NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Tempat Baru Untuk Mimpi Lama

Voucher hotel itu Safira simpan di laci meja kerja.

Ia tidak menggunakannya.

Ia juga tidak mengembalikannya.

Benda itu menjadi semacam bukti kecil bahwa hidup bersama Arga tidak sesederhana yang ia pikirkan. Setiap kali membuka laci untuk mengambil meteran, amplop itu terlihat seperti pertanyaan yang belum dijawab.

Namun pekerjaan tidak menunggu hati seseorang rapi.

Pesanan dari klien hotel membuat nama Safa Atelier mulai disebut di beberapa grup arisan dan komunitas calon pengantin. Dua minggu setelah kejadian di Grand Manggala, ponsel Safira hampir tidak berhenti berbunyi.

Ia senang.

Ia juga kewalahan.

Workshop kecilnya tidak lagi cukup. Dua pelanggan pernah datang bersamaan dan salah satunya harus duduk di kursi plastik dekat rak benang. Gulungan kain menumpuk sampai lorong belakang. Mesin jahit keduanya sering macet.

Bu Maya datang sore itu membawa kopi susu.

"Safa, pindah."

Safira tertawa lelah. "Bu Maya bahkan tidak pakai salam dulu."

"Assalamualaikum. Pindah."

"Waalaikumsalam. Uangnya belum ada."

"Kalau menunggu uang sempurna, kamu keburu ditinggal pelanggan."

Safira menatap workshop-nya.

"Aku takut."

Bu Maya duduk di kursi pelanggan. "Takut rugi?"

"Takut terlalu percaya diri."

"Kamu itu kebalik. Orang lain baru bisa pasang kancing sudah buka butik. Kamu sudah bikin kebaya yang dipakai ibu pejabat masih merasa tidak pantas sewa ruko."

Safira tersenyum kecil.

"Aku akan lihat-lihat dulu."

"Lihat-lihat yang serius."

Malamnya, Safira membuka situs properti. Arga duduk di sebelahnya, membawa laptop sendiri tetapi jelas lebih sering melihat layar Safira daripada pekerjaannya.

"Yang ini dekat jalan besar," kata Safira. "Tapi sewanya mahal."

"Lokasinya bagus."

"Terlalu besar."

"Kamu butuh ruang fitting, ruang jahit, ruang terima tamu, dan penyimpanan kain."

Safira menoleh. "Kamu sudah seperti konsultan."

"Saya mendengar keluhanmu setiap malam."

"Aku mengeluh?"

"Dengan cara yang lucu."

Safira memukul lengannya pelan dengan bantal sofa. "Jangan mengarang."

Arga menahan bantal itu, lalu tidak langsung melepas. Tangan mereka bersentuhan sebentar. Safira menarik lebih dulu, pura-pura fokus pada layar.

"Aku tidak mau kamu membayari sewa."

"Saya belum menawarkan."

"Wajahmu sudah."

"Wajah saya benar-benar bekerja terlalu keras di rumah ini."

Safira tertawa.

Mereka membuat daftar lima tempat. Keesokan harinya, Arga mengantar Safira melihat ruko pertama. Tempatnya strategis, tetapi terlalu gelap. Ruko kedua dekat kampus, ramai, tetapi parkir sulit. Ruko ketiga bagus, namun pemiliknya meminta sewa dua tahun di muka.

Safira hampir menyerah.

Tempat keempat berada di jalan kecil yang menghubungkan area perumahan menengah dan pusat toko kain. Bangunannya dua lantai. Lantai bawah cukup luas untuk ruang tamu, fitting, dan display. Lantai atas bisa menjadi ruang jahit dan kantor kecil. Cahaya masuk dari jendela samping. Ada area parkir untuk dua mobil.

Safira berdiri di tengah ruangan kosong.

Dadanya berdebar.

Ia bisa membayangkan manekin di dekat jendela. Meja konsultasi di sudut kanan. Rak kain di dinding kiri. Cermin besar di ruang fitting. Mesin jahit di lantai atas.

"Kamu suka," kata Arga.

Bukan pertanyaan.

Safira mengangguk pelan. "Suka."

Pemilik ruko, Pak Taufik, menjelaskan harga sewa. Tidak murah, tetapi masih lebih masuk akal daripada tempat ketiga.

"Kalau ambil cepat, saya bisa turunkan sedikit," katanya.

Safira mencatat angka di ponsel. Otaknya langsung menghitung DP pesanan, tabungan, uang dari keluarga yang belum ia pakai semua, dan kemungkinan cicilan mesin tambahan.

Masih berat.

Sangat berat.

"Saya pikir dulu, Pak," kata Safira.

Pak Taufik mengangguk. "Jangan lama-lama. Ada dua orang lain yang lihat juga."

Di mobil, Safira diam.

Arga tidak langsung menyalakan mesin.

"Kamu ingin tempat itu."

"Iya."

"Apa yang menghalangi?"

"Uang."

"Selain uang?"

Safira menatap gedung ruko dari kaca mobil. "Takut kalau aku tidak sanggup."

"Kamu sudah sanggup lebih banyak dari ini."

"Itu kalimat penyemangat suami."

"Itu penilaian saya."

"Mas Arga, aku perlu angka, bukan pujian."

Arga mengambil kertas dari laci mobil. "Baik. Kita hitung."

"Kita?"

"Kamu tidak mau saya bayar. Tapi saya bisa membantu menghitung."

Mereka duduk di mobil hampir satu jam. Arga membuat proyeksi sederhana: sewa, deposit, renovasi ringan, tambahan mesin, biaya listrik, target pesanan bulanan, skema DP pelanggan, dan batas aman dana darurat.

