NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA DI TENGAH KEGELAPAN DAN KEPUTUS ASAAN

Kaki dan tangan kecil Shen Yu Jin terhentak-hentak gelisah dari balik gulungan kain bedung. Jari-jari mungilnya terulur lurus ke arah Xiao Luo, menggapai udara seolah memohon dengan amat sangat agar ditarik ke dalam pelukan.

​Xiao Luo mematung di tempatnya. Matanya terkunci pada binar polos sang bayi. Mendadak, rasa haru yang tak terjelaskan menyeruak, diiringi denyut ikatan aneh yang menghimpit dadanya hingga sesak.

​"D-dia... menginginkanmu," bisik Nyonya Shen dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Perlahan dan penuh hati-hati, beliau menyodorkan sang bayi.

"Tolong... Nona Xiao, kasihanilah cucuku yang malang ini. Ibunya telah tiada, sementara ayahnya... belum jelas di mana keberadaannya."

​Dengan keraguan yang menggelayuti dada dan jantung yang berdegup kencang, Xiao Luo akhirnya mengulurkan kedua tangannya. Begitu kehangatan tubuh Shen Yu Jin berpindah ke dekapannya ,bayi itu seketika menyandarkan kepala kecilnya di dada Xiao Luo.

Jemari mungilnya menggenggam erat kerah kaus basah wanita itu, lalu perlahan, kelopak matanya terpejam tenang. Untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, bayi itu tertidur lelap.

​"Dia tertidur!" bisik Shen Tingting antusias, nyaris menahan napas.

​"Mari masuk ke dalam rumah. Kita bicarakan semuanya di dalam," panggil Nyonya Shen lembut.

​Xiao Luo mengangguk patuh. Bagaimanapun, tidak elok rasanya berdiri lama bertukar cerita di ambang pintu seperti ini.

​Di dalam ruangan yang bersahaja, Nyonya Shen mempersilakan Xiao Luo duduk di kursi kayu, lalu beliau mengambil tempat tepat di sampingnya.

Shen Tingting yang sadar diri akan posisinya segera melangkah menuju dapur untuk menyiapkan hidangan bagi sang tamu. Namun, karena tak ada sebutir gula pun di rumah, ia hanya bisa memindahkan air dingin dari kendi tanah liat ke dalam gelas.

​"Minumlah. Maaf, hanya ini yang bisa kami suguhkan," ujar Shen Tingting canggung seraya meletakkan gelas.

​"Tidak apa-apa, jangan repot-repot," balas Xiao Luo sopan. Ia lalu menatap Nyonya Shen lekat-lekat.

"Sekarang, bisakah Nyonya beritahu saya... kita sebenarnya berada di mana?"

​"Kita berada di pulau pengasingan. Apa Nona benar-benar tidak mengetahuinya?" Nyonya Shen memandang Xiao Luo penuh keheranan.​Xiao Luo menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

​"Jadi... Nona memang bukan penduduk pulau ini?"

​"Mendengar kata 'pulau pengasingan' saja baru hari ini," sahut Xiao Luo. Ditatapnya wajah-wajah polos di hadapannya sebelum melontarkan curiga.

"Apa Nyonya sedang tidak bercanda? Kalian sedang shooting film atau drama, kan?"

​"Shooting film? Drama? Barang apa itu?" potong Shen Tingting penuh rasa ingin tahu.

​Xiao Luo tertegun. "Kalian tidak tahu shooting film?"

​"Tidak."

​"Kalau film? Masa tidak tahu?"

​"Tidak tahu juga."

​"Ha?! Kalian sama sekali tidak pernah menonton televisi?" seru Xiao Luo, matanya membelalak tak percaya.

​"Televisi? Benda ajaib apa lagi itu?" Nyonya Shen kini ikut menatapnya bingung.

​"......"

​Kepanikan perlahan merayapi benak Xiao Luo. Sensasi dingin menjalar di tengkuknya.

"Apakah ini nyata? Apakah aku benar-benar melakukan perjalanan lintas waktu? Apakah sumur tua itu benar-benar lorong yang menghubungkan dua dunia yang berbeda?"

​Ia tidak bisa berdiam diri. Ia harus membuktikannya sekarang juga.

​"Maaf, saya harus kembali sebentar. Bisakah Nyonya menggendong bayi ini lagi?" tanya Xiao Luo terburu-buru.

