NovelToon NovelToon
0000

0000

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Bad Boy / Kutukan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: M Rizky Ferdiansyah

Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
​Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
​Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
​Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laboratorium Bawah Tanah

Sorot lampu depan lokomotif kereta barang membelah kegelapan kebun sawit di km 48. Suara gemuruh roda besi yang menghantam rel bergetar makin kuat, menggetarkan tanah tebal di bawah pijakan Faris dan Maya.

​Di tepi rel, tiga anggota Jamiah Frekuensi Nol bergerak cepat. Salah satu dari mereka merangkak naik ke atas kotak kontrol sinyal lintasan, memegang pemancar portabel berantena tembaga dengan pendar merah yang berkilat-kilat cepat. Mereka siap menempelkan dudukan magnetik pemancar itu ke gerbong ketiga kereta barang yang melaju mendaki.

​"Faris, tahan orang di atas kotak kontrol! Aku matikan pemancarnya!" jerit Maya di balik deru mesin kereta.

​Maya menerobos semak sawit, mengayunkan kabel pemotong isolasi tebal ke arah kabel transmisi yang terhubung dari aki mobil bekas ke pemancar portabel.

​BZZZZT!

​Percikan bunga api membakar udara malam yang basah. Salah satu pengikut sekte berbalik kaget, namun Maya langsung menghantamkan badan tas timbalnya ke wajah pria itu hingga tersungkur ke parit rel.

​Faris melompat menerjang pria berjaket hujan di atas kotak kontrol. Mereka bergumul di atas besi licin tepat saat lokomotif kereta barang melintas dengan raungan klakson yang memekakkan telinga:

​HOOOOOOOOONK!

​Angin kencang dari laju kereta menyambar pakaian mereka. Pria pengikut sekte itu tertawa histeris dengan mata mendelik putih polos. Dari mulutnya, meluncur bisikan frekuensi yang menusuk saraf:

​"Saluran ini tidak bisa ditutup! Guru kami telah membuka pintu utamanya di bawah tanah!"

​Faris memusatkan seluruh tenaganya, menyikut dada pria itu hingga pegangan pemancar portabelnya terlepas. Alat pemancar bermagnet itu jatuh ke batuan ballast rel dan langsung tergilas roda besi gerbong kereta barang yang melaju cepat.

​CRUNCH!

​Ledakan kilatan listrik biru-merah membakar udara di bawah roda kereta. Sirkuit pemancar itu hancur luluh menjadi serpihan tembaga tak berguna. Tiga pengikut sekte yang tersisa menjerit kesakitan seraya memegangi kepala mereka sebelum melarikan diri ke dalam kegelapan kebun sawit yang pekat.

​Kereta barang berlalu, meninggalkan keheningan malam dan bau besi terbakar di sepanjang rel.

​Maya membungkuk terengah-engah, memancarkan senternya ke bangkai pemancar yang telah hancur. Di antara serpihan sirkuit yang terbakar, terdapat sebuah kartu akses magnetik tua berwarna abu-abu dengan tulisan timbul yang masih bisa dibaca:

​PT DELTA MEDIA BROADCAST - SUB-LEVEL 2 (EKS-LABORATORIUM)

​Faris mendekat dengan napas tersengal-sengal. "Delta Media Broadcast... Itu nama perusahaan ruko tua Jalan Sutomo, kan?"

​"Ruko di Jalan Sutomo yang diratakan minggu lalu cuma bangunan permukaan, Faris," bisik Maya dengan wajah memucat kaku. "Hendra punya sub-level—laboratorium bawah tanah di bawah lantai dasar yang tidak pernah tercantum di cetak biru resmi!"

​Dua jam kemudian, menjelang pukul empat pagi, minibus Maya kembali berhenti di kawasan Jalan Sutomo.

​Area ruko nomor 42B yang telah diratakan kini hanya berupa hamparan semen padat dan tanah kering yang dikelilingi pagar seng seng sementara. Namun, dengan panduan koordinat pada kartu akses magnetik, Maya dan Faris menemukan sebuah pintu besi manhole pembuangan air tua yang tersembunyi di balik semak belukar lima puluh meter di luar area ruko.

​Faris mencongkel penutup besi itu dengan linggis. Sebuah tangga besi berkarat menjalar turun menuju kegelapan bawah tanah yang lembap dan dingin membeku.

​"Ponselmu mode pesawat?" tanya Maya seraya memeriksa RF Signal Detector-nya.

​"Sudah," jawab Faris, merapatkan kupluk jaketnya.

​Merek menuruni tangga besi satu per satu. Udara di bawah tanah terasa begitu tebal oleh aroma minyak mesin tua, kertas lapuk, dan bau amonia yang menyengat.

​Di dasar tangga, sebuah lorong semen membimbing mereka menuju pintu besi tebal berkunci elektronik. Maya menggesekkan kartu akses magnetik yang mereka temukan di rel kereta api.

​Bip... Bzzzt... KLIK!

​Selot besi tua bergeser pelan. Pintu tebal itu terbuka, menyingkap sebuah laboratorium raksasa yang membeku dalam waktu sejak tahun 1998.

​Di dalam ruangan tersebut, puluhan rak server tabung tua, meja rekaman piringan hitam, dan papan pemancar frekuensi ELF berdiri rapi. Di dinding semen utama, terukir rajah raksasa Begu Ganjang berwarna merah tua yang saling terhubung dengan sirkuit tembaga menembus lantai semen.

​Namun yang paling mengejutkan adalah sebuah brankas baja raksasa di sudut ruangan yang sudah terbuka lebar. Di dalam brankas itu, sebuah meja kerja tua dipenuhi berkas arsip dan dokumen fisik bertuliskan nama-nama pendiri asli PT Delta Media Broadcast.

​Faris mendekati meja kerja tersebut, membakar semangatnya untuk mencari jawaban. Ia membuka salah satu bundel berkas tebal bersampul hitam.

​Di lembaran pertama berkas pendirian laboratorium tahun 1996, terpampang foto tiga orang pria berseragam teknisi radio.

​Pria pertama adalah Hendra. Pria kedua adalah Profesor Bahri muda.

​Dan pria ketiga... adalah orang yang foto wajahnya sangat dikenal Faris dalam pemberitaan media nasional.

​"Kak Maya..." suara Faris bergetar, matanya membelalak menatap dokumen di tangannya. "Profesor Bahri bohong pada kita. Eksperimen ini bukan cuma dibuat oleh dua orang."

​Maya berlari mendekat, menatap foto pria ketiga di dokumen tersebut.

​"Ini... pemilik konglomerat media seluler terbesar di Indonesia sekarang," bisik Maya dengan napas tercekat.

​Tiba-tiba, lampu fluorosens di plafon laboratorium bawah tanah menyala serentak dengan bunyi berdengung nyaring:

​BZZZZZZT!

​Dari pengeras suara interkom yang tertempel di dinding semen, sebuah suara berat bertutur tenang namun dingin memecah keheningan:

​"Kalian berdua terlalu ampuh untuk ukuran dua orang amatir. Tapi sayang... kalian datang saat transmisi utama kami siap diluncurkan secara nasional."

1
M Rizky Ferdiansyah
seru bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!