NovelToon NovelToon
Dukun Gadungan

Dukun Gadungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Al-Ashar

Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lentera Baru dari Timur

Angin malam Pantai Tenau bertiup lembut, membawa aroma garam dan desir gelombang yang menghempas pelan di bebatuan karang. Mamat menutup kembali kotak kayu berisi pisau nelayan pemberian warga, lalu menyerahkannya kepada Rian. Di mata pemuda Nusa Tenggara Timur itu, Mamat melihat nyala api yang sama dengan binar nekatnya puluhan tahun lalu di Kampung Kalisari—bedanya, niat di balik mata Rian adalah murni keberpihakan pada rakyat kecil.

"Simpan pisau ini di kantor cabang Kupang, Rian," kata Mamat dengan suara bernada dalam namun hangat. "Setiap kali kamu merasa lelah atau godaan uang suap dari tengkulak mulai menggoyahkan imanmu, lihat pisau ini. Ingat keringat nelayan Buleleng dan Tenau yang menggaram di baju mereka."

Rian menerima kotak kayu itu dengan kedua tangannya, membungkuk takzim. "Siap, Pak Mamat. Saya janji, cabang Kupang tidak akan pernah melenceng dari prinsip kejujuran yang Bapak ajarkan."

Pak Bintoro yang duduk di sebelah Mamat mengisap rokok kreteknya dalam-dalam. Kelekatan malam dan gemerlap bintang di atas Selat Ombai membawa ingatan pensiunan polisi militer itu melayang jauh ke belakang.

"Siapa yang bakal sangka ya, Mat..." gumam Pak Bintoro sambil menghembuskan asap tipis ke udara. "Dulu aku ketok pintumu sampai jebol gara-gara kapur barus sama semprotan racun nyamuk. Sekarang aku duduk di pantai Kupang, lihat kamu mencetak puluhan anak muda pintar buat memajukan negeri."

Mamat tertawa terkekeh, tawa sengau khasnya yang tak pernah berubah meski jas dan kemeja sutra pernah melekat di tubuhnya. "Dunia ini muternya cepat, Pak Bintoro. Kalau dulu Pak Bintoro ndak nendang pintu kamar belakangku, mungkin sampai sekarang aku masih jadi dukun udro yang dikejar-kejar penagih utang pinjol."

Darto dan Bowo yang duduk di dekat empasan ombak ikut tertawa berderai. Rasa hangat persaudaraan mengikat mereka bertiga—tiga pemuda yang dulu tidak dianggap oleh siapa pun, kini berdiri tegak sebagai pilar perubahan.

Tiga hari setelah peresmian cabang Kupang, Mamat, Darto, dan Bowo terbang kembali menuju Bali. Sesampainya di Brajamukti Cultural & Mindset Center Umalas, suasana yayasan tampak kian sibuk. Pendaftaran untuk Akademi Pendamping Rakyat Angkatan Kedua telah dibuka secara daring, dan dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, jumlah pendaftar membludak menembus angka lima ribu orang dari Sabang sampai Merauke.

Di ruang kerja utama yang tenang, Mamat duduk berhadapan dengan Darto dan Bowo. Di atas meja kayu jati, terhampar berkas-berkas laporan keuangan, peta persebaran alumni akademi, serta rencana pembangunan pusat pelatihan keterampilan untuk mantan narapidana dan pemuda putus sekolah.

"Mat," buka Darto sambil merapikan kacamata baca barunya. "Anggaran dana sosial kita dari keuntungan unit usaha pendampingan bisnis tahun ini melimpah banget. Kalau kita pakai seluruhnya buat mendanai seratus peserta akademi angkatan kedua, kas yayasan masih sisa banyak. Mau kita alokasikan ke mana sisanya?"

Mamat menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memandangi tanaman hijau di pekarangan luar lewat jendela kaca.

"Bikin Lumbung Modal Mandiri, To," sahut Mamat mantap. "Banyak alumni akademi kita yang sudah sukses mendampingi pedagang pasar dan petani, tapi pas mau eksekusi ide bisnis baru, mereka tetap mentok di modal awal. Kalau lari ke bank formal, syarat agunannya terlalu ribet buat rakyat kecil. Kalau lari ke pinjol atau tengkulak, leher mereka yang tercekik."

