Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Malam itu, setelah butik tutup dan semua pelayan pulang, Teo tidak benar-benar pergi.
Layla mengunci pintu kaca dari dalam, berbalik dan langsung membeku. Teo berdiri di kegelapan sudut ruangan, padahal jelas-jelas tadi Layla melihat mobilnya pergi!. Teo keluar dari bayang bayang manekin gaun pengantin, lelaki itu tidak pulang bersama gadis glamor tadi, tapi dia sengaja bersembunyi tanpa ada yang tau seorang pun.
“Hai Layla” Sapa Teo, langkah kakinya perlahan mendekat, menggema di lantai butik yang sunyi.
Ketegangan yang mencekam langsung memenuhi udara, Layla mencoba memutar kursi rodanya untuk kabur ke ruang belakang, namun Teo bergerak lebih cepat. Dengan satu sentuhan kasar namun penuh perhitungan, Teo mengunci rem kursi roda Layla, membuat Layla tidak bisa bergerak.
Layla terperangkap. Ia menengadah menatap mata Teo yang kini mengkilat di balik sinar kegelapan, di penuhi obsesi yang tidak sehat.
“Apa yang kamu inginkan Teo?! Uang? Atau apa!” Suara Layla gemetar, bercampur antara rasa takut dan amarah yang menjadi satu, tapi melihat kondisinya, Layla tidak bisa melawan.
Teo berlutut di hadapan Layla, menatapnya dengan pandangan yang intens dan penuh tekad yang sulit di artikan. Jarak yang dekat membuat suasana di dalam butik terasa semakin hening dan menekan.
“Aku tidak butuh uang, Layla. Aku disini karena kamu” Ucap Teo dengan nada suara yang tenang namun dingin.
Tatapan Teo mengunci pandangan Layla, membuat wanita itu menyadari bahwa situasi ini tidak lagi berada dalam kendali nya. Ketakutan dan ketegangan bercampur aduk, menciptakan atmosfer psikologis yang rumit di antara mereka berdua. Teo menegaskan bahwa ia berniat untuk menjadi bagian dari kehidupan Layla secara mutlak, terlepas dari apapun hambatan yang ada.
Layla terdiam, merasakan tekanan emosional yang berat dari kehadiran lelaki di hadapannya , menyadari bahwa dinamika hubungan mereka telah berubah sepenuhnya.
Teo menatap Layla dengan intensitas yang semakin menjerat, memastikan bahwa setiap sudut ruangan ini mengunci kebebasan Layla. Tatapan nya di penuhi oleh ambisi posesif yang telah lama ia sembunyikan di balik topeng ketenangannya.
“Teo! Cukup! Kamu sudah keterlaluan!” Layla mencoba mundur, namun dinding kedap suara butik itu seolah mengisolasi suaranya dari dunia luar.
Teo tidak bergeming. Ia melangkah mendekat, mengunci pandangan nya pada Layla dengan kepuasan yang dingin melihat Layla dengan keputusasaan nya.
“Semua ini karena mu , Layla” bisik Teo tenang namun menekan.
“Setiap langkah yang ku ambil, setiap keputusan yang ku buat, semuanya hanya untuk memastikan kamu selalu dalam rencana ku”
“Tapi sayangnya.. kamu selalu mengabaikan ku..”
Teo tersenyum sinis, menikmati kebingungan dan kecemasan yang terpancar dari wajah Layla saat ia mengungkapkan isi hatinya.
——
Pagi itu aroma kopi hitam dan buku-buku tua di sudut kamarnya menjadi saksi bisu perjuangan Layla. Wisuda tingga dua minggu lagi. Di atas mejanya, sebuah laptop masih menyala, menampilkan halaman dasbor portofolio digitalnya.
Di titik terdalam hati kecilnya, bayang masa lalu saat Teo mengganggu kehidupannya mendadak memicu kecemasan saat tiba-tiba Layla mengingat segala hal tentangnya, Teo menghilang, dari cerita satu ke cerita yang lain ternyata Teo pergi ke luar negeri entah kemana.
Namun, setiap kali jemari nya mulai bergetar karena kecemasan yang mendadak datang, Layla mulai memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam dan membisikkan pada dirinya sendiri bahwa “ Aku berhak bahagia “ , “Aku berharap hidup lebih baik”.