Safira melihat angka-angka itu dengan mata melebar.

"Kamu sering membuat perhitungan begini?"

"Kadang."

"Untuk proyek?"

"Iya."

Jawaban itu kembali membuatnya curiga, tetapi kali ini ia terlalu membutuhkan angka untuk mendesaknya.

Hasil hitungan menunjukkan bahwa ruko itu mungkin diambil jika Safira berani menaikkan sistem DP dan memilih renovasi bertahap.

"Aku bisa pakai sebagian uang dari Papa," kata Safira pelan. "Sisanya dari tabungan. Tapi dana daruratku akan tipis."

"Saya bisa memberi pinjaman."

Safira langsung menoleh.

"Pinjaman," ulang Arga. "Tertulis. Tanpa bunga. Kamu bayar sesuai kemampuan dari laba usaha."

"Suami istri pakai perjanjian?"

"Kalau itu membuatmu merasa aman, kenapa tidak?"

Safira terdiam.

Ia selalu takut bantuan berubah menjadi kendali. Tapi Arga menawarkan bentuk yang bisa ia ukur, bisa ia bayar, bisa ia pertanggungjawabkan.

"Aku pikir malam ini."

"Baik."

Malam itu Safira tidak tidur sampai lewat pukul dua. Ia menghitung ulang, membuat daftar risiko, menulis rencana promosi, lalu menghapusnya. Arga sesekali bangun, melihatnya masih duduk di meja, lalu membuatkan susu hangat.

"Kamu tidak tidur?" tanya Safira.

"Ada istri saya sedang berperang dengan kalkulator."

"Kalkulatornya menang."

"Saya tidak yakin. Wajahmu lebih galak."

Safira tertawa lelah.

Pagi hari, ia menelepon Pak Taufik.

"Pak, saya ambil rukonya."

Suara Pak Taufik cerah. "Alhamdulillah. Kapan bisa tanda tangan?"

"Besok. Tapi saya ingin kontrak tertulis jelas."

"Tentu."

Safira menutup telepon, lalu menatap Arga yang sedang membuat kopi.

"Aku ambil."

Arga mengangguk. "Selamat, pemilik Safa Atelier baru."

"Masih penyewa."

"Untuk sekarang."

Safira tersenyum.

Di hari penandatanganan, ia membawa Nadia untuk memeriksa kontrak. Arga berdiri di belakangnya, tidak mengambil alih, hanya sesekali memberi catatan.

Saat tanda tangan selesai, Safira memegang salinan kontrak dengan tangan gemetar.

Ruko itu belum cantik.

Belum ada cat baru.

Belum ada pelanggan duduk di sofa.

Tapi saat berdiri di tengah ruangan kosong, Safira merasa melihat dirinya yang dulu diam-diam belajar desain dari video tengah malam.

Mimpi lama itu akhirnya punya alamat baru.

Arga berdiri di sampingnya.

"Takut?"

"Masih."

"Bagus."

"Kok bagus?"

"Berarti kamu tahu ini penting."

Safira menatap ruangan kosong, lalu berkata pelan, "Aku ingin membuatnya berhasil."

Arga menatapnya, bukan pada ruko.

"Kamu akan."

Dan kali ini, Safira tidak membantah.

Setelah Pak Taufik pergi, Safira meminta waktu lima menit sendirian. Arga menunggu di teras, memberi ruang tanpa bertanya. Ia melihat Safira berjalan pelan dari satu sudut ke sudut lain, menyentuh dinding kosong, mengukur jendela dengan langkah, lalu berdiri di depan pintu kaca yang masih buram.

Perempuan itu tidak tahu, tetapi wajahnya saat itu berbeda.

Tidak sepenuhnya bahagia.

Lebih seperti seseorang yang takut memegang sesuatu karena terlalu lama hidup dengan tangan kosong.

Arga menerima telepon dari Bima di luar.

"Kontrak ruko sudah?" tanya Bima.

"Sudah."

"Kamu kasih pinjaman pribadi?"

"Iya."

"Dia tahu sumber uangnya?"

Arga melihat Safira dari balik kaca. "Dia tahu itu dari saya."

"Bukan itu maksudku."

"Saya tahu."

Bima menghela napas di seberang. "Ga, makin lama kamu diam, makin besar lukanya nanti."

Arga tidak menjawab.

Safira menoleh dari dalam ruko dan tersenyum kecil kepadanya, seolah ingin memastikan ia masih ada.

Arga membalas senyum itu tipis.

Di dadanya, rasa bersalah bergerak pelan.

Ia ingin memberi Safira semua yang tidak pernah perempuan itu dapatkan.

Tapi untuk memberi semuanya, ia harus lebih dulu berhenti menyembunyikan separuh dirinya.

Sementara itu, Safira berdiri di depan jendela lantai dua dan membayangkan meja potong besar di tengah ruangan. Ia menghitung berapa orang yang bisa bekerja di sana suatu hari nanti. Dua penjahit. Satu admin. Mungkin satu asisten desain.

Bayangan itu membuatnya takut sekaligus bersemangat.

Ia mengambil ponsel dan memotret ruangan kosong.

Caption yang ia simpan untuk dirinya sendiri berbunyi: `Hari pertama tempat baru. Semoga aku cukup berani.`

Ia tidak mengunggahnya.

Belum.

Beberapa mimpi perlu dibiarkan tumbuh diam-diam sebelum ditunjukkan kepada dunia.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!