Bowo manggut-manggut setuju. "Maksudmu, yayasan kita ngasih pinjaman modal tanpa bunga dan tanpa agunan fisik, Mat?"

"Betul," tegas Mamat. "Agunannya cuma satu: Rekomendasi dari pendamping akademi lokal dan komitmen kejujuran. Kalau usaha mereka rugi gara-gara bencana atau musibah alam, kita dampingi sampai bangkit. Tapi kalau ada yang coba-coba main curang atau memalsukan laporan keuangan..."

Mamat menyunggingkan senyum tipisnya yang penuh perhitungan. "...mereka bakal berhadapan sama sistem verifikasi lapangan Darto dan Bowo!"

Bowo terkekeh sambil mengepalkan tangannya. "Sip! Urusan mengendus kecurangan sama laporan palsu mah serahkan ke kami, Bos!"

Di tengah kesibukan mempersiapkan Akademi Angkatan Kedua, sebuah mobil MPV putih mengkilap memasuki pelataran Brajamukti Center. Dari dalam mobil, melangkah keluar Mbak Siska bersama suaminya, Tom, dan seorang bayi mungil yang berada di dalam boks bayi portabel.

Mamat, Darto, dan Bowo yang sedang berdiri di teras depan segera menyambut kedatangan mantan pasien pertama mereka di Semarang itu dengan wajah berseri-seri.

"Kang Mamat! Eh, Pak Mamatya!" sapa Mbak Siska riang sambil merangkul lengan suaminya.

"Mbak Siska! Wah, bawa anggota keluarga baru ini!" seru Mamat ramah, mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.

Tom, pria bule asal Australia itu, menjabat tangan Mamat dengan penuh rasa hormat. "Hello, Master Mamatya. It's so good to see you again. We are here not for personal consultation this time."

Mbak Siska tersenyum lebar, mengambil selembar berkas dokumen dari tas tangannya lalu menyerahkannya kepada Mamat.

"Kang Mamat..." kata Mbak Siska tulus. "Saya sama Tom baru saja menjual salah satu aset properti kami di Sydney. Kami sepakat mau mengalokasikan sepuluh miliar rupiah untuk dihibahkan penuh ke Lumbung Modal Mandiri Brajamukti."

Mamat, Darto, dan Bowo seketika terperanjat! Tiga pasang mata itu melotot tak percaya menatap dokumen hibah bernilai fantastis tersebut.

"S-Sepuluh miliar rupiah, Mbak?!" gagap Darto, suaranya sampai sedikit bergetar.

Mbak Siska mengangguk mantap. "Iya, Darto. Dulu saat saya berada di titik paling hancur gara-gara batal nikah, Kang Mamat yang kasih saya harapan dan nyawa baru lewat nasihat-nasihatnya. Sekarang, saat hidup saya sudah sangat bahagia dan berkecukupan, saya mau uang ini dipakai buat kasih 'nyawa baru' untuk ribuan perempuan dan pelaku UMKM kecil di luar sana."

Mamat memandangi dokumen hibah di tangannya, lalu menatap Mbak Siska dan Tom dengan mata yang berkaca-kaca terharu. Siklus kebaikan yang ditanam Mamat lewat kejujuran dan pendampingan yang tulus beberapa tahun lalu kini membuah hasil manis yang berlipat ganda.

"Matur nuwun sanget, Mbak Siska, Mr. Tom..." ucap Mamat dengan suara penuh ketakziman. "Uang ini akan kami jaga dan salurkan sampai rupiah terakhir untuk rakyat yang benar-benar membutuhkan."

Bulan-bulan berlalu membawa Brajamukti Center semakin melambung tinggi sebagai benteng ekonomi kerakyatan terdepan di Indonesia.

Hari itu, peresmian Akademi Pendamping Rakyat Angkatan Kedua digelar di aula utama. Seratus peserta muda terpilih dari seluruh pelosok negeri duduk bersila di atas karpet tenun, siap menyerap ilmu dan pengalaman hidup dari seorang Mamat.

Mamat melangkah naik ke atas panggung utama. Di belakangnya, terpasang sebuah bingkai kaca besar tempat tersimpannya Keris Bengkok Brajamukti—keris tua karatan bekas pencabut tanaman di Kali Garang yang kini telah purna tugas dari dunia penipuan.

