Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Hujan semalam sudah reda. Namun kaca besar penthouse masih berembun tipis. Lampu Jakarta di luar masih terlihat ada yang menyala, tapi langit sudah mulai berubah biru keunguan.
Di dalam kamar, lampu tidur temaram itu masih menyala. Selimut tebal masih menutupi dua orang di atas ranjang king size yang berantakan bah kapal pecah.
Plaap,mata Safa terbuka,matanya masih terasa begitu berat dan saat dia melihat pantulan wajahnya dicermin dia melihat wajahnya masih memerah. Rambutnya yang semalam wangi strawberry, kini sedikit berantakan. Dia mendapati dirinya masih di dalam pelukan Arga, kepalanya bersandar di dada bidang suaminya, tangan Arga memeluk punggungnya erat dari luar selimut, seolah takut Safa akan meninggalkannya.
Safa mengangkat wajahnya pelan.Ia tersenyum saat melihat dirinya dengan beberapa tanda kepemilikan dibagian leher dan dadanya.Wajahnya lagi-lagi mengeluarkan semburat merah.
Arga masih tertidur begitu lelap,nafasnya terdengar teratur sementara wajahnya begitu tenang dan damai seolah tak punya beban apapun.
Ingatannya terus berputar akan hal yang baru ia lalui semalam. Bisikan-bisikan lembut Arga yang masih terngiang ditelinga.
" Sayang apakah ini sakit? Apa kamu nyaman? Sayang kamu masih oke?" dan kecupan kening yang begitu dalam kemudian berpindah kepipi dan berpuncak dibibirnya,kecupan yang akhirnya menuntun menjadi sebuah ciuman,ciuman yang semakin lama semakin menuntun dan menuntut untuk lebih ,hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan yang membuat keduanya benar-benar menjadi saling memiliki saling menginginkan,smua Arga lakukan dengan pelan,tenang dan tak terburu-buru.
Safa tersenyum kecil, matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ada rasa bahagia, kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tangan Safa dengan lembut mengusap dada bidang Arga.
"Mas..." bisiknya sangat pelan.
Arga mengerjap, terbangun. Begitu matanya terbuka dan melihat Safa sudah bangun di pelukannya, dia langsung tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya, senyum yang penuh rasa memiliki.
"Pagi, istriku," bisiknya, suaranya masih serak khas suara bangun tidur. Dia langsung mengencangkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Safa sedikit lebih lama. "Tidur kamu nyenyak?"
Safa mengangguk pelan di dadanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Nyenyak banget mas,sangate nyenyak.Apa mas juga nyenyak?" tanya Safa.
Arga tertawa pelan, tangannya mengelus punggung Safa dengan lembut di luar selimut, sentuhan yang menenangkan.
"Tadi malam,em maksud mas apa yang tadi malam itu membuat kamu sakit? Apa sakit sekali? Arga memastikan,ia takut karnanya membuat Safa kesakitan.Tangannya beralih dari mengusap jadi menggenggam, menggenggam tangan Safa.
Safa menggeleng cepat. "Aku sama sekali ngga ngrasa sakit mas,itu cuman diawal saja karna mas sudah melakukannya dengan sangat lembut.Trimakasih ya mas,aku suka dengan cara mas." ucap Safa dengan wajah yang lagi-lagi merah.
Mendengar itu, Arga merasa lega. Dia mengecup lagi kening Safa, itu sudah seperti ritual wajib mereka, tapi pagi ini kecupannya jauh lebih lama dan dalam maknanya.
"Terima kasih juga ya sayang, kamu sudah percaya sama Mas sepenuhnya," bisik Arga.
Hening keduanya tak lagi mengatakan apapun,Safa masih bertahan dipelukan suaminya dan Arga masih enggan melepaskannya .
Di atas nakas, kotak beludru merah yang berisi gelang bayi itu masih di sana. Cahaya pagi yang masuk dari jendela menyinari kotak itu.
Arga melirik kotak itu, lalu menatap Safa.
"Safa lihat itu?" tunjuknya pelan ke kotak beludru.
Safa menoleh.
