NovelToon NovelToon
Rahasia Tersembunyi Mantan

Rahasia Tersembunyi Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Penpena

Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.

Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.

Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.

Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.

Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Bingung

Amira menutup telponnya dengan wajah yang berseri-seri, dia sangat tidak sabar menunggu kedatangan sahabatnya itu ke Indonesia. Glen melihat Amira, lalu menelan ludahnya. 

"Kamu terlihat bahagia banget?." Tanya Glen berusaha terlihat biasa-biasa saja. 

Amira menghirup udara dri hidungnya dan menutup matanya nyaman sambil tersenyum lalu dia menghembuskannya. "Aku senang banget sayang. akhirnya, setelah sekian lama Melly tidak ke Indonesia, dia akan datang minggu depan lagi." Ucapnya memberitahukan dengan ceria. 

Amira menatap Glen bingung, karena raut wajah Glen tidak seperti yang dia harapkan. "Sayang."

"Em, iya?."

"Kok kamu tidak bahagia sih?."

"E-em, siapa yang tidak bahagia?. Ucap Glen terkekeh.

"Aku tahu kenapa ekspresi mu datar gitu, pasti kamu khawatir kan?." Tanya Amira menatap Glen serius.

Seketika Glen terdiam, berpikir kenapa Amira mengatakan dia khawatir seakan-akan dia tahu apa yang Glen khawatirkan. 

"E-enggak," Ucapnya terbata.

"Iya sayang, kamu khawatir kalau waktu ku sama mu akan berkurang kalau dia datang kesini. Karena aku akan menemani dia selama berada di Indonesia." Ucap Amira tertawa. 

Glen menghela napasnya, ternyata maksud Amira bukan yang dia pikirkan. "Iya, kamu benar. Aku tidak bisa tanpa kamu meskipun hanya sebentar saya, Mir. Kalau bisa kamu paksa teman mu itu pulang secepat mungkin ya." Ucapnya bercanda. 

"Iss, jahat!." Amira menatap Glen sinis. 

"Haha, bercanda sayang. Kalau kamu bahagia pastinya aku akan lebih bahagia, jadi sebisa mungkin lakukan apa yang membuat mu bahagia, ya." Tutur Glen membenarkan rambut Amira kebalik telinganya. 

Amira menjadi merasa berseri-seri, Glen sangat memperlakukannya dengan baik. "Makasih sayang." Ucap Amira.

'Em, kalau begitu, aku berangkat kekantor dulu ya sayang." Ucap Glen beranjak dan mencium kening Amira. 

"Oke baik lah, hati-hati ya, sayang."

**

 Sesampai Glen dikantor, dia sangat merasa setres masih memikirkan apa yang akan terjadi di kehidupannya kedepan. Dia sangat bingung memikirkan semuanya ini. Hingga tanpa dia sadari Alvero sudah duduk di sofa ruangannya. 

"Astaga!." Glen sontak kaget melihat sosk Alvero tega duduk di sofa sambil memakan buah apel yang tersedia disana. "Sejak kapan kamu disini?." Tanya nya heran. 

"Sejak kemaren." Jawab Alvero bercanda dan masih fokus makan. 

Lalu Glen berjalan dari kursinya menuju Sofa menghampiri Alvero. 

"Aku masuk sudah hampir lima belas menit dan melihatmu termenung, bahkan aku memanggilmu dua kali dan kamu tidak mendengarkan ku. Jadi kubiarkan saja, supaya apa yang sudah kamu rancang didalam pikiran mu tidak hancur begitu saja oleh karena kedatangan ku." Tutur Alvero sok bijak. 

Glen menghela napas, "Maaf kan aku" Ucapnya dengan raut yang terlihat lelah. 

"Kamu kenapa, Glen?." Alvero menatap Glen serius. "Apa ada masalah?. Tunggu dulu, semenjak kamu menikahi Amira kamu sering terlihat lesu, kenapa?, apa semuanya baik-baik saja?." tanya Alvero khawatir. 

"Aku baik-baik saja, dan aku lesu bukan karena aku menikah dengan Amira." Jawab Glen, tidak mau kalau Alvero berpikir pernikahannya dengan Amira lah yang membuat dia seperti itu. 

"Haha, aku tahu. Gak mungkin juga Amira membuat mu setres, yang ada kamu yang akan membuat dia setres." Ucap Alvero sambil menggigit apel nya yang ditangan tadi. "Jadi, katakan Bro, kenapa kamu seperti ini?."

Glen terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Alvero, meskipun dia menganggap Alvero sahabat dekatnya dan merupakan orang yang bisa dipercaya, akan tetapi Glen tidak pernah memberitahukannya tentang masalah hidupnya. 

