Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pewaris Tanpa Nama
Malam kian merayap di kaki Gunung Kurama, namun kegelapan kali ini terasa pekat dan menindih, seolah langit sendiri sedang memendam amarah yang teramat besar. Di luar gubuk kayu tempat Ogen bertaruh nyawa, kesunyian hutan cedar dicabik oleh pergerakan bayangan-bayangan yang bergerak senyap. Mereka adalah sepasukan shinobi elit Iga yang dipimpin langsung oleh Tanba Momochi. Sesuai janjinya pada Hanzo, Tanba telah memasang segel penjagaan tak terlihat-sebuah formasi Kekkai (segel pembatas)-di sekeliling kuil tua tersebut untuk memastikan tidak ada mata-mata Toyotomi maupun bahaya keduniawian yang bisa mendekat.
Namun, malam ini musuh mereka bukanlah manusia.
"Ketua! Ada yang aneh dengan aliran udara di atas kuil," bisik salah seorang ninja Iga, muncul dari balik rimbunnya pohon bambu. Wajahnya yang tertutup kain hitam tampak basah oleh keringat dingin.
Tanba Momochi tidak menjawab. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah puncak Kurama. Sebagai seorang pemimpin shinobi kawakan, ia bisa merasakan chakra dan aura spiritual yang mendadak bergolak dahsyat. Segel Kekkai yang ia pasang dengan jimat-jimat kuno di pepohonan mulai bergetar hebat. Udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat dingin hingga mengembuskan uap putih dari napas mereka, sementara kilatan petir keunguan terus menyambar tanpa henti, membelah langit yang dipenuhi ribuan burung gagak.
CRACK!
Salah satu pohon cedar raksasa yang menjadi jangkar segel penjagaan Tanba tiba-tiba terbelah menjadi dua, terbakar oleh petir mistis. Bersamaan dengan itu, jimat-jimat kertas yang tertempel di sekeliling area tersebut terbakar habis menjadi abu dalam sekejap mata. Segel pertahanan Iga runtuh total tanpa sempat mereka pertahankan.
"Sesuatu yang besar sedang turun dari puncak..." gumam Tanba, tangannya refleks mencengkeram gagang bilah pedangnya. "Bersiap! Jangan biarkan apa pun masuk ke dalam gubuk!"
Sebelum para ninja Iga sempat mengambil formasi baru, angin topan berskala raksasa melesat turun dari kegelapan puncak Kurama. Angin itu berputar bagai naga tak kasat mata, menghempas tubuh para shinobi elit Iga hingga terlempar menabrak batang pohon dan bebatuan. Beberapa di antara mereka langsung kehilangan kesadaran akibat benturan yang teramat keras. Tanba sendiri terpaksa menancapkan pedangnya dalam-dalam ke tanah agar tubuhnya tidak ikut terbawa badai.
Di tengah pusaran angin topan yang meliuk liar dan helaian bulu gagak hitam yang melayang di udara, sesosok makhluk bertubuh tegap mendarat dengan dentuman halus namun menggetarkan bumi.
Dialah Sojobo, Raja Tertinggi para Tengu yang mendiami Gunung Kurama.
Wajahnya yang merah menyala tampak berwibawa sekaligus mengerikan di bawah sinar bulan purnama yang memerah. Rambut putih panjangnya berkibar liar, senada dengan sayap hitam legam sepanjang tiga meter yang membentang di punggungnya. Pakaian pendeta gunung (Yamabushi) yang ia kenakan tidak sedikit pun terkoyak oleh badai yang ia ciptakan sendiri. Di pinggangnya, tersandang sebuah katana kuno yang memancarkan aura kematian yang pekat.
Tanba Momochi mencoba bangkit, menahan rasa sakit di dadanya. "Siapa... kau?" tanyanya dengan suara serak, meskipun di dalam hatinya ia sudah tahu jawaban dari legenda yang kerap didengarnya.
