"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.27
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jarum jam dinding di ruang tamu mansion mewah itu seakan berputar begitu lambat, membakar sisa-sisa kesabaran Lilian. Padahal, Damian sudah berjanji tadi siang untuk mengajaknya menonton bioskop dan menghabiskan waktu bersama malam ini. Tapi sampai detik ini, sosok pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Lilian sudah mengantuk sejak tadi, duduk menyandar di sofa empuk seraya beberapa kali menguap. Rasa bosan dan cemas bercampur menjadi satu.
"Astaga, ke mana sih dia? Jangan bilang Damian lupa..." kesal Lilian pelan sambil melirik layar ponselnya yang sepi tanpa pesan balasan.
Namun, tepat sebelum Lilian beranjak berdiri untuk naik ke kamar, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman depan mansion. Suara rem yang halus disusul langkah kaki terburu-buru membuat wajah Lilian kembali berbinar. Tanpa mengulur waktu, Lilian langsung berjalan cepat menuju pintu utama untuk menyambut Damian.
Pintu terbuka. Sosok pria jangkung dengan setelan jas mahal berdiri di sana.
Wajah lelah dan kusut Damian sungguh amat jelas terpancar dari matanya yang sayu. Melihat betapa kerasnya pria itu bekerja seharian demi perusahaan mereka, rasa kesal Lilian menguap seketika. Lilian tersenyum manis, lalu melangkah maju dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Damian, memeluk kekasihnya erat-erat.
Damian terpaku sejenak, lalu membalas peluk erat itu seraya mengecup puncak kepala Lilian dengan lembut. "Maaf ya, Sayang... Aku terlambat. Pekerjaan di kantor benar-benar menumpuk."
Namun, di saat hidung Lilian bersandar pada dada bidang jas Damian, dadanya mendadak berdesir aneh. Ada aroma harum manis menyeruak dari kerah jas pria itu—aroma parfum mewah beraroma floral vanilla yang begitu pekat.
"I-ini... bukan aroma parfum Damian," gumam Lilian di dalam hatinya, tertegun kaku di dalam pelukan tersebut.
Damian selalu menggunakan parfum beraroma woody dan citrus yang bernuansa maskulin dan segar. Aroma yang menempel tebal di baju Damian malam ini jelas sekali milik seorang wanita. Dan Lilian kenal betul aroma ini... aroma khas parfum yang dipakai Clara saat lelang malam itu.
Lilian pelan-pelan melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah Damian dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Damian..." panggil Lilian pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Kamu... habis dari mana aja? Rapat sama siapa sampai malam begini?"
Damian mengusap wajahnya yang lelah, lalu melonggarkan ikatan dasinya. "Tadi ada makan malam mendadak sama jajaran direksi Vonce Group. Papa Clara minta pembahasan kerja sama dipercepat. Aku gak enak kalau harus menolak di pertengahan acara."
"Sama Clara juga?" tanya Lilian menatap lurus ke dalam manik mata Damian.
Damian mengangguk jujur tanpa ada raut bersalah sama sekali. "Iya, Clara ikut karena dia yang memegang berkas investasinya. Kamu tenang aja, ini murni urusan pekerjaan kok, Lilian."
Lilian membisu. Jawaban polos dan tanpa dosa dari Damian justru membuat dadanya makin terasa terhimpit. Damian bahkan tidak sadar kalau aroma tubuh wanita lain sudah tertinggal tebal di bajunya. Ia juga tidak merasa ada yang salah dengan membiarkan Clara duduk sedekat itu sampai aromanya menempel.
Ting!
[Notifikasi Sistem: Terdeteksi penurunan tingkat resonansi emosional Host terhadap Karakter Utama sebesar 15%.]
[Peringatan: Fondasi batas ruang dimensi mulai melonggar.]
Lilian memandangi panel transparan yang mendadak muncul di samping kepala Damian. Di depannya, pria yang sangat ia cintai itu mengusap rambut Lilian lembut seraya tersenyum tipis.