Mamat memandang seratus pasang mata anak muda di hadapannya.

"Anak-anakku..." buka Mamat, suaranya mengalun tenang dan merasuk ke dalam jiwa para peserta. "Di belakang saya ini ada sebuah keris tua yang bengkok. Dulu, keris ini saya jadikan alat untuk membodohi orang-orang demi sesuap nasi dan melunasi utang pinjol."

Seluruh peserta hening, mendengarkan cerita sang mentor dengan rasa ingin tahu yang mendalam.

"Saya pernah menjadi manusia paling licik," lanjut Mamat jujur. "Saya pernah jualan mantra palsu, jualan angin motivasi di hotel bintang lima, dan lari dari kejaran warga. Tapi di puncak kejayaan palsu itu, saya tidak pernah merasakan tidur nyenyak satu malam pun. Ketakutan akan kebohongan yang terbongkar selalu menghantui setiap helai napas saya."

Mamat mengambil jeda sejenak, memandangi Darto dan Bowo yang berdiri bangga di sudut panggung.

"Sampai akhirnya saya sadar..." kata Mamat dengan binar mata yang memancarkan pencerahan abadi, "...bahwa kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada kita bukanlah untuk membodohi sesama, melainkan untuk menjadi jembatan bagi mereka yang lemah. Saat kalian memilih berjalan di jalur kejujuran, kalian mungkin tidak langsung kaya raya dalam semalam. Tapi kalian akan mendapatkan dua hal yang tidak bisa dibeli pakai uang miliaran rupiah: Ketenangan jiwa dan kehormatan yang abadi."

Tepuk tangan bergemuruh memecahkan keheningan aula! Seratus peserta akademi berdiri memberikan hormat, matanya berbinar-binar dipenuhi tekad untuk menjadi agen perubahan bagi daerah asal mereka masing-masing.

Sore harinya, setelah seluruh rangkaian acara pelantikan usai, Mamat, Darto, dan Bowo berjalan bersama menuju bukit kecil di belakang kompleks villa Umalas. Dari atas bukit itu, hamparan pemandangan laut selatan Bali dan lautan sawah hijau terhampar luas di bawah sinar matahari terbenam yang merah keemasan.

Ketiga sahabat itu duduk bersila di atas rumput hijau, menikmati hembusan angin sore sambil membawa tiga cangkir kopi hitam panas.

Darto merogoh sakunya, meremas lembaran foto usang tiga pemuda berlumuran lumpur Kali Garang yang selalu dibawanya di dalam dompet.

"Mat..." panggil Darto pelan, memandangi langit sore. "Kalau almarhum bapakmu atau orang-orang tua kita dulu masih ada dan lihat kita sekarang... kira-kira mereka mau ngomong apa ya?"

Mamat menyeruput kopinya perlahan, menyunggingkan senyum teduh yang mengagumkan.

"Mereka pasti bakal tertawa terbahak-bahak, To," jawab Mamat halus. "Mereka bakal heran, kok bisa tiga bocah pengangguran tukang utang di warung Bu Siami bisa punya puluhan ribu murid di seluruh Indonesia."

Bowo ikut tertawa renyah. "Tapi yang paling penting, Mat... kita bertiga ndak pernah saling ninggalkan dari zaman kelaparan di kebun pisang sampai duduk di tempat indah ini."

Mamat merangkul pundak Darto dan Bowo erat-erat. Ketiga kepala itu saling mendekat, menyatukan rasa syukur yang tak terhingga atas takdir hidup yang telah menempa mereka menjadi manusia yang sejati.

Mamat memandangi surya yang perlahan tenggelam di batas samudra. Tidak ada lagi Mamat si dukun gadungan, tidak ada lagi kecemasan atau kebohongan. Yang ada hanyalah Eko Prasetyo alias Mamat—seorang pria sederhana yang berhasil menaklukkan kegelapan masa lalunya dan menyalakan lentera harapan bagi jutaan rakyat di seluruh penjuru Nusantara.

Kisah gila, puitis, dan penuh komedi perjalanan Mamat sang Master Motivator telah resmi purna, meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus mekar dan menginspirasi sepanjang zaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!