Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Day 3...
Rin membongkar-bongkar ransel dan meja belajarnya. Nggak ada! Semua tempat nggak ada. Keningnya penuh keringat. Rin baru sadar gelang ungu pemberian Ara hilang. Rin selalu pakai gelang itu karena oleh-oleh waktu Ara keluar negeri. Rin hampir mau nangis kalau ingat gelang itu hilang.
"Rin! Sini bantu nenek!" neneknya memanggil dari luar. Rin mengelap wajahnya dan keluar rumah. Rumah yang ditempati Rin dan neneknya ada dibelakang sebuah kios kecil. Kios itu sudah puluhan tahun menjual aneka kue dan roti buatan neneknya. Meski kecil tapi kios itu sudah terkenal dengan kelezatan makanannya. Kios Roemah Roti itu usaha neneknya dari dulu sampai sekarang. Dan memiliki 2 karyawan.
"Ada apa nek?" tanya Rin.
"Sini bantu nenek, coba kamu bantu bungkusin roti yang sudah dingin itu! Letakkan di etalase!" perintah neneknya. Aroma roti yang baru dipanggang membuat Rin mengenduskan hidungnya. Perutnya berbunyi.
"Jangan yang itu! Punya kamu yang di sana!" nenek menepis tangan Rin saat akan mencomot roti isi coklat. Rin hanya tertawa.
Sambil nunggu jadwal masuk kuliah, Rin bantu-bantu di kios neneknya. Nenek Rin belum terlalu tua, berumur 58 tahun. Kue-kue buatannya memang enak. Saat ada acara di rumah neneknya dulu Rin paling semangat. Bahkan dulu Rin bercita-cita jadi chef pastry. Tapi entah sekarang Rin beralih ke jurusan sastra meski dia tetap suka masak.
"Gimana perasaan kamu sekarang?" tanya neneknya sambil memasukkan roti ke dalam oven besar.
"Nggak gimana-gimana nek, tapi Rin seneng di sini," jawab Rin.
"Baguslah kalau kamu betah di sini. Nenek juga nggak nyangka kamu malah mau di sini yang cuma kota kecil," jawab nenek mengelus pipi Rin.
"Nenek tahu kan Rin fans nenek. Roti-roti nenek selalu enak. Rin banyak belajar juga dulu di rumah meski nggak seenak dan selembut buatan nenek tapi Rin udah bisa!" ucap Rin. Nenek mengangguk. Tak diragukan, begitu sampai di sana Rin memasak makanan untuk nenek dan karyawan. Semua mengacungkan jempolnya.
"Terus? Kenapa malah sastra?" tanya nenek.
"Nggak kenapa-kenapa nek. Hanya jalan tengah. Papa maunya aku di bisnis. Mama maunya aku akuntan. Capek banget harus milih yang mana," jawab Rin.
"Kenapa nggak ambil juru masak?"
Rin meletakkan bungkusan terakhir di etalase dan berjalan ke arah neneknya.
"Di kios ini udah ada guru besarnya, kenapa harus buang-buang uang untuk biaya kuliah lagi? Kan ada yang gratis!" Rin berkata sambil mencium pipi neneknya.
"Bisa aja kamu!"
"Permisi! Ibu Tanti?" seseorang masuk dan berdiri di balik etalase sambil tersenyum.
"Naaaah... Pelanggan lama datang! Ayo sini duduk!" nenek langsung membuka apron dan menarik pria bertopi itu ke salah satu sudut meja. Rin mengamati seperti tidak asing. Tapi siapa ya?
Rin membiarkan neneknya ngobrol dan dia mengelap meja.
"Rin! Hari ini mau makan apa?" Hana, salah satu karyawan neneknya datang.
"Aduh! Lupa! Aku masak aja! buat makan siang terkejar ini!" ucap Rin sambil melirik jam.
"Eeeeh Han! Sebentar! Itu siapa ya yang ngobrol sama nenek? Akrab banget!" tanya Rin.
"Nggak tau Rin, baru kali ini juga liatnya. Jadi nggak usah beli ni? Aku ke roti lagi ya..."
"Okeh!" Rin mengangguk mengacungkan jempolnya tapi matanya masih menatap ke arah neneknya.
Rin ingat makan siang! Dia membuka apronnya dan berjalan melewati meja neneknya.
"Rin! Sini!" nenek memanggil.