Menyemangati dirinya adalah hal yang paling waras untuk di lakukan.
Sebagai seorang penyandang disabilitas yang mengandalkan kursi roda untuk kesehariannya, dunia kerja terasa seperti tebing yang curam baginya, namun Layla menolak untuk menyerah pada keadaan.
Perjuangan manis itu di mulai ketika Layla memberanikan diri melamar di sebuah perusahaan yang cukup besar, proses rekrutmen nya tidak mudah, Layla harus melewati tiga tahapan seleksi yang ketat.
Jujur saja rasa malu lebih mendominasi dan unggul dari pada hal lainnya, saat orang-orang berjalan kesana kemari dengan gesit dan cekatan kadang hati kecilnya memilih untuk mundur dan menyerah.
Saat kecemasan tentang masa depan mulai menyerang di tengah malam dan suara Teo yang selalu berbisik di telinganya, Layla mencoba mengubah rasa sakit dan kecemasan dengan menyibukkan dirinya, berbenah, membaca atau melakukan aktivitas apapun yang bisa membuat cepat tidur dan istirahat, sedalam dan sejahat apapun dunia terhadapnya, Layla tidak mau dia ketergantungan terhadap obat yang bisa menenangkan pikiran hanya sementara.
Hari pengumuman tiba, tepat satu hari setelah dia resmi lulus dan mengakhiri masa pendidikan nya, sebuah email masuk dengan subjek “WELCOME TO THE TEAM, LAYLA”.
Layla di terima, kabar baik itu langsung dia bagikan kepada ibunya yang tengah duduk di sampingnya, sekarang dunia kerja telah tiba, itu artinya Layla telah menjadi orang yang dewasa.
Riuh rendah suara kebahagiaan memenuhi gedung pertemuan siang itu. Balon-balon berwarna dan buket bunga yang cerah serta tawa para wisudawan yang saling berpelukan menciptakan atmosfer yang begitu hangat. Di sudut aula yang agak sepi, Layla duduk di kursi rodanya. Toga hitam membungkuk tubuhnya, dan sebuah senyuman manis menghiasi wajahnya, walaupun Layla hanya bisa duduk menyaksikan orang-orang yang berlalu lalang, itu saja sudah cukup membuat nya bahagia.
Layla telah berhasil, dia membuktikan pada dunia dan pada dirinya sendiri bahwa dia mampu berdiri tegak di atas takdir nya sendiri.
Layla memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam saat rasa nyeri menusuk dadanya mengingat sesuatu yang tidak ingin dia ingat. Tapi saat Layla membuka matanya, embusan angin entah dari mana menerbangkan beberapa helai kelopak bunga dari buket di pangkuannya. Dan di sana, hanya beberapa meter di depannya, sesosok siluet yang sangat dia ingat dan kenali sedang berdiri di bawah tamaran cahaya lampu aula.
Itu Teo.
Adegan ini seperti di film dan buku yang sering dia lihat dan baca, tidak pernah terpikirkan hal ini akan terjadi di kehidupan nya.
Jantung Layla berdesir hebat, suasana di sekitarnya mendadak sunyi, seolah dunia hanya menyisakan mereka berdua.
Teo berdiri di sana, mengenakan kemeja putih rapih, wajahnya tampak begitu rapi, bersih tenang dan memancarkan kedamaian yang luar biasa membuat Layla tidak bisa berkedip.
Teo tersenyum, sebuah senyuman yang manis dan tulus namun penuh manipulasi di dalam nya, Layla tidak boleh goyah, dia langsung mengalihkan pandangannya.
Perlahan Teo melangkah mendekat, langkahnya tak bersuara namun kehadirannya terasa begitu nyata dan resah bagi Layla. Di dalam benak Layla yang paling dalam, ruang waktu seolah melambat, Teo berlutut di depan Layla, menyejajarkan tatapan mereka seperti yang selalu ia lakukan dulu agar Layla tak perlu mendongak saat bertemu dengannya.
Teo tidak mengucap sepatah kata pun, Teo mengulurkan tangannya, menyentuh lembut jari jemari Layla yang sempat gemetar karena rakus dan cemas. Rasa takut itu kian menjalar menyisakan rasa takut cemas dan bingung yang bersarang di kepalanya.