Sojobo tidak melirik Tanba sedikit pun. Sorot mata emasnya yang tajam terkunci pada gubuk tua di depannya, tempat di mana jeritan kesakitan Ogen mendadak berhenti, digantikan oleh suara tangisan bayi yang melengking memecah keheningan malam.
"Darah manusia yang dipenuhi angkara murka... kini melahirkan takdir baru di tanah suci ini," sebuah suara berat dan bergaung beresonansi langsung di dalam kepala Tanba dan sisa ninja Iga yang masih terjaga. Suara Sojobo terdengar bagai gemuruh guntur yang menuntut kepatuhan absolut.
Tanpa memedulikan para shinobi yang terkapar, Sojobo melangkah maju. Setiap pijakan sandal kayu (geta) berbilah satunya di atas tanah memancarkan riak gelombang spiritual yang membuat ranting-ranting pohon di sekitarnya tunduk. Pintu gubuk tua itu terbuka dengan sendirinya, seolah menyambut kehadiran sang penguasa gunung.
Di dalam gubuk yang remang-remang oleh cahaya lilin yang bergoyang, Ogen terbaring lemas dengan napas memburu. Di pelukannya, terbungkus kain putih bernoda darah, seorang bayi perempuan yang baru saja lahir. Bayi itu memiliki kulit seputih salju dan seuntai rambut hitam lebat. Anehnya, tepat saat Sojobo melangkah masuk, bayi perempuan itu berhenti menangis. Mata mungilnya terbuka, menatap langsung ke arah sang Daitengu tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Ogen yang menyadari kehadiran makhluk supranatural tersebut mencoba memeluk bayinya lebih erat, air mata menetes di pipinya yang pucat. "Nobunaga-sama..." bisiknya lirih, teringat pada mendiang suaminya yang juga kerap memancarkan aura intimidasi yang serupa semasa hidup.
Sojobo berdiri di ujung pembaringan Ogen, menatap sang bayi dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengangkat tangan kanannya yang berkuku tajam, lalu mengarahkannya tepat di atas dahi sang bayi perempuan.
"Anak ini membawa darah Raja Iblis yang membakar dunia, dan ditempa oleh kegelapan seni shinobi Iga," suara mistis Sojobo kembali bergaung di benak Ogen. "Dunia manusia akan mencoba menghancurkannya, memanfaatkannya, atau memujanya. Namun di gunung ini, dia tidak akan memiliki nama. Biarlah dia menjadi Mumei-Sang Tanpa Nama-sampai dia siap mengklaim takdirnya sendiri."
Bersamaan dengan selesainya ucapan tersebut, seberkas cahaya keunguan terpancar dari ujung jari Sojobo, meresap masuk ke dalam dahi bayi perempuan itu. Sebuah tanda segel spiritual berbentuk tiga helai daun layaknya simbol mistis Kurama sempat muncul di kulit dahinya sebelum akhirnya memudar dan menghilang sepenuhnya. Intervensi sang Raja Tengu tidak hanya menyembunyikan hawa keberadaan anak itu dari endusan para pemburu darah Oda, tetapi juga menanamkan restu sekaligus proteksi spiritual yang teramat kuat di dalam jiwanya.
Sojobo menurunkan tangannya. Angin topan yang semula mengamuk di luar gubuk perlahan-lahan mereda menjadi sepoi angin malam yang tenang. Ribuan burung gagak yang memenuhi langit mulai terbang menjauh, menyisakan kesunyian yang magis di kaki Gunung Kurama.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lain, sang Raja Tengu membalikkan badannya. Dalam satu hentakan sayapnya yang perkasa, Sojobo melesat kembali ke kegelapan puncak Kurama, menghilang secepat ia datang, meninggalkan Ogen yang mendekap erat Mumei, sang bayi perempuan yang kelak akan menggetarkan seluruh daratan Jepang.
*
Sementara badai mistis mereda di kesunyian Gunung Kurama, riak spiritual dari peristiwa malam itu merembet jauh hingga ke jantung kota Kyoto.