" Itu kotak dari nenek kan mas?" tanya Safa
Arga mengangguk. "Iya,itu pemberian Nenek,mungkin Nenek juga sudah mendoakan kita sejak lama agar kita Samapi di tahap ini, Allhmdulillah sekarang doa nenek terkabul, mudah-mudahan kita bisa mewujudkan impian nenek dengan memberikan nenek cicit."
Safa mengambil kotak itu dengan tangan kanannya, masih dalam posisi bersandar di dada Arga. Dia membuka tutupnya. Di dalamnya ada gelang bayi kecil berwarna emas dengan ukiran nama yang masih berkilau kena cahaya lampu tidur.
"Lucunya..." bisik Safa sambil menyentuhnya. "Semoga nanti..."
Safa tidak melanjutkan kalimatnya karena malu, wajahnya semakin merah.
Arga mengerti. Dia menutup kotak itu lagi dan meletakkannya kembali, lalu memeluk Safa lebih erat.
"Semoga nanti pada waktunya ya sayang. Kita jangan terburu-buru. Sekarang kita nikmatin dulu jadi pengantin baru yang seutuhnya," bisik Arga sambil mengecup telinga Safa.
Safa mengangguk. "Iya, Mas."
Jam setengah 5, azan subuh terdengar samar dari masjid jauh di bawah penthouse.
Arga melepas pelukannya pelan. "Kita mandi dulu yuk, sholat subuh berjamaah. Habis itu Mas masakin sarapan buat kamu. Kamu jangan kemana-mana, tetap di sini, istirahat aja."
Safa tersenyum. "Aku mau sholat bareng Mas. Habis itu aku yang masakin sarapan, boleh?"
"Boleh, tapi masaknya berdua ya di dapur. Mas nggak mau kamu capek sendirian," jawab Arga sambil membantu Safa duduk.
Safa berdiri dengan pelan, dress tidurnya yang panjang itu terlihat kusut.Arga juga berdiri, merapikan selimut yang semalam menjadi saksi penyatuan mereka.
Sebelum ke kamar mandi, Arga menahan tangan Safa lagi dan memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di atas jilbab yang belum dipakai Safa, di atas rambut Safa yang wangi strawberry.
"I love u, istriku," bisiknya.
Safa bersandar balik, menggenggam tangan Arga yang melingkar di perutnya.
"I love u too, Mas Arga. Suamiku."
" Safa."
" Iya mas?"
Greeep
Tanpa memberi komando Arga menggendong tubuh Safa dan membawanya ke kamar mandi.
" Mas aku bisa sendiri,aku.."
"Ssssttttt! Diamlah,biarkan mas yang melakukannya.Mas yang sudah membuatmu seperti ini,jadi mas akan bertanggung jawab sampai tuntas." bisik Arga.
mendengar itu Safa tidak menjawab dia juga tidak menolak atau melarang, tubuhnya seolah sudah memberikan sinyal untuk mengizinkan suaminya melakukan sesuatu yang diluar dugaannya.
Arga lagi-lagi membuat Safa harus bekerja keras pagi itu,mereka melakukannya dengan lembut bahkan setelah mendapatkan pelepasan berkali-kali Safa akhirnya menyerah.
" Mas cape!" bisinya.
" Maaf sayang,tubuh kamu sudah menjadi candu buat mas. Trimakasih,setelah sarapan kamu istirahat ya jangan melakukan apapun,kamu butuh energi untuk malam nanti!"
Mata Safa membulat sempurna mendengar apa yang suaminya ucapakan namun mulutnya tak bisa melakukan protes.Pagi itu Arga benar-benar bertanggung jawab sampai tuntas,setelah keduanya kembali suci mereka melaksanakan solat subuh dan setelah itu keduanya masak didapur,masakan yang simpel,nasi goreng dan telor ceplok.
" Udah kenyang sayang?" tanya Arga.
" em,iya mas!"
" Sudah siap ronde ke 4?" tanya Arga.
"Maaas." rengek Safa.
" Haaaahahaha mas bercanda sayang,cup Istrahat yang cukup ya,mas mau siap-siap ke kantor karna pagi ini ada meeting penting dengan klien dari Singapura."
" Em,iya mas."
Setelah itu safa benar-benar tidur dengan nyenyak sementara Arga pergi kekantor dengan suasana hati yang gembira,wajahnya berbinar bahagia.
Bersambung