"Glen, cerita sama ku, mungkin saja aku bisa membantu mu. Oh iya, aku ini salah satu sahabat mu, dan aku bukan tipe orang yang tega melihat teman ku seperti ini, sebisa mungkin akan kubantu mencari solusi. Percaya padaku." Ucap Alvero serius. 

"Sebenarnya, tidak ada apa-apa." 

Alvero menghela napasnya, tidak percaya kalau Glen sedang baik-baik saja. "Apa kamu bertengkar dengan Tante Dina?." Tanya Alvero.

Glen menatap Alvero 

"Kebetulan tadi, tante Dian menelpon ku."

"Benarkah?." Glen menatap serius Alvero. 

"Hem,"

"Kenaa dia menghubungi mu?, apa yang dia katakan padamu?."

"Gak ada apa-apa, hanya sebatas menanyakan bagaimana kabar mu saja."

"Apa hanya itu?,"

"Sama menanyakan kamu tinggal dimana sekarang," Alvero khawatir kalau Glen akan marah padanya. "Dan aku memberi tahukannya.

Glen menghela napasnya, dia suda menduga.

"Maaf, Glen. Aku tidak tahu kalau kamu behubungan kurang baik dengan Ibu mu. Karena yang aku tahu, kamu sama tante Dian sangat dekat dari dulu, jadi dengan bodohnya aku memberitahukan kamu dimana tinggal dengan bodohnya." Ucapnya tidak enak. 

"Hem, gak apa-apa Al, semua sudah terjadi. Apa dia menanyakan tentang pernikahanku dengan Amira?."

"Kalau itu enggak, Glen."

"Hem, baik lah."

"Sekali lagi aku minta maaf Glen." Alvero yang berlagak ingin membantu Glen keluar dari masalah yang dia alami, malah dia yang menambah masalah baru kepada Glen. Dia menjadi merasa sangat tidak enak terhadap Glen. 

"Oh iya Glen, tetapi kenapa kamu tidak baik-baik saja dengan tante Dian?, maaf aku bertanya seperti ini, tetapi yang aku tahu selama ini kamu sangat menghormati Tante dian, begitu juga dengan Tante Dian yang selalu memanjakan mu."

"Kamu salah menilai semuanya, Al. Yang sebenarnya bukan begitu." Ucap Glen datar. 

"Ha?, apa maksud mu?."

"Justru kamu yang berpikir kalau keluargamu sangat mengekangmu, kamu harusnya lebih bersyukur. Mereka mengekangmu banyak hal untuk kebaikan mu. Dan Ibu ku memperlakukan aku seperti anak yang dimanjakan didepan publik tidak sama dengan perlakuannya dibelakang publik."

Alvero mengerutkan keningnya, bingung.

"Ibuku bukan seperti Ibu yang kamu ingin kan selama ini Al, akan tetapi seseoarang yang tidak akan pernah kamu terima didalam kehidupan mu. Kamu selalu memuji Ibuku karena melihat dia memperlakukan ku dengan baik didepan mu kan?, kamu salah menilainya."

"Apa?" Alvero tidak habis pikir kalau ternyata Ibu Glen seperti itu. Selama ini dia malah iri melihat Glen punya Ibu seperti Dian karena melihat Glen diperlakukan dengan sangat baik. Seolah-olah Glen selalu dimanjakan dan dituruti setiap kemauannya. 

"Sudah lah lupakan."

"Glen, aku minta maaf ya." 

"Satu hari ini kamu sudah sepulu kali minta maaf padaku, sepertinya layak diberi hadiah." Ucap Glen muak mendengar permintaan maaf Alvero. 

"Tapi aku serius, Glen."

"Aku lebih serius." 

"Ah, sudah lah. Tapi Glen, satu hal yang kamu tahu, aku akan selalu ada membantu mu. Jangan ragu meminta bantuan dari ku Bro. meskipun aku kelihatannya sangat konyol, tapi aku masih bisa diandalkan kok."

"Iya, aku percaya padamu." Ucap Glen. 

"Gimana tentang kehidupan mu?." Tanya Glen. 

"Kehidupan apa?." Alvero bingung. 

"Udah dapat cewe yang mau kamu nikahin belum?."

"Oh iya, aku hampir lupa. Justru itu tujuan ku datang kesini tadi, mau minta bantuan mu. Akan tetapi kamu terlihat lebih setres dari aku." Ucap Alvero. 

"Haha, tenang saja. Aku masih bisa membantu mu."

"Benar kah?, apa aku tidak menganggu mu?."

"Enggak dong, kalau urusan mencari cewe doang, itu urusan gampang."

"Wedeh, terlihat sangat berpengalaman ya." ucap Alvero terkekeh. 

"Kalau tidak berpengalaman, tidak akan bisa mendapatkan Amira jadi istriku." Ucapnya percaya diri. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!