Di salah satu sudut paviliun megah yang baru saja dikuasai oleh pasukan Toyotomi, Hanbei Takenaka duduk bersila menghadap jendela yang terbuka lebar ke arah utara. Meskipun malam telah larut, sang ahli strategi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Matanya yang sayu namun penuh kecerdasan menatap tajam ke arah siluet kegelapan Gunung Kurama yang menjulang di kejauhan.
Sebagai seorang pria yang tidak hanya mendalami taktik militer, tetapi juga memahami harmoni alam dan garis spiritual bumi, Hanbei merasakan ada sesuatu yang sangat keliru. Beberapa saat yang lalu, langit di atas Kurama sempat memancarkan kilatan keunguan aneh yang tidak wajar, disertai hilangnya hawa keberadaan energi kehidupan secara mendadak di area tersebut.
"Petir tanpa hujan... dan kawanan gagak yang bergerak dalam formasi melingkar di atas gunung suci," gumam Hanbei pelan. Tangannya yang memegang kipas lipat mengetuk-ngetuk lututnya dengan ritme yang teratur.
Firasatnya mengatakan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gangguan cuaca biasa. Gunung Kurama adalah tempat bersemayamnya para Tengu dalam legenda, dan pergerakan alam yang sedahsyat itu biasanya menandakan adanya sebuah intervensi besar dari dunia supranatural, atau kelahiran sesuatu yang tabu.
Hanbei menutup kipasnya dengan hentakan pelan. Tanpa menoleh ke belakang, ia berucap dengan nada datar, "Keluar."
Dari balik bayangan pilar kayu yang gelap, tiga sosok ramping berpakaian pelayan sipil Kyoto tiba-tiba muncul dan berlutut dengan satu kaki. Mereka adalah korps shinobi mata-mata yang berada langsung di bawah komando taktis Hanbei.
"Tuan Hanbei, kami siap menerima perintah," ucap pemimpin dari ketiga ninja tersebut dengan suara yang sangat rendah.
"Kalian pasti merasakannya juga. Gejolak di Gunung Kurama barusan bukanlah fenomena alam biasa," instruksi Hanbei seraya menunjuk ke arah utara dengan kipasnya. "Aku ingin kalian melepas zirah dan identitas militer kalian. Menyamarlah menjadi pedagang keliling, biksu pengembara, atau pencari kayu bakar. Selidiki setiap desa yang berada di kaki dan sekitar Gunung Kurama."
Hanbei terdiam sejenak, menimbang-nimbang kemungkinan terburuk. "Cari tahu apakah ada penduduk baru, kuil terpencil yang mendadak dijaga, atau desas-desus tentang wanita asing yang melahirkan di malam badai ini. Jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan, jangan bertindak sendiri. Segera laporkan kepadaku."
"Dimengerti, Tuan."
Dalam sekejap mata, ketiga ninja itu kembali melebur dengan kegelapan malam, bergerak tanpa suara menuju wilayah Kurama untuk memulai penyelidikan rahasia mereka. Hanbei kembali menatap gunung di kejauhan. Ia tahu, setelah kematian Nobunaga Oda, daratan Jepang berada dalam masa transisi yang sangat rapuh. Segala bentuk variabel tak terduga-baik dari manusia maupun Yokai-bisa mengancam stabilitas yang sedang coba mereka bangun.
*
Di sisi lain Kyoto, suasana justru kontras dengan ketenangan paviliun Hanbei. Di aula utama istana kediaman perwakilan kaisar, tawa renyah dan dentingan cawan sake bergaung memecah malam.
Hideyoshi Toyotomi-yang kini telah menanggalkan nama Hashiba-sedang berada di puncak energinya. Mengenakan jubah sutra mewah dengan lambang klan Toyotomi yang baru dianugerahkan kaisar, ia sibuk menjamu belasan Daimyo (penguasa wilayah) dari daerah sekitar Osaka dan Omi.
Sejak berhasil menumpas pemberontakan Mitsuhide Akechi di Yamazaki dan diangkat menjadi Kampaku, Hideyoshi sadar betul bahwa kekuatan militer saja tidak akan cukup untuk menyatukan seluruh Jepang. Ia membutuhkan legitimasi politik dan jaringan relasi yang tak tergoyahkan.