​"Nona mau ke mana?" tanya Nyonya Shen panik.

​"Mau memastikan sesuatu."

​"Memastikan apa?"

​"Tadi sudah saya katakan, bukan? Saya terpeleset dan tidak sengaja jatuh ke dalam sumur tua. Begitu memanjat keluar, tahu-tahu saya sudah berada di tempat ini. Sekarang saya mau mencoba turun ke sumur itu lagi. Saya harus tahu... apakah saya bisa kembali ke rumah saya atau tidak."

​Nyonya Shen menatap cucunya yang tertidur,lalu memandang Xiao Luo dengan raut cemas.

"Apakah... Nona nanti bisa kembali ke sini lagi? Yu Jin tampaknya sangat melekat pada Nona. Kami takut begitu Nona pergi, dia akan menangis histeris lagi."

​"......" Xiao Luo ragu sejenak.

​"Apa... Nona tidak bersedia kembali?" tanya Nyonya Shen memohon.

​"Bukan begitu. Saya sendiri belum tahu apakah bisa kembali atau tidak. Namun, kalau memang jalan itu bisa dilalui bolak-balik... saya tidak keberatan untuk datang lagi."

​"Baguslah kalau begitu! Mari kita coba sekarang juga," sahut Nyonya Shen lega.

​"Ayo."

​Didampingi Nyonya Shen dan Shen Tingting, Xiao Luo melangkah kembali menuju sumur tua di belakang rumah. Shen Yu Jin masih tertidur pulas dalam dekapannya, seolah enggan dilepaskan sedikit pun.

​Namun, saat Xiao Luo bersiap melangkah masuk ke dalam mulut sumur yang gelap, Nyonya Shen terpaksa mengambil paksa sang bayi dari dekapannya.

Tangisan lengking Shen Yu Jin pecah seketika, memecah keheningan pulau. Namun, mereka tak punya pilihan lain; Nyonya Shen tidak mungkin membiarkan Xiao Luo membawa bayi itu bertaruh nyawa masuk ke dalam sumur misterius tersebut.

​Xiao Luo menarik napas dalam-dalam, lalu menghilang ke dalam kegelapan sumur.

​Dugaan Xiao Luo benar. Sumur itu memang gerbang antar-dunia. Tanpa kendala berarti, ia berhasil menyeberang dan kembali berdiri di pelataran rumahnya sendiri.

​Sementara itu di sisi lain, Shen Tingting yang menyaksikan Xiao Luo lenyap begitu saja diliputi rasa penasaran yang membuncah. Dengan nekat, ia menyusul melompat ke dalam sumur yang sama.

Namun, tak ada keajaiban yang terjadi padanya. Tubuhnya hanya berdiri bergeming di dasar sumur yang dingin dan lembap, hingga beberapa saat kemudian... Xiao Luo kembali muncul melompati batas dunia.

​"Aku berhasil! Aku benar-benar bisa pulang!" seru Xiao Luo dengan napas terengah namun mata berbinar lega.​

"Aku berhasil! Aku benar-benar bisa pulang!" seru Xiao Luo dengan napas terengah namun mata berbinar lega.

​Shen Tingting menatapnya dengan raut bingung sekaligus takjub. "Bagaimana bisa? Kenapa sewaktu aku mencoba... aku malah tetap berada di sini?"​

"Kau tidak bisa menyeberang karena kau adalah bagian dari dunia ini, Tingting," jawab Xiao Luo perlahan, seraya mengulurkan tangan untuk membantu gadis muda itu memanjat keluar.

"Sumur ini seperti pintu satu arah yang kuncinya... mungkin ada padaku." sebenarnya ia sendiri juga belum yakin.

​Begitu memanjat keluar dari mulut sumur, tangisan lengking Shen Yu Jin langsung menyambut mereka.

Nyonya Shen tampak kewalahan mengayun- ayunkan tubuh cucunya yang memerah karena terus menjerit. Anehnya, begitu mata bayi itu menangkap sosok Xiao Luo yang berjalan mendekat, tangisannya berangsur-angsur mereda menjadi isakan kecil.

​"Nona Xiao... bersyukurlah Anda kembali," ucap Nyonya Shen dengan napas lega, menyerahkan kembali sang bayi yang langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xiao Luo. Kehangatan itu kembali, disertai dengkuran halus napas Yu Jin yang tenang.