"Ada apa nek?" tanya Rin.
"Sini duduk! Kenalin ini Al. Pelanggan tetap nenek dari dulu. Dia baru aja pulang ke sini," ucap nenek.
Rin mengalihkan pandangan dari wajah semangat sang nenek ke laki-laki di depannya. Rin kaget. Itu laki-laki yang dia temui di bukit. Ternyata namanya Al.
Laki-laki itu mengulurkan tangan, "Al.." ucapnya singkat saat Rin juga mengulurkan tangan.
"Rin..."
"Kok jadi diem-dieman. Ini Rin- cucu ibu. Baru pindah kesini," ucap nenek. Al hanya mengangguk.
"Nek, mau dimasakin apa buat makan siang? Nggak usah beli ya, Rin bosen!" ucapnya.
"Iya, terserah kamu aja. Yang penting sayurnya ya,"
"Duh... Rin lupa stok sayur abis!"
"Ya udah sana beli dulu, Al makan di sini ya sekalian. Sudah lama nggak kesini. Sekalian temani Rin belanja sana!" perintah nenek tiba-tiba membuat Rin tak percaya.
"Tapi nek..."
"Udah sana! Sekalian biar kalian jadi teman. Kamu kan nggak ada teman juga di sini. Nah Al kan orang sini, dia tau banyak tempat. Sana! Sana!" nenek mendorong dua punggung ke arah luar.
"Maaf... Kalau nenek... Tapi kalau lo sibuk nggak apa, gue bisa sendiri. Gue udah tau dimana orang jualan!" ucap Rin, nggak enak baru kenal disuruh nganter belanja. Apalagi Al laki-laki pasti dia nggak terbiasa ke pasar. Dan lagi, Rin bingung harus ngomong apa.
"Ayo!" Al malah berjalan mendahului menuju motornya di parkir. Dia menstarter motornya dan menunggu.
"Cepat!"
"Eeh iya... Iya!" Rin setengah berlari dan duduk di boncengan. Wangi aroma parfum menyeruak di hidungnya ketika motor sudah berjalan. Keduanya diam. Rin nggak tahu harus ngomong apa. Al juga nggak berusaha buka obrolan.
"Ini dimana? Aku biasanya belanja bukan di sini!" protes Rin melihat pasar yang agak jauh dari rumah neneknya.
"Lebih murah! Ayo!" Al berjalan lebih dulu. Rin mengikutinya. Pasar itu lebih modern dibanding pasar tradisional di sekitar rumah neneknya. Dan lebih tertata rapi.
"Beli apa?" tanyanya berhenti dan berbalik menatap Rin.
Rin yang memperhatikan sekitar menabrak Al.
"Aduh! Mm... Mmaaf?"
"Beli apa?" ulangnya.
"Ss... Sop. Aku bikin sayur sop aja," ucap Rin. Rin mengikuti kemana Al pergi. Pasar itu lengkap bahkan menjual aneka daging dan juga ikan.
Rin memilih daging, sayuran dan bahkan membeli stok ikan dan yang lainnya. Supaya besok tak perlu ke pasar lagi.
Semua belanjaan di bawa oleh Al, Rin hanya tinggal berjalan dan membeli semua keperluannya.
"Hai Al! Sudah pulang! Waaah... Sudah lama nggak kesini, sudah sukses di sana!" seorang penjual ikan berkata sambil menepuk bahunya.
"Tidak juga, aku..."
"Waaah... sekali datang sudah bawa gandengan! Pacar baru hmm?" tanyanya. Kedua telinga Al memerah.
"Nggak! Ini temanku, baru datang!" jawab Al.
"Aaah teman yaaaaa?" ucapnya tapi nadanya menggoda Al.
"Haissss... Ayo pilihkan ikan yang segar!" ucap Al. Penjual itu segera menawarkan ikan-ikan yang ada di atas meja.
Rin memilih ikan segar, cumi dan udang. Rin menyukai itu semua. Dia akan membuat masakan enak hari ini sebagai ucapan terimakasih juga ke Al yang sudah bantu mengantarnya ke pasar.
"Besok mampir lagi ya... Ajak pacarmu!" teriak penjual itu di belakang mereka saat Rin dan Al mau pulang.
"Berisik!" ucap Al. Rin yang kebetulan melihat jadi menunduk. Wajah Al terlihat seram.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok