah?”

“Yang salah adalah kau terus menganggap semuanya hanya soal kontrak!”

Alessia tertegun.

Vellano menatapnya tajam. “Aku memilihmu, Alessia. Sejak kecelakaan itu.”

Hening.

Alessia membeku, sementara Vellano yang sudah terlanjur emosi berbalik dan meninggalkannya menuju kamar.

Untuk pertama kalinya, pertengkaran mereka terasa jauh lebih personal daripada sekadar urusan pernikahan kontrak.

Alessia masih berdiri terpaku di ruang utama setelah Vellano meninggalkannya. Kalimat suaminya terus terngiang di kepalanya.

“Aku memilihmu, Alessia. Sejak kecelakaan itu.”

Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Namun rasa bersalah perlahan mengalahkan emosinya. Ia tidak seharusnya membiarkan pertengkaran itu berakhir seperti tadi.

“Vellano...” gumamnya pelan.

Alessia akhirnya bergegas menyusul suaminya ke lantai atas, menuju kamar utama tempat mereka tidur. Langkahnya terburu-buru karena takut Vellano semakin marah atau salah memahami perkataannya.

Namun baru beberapa anak tangga dinaiki, kakinya tiba-tiba salah berpijak.

“Aah!”

...****************...

 Bagaimana kelanjutan Alessia dan Vellano? akankah mereka kembali bertengkar?

stay tune ya!.Terimakasih untuk yang sudah mampir.

 Semoga sehat selalu dan salam damai 🥰

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 1 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!