​Xiao Luo mengelus punggung bayi itu dengan lembut. Ada pertanyaan besar yang mengusik benaknya.

"Nyonya Shen, tadi Anda bilang ini pulau pengasingan. Sebenarnya... siapa kalian? Dan tempat apa ini sebenarnya?"

​Raut wajah Nyonya Shen mendadak berubah keruh. Beliau menatap sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada orang lain di sekitar pekarangan rumah mereka yang sepi.

​"Mari masuk. Di luar tidak aman," bisik Nyonya Shen tegang.

​Di dalam ruangan yang remang-remang, Nyonya Shen akhirnya membuka suara. Suaranya berat, sarat akan kesedihan yang telah dipendam lama.

​"Keluarga kami... dulu adalah keluarga prajurit terpandang di ibu kota. Anakku.....ayah dari Yu Jin—adalah seorang Jenderal Kekaisaran," tutur Nyonya Shen dengan mata yang kembali mengembun.

"Namun, dengki dan politik istana menghancurkan kami. Kakak mereka difitnah melakukan pengkhianatan besar terhadap Takhta."

​Xiao Luo mendengarkan tanpa memotong, dadanya tersentak pelan.

​"Hanya dalam semalam, gelar kami dicabut, harta kami disita, dan seluruh keluarga yang tersisa dibuang ke pulau terpencil ini untuk membusuk sampai mati," sambung Shen Tingting dengan nada getir dan kepalan tangan yang mengetat.

"Ibu Yu Jin meninggal setelah tiba di pulau ini. Sedangkan ayahnya... menghilang dan tidak diketahui keberadaanya. Kami tidak tahu dia masih hidup atau sudah meninggal.

​Atmosfer ruangan mendadak terasa begitu berat. Xiao Luo menatap bayi di dekapannya. Shen Yu Jin—bayi mungil yang tidak berdosa ini—lahir di tengah kepungan kemalangan dan keputusasaan.

Tidak mengherankan jika tangisannya selama tujuh hari tak bergeming; bayi ini seolah merasakan beban duka yang menimpa keluarganya.​

"Lalu... mengapa Yu Jin begitu tenang bersamaku?" gumam Xiao Luo lebih kepada dirinya sendiri.

​"Karena wajah Nona sangat mirip sama mendiang ibunya..."

Nyonya Shen memandang Xiao Luo penuh haru, "langit mengirimkan Anda dari dunia lain bukan tanpa alasan, Nona Xiao. Anda adalah takdir yang menyelamatkan nyawa cucuku."

​Xiao Luo menatap pakaian modernnya yang kontras dengan pakaian kain kasar nan lusuh yang dikenakan Nyonya Shen dan Shen Tingting.

Ia datang dari abad ke-21—dunia yang dipenuhi teknologi, obat-obatan modern, dan makanan melimpah. Sementara keluarga ini terjebak di pulau pengasingan tanpa harapan, bahkan tanpa sebutir gula atau makanan yang layak.

​Ia memikirkan rumahnya di balik sumur itu. Di sana ada makanan, pakaian hangat, antiseptik, dan susu formula.​Xiao Luo mengepalkan tangannya pelan, sebuah keputusan bulat mulai terbentuk di kepalanya. Meski saat ini uang yang dimilikinya masih terbatas, namun ia akan berusaha keras untuk membantu mereka.

​"Nyonya Shen, Tingting," kata Xiao Luo mantap, menatap kedua wanita di hadapannya.

"Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya, tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian dan Yu Jin menderita di pulau ini."

​"Apa maksud Nona?" tanya Nyonya Shen terkejut.

​

"Sumur itu adalah jalanku. Aku bisa kembali ke duniaku untuk membawa obat-obatan, makanan, susu, dan kebutuhan kalian. Aku akan menjadi penghubung kalian dengan dunia luar."

​Mata Nyonya Shen dan Shen Tingting membelalak tak percaya. Di tengah kegelapan dan keputusasaan pulau pengasingan ini, sosok wanita asing yang jatuh dari sumur itu mendadak menjadi satu-satunya cahaya harapan bagi mereka.

​

​

1
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
lanjut thor
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
kamu di cari tuan muda xiao Lou🤭🤭🤭
kaylla salsabella
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
kaylla salsabella
sabar nyonya tua
kaylla salsabella
hayo jodoh xiao Lou tuan muda atau jendral muchen
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!