"Maaf ya buat janji nontonnya malam ini. Besok Sabtu aku kosongkan jadwal khusus buat kamu, janji," bisik Damian manis sebelum berjalan menuju kamar mandi.
Lilian hanya berdiri membatu di tengah ruangan yang dingin. Rasa percaya mutlak yang tadi siang ia pertahankan setengah mati... kini mulai memperlihatkan retakan pertamanya.
Tidak ingin ambil pusing dan memperpanjang perdebatan di malam hari, Lilian memutuskan untuk menunggu Damian di kamar. Sementara Damian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Lilian menyiapkan piyama tidur untuk pria itu.
Tak lama kemudian, Damian pun selesai mandi. Dengan rambut yang masih basah, dia tersenyum manis pada Lilian yang sedang menunggu di atas kasur. Tanpa membuang waktu lama, Damian memakai bajunya dengan cepat tepat di hadapan Lilian.
"Astaga, kamu gak malu apa?" kekeh Lilian. Walau ini bukan pertama kalinya ia melihat Damian bertelanjang dada, wajah Lilian tetap saja memerah dan malu melihat tubuh atletis milik kekasihnya itu.
"Gak lah, ngapain malu? Kamu kan calon istri aku," goda Damian sambil tersenyum menggoda.
Setelah selesai berpakaian, Damian merebahkan tubuh lelahnya di kasur, merentangkan tangannya meminta Lilian masuk ke dalam pelukannya. Lilian menyandarkan kepalanya di dada Damian, merasakan dekap hangat pria itu.
"Besok, Mommy minta kita datang ke mansion. Katanya, Kara udah mulai bisa jalan," beritahu Damian seraya mengusap pelan punggung Lilian.
"Boleh, udah lama juga kan aku gak lihat Kara," sahut Lilian tersenyum lega mendengar kabar perkembangan adik Damian.
Damian mengangguk pelan, mengecup puncak kepala Lilian dengan penuh kasih. Dalam keheningan malam dan kehangatan pelukan itu, perlahan-lahan kedua mata mereka mulai terpejam dan terlelap bersama.
*
*
Keesokan harinya, Damian dan Lilian sudah siap menuju kediaman Laurent. Mereka tidak tinggal di mansion, tapi di perumahan elit. Mansion mereka dijual untuk menutupi kerugian perusahaan yang sekarang mulai bangkit, apalagi Arthur menyampingkan egonya untuk meminta bantuan sang anak.
Di tengah perjalanan di dalam mobil yang melaju tenang, sebuah cahaya halus muncul di samping Lilian.
Ting!
"Host, ini obat penyembuh tingkat tinggi. Kara, akan cepat sembuh dengan dibantu proses terapi," ucap si peri mini menyodorkan botol kecil bening.
"Oke, makasih sistem," balas Lilian pelan memastikan Damian tak mendengarkannya.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di perumahan tersebut dan disambut ramah oleh penjaga baru. Selain penjaga, pelayan di sana pun baru. Kecuali Maya, dia menjadi kepala pelayan yang mengatur kebutuhan dapur.
"Selamat datang Tuan Muda, Nona Lilian..." puji Maya penuh haru saat membukakan pintu untuk mereka.
"Ihh, apaan sih May. Pake Nona segala, panggil Lilian aja," balas Lilian tersenyum ramah seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Maya tersenyum tipis, menatap Lilian dengan binar hangat. Sahabat seperjuangannya dulu—sesama pelayan yang berjuang dari bawah—masih sama dan tak pernah berubah. Sifat Lilian tetap rendah hati dan hangat, walau kini statusnya sudah menjadi kekasih dari anak pemilik kediaman ini.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di ruang makan," beritahu Maya mendahului sebelum Damian sempat bertanya.
"Baik, terima kasih, May," balas Damian singkat namun dengan nada yang jauh lebih lembut dibanding masa lalunya yang dingin.
"Bye, Maya. Nanti kita bicara ya," bisik Lilian setengah bercanda sewaktu melewati Maya, yang langsung dijawab anggukan mantap dari Maya. Wanita itu menatap punggung Lilian yang mulai menjauh menyusuri koridor bersama Damian.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