"Hahaha! Minumlah, Tuan-Tuan! Malam ini kita merayakan era baru di bawah perlindungan kaisar dan kejayaan klan Oda yang akan terus kita jaga!" seru Hideyoshi dengan wajah yang sedikit memerah akibat sake, namun matanya tetap memancarkan kalkulasi yang dingin.
Satu per satu para Daimyo itu menundukkan kepala dan mengangkat cawan mereka, memberikan sumpah setia secara tidak langsung kepada Hideyoshi. Dengan kecerdikan bicaranya, Hideyoshi berhasil membujuk para penguasa lokal ini untuk menyerahkan sebagian hak atas tanah dan jalur perdagangan mereka, sekaligus memperluas wilayah kekuasaan Toyotomi secara masif tanpa perlu menumpahkan darah lagi.
Bagi Hideyoshi, momentum saat ini adalah segalanya. Sambil tertawa bersama para tamunya, pikirannya sudah melompat jauh ke depan-merencanakan pembangunan kastil raksasa di Osaka yang akan menjadi simbol absolut kekuasaannya, serta menundukkan sisa-sisa klan yang belum tunduk padanya.
Sang 'Monyet Bijak' kini telah berubah menjadi raksasa politik yang siap menelan seluruh daratan Jepang, sama sekali tidak menyadari bahwa di bawah kaki rimbunnya pohon-pohon kuno Gunung Kurama, sebuah ancaman dari darah masa lalu telah lahir dan mulai bernapas dalam perlindungan mistis sang Raja Tengu.
*
Jauh di selatan dari ingar-bingar politik Kyoto, keheningan yang berbeda menyelimuti Lembah Ueno, sebuah wilayah tersembunyi yang terkunci rapat di balik benteng alam perbukitan Iga. Di tempat inilah klan Hattori membangun pertahanan terakhir mereka, sebuah zona suci yang tak tersentuh oleh gejolak perang keduniawian.
Di dasar ceruk lembah yang dialiri oleh mata air pegunungan yang jernih, berdiri sebuah kuil kecil beratap lumut. Tempat itu tidak memiliki kemegahan seperti kuil-kuil Buddha di Kyoto, namun memancarkan aura kuno yang teramat pekat. Ini bukanlah tempat ibadah biasa, melainkan Kuil Kappa-sebuah situs sakral tempat para leluhur klan Hattori sejak berabad-abad lalu melakukan ritual untuk membaca aliran energi spiritual, melihat tanda-tanda lahirnya garis keturunan baru, maupun memantau nyawa para kerabat yang sedang dalam masa kritis.
Di dalam ruangan kuil yang lembap dan hanya diterangi oleh lampion minyak yang temaram, dua pria duduk bersila di tepi sebuah kolam batu alami. Air di dalam kolam tersebut tampak tenang, namun permukaannya sesekali beriak membentuk pola-pola geometris yang aneh tanpa adanya embusan angin.
Pria pertama adalah Tokugawa Ieyasu. Sang kepala klan yang bertubuh tambun itu tampak mengenakan jubah santai, matanya menatap cemas ke arah permukaan air. Di sebelahnya, duduk Hattori Hanzo dengan pakaian shinobi shozoko lengkap. Hanzo menutup matanya rapat-rapat, kedua tangannya membentuk segel mantra Kuji-in di depan dada. Bibirnya merapalkan rapalan kuno Iga yang lirih, memanggil energi spiritual tempat tersebut.
Mata air Lembah Ueno yang terhubung dengan habitat para Kappa-makhluk air dalam legenda Jepang-memiliki kemampuan mistis untuk menjadi cermin bagi jiwa-jiwa yang terikat darah dengan klan Hattori dan sekutunya.
SPLASH.
Permukaan kolam batu tiba-tiba bergejolak. Air yang semula bening mendadak berubah warna menjadi keunguan, memantulkan bayangan siluet pohon-pohon cedar raksasa yang bergoyang liar diamuk badai topan. Di tengah-tengah riak air tersebut, muncul bayangan samar sesosok makhluk bersayap besar dengan hidung panjang yang sedang mengangkat tangannya.
Ieyasu terperanjat, tubuhnya condong ke depan. "Masanari... apa yang terjadi? Apakah itu rute pelarian kita yang terendus musuh?"
Hanzo membuka matanya secara perlahan. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan keterkejutan yang mendalam. Ia melepaskan segel tangannya dan menatap riak air yang perlahan mulai menenang kembali menjadi bening.
"Bukan, Ieyasu-sama," jawab Hanzo dengan suara berat yang bergema di ruang kuil yang sunyi. "Ini bukan tentang pasukan Toyotomi. Air sakral ini baru saja menangkap riak spiritual yang teramat besar dari arah utara. Gunung Kurama di Kyoto."
"Gunung Kurama?" Ieyasu mengernyitkan dahi. "Bukankah itu tempat di mana..."
"Benar. Tempat di mana Ogen mengasingkan diri," potong Hanzo pelan. "Riak air ini menandakan bahwa masa kritis telah lewat. Sepupu saya, Ogen, telah melahirkan anaknya dengan selamat malam ini. Darah dari Nobunaga-sama telah meneruskan garis keturunannya."
Ieyasu menarik napas panjang, ada rasa lega sekaligus ketegangan baru yang merayap di wajahnya. "Namun, bayangan makhluk bersayap tadi... apa arti dari penglihatan itu, Hanzo?"
Hanzo berdiri, melangkah menuju tepi kolam dan menatap bayangan dirinya sendiri di atas air. "Itu adalah Sojobo, Raja Tengu dari Kurama. Penglihatan tadi menunjukkan bahwa sang penguasa gunung telah turun tangan secara langsung. Dia memberikan intervensi dan menyegel hawa keberadaan anak itu dari dunia manusia."
Hanzo mengepalkan tangannya di balik lengan baju shinobi-nya. "Intervensi dari Yokai sebesar Sojobo berarti dua hal, Tuan. Pertama, anak perempuan yang baru lahir itu aman dari endusan mata-mata Hideyoshi karena keberadaannya telah disamarkan oleh kabut mistis Kurama. Kedua... anak itu membawa takdir yang teramat besar dan berbahaya, hingga makhluk supranatural pun merasa perlu untuk ikut campur sejak hari pertamanya menghirup udara dunia."
Ieyasu ikut bangkit berdiri, menepuk-nepuk debu di jubahnya. Wajahnya kembali tenang, menampilkan raut wajah seorang politikus ulung yang penuh perhitungan.
"Jika sang Raja Tengu telah menyembunyikannya, maka biarlah dunia menganggap darah Oda telah binasa sepenuhnya di Honnoji," ucap Ieyasu dengan nada tegas. "Masanari, untuk saat ini, fokus kita adalah kembali ke Mikawa dengan selamat secara bertahap dan memperkuat fondasi klan Tokugawa. Biarkan Hideyoshi sibuk merayakan kejayaannya di Kyoto. Kita akan menanti dalam bayangan, sampai saatnya sang 'Tanpa Nama' di Gunung Kurama itu siap terbangun dan menuntut haknya."
Hanzo menundukkan kepalanya dalam-dalam demi memberi hormat. "Hamba mengerti, Ieyasu-sama. Sesuai janji hamba pada Ogen, ketika waktunya tepat nanti, hamba sendiri yang akan pergi ke Kurama untuk membimbing anak itu ke jalan ninja."
Di balik dinding kuil Kappa yang senyap, takdir baru Jepang telah dipetakan. Sementara Kyoto bergolak oleh ambisi baru klan Toyotomi, di sudut Lembah Ueno yang sunyi, rahasia tentang sang pewaris terakhir Oda dikunci rapat-rapat dalam sumpah setia klan Hattori dan Tokugawa.